Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

‎KESELAMATAN DAN KEBINASAAN SEORANG MUSLIM

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎KESELAMATAN DAN KEBINASAAN SEORANG MUSLIM ‎ ‎Setiap hari yang kita lalui sebenarnya adalah langkah kaki yang makin dekat menuju garis akhir kehidupan. Dalam perjalanan panjang ini, banyak dari kita yang sibuk mencari cara agar bisa selamat dunia dan akhirat. Namun, kita sering kali lupa bahwa selamat atau celakanya kita nanti sangat ditentukan oleh apa yang kita pelihara di dalam dada, serta bagaimana cara kita mengendalikan diri sendiri. ‎ ‎​Para ulama terdahulu pernah mewariskan seuntai nasihat berharga tentang dua hal yang bisa menjadi penyelamat, serta dua hal yang bisa menjadi bumerang penjerumus dalam kebinasaan: ‎​قَال سُفْيَانُ: وَقَالَ عَبْدُ اللهِ: اثْنَانِ مُنْجِيَتَانِ، وَاثْنَتَانِ مُهْلِكَتَانِ، فَالْمُنْجِيَتَانِ: النِّيَّةُ وَالنَّهْيُ، فَالنِّيَّةُ أَنْ تَنْوِيَ أَنْ تُطِيعَ اللهَ فِيمَا تَسْتَقْبِلُ، وَالنَّهْيُ أَنْ تَنْهَى نَفْسَكَ عَمَّا حَرَّمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَالْمُهْلِكَتَانِ: الْعُجْبُ وَالْقُنُوطُ ​“Sufyan berkata, dan Abdullah berkata: Ada dua perkara yang menyelamatkan dan ada dua perkara yang membinasakan. Dua perkara yang menyelamatkan adalah niat dan menahan diri. Niat adalah tekad untuk menaati Allah pada masa yang akan datang, sedangkan menahan diri adalah mencegah diri dari segala yang diharamkan oleh Allah. Adapun dua perkara yang membinasakan adalah ujub dan putus asa.” ‎ ‎Penyelamat pertama yang harus kita miliki adalah ketulusan niat. Niat adalah jangkar dari setiap perbuatan yang kita lakukan. Di mata Allah, sebuah amalan yang terlihat sepele bisa berubah menjadi sangat mulia jika dasarnya adalah keikhlasan hati. Sebaliknya, kerja keras yang luar biasa besar bisa menguap begitu saja tanpa arti kalau niat di baliknya sudah keliru. Itulah mengapa kita perlu sering-sering bertanya pada diri sendiri tentang untuk siapa kita bekerja, apa yang sebenarnya kita cari, dan apakah yang kita lakukan hari ini murni karena Allah atau sekadar demi mendapat tepuk tangan dari manusia. ‎ ‎​Setelah niat yang lurus, penyelamat kedua adalah kemampuan menahan diri. Kita diciptakan lengkap dengan hawa nafsu yang selalu menuntut untuk dituruti. Di sinilah letak ujiannya, karena tidak semua hal yang kita inginkan boleh kita lakukan. Menahan diri bukan hanya soal menjauhi kemaksiatan yang besar, melainkan juga menahan lisan agar tidak mengeluarkan ucapan yang melukai orang lain, mengerem amarah agar tidak meluap, serta menjaga hati dari rasa sombong. ‎ ‎Namun, kita juga harus waspada terhadap dua penyakit batin yang bisa menghanguskan seluruh modal kebaikan kita dalam sekejap. Penyakit yang pertama adalah ujub, sebuah kondisi di mana seseorang mulai merasa kagum, bangga, dan puas dengan kehebatan dirinya sendiri. Orang yang terjangkit ujub akan merasa ibadahnya sudah paling banyak, ilmunya paling tinggi, atau merasa posisinya lebih suci daripada orang lain. Mereka lupa bahwa semua kelebihan, kepintaran, dan kesempatan berbuat baik yang mereka miliki murni merupakan hadiah dan titipan dari Allah. ‎ ​Penyakit penghancur yang kedua adalah putus asa. Ini terjadi ketika seseorang merasa beban hidupnya sudah terlalu berat atau merasa dosa-dosanya sudah terlanjur menggunung, hingga akhirnya mereka menganggap pintu tobat telah tertutup. Pikiran seperti ini sangat berbahaya, karena sejatinya kasih sayang dan ampunan Allah jauh lebih luas daripada semua kesalahan yang pernah dilakukan manusia. Seorang mukmin yang sehat hatinya akan selalu berjalan dengan keseimbangan antara rasa takut akan dosa dan rasa optimis yang besar terhadap kebaikan Tuhannya. ‎ ​Mari kita jadikan nasihat ini sebagai cermin untuk melihat kondisi diri kita hari ini. Semoga kita bisa terus menjaga niat dan mengendalikan nafsu, sekaligus dijauhkan dari jebakan rasa bangga diri maupun keputusasaan yang merusak jiwa. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

JANGAN BUKA LEMBARAN DOSA YANG TELAH ALLAH TUTUPI

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎JANGAN BUKA LEMBARAN DOSA YANG TELAH ALLAH TUTUPI ‎ ‎Salah satu bentuk kasih sayang yang paling nyata namun sering kita lupakan adalah bagaimana Allah SWT menutupi segala kekurangan, aib, dan kesalahan kita. Sering kali manusia melakukan kekhilafan dalam kesunyian, di saat tidak ada satu pun mata makhluk yang melihat. Namun, alih-alih mempermalukan kita di depan umum, Allah justru menjaga rahasia tersebut rapat-rapat. Selimut penutup ini merupakan sebuah anugerah yang sangat besar. Manfaatnya, kita masih bisa dihormati dan dihargai oleh orang-orang di sekitar kita. Hadiah berupa kesempatan ini seharusnya melahirkan rasa malu yang mendalam di dalam dada, yang kemudian menggerakkan kita untuk segera berbenah, bukan malah menjadikannya sebagai bahan pameran. ‎ ‎Ada sebuah peringatan yang sangat tegas dari Rasulullah mengenai perilaku orang-orang yang dengan sengaja meruntuhkan dinding penutup aib yang telah dibangun oleh Tuhannya sendiri: ‎​عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ. ​Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Seluruh umatku akan mendapatkan ampunan, kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat maksiat. Termasuk bentuk terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu perbuatan maksiat pada malam hari, kemudian ketika pagi tiba, padahal Allah telah menutupi maksiatnya, ia berkata: ‘Wahai fulan, tadi malam aku telah melakukan ini dan itu.’ Padahal semalaman Allah telah menutupi aibnya, namun pada pagi harinya ia sendiri yang membuka penutup yang telah Allah berikan kepadanya.” (HR al-Bukhari) ‎ ‎Pesan dari lembaran hadis di atas mengulik sebuah realita yang miris. Di mana sebuah tindakan salah yang semestinya ditangisi dan disesali, di zaman sekarang justru kerap diumumkan dengan bangga kepada khalayak ramai, baik lewat obrolan santai maupun unggahan di media sosial. Ketika Sang Pencipta memilih untuk menyembunyikan masa lalu atau kekhilafan kita semalam, itu adalah sinyal bahwa Dia sedang memberikan kita waktu luang untuk pulang, bersujud, merenung, dan memohon ampun secara sunyi. Sungguh sebuah kerugian besar jika kelonggaran itu malah kita gunakan untuk mencari pengakuan semu dari sesama manusia. ‎ ​Sikap menyembunyikan dosa ini sama sekali bukan bertujuan untuk meremehkan esensi dari kesalahan itu sendiri. Sebaliknya, seorang hamba yang peka akan memahami bahwa ditutupnya sebuah noda adalah ajakan halus dari Allah agar kita memperbaiki diri secara senyap tanpa perlu membuat kegaduhan. Rasa syukur atas terjaganya nama baik kita wujudkan dengan cara menghentikan kebiasaan buruk tersebut secara total. ‎ ‎Pada akhirnya, kita semua perlu membumikan pandangan kita bahwa penilaian baik orang lain terhadap diri kita hari ini murni karena Allah masih memegang kunci rahasia keburukan kita. Kita terlihat mulia bukan karena kita suci tanpa noda, melainkan karena kejelekan kita belum ditampakkan ke permukaan. Oleh sebab itu, marilah kita jaga lisan dan jempol kita dengan baik, rawat kehormatan diri yang masih tersisa, dan jangan pernah sesekali membuka kembali lembaran kelam yang telah dikunci rapat oleh rahmat Allah SWT. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

‎MENGETUK PINTU LANGIT DI HARI ‘ASYURA

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎MENGETUK PINTU LANGIT DI HARI ‘ASYURA ‎ ‎Bulan Muharram selalu membawa suasana spiritual yang berbeda bagi umat Muslim, terutama saat memasuki tanggal sepuluh yang akrab kita sebut sebagai Hari ‘Asyura. Sejak zaman Rasulullah saw., hari ini bukan sekadar pergantian tanggal di kalender, melainkan sebuah waktu istimewa yang sarat akan sejarah perjuangan para nabi terdahulu serta tumpukan ruang pahala yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. ‎ ‎​Salah satu cara terbaik untuk menghidupkan momentum ini adalah dengan menjalankan ibadah puasa sunnah. Rasulullah saw. memberikan kabar gembira mengenai besarnya ganjaran bagi siapa saja yang mau menahan lapar dan haus di hari kesepuluh Muharram ini, sebagaimana sabda beliau dalam sebuah hadis: ‎صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ “Adapun puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar puasa tersebut dapat menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR Muslim) ‎ ‎​Menariknya, agar ibadah kita memiliki ciri khas dan tidak persis sama dengan tradisi kaum Yahudi maupun Nasrani yang juga mengagungkan tanggal sepuluh, Rasulullah saw. berniat untuk menggandengnya dengan puasa di hari sebelumnya, yaitu tanggal sembilan Muharram atau Hari Tasu’a. Komitmen ini terekam dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas RA: ‎فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهَ تَعَالَى صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ “Jika masih ada tahun depan, insya Allah kami akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR Muslim) ‎ ‎​Oleh karena itu, pilihan yang paling utama bagi kita adalah melaksanakan puasa dua hari berturut-turut pada tanggal sembilan dan sepuluh Muharram sebagai bentuk kesempurnaan ibadah. ‎ ‎​Di samping ibadah yang sifatnya pribadi, Hari ‘Asyura juga menjadi waktu yang sangat tepat untuk memperluas jangkauan kebaikan sosial kita, khususnya kepada anak-anak yatim yang membutuhkan uluran tangan. Memberikan perhatian, kasih sayang, dan bantuan kepada mereka ternyata memiliki dampak yang sangat luar biasa bagi kesehatan mental dan spiritual kita sendiri. Hal ini sejalan dengan pesan menyentuh yang tertuang dalam kitab Faydh al-Qadir: ‎أَتُحِبُّ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ وَتُدْرِكَ حَاجَتَكَ؟ ارْحَمِ الْيَتِيمَ وَامْسَحْ رَأْسَهُ وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ يَلِنْ قَلْبُكَ وَتُدْرِكْ حَاجَتَكَ ​“Apakah engkau ingin hatimu menjadi lembut dan kebutuhanmu terpenuhi? Sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah ia makan dari makananmu. Niscaya hatimu menjadi lembut dan kebutuhanmu terpenuhi.” ‎ ‎Selain berbagi kepada anak yatim, kebaikan di Hari ‘Asyura juga harus dimulai dari dalam rumah kita sendiri, yaitu dengan memberikan kelapangan nafkah dan perhatian lebih kepada keluarga tercinta. Kita disunnahkan untuk menyenangkan hati pasangan dan anak-anak dengan memberikan hidangan atau suasana yang lebih istimewa dari hari biasanya, sesuai dengan batas kemampuan finansial masing-masing. Langkah kecil ini merupakan pemicu datangnya keberkahan materi yang lebih luas, sebagaimana disebutkan dalam sebuah keterangan: ‎​مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ “Barang siapa melapangkan nafkah kepada keluarganya pada Hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun.” (HR Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi) ‎ ‎Di balik taburan anjuran amal saleh tersebut, lembaran kitab klasik seperti _Tanbih al-Ghafilin_ juga mencatat bahwa Hari ‘Asyura adalah hari yang menjadi saksi bisu berbagai peristiwa besar sejak awal penciptaan alam semesta. Di hari inilah Allah menciptakan langit, bumi, samudera, hingga surga dan pena takdir. Di tanggal yang sama pula, sejarah mencatat momen diterimanya tobat Nabi Adam, kelahiran Nabi Ibrahim serta keselamatannya dari kobaran api, hingga diangkatnya Nabi Isa ke hadirat-Nya. Semua benang merah sejarah ini menunjukkan betapa besarnya pertolongan dan kasih sayang Allah yang turun di hari tersebut. ‎ ‎​Mari kita jadikan semua catatan keutamaan ini sebagai pemantik semangat untuk tidak membiarkan Hari ‘Asyura berlalu begitu saja sebagai hari biasa. Isilah waktu-waktu berharga tersebut dengan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, mempererat kehangatan keluarga, serta mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan. Semoga melalui momentum ini, hati kita semakin peka, rasa syukur kita kian tebal, dan kita digolongkan sebagai hamba-hamba yang beruntung. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

KETIKA SIBUK MENGEJAR DUNIA YANG TIDAK DIBAWA MATI

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎KETIKA SIBUK MENGEJAR DUNIA YANG TIDAK DIBAWA MATI ‎ Hampir setiap pagi kita memulai hari dengan perlombaan yang sama, yaitu mengejar urusan duniawi. Pikiran kita langsung dipenuhi dengan urusan pekerjaan, mencari nafkah, mengejar kedudukan, hingga mengumpulkan kenyamanan hidup. Bekerja keras tentu merupakan hal yang mulia, namun sayangnya, dalam keriuhan mengejar materi tersebut, kita sering kali melupakan satu hal yang paling krusial: merawat kondisi hati agar tetap terhubung dengan Sang Pencipta. ‎ Coba kita renungkan kembali bagaimana kita membagi waktu akhir-akhir ini. Kita begitu betah menghabiskan waktu berjam-jam berselancar di media sosial, namun mendadak merasa lelah dan mengantuk saat harus membaca lembaran kitab suci meski hanya sebentar. Kita juga sangat responsif dan tidak ingin membuat manusia lain menunggu saat membalas pesan, tetapi di sisi lain, kita justru sering sengaja menunda-nunda untuk menghadap Allah ketika panggilan salat sudah berkumandang. Ironisnya, kita sering didera kecemasan luar biasa tentang jaminan rezeki yang sebenarnya sudah diatur oleh-Nya, sementara kita abai dan tidak pernah khawatir dengan tumpukan dosa yang kita perbuat setiap hari. ‎ ‎Kita perlu menyadari bahwa segala kemewahan, kendaraan, rumah megah, dan saldo tabungan yang kita banggakan saat ini memiliki masa kedaluwarsa. Suatu hari nanti, semua itu akan dilepaskan dan kita akan ditinggalkan sendirian di tempat yang sunyi. Di dalam kubur nanti, tidak ada satu pun aset duniawi yang bisa menolong kita. Satu-satunya pertolongan yang nyata hanyalah keikhlasan dalam beramal, konsistensi ibadah yang kita jaga, serta hati yang bersih yang selalu berzikir mengingat Allah. ‎ ‎Oleh karena itu, jangan sampai kita baru tersadar dan mencari Tuhan saat kehidupan kita sudah hancur berantakan. Jangan pula menunggu tubuh ini didera penyakit baru kita mau bertekuk lutut memohon ampunan dan rajin beribadah. Ajal tidak pernah memberikan sinyal atau pemberitahuan terlebih dahulu, dan tidak ada yang bisa menjamin bahwa esok hari pintu taubat masih terbuka untuk kita. ‎ ‎Sebelum kita menutup mata untuk beristirahat, mari kita sempatkan diri untuk bercermin dan bertanya secara jujur. Seandainya kesempatan hidup kita dihentikan hari ini dan kita harus kembali menghadap-Nya, apakah bekal yang kita bawa sudah cukup untuk menemani perjalanan panjang di akhirat nanti? Semoga Allah senantiasa mengikis kekerasan hati kita, mengampuni noda-noda dosa kita, dan menanamkan rasa rindu yang besar di dalam jiwa kita terhadap kehidupan akhirat. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

MENGHITUNG DOSA DI AKHIR TAHUN

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎MENGHITUNG DOSA DI AKHIR TAHUN ‎ ‎Sebagai manusia, kita semua pasti punya salah. Masalahnya, kita sering kali terlalu sibuk melihat kesalahan orang lain, sampai lupa melihat keburukan diri sendiri. Kita tidak akan pernah bisa memperbaiki diri kalau kita selalu merasa paling benar dan malas mengoreksi diri sendiri. ‎ ‎​Padahal, Allah SWT sudah mengingatkan kita dalam QS. Al-Hasyr: 18: ‎​يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ ​“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ‎​Apa yang harus kita periksa? ​Coba luangkan waktu sejenak untuk bertanya pada diri sendiri: ‎1. Bagaimana kabar hati kita? Apakah di dalamnya masih penuh dengan sifat iri, dengki, dan prasangka buruk kepada orang lain? Atau justru sudah bersih, tenang, dan selalu rindu kepada Allah ‎2. Bagaimana dengan perbuatan kita sehari-hari? Apakah tangan, kaki, mata, dan lisan kita sudah digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat? Atau malah sering kita pakai untuk melakukan hal-hal yang dilarang agama? ‎Ingatlah nasihat yang sangat berharga dari Sahabat Umar bin Khattab ini: ‎​حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا ، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا ​“Koreksilah diri kalian sebelum kalian dikoreksi! Timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang (di hari kiamat)!” Kenapa kita harus buru-buru memeriksa diri? Karena hidup kita di dunia ini sangat singkat dan dibatasi oleh waktu. Syaikh Muhammad Jalaluddin dalam ringkasan kitab Ihya Ulumuddin mengingatkan kita tentang modal hidup yang sebenarnya: ‎​مَا لِي بِضَاعَةً إِلَّا الْعُمْرَ, وَمَهْمَا فَنَى فَقَدْ فَنَى رَأْسُ الْمَالِ ​“Kita tidak mempunyai modal kecuali umur. Ketika umur kita habis, maka habislah modal kita.” Bayangkan kalau kita punya modal usaha, lalu uangnya habis begitu saja tanpa menghasilkan apa-apa. Tentu kita akan bangkrut. Begitu juga dengan hidup kita. Jika modal bernama “umur” ini habis untuk hal yang sia-sia atau berbuat dosa, kita akan menjadi orang yang paling rugi dan bangkrut di akhirat nanti. ‎Momen pergantian tahun ini adalah waktu yang tepat untuk “bercermin”. Mari kita akui semua kekurangan dan dosa kita di hadapan Allah, lalu mulailah berbenah. Mumpung jantung masih berdetak dan modal umur masih tersisa, mari kita perbaiki masa depan kita sebelum semuanya terlambat. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Keikhlasan Sejati; Ciri Utama dari Imam Dzun-Nun Al-Mishri

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒️🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Keikhlasan Sejati; Tiga Ciri Utama dari Imam Dzun-Nun Al-Mishri Ikhlas adalah salah satu nilai inti dalam ajaran Islam yang menjadi dasar dari setiap amal ibadah dan perbuatan seorang muslim. Ikhlas berarti melakukan sesuatu semata-mata karena Allah Subhanahu Wa ta’ala, tanpa ada motivasi lain seperti mencari pujian, popularitas, atau keuntungan duniawi. Konsep ikhlas sangat penting karena Allah hanya menerima amal yang dilakukan dengan niat semata – mata karena Allah. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam beberapa hadist. Para ulama dan tokoh tasawuf telah banyak memberikan penjelasan mengenai tanda-tanda ikhlas. Misalnya, Dzun-Nun Al-Mishri menyebutkan bahwa salah satu tanda keikhlasan adalah kesamaan antara pujian dan celaan dari manusia. Fudhail bin ‘Iyadh juga menekankan bahwa meninggalkan amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik, sedangkan ikhlas adalah ketika Allah melindungi seseorang dari keduanya. penting bagi kita untuk mengenali tanda-tanda ikhlas dalam diri kita sebagai upaya untuk selalu memperbaiki niat dan meningkatkan kualitas amal ibadah kita. Mengkaji tanda-tanda ikhlas juga membantu kita dalam menjaga kemurnian hati dan niat dalam setiap perbuatan, serta menjauhkan diri dari sifat riya’ dan syirik khafi (syirik tersembunyi) yang dapat merusak amal kita di hadapan Allah Subhanahu Wa ta’ala,. Imam Dzun-Nun Al-Mishri juga menyebutkan tanda-tanda Orang yang ikhlas yaitu sebagai sebagai berikut 1. Kesamaan Antara Pujian dan Celaan: Orang yang ikhlas tidak terpengaruh oleh pujian atau celaan dari manusia. Baginya, penilaian manusia tidak penting dibandingkan dengan penilaian Allah. Dzun-Nun Al-Mishri menyatakan bahwa salah satu tanda keikhlasan adalah ketika seseorang merasa sama saja antara dipuji dan dicela oleh orang lain. 2. Melupakan Amal yang Dilakukan: Orang yang ikhlas melupakan amal baik yang telah mereka lakukan, karena mereka melakukannya semata-mata untuk Allah dan bukan untuk mengingat-ingatnya atau merasa bangga. Hal ini juga menunjukkan bahwa mereka tidak mengharapkan pujian atau balasan dari manusia. 3. Fokus pada Akhirat: Orang yang ikhlas selalu mengharapkan pahala dan balasan dari Allah di akhirat, bukan di dunia. Mereka mengerti bahwa pahala/balasan yang terbaik adalah yang diberikan oleh Allah nanti di akhirat, sehingga mereka tidak tergoda oleh imbalan duniawi semata. Bila kita sudah mengetahui tanda-tanda yang telah disebutkan, maka kita dapat lebih mampu untuk mengintropeksi diri dalam menilai niat dan kualitas amal kita, serta berusaha untuk selalu memperbaiki diri agar semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala, dengan hati ikhlas. Amiin… Ref: al- Nawawi, Bustanul Arifin, (Dark: arriyan) h.27 ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudh

Tausiah LDRQ

3 ALASAN MENGAPA MUHARRAM BEGITU ISTIMEWA

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎3 ALASAN MENGAPA MUHARRAM BEGITU ISTIMEWA ‎ ‎Bulan Muharram adalah pembuka dalam kalender Hijriyah. Sayangnya, banyak dari kita yang melewatkannya begitu saja tanpa makna, seolah itu hanya pergantian angka di kalender. Padahal, Muharram menyimpan rahasia spiritual dan keistimewaan besar yang langsung disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya. ‎ ‎​Berikut adalah tiga keistimewaan utama bulan Muharram yang patut kita renungkan dan amalkan: ‎ 1. Salah Satu dari Empat Bulan Haram (Mulia) ‎ ‎Muharram bukanlah bulan biasa. Ia dipilih Allah sebagai satu dari empat bulan yang disucikan, di mana pada bulan-bulan ini kita dilarang keras berbuat zalim dan diwajibkan menjaga kedamaian. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah: 36: ‎​إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ ​“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah SWT ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antara empat bulan haram (bulan Dzulqa’idah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam empat bulan mulia itu dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” ‎ ‎2. Penghapus Dosa di Hari ‘Asyura ‎ ‎Di dalam bulan Muharram, terdapat satu hari yang sangat sakral, yaitu hari ‘Asyura (10 Muharram). Rasulullah SAW sangat menganjurkan kita untuk berpuasa di hari tersebut, karena ganjarannya adalah dihapuskannya dosa-dosa kita selama setahun yang lalu. ‎​عَنْ أَبي قَتَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صِيامِ يَوْمِ عَاشُوراءَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ المَاضِيَةَ. (رواه مسلم) “Diriwayatkan dari Abu Qatadah RA: sungguh Rasulullah saw bersabda pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Asyura, lalu beliau menjawab: ‘Puasa Asyura melebur dosa setahun yang telah lewat’.” (HR. Muslim) ‎ ‎3. Menyandang Gelar Istimewa: “Syahrullah” (Bulan Allah) ‎ ‎Keistimewaan Muharram yang paling tinggi adalah statusnya yang disebut langsung oleh Nabi SAW sebagai Syahrullah (Bulan Allah). Ini adalah satu-satunya bulan yang namanya disandingkan langsung dengan nama Allah sebagai bentuk kehormatan tertinggi. ‎​عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ» (رَوَاهُ مُسْلِم) ​“Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim) ‎ ‎​Mengenai rahasia penamaan ini, Imam Jalaluddin As-Suyuthi menukil penjelasan dari Al-Hafizh Abul Fadhl Al-‘Iraqy: ‎​قَالَ الْحَافِظُ أَبُو الْفَضْلِ الْعِرَاقِيُّ فِي شَرْحِ التِّرْمِذِيِّ: مَا الْحِكْمَةُ فِي تَسْمِيَةِ الْمُحَرَّمِ “شَهْرُ اللَّهِ”، وَالشُّهُورُ كُلُّهَا لِلَّهِ؟ يَحْتَمِلُ أَنْ يُقَالَ: إِنَّهُ لَمَّا كَانَ مِنَ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ فِيهَا الْقِتَالَ، وَكَانَ أَوَّلَ شُهُورِ السَّنَةِ، أُضِيفَ إِلَيْهِ إِضَافَةَ تَخْصِيصٍ. وَلَمْ يَصِحَّ إِضَافَةُ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُورِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا “شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ”. Al-Hafizh Abul Fadhl al-‘Iraqy menjelaskan dalam Syarah al-Tirmidzi: “Apa hikmahnya penamaan bulan Muḥarram dengan ‘Bulan Allah’, padahal seluruh bulan adalah milik Allah?” Kemungkinan dijawab: Karena bulan Muharram termasuk dalam bulan-bulan haram yang Allah haramkan (dilarang) berperang di dalamnya, dan karena ia merupakan bulan pertama dalam tahun Hijriyah, maka dinisbahkan kepada Allah sebagai bentuk pengkhususan dan pemuliaan. Dan tidak ada bulan dari bulan-bulan yang dinisbahkan kepada Allah secara sahih dari Nabi SAW kecuali ‘Bulan Allah al-Muharram’. Muharram adalah momentum terbaik untuk melakukan “reset” kehidupan. Kita tidak perlu menunggu tahun baru masehi untuk berubah menjadi lebih baik. Mumpung kita berada di bulan yang dijuluki “Bulan Allah” ini, mari perbanyak puasa sunnah, hidupkan shalat malam, dan jaga diri kita dari berbuat zalim kepada sesama. Perubahan yang hakiki selalu dimulai saat hati kita tergerak oleh petunjuk-Nya. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudh

Tausiah LDRQ

‎MINIMAL JANGAN MERUGIKAN: 3 ATURAN EMAS MENJAGA PERASAAN SESAMA

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎MINIMAL JANGAN MERUGIKAN: 3 ATURAN EMAS MENJAGA PERASAAN SESAMA ‎ ‎Pernahkah kita merasa bingung bagaimana cara menjadi orang baik di tengah lingkungan yang penuh drama? Atau mungkin kita merasa belum mampu memberikan bantuan materi atau kontribusi besar bagi orang-orang di sekitar kita? ‎ ‎​Jika kita belum bisa menjadi orang yang paling bermanfaat, Islam memberikan batas aman agar kita tidak menjadi orang yang merugikan. Sahabat Muadz bin Jabal memberikan sebuah rumus luar biasa tentang bagaimana seharusnya seorang mukmin bersikap kepada mukmin lainnya: ‎ليَكُنْ حَظُّ الْمُؤمِنِ مِنْكَ ثَلَاثةٌ: إِنْ لَمْ تَنْفَعْهُ فَلَا تَضُرَّهُ، وَإِنْ لَمْ تُفْرِحْهُ فَلَا تَغُمَّهُ، وَإِنْ لَمْ تَمْدَحْهُ فَلَا تَذُمَّهُ “Hendaknya seorang mukmin mendapatkan tiga hal darimu: Jika kamu tidak bisa memberinya manfaat, maka jangan merugikannya. Jika kamu tidak bisa membuatnya bahagia, maka jangan membuatnya sedih. Dan jika kamu tidak bisa memujinya, maka jangan mencelanya.” ‎ ‎1. Jika Belum Bisa Memberi Manfaat, Jangan Merugikan ‎ ‎Idealnya, seorang Muslim adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain (Anfa’uhum linnas). Namun, jika karena keterbatasan ekonomi, tenaga, atau pikiran membuat kita belum bisa menolong sesama, maka tahanlah diri kita agar tidak merugikan mereka. ‎ ‎​Jangan merusak reputasinya, jangan merusak barangnya, jangan mempersulit urusannya, dan jangan mengambil haknya. Diam dan tidak mengganggu orang lain itu sudah dinilai sebagai sedekah untuk diri kita sendiri. ‎ ‎2. Jika Belum Bisa Membahagiakan, Jangan Membuat Sedih ‎ ‎Kita mungkin tidak punya hadiah untuk diberikan, tidak punya kata-kata motivasi yang hebat untuk menghibur, atau tidak bisa hadir di setiap momen bahagia mereka. Itu tidak apa-apa. ‎ ‎​Yang menjadi masalah adalah ketika kita sengaja melempar candaan yang menyakitkan hati, mengungkit masa lalu yang kelam, atau menyebarkan berita yang membuat hatinya menciut dan gelisah. Jika tidak bisa menjadi alasan seseorang tersenyum hari ini, minimal jangan sampai kita menjadi penyebab mereka menangis atau sesak dada. 3. Jika Belum Bisa Memuji, Jangan Mencela ‎ ‎Melihat keberhasilan atau kebaikan orang lain terkadang memicu rasa iri di hati kita. Jika kita belum mampu berlapang dada untuk memberikan pujian atau apresiasi yang tulus atas pencapaian orang lain, maka tutup rapat-rapat lisan dan jempol kita dari mencela mereka. ‎ ‎​Jangan mencari-cari kesalahan di balik kesuksesannya (mencari celah), jangan meremehkan usahanya, dan jangan menyebarkan fitnah. Menahan diri dari mencela adalah bukti bahwa kita memiliki jiwa yang besar. ‎ ‎Nasihat Muadz bin Jabal ini mengajarkan kita tentang akhlak “paling minimal” dalam Islam. Menjadi orang shalih itu tidak selalu dituntut melakukan hal-hal besar yang heroik. Terkadang, kesalehan itu sesederhana kemampuan kita untuk mengendalikan diri agar orang lain merasa aman dari lisan dan perbuatan kita. ‎ ​Sebelum kita tidur malam ini, mari kita merenung: “Apakah hari ini ada orang yang merasa rugi, sedih, atau terhina karena ulahku?” Jika ada, mari segera perbaiki. Jika tidak ada, bersyukurlah karena kita telah berhasil mengamalkan salah satu akhlak terbaik dalam Islam. ‎ ‎Sumber: al-Zuhd wa al-Raqaiq oleh al-Khathib al-Baghdadi ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Kisah Yunus bin Ubaid: Teladan Kejujuran dalam Berdagang

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Kisah Yunus bin Ubaid: Teladan Kejujuran dalam Berdagang Islam memandang pedagang yang jujur sebagai sosok yang sangat mulia. Kemuliaan ini tidak hanya berasal dari profesinya sebagai pedagang, salah satu pekerjaan mulia dalam Islam, tetapi juga dari sifat jujur yang ia miliki. Pedagang yang jujur menyandang dua kemuliaan sekaligus. Bahkan, tidak cukup itu. Kejujuran dalam berdagang ini memiliki nilai khusus dibandingkan dengan kejujuran yang lainnya. Rasulullah SAW bersabda: التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ Artinya: “Pedagang yang jujur dan terpercaya kelak akan bersama para nabi, para shiddiqin, dan para syuhada.” (HR Imam Tirmidzi). Maksud dari sabda Nabi tersebut adalah bahwa pedagang yang senantiasa menjaga kejujuran akan mendapatkan kedudukan mulia dan dikumpulkan bersama golongan-golongan tersebut. يحشر يوم القيامة مع النبيين والصديقين والشهداء Artinya: “Akan dikumpulkan kelak di hari kiamat bersama para nabi, para shiddiqin, dan para syuhada.” (Syekh Zainuddin Al-Munawi, Faydhul Qadir, [Mesir, Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra, 1356 H], jilid III, hlm. 278). Sementara itu, Syekh Muhammad Abdurrahman dalam Tuhfatul Ahwadzi mengutip perkataan Imam ath-Thayyibi dalam memaknai hadits di atas: مَنْ تَحَرَّى الصِّدْقَ وَالْأَمَانَةَ كَانَ فِي زُمْرَةِ الأبراء مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَمَنْ تَوَخَّى خِلَافَهُمَا كَانَ فِي قَرْنِ الْفُجَّارِ مِنَ الْفَسَقَةِ وَالْعَاصِينَ قَالَهُ الطِّيبِيُّ Artinya: “Siapa saja yang menjaga kejujuran dan amanah (dalam berdagang), niscaya ia akan ada di golongan orang-orang bagus dari para nabi dan shiddiqin. Siapa saja yang berniat sebaliknya, niscaya ia akan ada di golongan orang-orang bejat dari para fasik dan para pemaksiat, sebagaimana perkataan Imam at-Thayybi.” (Syekh Muhammad Abdurrahman, Tuhfatul Ahwadzi, [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 1353 H], jilid IV, 335). Selain itu, menurut menurut Ali bin Ibrahim, kejujuran dalam berdagang merupakan salah satu penyebab dagangan kita bernilai berkah. Ia mengatakan: وفيه: أنَّ الصدق سبب البركة، والكذب سبب لمحقها Artinya: “Hadits itu menjadi dalil bahwa kejujuran (berniaga) penyebab keberkahan dan kedustaan penyebab hilangnya berkah.” (Imam Ali bin Ibrahim, Al-‘Uddah fi Syarhil ‘Umdah, [Beirut: Darul Basya’ir Al-Islamiyah, 2006], jilid II, 1091). Berkaitan dengan hadits, terdapat kisah menarik tentang kejujuran dalam berdagang yang patut untuk kita contoh. Kisah ini dipotret oleh Syekh Muhammad bin Abdullah bin Abdul Lathif al-Jurdani dalam Al-Jawahirul Lu’lu’iyyah fi Syarhil Arba’in An-Nawawiyyah, [Arab Saudi: Darul Minhaj, 2022], hal. 179—180. Berikut kisahnya. Ada ulama salaf bernama Yunus bin Ubaid. Ia memiliki toko. Dagangannya adalah berbagai macam pakian. Harganya pun bervariasi. Dikatakan dalam kisah tersebut, dari berbagai macam baju itu ada dua variasi harga, (1) harga 200 dirham, dan (2) harga 400 dirham. Suatu hari, Yunus bin Ubaid menitipkan tokonya kepada anak saudaranya karena hendak melaksanakan shalat terlebih dahulu. Ketika toko itu dijaga oleh keponakannya, datanglah seorang pembeli yang meminta pakaian seharga 400 dirham. Keponakannya kemudian menyodorkan satu jenis pakaian yang sebenarnya bernilai 200 dirham. Pembeli tersebut menyukainya, lalu terjadilah transaksi dengan kesepakatan harga 400 dirham. Setelah selesai berbelanja, pembeli itu berjalan pulang sambil membawa pakaian yang baru dibelinya. Dalam perjalanan, ia berpapasan dengan Yunus bin Ubaid yang baru selesai menunaikan shalat. Yunus bin Ubaid mengenali pakaian yang dibawa pembeli tersebut sebagai barang dari tokonya. Ia pun bertanya, “Berapa harga pakaian yang kamu beli ini?” “400 dirham,” jawab pembeli itu. Yunus bin Ubaid lalu berkata, “Pakaian itu harganya tidak lebih dari 200 dirham. Mari kembali, kita kembalikan kelebihannya.” Pembeli itu menimpali, “Di daerah saya, harga pakaian seperti ini mencapai 500 dirham. Jadi tidak apa-apa, saya rela.” Namun, Yunus bin Ubaid tetap bersikeras mengajak pembeli itu kembali ke tokonya. Ia berkata, “Kembalilah. Sesungguhnya nasihat dalam agama lebih baik daripada dunia dan segala isinya.” Akhirnya, Yunus bin Ubaid dan pembeli itu kembali ke toko. Yunus pun mengembalikan 200 dirham, yaitu kelebihan harga yang sebelumnya dibayarkan kepada keponakannya. Setelah itu, Yunus bin Ubaid menegur keponakannya dengan nada bertanya yang menunjukkan ketegasan, “Apakah kamu tidak malu? Apakah kamu tidak bertakwa? Kamu mengambil keuntungan seratus persen, tetapi tidak memberikan nasihat dan penjelasan yang jujur kepada sesama Muslim.” Keponakannya pun membela diri, “Demi Allah, saya tidak mengambilnya kecuali dengan kerelaan pembeli pada harga tersebut.” Di akhir percakapan, Yunus bin Ubaid menasihatinya dengan kalimat singkat namun sangat mengena, “Lalu mengapa kamu tidak merelakannya untuk pembeli itu sebagaimana kamu merelakannya untuk dirimu sendiri?” Kalimat ini menjadi nasihat mendalam agar setiap orang memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan dirinya sendiri. Dari hadits di atas dan kisah ini kita bisa mengambil ibrah penting dalam berniaga, berbisnis, dan transaksi dagang lainnya bahwa menjaga kejujuran dan amanah wajib kita lakukan. Musabab, kemuliaan dan keberkahan berdagang ada di sebuah kejujuran. Kita bisa melihat bagaimana kejujuran menjadi prioritas pertama ulama-ulama salaf dalam melakukan perniagaan. Kejujuran inilah yang patut kita tiru, amalkan, serta kita dengungkan di tengah masyarakat. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Mengapa Seringkali Doa kita Belum Dikabulkan? Apa Hikmah Dibaliknya?

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊🎤 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Rq-Center Mengapa Seringkali Doa kita Belum Dikabulkan? Apa Hikmah Dibaliknya? Doa merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat penting dalam Islam. Melalui doa, seorang hamba berkomunikasi langsung dengan Allah, menyampaikan harapan, kebutuhan, dan keinginannya. Namun dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang seseorang merasa doanya belum juga dikabulkan. Dalam pandangan Islam, kondisi ini bukanlah bentuk penolakan, melainkan mengandung berbagai hikmah yang mendalam. Pertama, Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Manusia sering kali menilai sesuatu hanya dari apa yang diinginkan saat ini, tanpa mengetahui dampaknya di masa depan. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (QS. Al-Baqarah: 216) Ayat ini mengingatkan bahwa sesuatu yang tidak kita sukai bisa jadi justru membawa kebaikan, sementara yang kita inginkan belum tentu bermanfaat. Karena itu, ketika doa belum terkabul, bisa jadi Allah sedang mengarahkan kita pada sesuatu yang lebih baik. Kedua, waktu pengabulan doa mungkin belum tepat. Manusia cenderung ingin segala sesuatu terjadi dengan segera, sedangkan Allah memiliki ketetapan waktu yang paling sesuai. Apa yang tampak sebagai penundaan sebenarnya merupakan bagian dari rencana yang lebih sempurna. Ketika waktunya telah tiba, apa yang diharapkan bisa datang dengan cara yang tidak disangka. Ketiga, belum dikabulkannya doa dapat menjadi bentuk perlindungan. Ada kalanya seseorang memohon sesuatu yang terlihat baik, tetapi ternyata membawa dampak kurang baik jika diberikan. Dalam hal ini, Allah menahan doa tersebut sebagai bentuk kasih sayang agar hamba-Nya terhindar dari hal yang merugikan di kemudian hari. Keempat, doa yang belum dikabulkan tidak pernah sia-sia. Dalam ajaran Nabi Muhammad disebutkan bahwa setiap doa pasti mendapatkan balasan. Jika tidak dikabulkan di dunia, maka doa tersebut bisa menjadi pahala di akhirat atau menjadi sebab dihapusnya dosa. Hal ini menunjukkan bahwa setiap doa tetap bernilai di sisi Allah. Kelima, kondisi ini juga menjadi ujian kesabaran dan keimanan. Ketika doa belum terwujud, seseorang diuji untuk tetap bersabar, terus berdoa, dan tidak berputus asa. Dalam Islam, kesabaran merupakan sifat mulia yang mencerminkan kekuatan iman seseorang. Keenam, belum dikabulkannya doa dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah. Saat keinginan belum tercapai, seseorang biasanya akan lebih sering berdoa, lebih khusyuk, dan lebih bergantung kepada-Nya. Tanpa disadari, hal ini memperkuat hubungan spiritual dan meningkatkan kualitas ibadah. Kesimpulannya, doa yang belum dikabulkan bukan berarti Allah tidak mendengar atau menolak permohonan hamba-Nya. Sebaliknya, hal tersebut merupakan bagian dari hikmah dan kasih sayang-Nya. Doa bisa saja ditunda, diganti dengan yang lebih baik, dijauhkan dari keburukan, atau disimpan sebagai pahala di akhirat. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya tetap berdoa, bersabar, dan berprasangka baik kepada Allah dalam setiap keadaan. Referensi: Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik Al-Qusyairy, Tafsir Qusyairy, Cet. Mesir Juzu’ 2 Hal. 258 Wallahu ‘alam Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 📷Instagram LDRQ 🎬Youtube 🐦Twitter