Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

Istiqamah

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊🎤 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Rq-Center Tema :Istiqamah 📖 Kalam Hikmah: ما هي استقامة ؟ Apa itu Istiqamah ? الاستقامة من اسباب دخول الجنة والثبات على الحق وما أحلى أنْ يداومَ العبدُ على طاعة مولاه Istiqamah adalah sebab seseorang hamba masuk surga, membuat tetap dalam kebenaran, dan menjadikan hamba tetap taat kepada Allah SWT. الاستقامة هي روحُ الحياة وجَوهرها النفيس، لا يعرف قيمتها إلاَّ العارفون Istiqamah adalah ruh kehidupan dan inti jiwa, tidak ada yang mengetahui nilainya kecuali orang-orang bijaksana. عاش السلف الصالِحُ مع هذا المعنى، فعبَّر كلٌّ منهمعمَّا عاشه مع الله؛ نتيجةً لمداومته على الاستقامة؛ ولذلك اختلفت تعبيراتُهم وألفاظهم، ولكنَّها تعبِّر في حقيقتها عن معنى واحد، وحقيقة واحدة، هي: “من وجد الله، فما فقد، ومن فقد الله، فما وجد”. Barang siapa yang mendapatkan dan menemukan Allah maka dia tidak akan pernah kehilangan, dan barang siapa yang tidak pernah mendapatkan dan menemukan Allah sungguh dia tidak mendapatkan apa-apa. وسُئِلَ صدِّيق الأُمَّة وأعظمها استقامةً أبو بكر الصديق – رضي الله عنه – عن الاستقامة فقال: “ألاَّ تشركَ بالله شيئًا”؛ يريد الاستقامة على محض التوحيد. Menurut Abu Bakar Ash-Shiddiq, istiqamah adalah tidak menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu apapun. وقال عمر بن الخطاب – رضي الله عنه -: الاستقامة: أنْ تستقيمَ على الأمر والنهي، ولا تروغ روغان الثعالب. Menurut Umar bin Khattab, istiqamah adalah menegakkan perintah dan larangan. وقال عثمان – رضي الله عنه -: استقاموا: أخلصوا العملَ لله. Dan menurut Utsman bin Affan, istiqamah adalah ikhlaslah kalian beramal karena Allah Ta’ala. وقال عليُّ بن أبي طالب، وابن عباس – رضي الله عنهم -: استقاموا؛ أي: أدُّوا الفرائض. Menurut Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Abbas Ra, istiqamah adalah mempertahankan melakukan fardhu-fardhu. وقال الحسن: استقاموا على أمر الله، فعملوا بطاعته، واجتنبوا معصيته. Adapun menurut Hasan, istiqamah adalah kontinyu dalam melakukan perintah Allah, melaksanakan dengan taat kepada-Nya, dan menjauhi maksiat kepada Allah SWT. وقال مجاهد: استقاموا على شهادة أن لا إلهَ إلا الله، حتى لحقوا بالله. Salafus Shalih juga mengatakan : Istiqamah lah kalian atas syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah hingga kalian mendapatkan manisnya hidup selalu bersama Allah. وقال الآخر: استقاموا على محبته وعبوديته، فلم يلتفتوا عنه يَمنة أو يَسرة Salafushalih lain juga berkata : Istiqamah lah kalian dalam cinta dan mengabdi kepada Allah SWT, jangan pernah berpaling dari Allah SWT Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 📷Instagram LDRQ 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #ldrqraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻

Tausiah LDRQ

Nasehat dalam Pernikahan

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊🎤 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Rq-Center Tema :Nasehat dalam Pernikahan 📖 Kalam Hikmah: عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم «أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا». رواه الترمذي Artinya : Abu Hurairah Ra. menuturkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah ia yang paling baik perilakunya di antara kalian terhadap perempuan mereka.” (Sunan at-Tirmidzi) Ukuran sempurna iman dalam agama itu adalah orang paling baik akhlaknya bukan yang paling banyak shalat atau puasanya. Begitu juga orang mukmin yg paling hebat adalah orang yang selalu berbuat baik kepada perempuan. Suami yang baik kepada istri dan keluarganya begitu juga sebaliknya istri yg selalu mematuhi suaminya. Banyak orang memahami pernikahan indahnya sebelum menjalani pernikahan tersebut tanpa menyadari ketika sudah menjalaninya banyak permasalahan yang timbul yang dapat menguji kesiapan dan kedewasaan dalam berumah tangga, bahkan kalau tidak siap dengan ilmu dan pengalaman rumah tangga akan hancur. Dalam riwayat, Nabi Muhammad SAW pernah menjatuhkan talaq kepada istrinya yang bernama Hafshah yang disebabkan karena marahnya Nabi kepada Hafshah yang dalam riwayat disebutkan karena telah membocorkan rahasianya kepada istri Nabi lainnya. Walaupun setelah itu Allah perintahkan kembali kepada Nabi Muhammad SAW malalui Jibril untuk merujuk kembali perkawinannya dengan Hafshah tersebut. Apa yang menjadi pelajaran disini begitulah permasalahan rumah tangga yang terkadang kalau seseorang tidak siap dengan badai atau permasalahan yang datang maka akan hancur lebur rumah tangga tersebut. Terkait perintah rujuk ini, disebutkan dalam hadits riwayat Ath-Thabrani berikut: عَنْ قَيْسِ بْنِ زَيْدٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، طَلَّقَ حَفْصَةَ؛ فَدَخَلَ عَلَيْهَا خَالَاهَا: قُدَامَةُ، وَعُثْمَانُ؛ فَبَكَتْ، وَقَالَتْ: وَاللهِ، مَا طَلَّقَنِي عَنْ شَبَعٍ. وَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: قَالَ لِي جِبْرِيلُ: رَاجِعْ حَفْصَةَ، فَإِنَّهَا صَوَّامَةٌ، قَوَّامَةٌ، وَإِنَّهَا زَوْجَتُكَ فِي الْجَنَّةِ Artinya, “Dari Qais bin Zaid: bahwa Nabi pernah menceraikan Hafshah. Maka masuklah dua pamannya (dari pihak ibu), yaitu Qudamah dan ‘Utsman, menemuinya. Ia pun menangis dan berkata, “Demi Allah, beliau tidak menceraikanku karena sudah bosan.” Kemudian Nabi datang dan bersabda, “Jibril telah berkata kepadaku, ‘Rujuklah dengan Hafshah, karena ia wanita yang rajin berpuasa, tekun beribadah malam, dan sungguh ia adalah istrimu di surga.’” (HR Ath-Thabrani) Maka berumah tangga itu berat bekali diri dengan ilmu yang cukup dan bersikap lah dewasa terhadap pasangan jangan pernah mementingkan diri sendiri apalagi harus mempertahankan ego dan tidak mau mengalah terhadap pasangan masing-masing. Abu Sa’id al-Khudri juga meriwayatkan hadits lainnya dari Nabi Muhammad SAW: أَلَا فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ Artinya, “Ketahuilah, takutlah kalian terhadap dunia dan para wanita,” (HR At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah). Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ، فَإِنَّ المَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ” Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda: “Berwasiatlah (dalam kebaikan) pada wanita, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah pangkalnya. Jika kamu coba meluruskan tulang rusuk yang bengkok itu, maka dia bisa patah. Namun bila kamu biarkan maka dia akan tetap bengkok. Untuk itu nasihatilah para wanita”. (HR. Bukhari dan Muslim Itulah yang menjadi landasan nasehatilah perempuan tersebut dengan sebaik dan selembut mungkin agar dia patuh terhadap kamu dan bisa sama-sama menjalani rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah. Dalam riwayat juga disebutkan tentang besarnya pahala mendidik anak perempuan yaitu seseorang ayah yang mendidik satu anak perempuannya maka pahalanya mendapatkan tiket masuk surga, seorang ayah yang mendidik dengan baik dia anak perempuannya dia mendapatkan jaminan lepas dari api neraka, dan seseorang ayah yang mampu mendidik dengan baik tiga anak perempuannya maka dia akan bisa memasukkan kedua orangtuanya ke dalam surga juga. Maka sudah sepantasnya kita sebagai kepala keluarga membimbing istri dan keluarga kita ke jalan yang benar dan melindungi mereka dari masuk neraka. Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan dalam segala hal terutama dalam berumah tangga, suami harus menjadi pembimbing yang baik bagi istrinya dan juga sebagai panutan bagi anak-anaknya. Allah SWT berfirman: اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ Artinya : “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya.” (QS. An-Nisa : 34) Dalam ayat lain Allah SWT berfirman: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (Qs. At-Tahrim: 6) Dalam hadits Nabi Muhammad SAW juga bersabda: فَاتَّقُوْا اللهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَانِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوْطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُوْنَهُ فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوْهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ Artinya: “Bertakwalah kepada Allah tentang (urusan) wanita, karena sesungguhnya kalian telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kalian mempunyai hak yang menjadi kewajiban mereka, yaitu mereka tidak boleh memasukkan ke rumah kalian orang yang tidak kalian sukai. Jika mereka melakukannya maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Mereka pun memiliki hak yang menjadi kewajiban kalian, yaitu nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang makruf (HR Malik, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, an-Nasai, ad-Darimi, Ahmad, Ibn Hibban, al-Baihaqi, Ibn Khuzaimah, Abad bin Humaid, Ibn Abi Syaibah) Imam an-Nawawi di dalam Syarh Shahîh Muslim menjelaskan bahwa Hadis tersebut merupakan dorongan untuk memperhatikan hak para wanita, menasihati mereka dan memperlakukan mereka secara makruf. Karena surga seorang istri terletak pada keridhaan suami, sedangkan surga suami terletak pada ibunya. Maka saling melengkapi dengan pasangan dalam kelebihan dan kekurangan adalah sesuatu yang harus diperhatikan dalam berumah tangga supaya aman

Tausiah LDRQ

Apakah Anda Termasuk Sebaik-baik Manusia?

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊🎤 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Rq-Center Apakah Anda Termasuk Sebaik-baik Manusia? Setiap orang mendambakan menjadi yang terbaik. Sebagai seorang muslim, orientasi hidup untuk menjadi yang terbaik bukanlah dinilai dari ukuran manusia semata, tetapi karena ridha Allah Ta’ala. Inilah cara mudah menjadi orang terbaik dalam konsep Islam. Pertama, tidak ingkar melunasi hutang عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عن رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أنه فَقَالَ « خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً » متفق عليه Artinya: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” Muttafaqun ‘alaih Kedua, belajar Al-Quran dan mengajarkannya عَنْ عُثْمَانَ – رضى الله عنه- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري Artinya: “Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.” Hadits riwayat Bukhari. Ketiga, yang paling diharapkan kebaikannya dan paling jauh keburukannya عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَقَفَ عَلَى أُنَاسٍ جُلُوسٍ فَقَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ ». قَالَ فَسَكَتُوا فَقَالَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا. قَالَ « خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ …» رواه الترمذى Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di hadapan beberapa orang, lalu bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan sebaik-baik dan seburuk-buruk orang dari kalian?” Mereka terdiam, dan Nabi bertanya seperti itu tiga kali, lalu ada seorang yang berkata: “Iya, kami mau wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami sebaik-baik dan buruk-buruk kami,” beliau bersabda: “Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan sedangkan keburukannya terjaga…” Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 2603) Keempat, menjadi suami yang paling baik terhadap keluarganya عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى. رواه الترمذى Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallau ‘alaihi wasallam berasabda: “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Ash Shahihah (no. 285). Kelima, yang paling baik akhlaqnya dan menuntut ilmu عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «خَيْرُكُمْ إِسْلاَماً أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقاً إِذَا فَقِهُوا» رواه أحمد Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian islamnya adalah yang paling baik akhlaq jika mereka menuntut ilmu.” Hadits riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3312) Keenam, yang memberikan makanan عَنْ حَمْزَةَ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ رضي الله عنه قَالَ: فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ» رواه أحمد Artinya: “Hamzah bin Shuhaib meriwayatkan dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu yang berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan.” Hadits riwayat Ahmad dan dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3318) Ketujuh, yang panjang umur dan baik perbuatannya عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ رضي الله عنه أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ «مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ» رواه الترمذى Artinya: “Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ada seorang Arab Badui berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” beliau menjawab: “Siapa yang paling panjang umurnya dan baik amalannya.” Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihut Targhib wat Tarhib (no. 3363). Kedelapan, yang paling bermanfaat bagi manusia عَنِ جابر، رَضِيَ الله عَنْهُمَا، قَالَ : قال رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ Artinya: “Jabir radhiyallau ‘anhuma bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” Hadits dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3289). Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 📷Instagram LDRQ 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #ldrqraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻

Tausiah LDRQ

‎KESELAMATAN DAN KEBINASAAN SEORANG MUSLIM

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎KESELAMATAN DAN KEBINASAAN SEORANG MUSLIM ‎ ‎Setiap hari yang kita lalui sebenarnya adalah langkah kaki yang makin dekat menuju garis akhir kehidupan. Dalam perjalanan panjang ini, banyak dari kita yang sibuk mencari cara agar bisa selamat dunia dan akhirat. Namun, kita sering kali lupa bahwa selamat atau celakanya kita nanti sangat ditentukan oleh apa yang kita pelihara di dalam dada, serta bagaimana cara kita mengendalikan diri sendiri. ‎ ‎​Para ulama terdahulu pernah mewariskan seuntai nasihat berharga tentang dua hal yang bisa menjadi penyelamat, serta dua hal yang bisa menjadi bumerang penjerumus dalam kebinasaan: ‎​قَال سُفْيَانُ: وَقَالَ عَبْدُ اللهِ: اثْنَانِ مُنْجِيَتَانِ، وَاثْنَتَانِ مُهْلِكَتَانِ، فَالْمُنْجِيَتَانِ: النِّيَّةُ وَالنَّهْيُ، فَالنِّيَّةُ أَنْ تَنْوِيَ أَنْ تُطِيعَ اللهَ فِيمَا تَسْتَقْبِلُ، وَالنَّهْيُ أَنْ تَنْهَى نَفْسَكَ عَمَّا حَرَّمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَالْمُهْلِكَتَانِ: الْعُجْبُ وَالْقُنُوطُ ​“Sufyan berkata, dan Abdullah berkata: Ada dua perkara yang menyelamatkan dan ada dua perkara yang membinasakan. Dua perkara yang menyelamatkan adalah niat dan menahan diri. Niat adalah tekad untuk menaati Allah pada masa yang akan datang, sedangkan menahan diri adalah mencegah diri dari segala yang diharamkan oleh Allah. Adapun dua perkara yang membinasakan adalah ujub dan putus asa.” ‎ ‎Penyelamat pertama yang harus kita miliki adalah ketulusan niat. Niat adalah jangkar dari setiap perbuatan yang kita lakukan. Di mata Allah, sebuah amalan yang terlihat sepele bisa berubah menjadi sangat mulia jika dasarnya adalah keikhlasan hati. Sebaliknya, kerja keras yang luar biasa besar bisa menguap begitu saja tanpa arti kalau niat di baliknya sudah keliru. Itulah mengapa kita perlu sering-sering bertanya pada diri sendiri tentang untuk siapa kita bekerja, apa yang sebenarnya kita cari, dan apakah yang kita lakukan hari ini murni karena Allah atau sekadar demi mendapat tepuk tangan dari manusia. ‎ ‎​Setelah niat yang lurus, penyelamat kedua adalah kemampuan menahan diri. Kita diciptakan lengkap dengan hawa nafsu yang selalu menuntut untuk dituruti. Di sinilah letak ujiannya, karena tidak semua hal yang kita inginkan boleh kita lakukan. Menahan diri bukan hanya soal menjauhi kemaksiatan yang besar, melainkan juga menahan lisan agar tidak mengeluarkan ucapan yang melukai orang lain, mengerem amarah agar tidak meluap, serta menjaga hati dari rasa sombong. ‎ ‎Namun, kita juga harus waspada terhadap dua penyakit batin yang bisa menghanguskan seluruh modal kebaikan kita dalam sekejap. Penyakit yang pertama adalah ujub, sebuah kondisi di mana seseorang mulai merasa kagum, bangga, dan puas dengan kehebatan dirinya sendiri. Orang yang terjangkit ujub akan merasa ibadahnya sudah paling banyak, ilmunya paling tinggi, atau merasa posisinya lebih suci daripada orang lain. Mereka lupa bahwa semua kelebihan, kepintaran, dan kesempatan berbuat baik yang mereka miliki murni merupakan hadiah dan titipan dari Allah. ‎ ​Penyakit penghancur yang kedua adalah putus asa. Ini terjadi ketika seseorang merasa beban hidupnya sudah terlalu berat atau merasa dosa-dosanya sudah terlanjur menggunung, hingga akhirnya mereka menganggap pintu tobat telah tertutup. Pikiran seperti ini sangat berbahaya, karena sejatinya kasih sayang dan ampunan Allah jauh lebih luas daripada semua kesalahan yang pernah dilakukan manusia. Seorang mukmin yang sehat hatinya akan selalu berjalan dengan keseimbangan antara rasa takut akan dosa dan rasa optimis yang besar terhadap kebaikan Tuhannya. ‎ ​Mari kita jadikan nasihat ini sebagai cermin untuk melihat kondisi diri kita hari ini. Semoga kita bisa terus menjaga niat dan mengendalikan nafsu, sekaligus dijauhkan dari jebakan rasa bangga diri maupun keputusasaan yang merusak jiwa. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

JANGAN BUKA LEMBARAN DOSA YANG TELAH ALLAH TUTUPI

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎JANGAN BUKA LEMBARAN DOSA YANG TELAH ALLAH TUTUPI ‎ ‎Salah satu bentuk kasih sayang yang paling nyata namun sering kita lupakan adalah bagaimana Allah SWT menutupi segala kekurangan, aib, dan kesalahan kita. Sering kali manusia melakukan kekhilafan dalam kesunyian, di saat tidak ada satu pun mata makhluk yang melihat. Namun, alih-alih mempermalukan kita di depan umum, Allah justru menjaga rahasia tersebut rapat-rapat. Selimut penutup ini merupakan sebuah anugerah yang sangat besar. Manfaatnya, kita masih bisa dihormati dan dihargai oleh orang-orang di sekitar kita. Hadiah berupa kesempatan ini seharusnya melahirkan rasa malu yang mendalam di dalam dada, yang kemudian menggerakkan kita untuk segera berbenah, bukan malah menjadikannya sebagai bahan pameran. ‎ ‎Ada sebuah peringatan yang sangat tegas dari Rasulullah mengenai perilaku orang-orang yang dengan sengaja meruntuhkan dinding penutup aib yang telah dibangun oleh Tuhannya sendiri: ‎​عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ. ​Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Seluruh umatku akan mendapatkan ampunan, kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat maksiat. Termasuk bentuk terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu perbuatan maksiat pada malam hari, kemudian ketika pagi tiba, padahal Allah telah menutupi maksiatnya, ia berkata: ‘Wahai fulan, tadi malam aku telah melakukan ini dan itu.’ Padahal semalaman Allah telah menutupi aibnya, namun pada pagi harinya ia sendiri yang membuka penutup yang telah Allah berikan kepadanya.” (HR al-Bukhari) ‎ ‎Pesan dari lembaran hadis di atas mengulik sebuah realita yang miris. Di mana sebuah tindakan salah yang semestinya ditangisi dan disesali, di zaman sekarang justru kerap diumumkan dengan bangga kepada khalayak ramai, baik lewat obrolan santai maupun unggahan di media sosial. Ketika Sang Pencipta memilih untuk menyembunyikan masa lalu atau kekhilafan kita semalam, itu adalah sinyal bahwa Dia sedang memberikan kita waktu luang untuk pulang, bersujud, merenung, dan memohon ampun secara sunyi. Sungguh sebuah kerugian besar jika kelonggaran itu malah kita gunakan untuk mencari pengakuan semu dari sesama manusia. ‎ ​Sikap menyembunyikan dosa ini sama sekali bukan bertujuan untuk meremehkan esensi dari kesalahan itu sendiri. Sebaliknya, seorang hamba yang peka akan memahami bahwa ditutupnya sebuah noda adalah ajakan halus dari Allah agar kita memperbaiki diri secara senyap tanpa perlu membuat kegaduhan. Rasa syukur atas terjaganya nama baik kita wujudkan dengan cara menghentikan kebiasaan buruk tersebut secara total. ‎ ‎Pada akhirnya, kita semua perlu membumikan pandangan kita bahwa penilaian baik orang lain terhadap diri kita hari ini murni karena Allah masih memegang kunci rahasia keburukan kita. Kita terlihat mulia bukan karena kita suci tanpa noda, melainkan karena kejelekan kita belum ditampakkan ke permukaan. Oleh sebab itu, marilah kita jaga lisan dan jempol kita dengan baik, rawat kehormatan diri yang masih tersisa, dan jangan pernah sesekali membuka kembali lembaran kelam yang telah dikunci rapat oleh rahmat Allah SWT. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

‎MENGETUK PINTU LANGIT DI HARI ‘ASYURA

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎MENGETUK PINTU LANGIT DI HARI ‘ASYURA ‎ ‎Bulan Muharram selalu membawa suasana spiritual yang berbeda bagi umat Muslim, terutama saat memasuki tanggal sepuluh yang akrab kita sebut sebagai Hari ‘Asyura. Sejak zaman Rasulullah saw., hari ini bukan sekadar pergantian tanggal di kalender, melainkan sebuah waktu istimewa yang sarat akan sejarah perjuangan para nabi terdahulu serta tumpukan ruang pahala yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. ‎ ‎​Salah satu cara terbaik untuk menghidupkan momentum ini adalah dengan menjalankan ibadah puasa sunnah. Rasulullah saw. memberikan kabar gembira mengenai besarnya ganjaran bagi siapa saja yang mau menahan lapar dan haus di hari kesepuluh Muharram ini, sebagaimana sabda beliau dalam sebuah hadis: ‎صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ “Adapun puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar puasa tersebut dapat menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR Muslim) ‎ ‎​Menariknya, agar ibadah kita memiliki ciri khas dan tidak persis sama dengan tradisi kaum Yahudi maupun Nasrani yang juga mengagungkan tanggal sepuluh, Rasulullah saw. berniat untuk menggandengnya dengan puasa di hari sebelumnya, yaitu tanggal sembilan Muharram atau Hari Tasu’a. Komitmen ini terekam dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas RA: ‎فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهَ تَعَالَى صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ “Jika masih ada tahun depan, insya Allah kami akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR Muslim) ‎ ‎​Oleh karena itu, pilihan yang paling utama bagi kita adalah melaksanakan puasa dua hari berturut-turut pada tanggal sembilan dan sepuluh Muharram sebagai bentuk kesempurnaan ibadah. ‎ ‎​Di samping ibadah yang sifatnya pribadi, Hari ‘Asyura juga menjadi waktu yang sangat tepat untuk memperluas jangkauan kebaikan sosial kita, khususnya kepada anak-anak yatim yang membutuhkan uluran tangan. Memberikan perhatian, kasih sayang, dan bantuan kepada mereka ternyata memiliki dampak yang sangat luar biasa bagi kesehatan mental dan spiritual kita sendiri. Hal ini sejalan dengan pesan menyentuh yang tertuang dalam kitab Faydh al-Qadir: ‎أَتُحِبُّ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ وَتُدْرِكَ حَاجَتَكَ؟ ارْحَمِ الْيَتِيمَ وَامْسَحْ رَأْسَهُ وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ يَلِنْ قَلْبُكَ وَتُدْرِكْ حَاجَتَكَ ​“Apakah engkau ingin hatimu menjadi lembut dan kebutuhanmu terpenuhi? Sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah ia makan dari makananmu. Niscaya hatimu menjadi lembut dan kebutuhanmu terpenuhi.” ‎ ‎Selain berbagi kepada anak yatim, kebaikan di Hari ‘Asyura juga harus dimulai dari dalam rumah kita sendiri, yaitu dengan memberikan kelapangan nafkah dan perhatian lebih kepada keluarga tercinta. Kita disunnahkan untuk menyenangkan hati pasangan dan anak-anak dengan memberikan hidangan atau suasana yang lebih istimewa dari hari biasanya, sesuai dengan batas kemampuan finansial masing-masing. Langkah kecil ini merupakan pemicu datangnya keberkahan materi yang lebih luas, sebagaimana disebutkan dalam sebuah keterangan: ‎​مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ “Barang siapa melapangkan nafkah kepada keluarganya pada Hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun.” (HR Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi) ‎ ‎Di balik taburan anjuran amal saleh tersebut, lembaran kitab klasik seperti _Tanbih al-Ghafilin_ juga mencatat bahwa Hari ‘Asyura adalah hari yang menjadi saksi bisu berbagai peristiwa besar sejak awal penciptaan alam semesta. Di hari inilah Allah menciptakan langit, bumi, samudera, hingga surga dan pena takdir. Di tanggal yang sama pula, sejarah mencatat momen diterimanya tobat Nabi Adam, kelahiran Nabi Ibrahim serta keselamatannya dari kobaran api, hingga diangkatnya Nabi Isa ke hadirat-Nya. Semua benang merah sejarah ini menunjukkan betapa besarnya pertolongan dan kasih sayang Allah yang turun di hari tersebut. ‎ ‎​Mari kita jadikan semua catatan keutamaan ini sebagai pemantik semangat untuk tidak membiarkan Hari ‘Asyura berlalu begitu saja sebagai hari biasa. Isilah waktu-waktu berharga tersebut dengan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, mempererat kehangatan keluarga, serta mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan. Semoga melalui momentum ini, hati kita semakin peka, rasa syukur kita kian tebal, dan kita digolongkan sebagai hamba-hamba yang beruntung. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

KETIKA SIBUK MENGEJAR DUNIA YANG TIDAK DIBAWA MATI

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎KETIKA SIBUK MENGEJAR DUNIA YANG TIDAK DIBAWA MATI ‎ Hampir setiap pagi kita memulai hari dengan perlombaan yang sama, yaitu mengejar urusan duniawi. Pikiran kita langsung dipenuhi dengan urusan pekerjaan, mencari nafkah, mengejar kedudukan, hingga mengumpulkan kenyamanan hidup. Bekerja keras tentu merupakan hal yang mulia, namun sayangnya, dalam keriuhan mengejar materi tersebut, kita sering kali melupakan satu hal yang paling krusial: merawat kondisi hati agar tetap terhubung dengan Sang Pencipta. ‎ Coba kita renungkan kembali bagaimana kita membagi waktu akhir-akhir ini. Kita begitu betah menghabiskan waktu berjam-jam berselancar di media sosial, namun mendadak merasa lelah dan mengantuk saat harus membaca lembaran kitab suci meski hanya sebentar. Kita juga sangat responsif dan tidak ingin membuat manusia lain menunggu saat membalas pesan, tetapi di sisi lain, kita justru sering sengaja menunda-nunda untuk menghadap Allah ketika panggilan salat sudah berkumandang. Ironisnya, kita sering didera kecemasan luar biasa tentang jaminan rezeki yang sebenarnya sudah diatur oleh-Nya, sementara kita abai dan tidak pernah khawatir dengan tumpukan dosa yang kita perbuat setiap hari. ‎ ‎Kita perlu menyadari bahwa segala kemewahan, kendaraan, rumah megah, dan saldo tabungan yang kita banggakan saat ini memiliki masa kedaluwarsa. Suatu hari nanti, semua itu akan dilepaskan dan kita akan ditinggalkan sendirian di tempat yang sunyi. Di dalam kubur nanti, tidak ada satu pun aset duniawi yang bisa menolong kita. Satu-satunya pertolongan yang nyata hanyalah keikhlasan dalam beramal, konsistensi ibadah yang kita jaga, serta hati yang bersih yang selalu berzikir mengingat Allah. ‎ ‎Oleh karena itu, jangan sampai kita baru tersadar dan mencari Tuhan saat kehidupan kita sudah hancur berantakan. Jangan pula menunggu tubuh ini didera penyakit baru kita mau bertekuk lutut memohon ampunan dan rajin beribadah. Ajal tidak pernah memberikan sinyal atau pemberitahuan terlebih dahulu, dan tidak ada yang bisa menjamin bahwa esok hari pintu taubat masih terbuka untuk kita. ‎ ‎Sebelum kita menutup mata untuk beristirahat, mari kita sempatkan diri untuk bercermin dan bertanya secara jujur. Seandainya kesempatan hidup kita dihentikan hari ini dan kita harus kembali menghadap-Nya, apakah bekal yang kita bawa sudah cukup untuk menemani perjalanan panjang di akhirat nanti? Semoga Allah senantiasa mengikis kekerasan hati kita, mengampuni noda-noda dosa kita, dan menanamkan rasa rindu yang besar di dalam jiwa kita terhadap kehidupan akhirat. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

MENGHITUNG DOSA DI AKHIR TAHUN

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎MENGHITUNG DOSA DI AKHIR TAHUN ‎ ‎Sebagai manusia, kita semua pasti punya salah. Masalahnya, kita sering kali terlalu sibuk melihat kesalahan orang lain, sampai lupa melihat keburukan diri sendiri. Kita tidak akan pernah bisa memperbaiki diri kalau kita selalu merasa paling benar dan malas mengoreksi diri sendiri. ‎ ‎​Padahal, Allah SWT sudah mengingatkan kita dalam QS. Al-Hasyr: 18: ‎​يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ ​“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ‎​Apa yang harus kita periksa? ​Coba luangkan waktu sejenak untuk bertanya pada diri sendiri: ‎1. Bagaimana kabar hati kita? Apakah di dalamnya masih penuh dengan sifat iri, dengki, dan prasangka buruk kepada orang lain? Atau justru sudah bersih, tenang, dan selalu rindu kepada Allah ‎2. Bagaimana dengan perbuatan kita sehari-hari? Apakah tangan, kaki, mata, dan lisan kita sudah digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat? Atau malah sering kita pakai untuk melakukan hal-hal yang dilarang agama? ‎Ingatlah nasihat yang sangat berharga dari Sahabat Umar bin Khattab ini: ‎​حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا ، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا ​“Koreksilah diri kalian sebelum kalian dikoreksi! Timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang (di hari kiamat)!” Kenapa kita harus buru-buru memeriksa diri? Karena hidup kita di dunia ini sangat singkat dan dibatasi oleh waktu. Syaikh Muhammad Jalaluddin dalam ringkasan kitab Ihya Ulumuddin mengingatkan kita tentang modal hidup yang sebenarnya: ‎​مَا لِي بِضَاعَةً إِلَّا الْعُمْرَ, وَمَهْمَا فَنَى فَقَدْ فَنَى رَأْسُ الْمَالِ ​“Kita tidak mempunyai modal kecuali umur. Ketika umur kita habis, maka habislah modal kita.” Bayangkan kalau kita punya modal usaha, lalu uangnya habis begitu saja tanpa menghasilkan apa-apa. Tentu kita akan bangkrut. Begitu juga dengan hidup kita. Jika modal bernama “umur” ini habis untuk hal yang sia-sia atau berbuat dosa, kita akan menjadi orang yang paling rugi dan bangkrut di akhirat nanti. ‎Momen pergantian tahun ini adalah waktu yang tepat untuk “bercermin”. Mari kita akui semua kekurangan dan dosa kita di hadapan Allah, lalu mulailah berbenah. Mumpung jantung masih berdetak dan modal umur masih tersisa, mari kita perbaiki masa depan kita sebelum semuanya terlambat. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Keikhlasan Sejati; Ciri Utama dari Imam Dzun-Nun Al-Mishri

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒️🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Keikhlasan Sejati; Tiga Ciri Utama dari Imam Dzun-Nun Al-Mishri Ikhlas adalah salah satu nilai inti dalam ajaran Islam yang menjadi dasar dari setiap amal ibadah dan perbuatan seorang muslim. Ikhlas berarti melakukan sesuatu semata-mata karena Allah Subhanahu Wa ta’ala, tanpa ada motivasi lain seperti mencari pujian, popularitas, atau keuntungan duniawi. Konsep ikhlas sangat penting karena Allah hanya menerima amal yang dilakukan dengan niat semata – mata karena Allah. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam beberapa hadist. Para ulama dan tokoh tasawuf telah banyak memberikan penjelasan mengenai tanda-tanda ikhlas. Misalnya, Dzun-Nun Al-Mishri menyebutkan bahwa salah satu tanda keikhlasan adalah kesamaan antara pujian dan celaan dari manusia. Fudhail bin ‘Iyadh juga menekankan bahwa meninggalkan amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik, sedangkan ikhlas adalah ketika Allah melindungi seseorang dari keduanya. penting bagi kita untuk mengenali tanda-tanda ikhlas dalam diri kita sebagai upaya untuk selalu memperbaiki niat dan meningkatkan kualitas amal ibadah kita. Mengkaji tanda-tanda ikhlas juga membantu kita dalam menjaga kemurnian hati dan niat dalam setiap perbuatan, serta menjauhkan diri dari sifat riya’ dan syirik khafi (syirik tersembunyi) yang dapat merusak amal kita di hadapan Allah Subhanahu Wa ta’ala,. Imam Dzun-Nun Al-Mishri juga menyebutkan tanda-tanda Orang yang ikhlas yaitu sebagai sebagai berikut 1. Kesamaan Antara Pujian dan Celaan: Orang yang ikhlas tidak terpengaruh oleh pujian atau celaan dari manusia. Baginya, penilaian manusia tidak penting dibandingkan dengan penilaian Allah. Dzun-Nun Al-Mishri menyatakan bahwa salah satu tanda keikhlasan adalah ketika seseorang merasa sama saja antara dipuji dan dicela oleh orang lain. 2. Melupakan Amal yang Dilakukan: Orang yang ikhlas melupakan amal baik yang telah mereka lakukan, karena mereka melakukannya semata-mata untuk Allah dan bukan untuk mengingat-ingatnya atau merasa bangga. Hal ini juga menunjukkan bahwa mereka tidak mengharapkan pujian atau balasan dari manusia. 3. Fokus pada Akhirat: Orang yang ikhlas selalu mengharapkan pahala dan balasan dari Allah di akhirat, bukan di dunia. Mereka mengerti bahwa pahala/balasan yang terbaik adalah yang diberikan oleh Allah nanti di akhirat, sehingga mereka tidak tergoda oleh imbalan duniawi semata. Bila kita sudah mengetahui tanda-tanda yang telah disebutkan, maka kita dapat lebih mampu untuk mengintropeksi diri dalam menilai niat dan kualitas amal kita, serta berusaha untuk selalu memperbaiki diri agar semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala, dengan hati ikhlas. Amiin… Ref: al- Nawawi, Bustanul Arifin, (Dark: arriyan) h.27 ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudh

Tausiah LDRQ

3 ALASAN MENGAPA MUHARRAM BEGITU ISTIMEWA

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎3 ALASAN MENGAPA MUHARRAM BEGITU ISTIMEWA ‎ ‎Bulan Muharram adalah pembuka dalam kalender Hijriyah. Sayangnya, banyak dari kita yang melewatkannya begitu saja tanpa makna, seolah itu hanya pergantian angka di kalender. Padahal, Muharram menyimpan rahasia spiritual dan keistimewaan besar yang langsung disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya. ‎ ‎​Berikut adalah tiga keistimewaan utama bulan Muharram yang patut kita renungkan dan amalkan: ‎ 1. Salah Satu dari Empat Bulan Haram (Mulia) ‎ ‎Muharram bukanlah bulan biasa. Ia dipilih Allah sebagai satu dari empat bulan yang disucikan, di mana pada bulan-bulan ini kita dilarang keras berbuat zalim dan diwajibkan menjaga kedamaian. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah: 36: ‎​إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ ​“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah SWT ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antara empat bulan haram (bulan Dzulqa’idah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam empat bulan mulia itu dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” ‎ ‎2. Penghapus Dosa di Hari ‘Asyura ‎ ‎Di dalam bulan Muharram, terdapat satu hari yang sangat sakral, yaitu hari ‘Asyura (10 Muharram). Rasulullah SAW sangat menganjurkan kita untuk berpuasa di hari tersebut, karena ganjarannya adalah dihapuskannya dosa-dosa kita selama setahun yang lalu. ‎​عَنْ أَبي قَتَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صِيامِ يَوْمِ عَاشُوراءَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ المَاضِيَةَ. (رواه مسلم) “Diriwayatkan dari Abu Qatadah RA: sungguh Rasulullah saw bersabda pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Asyura, lalu beliau menjawab: ‘Puasa Asyura melebur dosa setahun yang telah lewat’.” (HR. Muslim) ‎ ‎3. Menyandang Gelar Istimewa: “Syahrullah” (Bulan Allah) ‎ ‎Keistimewaan Muharram yang paling tinggi adalah statusnya yang disebut langsung oleh Nabi SAW sebagai Syahrullah (Bulan Allah). Ini adalah satu-satunya bulan yang namanya disandingkan langsung dengan nama Allah sebagai bentuk kehormatan tertinggi. ‎​عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ» (رَوَاهُ مُسْلِم) ​“Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim) ‎ ‎​Mengenai rahasia penamaan ini, Imam Jalaluddin As-Suyuthi menukil penjelasan dari Al-Hafizh Abul Fadhl Al-‘Iraqy: ‎​قَالَ الْحَافِظُ أَبُو الْفَضْلِ الْعِرَاقِيُّ فِي شَرْحِ التِّرْمِذِيِّ: مَا الْحِكْمَةُ فِي تَسْمِيَةِ الْمُحَرَّمِ “شَهْرُ اللَّهِ”، وَالشُّهُورُ كُلُّهَا لِلَّهِ؟ يَحْتَمِلُ أَنْ يُقَالَ: إِنَّهُ لَمَّا كَانَ مِنَ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ فِيهَا الْقِتَالَ، وَكَانَ أَوَّلَ شُهُورِ السَّنَةِ، أُضِيفَ إِلَيْهِ إِضَافَةَ تَخْصِيصٍ. وَلَمْ يَصِحَّ إِضَافَةُ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُورِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا “شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ”. Al-Hafizh Abul Fadhl al-‘Iraqy menjelaskan dalam Syarah al-Tirmidzi: “Apa hikmahnya penamaan bulan Muḥarram dengan ‘Bulan Allah’, padahal seluruh bulan adalah milik Allah?” Kemungkinan dijawab: Karena bulan Muharram termasuk dalam bulan-bulan haram yang Allah haramkan (dilarang) berperang di dalamnya, dan karena ia merupakan bulan pertama dalam tahun Hijriyah, maka dinisbahkan kepada Allah sebagai bentuk pengkhususan dan pemuliaan. Dan tidak ada bulan dari bulan-bulan yang dinisbahkan kepada Allah secara sahih dari Nabi SAW kecuali ‘Bulan Allah al-Muharram’. Muharram adalah momentum terbaik untuk melakukan “reset” kehidupan. Kita tidak perlu menunggu tahun baru masehi untuk berubah menjadi lebih baik. Mumpung kita berada di bulan yang dijuluki “Bulan Allah” ini, mari perbanyak puasa sunnah, hidupkan shalat malam, dan jaga diri kita dari berbuat zalim kepada sesama. Perubahan yang hakiki selalu dimulai saat hati kita tergerak oleh petunjuk-Nya. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudh