بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center
MINIMAL JANGAN MERUGIKAN: 3 ATURAN EMAS MENJAGA PERASAAN SESAMA
Pernahkah kita merasa bingung bagaimana cara menjadi orang baik di tengah lingkungan yang penuh drama? Atau mungkin kita merasa belum mampu memberikan bantuan materi atau kontribusi besar bagi orang-orang di sekitar kita?
Jika kita belum bisa menjadi orang yang paling bermanfaat, Islam memberikan batas aman agar kita tidak menjadi orang yang merugikan. Sahabat Muadz bin Jabal memberikan sebuah rumus luar biasa tentang bagaimana seharusnya seorang mukmin bersikap kepada mukmin lainnya:
ليَكُنْ حَظُّ الْمُؤمِنِ مِنْكَ ثَلَاثةٌ: إِنْ لَمْ تَنْفَعْهُ فَلَا تَضُرَّهُ، وَإِنْ لَمْ تُفْرِحْهُ فَلَا تَغُمَّهُ، وَإِنْ لَمْ تَمْدَحْهُ فَلَا تَذُمَّهُ
“Hendaknya seorang mukmin mendapatkan tiga hal darimu: Jika kamu tidak bisa memberinya manfaat, maka jangan merugikannya. Jika kamu tidak bisa membuatnya bahagia, maka jangan membuatnya sedih. Dan jika kamu tidak bisa memujinya, maka jangan mencelanya.”
1. Jika Belum Bisa Memberi Manfaat, Jangan Merugikan
Idealnya, seorang Muslim adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain (Anfa’uhum linnas). Namun, jika karena keterbatasan ekonomi, tenaga, atau pikiran membuat kita belum bisa menolong sesama, maka tahanlah diri kita agar tidak merugikan mereka.
Jangan merusak reputasinya, jangan merusak barangnya, jangan mempersulit urusannya, dan jangan mengambil haknya. Diam dan tidak mengganggu orang lain itu sudah dinilai sebagai sedekah untuk diri kita sendiri.
2. Jika Belum Bisa Membahagiakan, Jangan Membuat Sedih
Kita mungkin tidak punya hadiah untuk diberikan, tidak punya kata-kata motivasi yang hebat untuk menghibur, atau tidak bisa hadir di setiap momen bahagia mereka. Itu tidak apa-apa.
Yang menjadi masalah adalah ketika kita sengaja melempar candaan yang menyakitkan hati, mengungkit masa lalu yang kelam, atau menyebarkan berita yang membuat hatinya menciut dan gelisah. Jika tidak bisa menjadi alasan seseorang tersenyum hari ini, minimal jangan sampai kita menjadi penyebab mereka menangis atau sesak dada.
3. Jika Belum Bisa Memuji, Jangan Mencela
Melihat keberhasilan atau kebaikan orang lain terkadang memicu rasa iri di hati kita. Jika kita belum mampu berlapang dada untuk memberikan pujian atau apresiasi yang tulus atas pencapaian orang lain, maka tutup rapat-rapat lisan dan jempol kita dari mencela mereka.
Jangan mencari-cari kesalahan di balik kesuksesannya (mencari celah), jangan meremehkan usahanya, dan jangan menyebarkan fitnah. Menahan diri dari mencela adalah bukti bahwa kita memiliki jiwa yang besar.
Nasihat Muadz bin Jabal ini mengajarkan kita tentang akhlak “paling minimal” dalam Islam. Menjadi orang shalih itu tidak selalu dituntut melakukan hal-hal besar yang heroik. Terkadang, kesalehan itu sesederhana kemampuan kita untuk mengendalikan diri agar orang lain merasa aman dari lisan dan perbuatan kita.
Sebelum kita tidur malam ini, mari kita merenung: “Apakah hari ini ada orang yang merasa rugi, sedih, atau terhina karena ulahku?” Jika ada, mari segera perbaiki. Jika tidak ada, bersyukurlah karena kita telah berhasil mengamalkan salah satu akhlak terbaik dalam Islam.
Sumber: al-Zuhd wa al-Raqaiq oleh al-Khathib al-Baghdadi
والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب
Do’a Kafaratul Majelis
سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ
Media informasi LDRQ-Center
📞Channel whatsapp LDRQ
📷Instagram LDRQ
📷Instagram Dayah RQ
🌎Fanpage FB
📡Facebook
🎬Youtube
🐦X
📝Telegram
#dayahraudhatulquran
#lajnahdakwahraudhatulqur’an




