Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

Hukum, Makna, Jenis Hewan, dan Ketentuan Ibadah Kurban

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊🎤 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Rq-Center Hukum, Makna, Jenis Hewan, dan Ketentuan Ibadah Kurban A. Pengertian Kurban Kata kurban menurut etimologi berasal dari bahasa Arab qariba – yaqrabu – qurban wa qurbanan wa qirbanan, yang artinya dekat (Ibn Manzhur: 1992:1:662; Munawir:1984:1185). Maksudnya yaitu mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya. Yang dimaksud dari kata kurban yang digunakan bahasa sehari-hari, dalam istilah agama disebut “udhhiyah” bentuk jamak dari kata “dhahiyyah” yang berasal dari kata “dhaha” (waktu dhuha), yaitu sembelihan di waktu dhuha pada tanggal 10 sampai dengan tanggal 13 bulan Dzulhijjah. Dari sini muncul istilah Idul Adha. Dari uraian tersebut, dapat dipahami yang dimaksud dari kata qurban atau udhhiyah dalam pengertian syara, ialah menyembelih hewan dengan tujuan beribadah kepada Allah pada Hari Raya Haji atau Idul Adha dan tiga Hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah. B. Hukum Kurban Ibadah kurban hukumnya adalah sunnah muakkad, atau sunnah yang dikuatkan. Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan ibadah kurban sejak disyariatkannya sampai beliau wafat. Ketentuan kurban sebagai sunnah muakkad dikukuhkan oleh Imam Malik dan Imam al-Syafi’i. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ibadah kurban bagi penduduk yang mampu dan tidak dalam keadaan safar (bepergian), hukumnya adalah wajib. (Ibnu Rusyd al-Hafid: tth: 1/314). C. Keutamaan Kurban Menyembelih kurban adalah suatu sunnah Rasul yang sarat dengan hikmah dan keutamaan. Hal ini didasarkan atas informasi dari beberapa haditst Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, antara lain: عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا Aisyah menuturkan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.” (Hadits Hasan, riwayat al-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah: 3117) Menurut Zain al-Arab, ibadah yang paling utama pada hari raya Idul Adha adalah menyembelih hewan untuk kurban karena Allah. Sebab pada hari kiamat nanti, hewan itu akan mendatangi orang yang menyembelihnya dalam keadaan utuh seperti di dunia, setiap anggotanya tidak ada yang kurang sedikit pun dan semuanya akan menjadi nilai pahala baginya. Kemudian hewan itu digambarkan secara metaphoris akan menjadi kendaraanya untuk berjalan melewati shirath. Demikian ini merupakan balasan dan bukti keridhaan Allah kepada orang yang melakukan ibadah kurban tersebut. (Abul Ala al-Mubarakfuri: tt: V/62) Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang memiliki kemampuan untuk berkurban, tetapi ia tidak mau berkurban, maka sesekali janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Masih banyak lagi sabda Nabi yang lain, menjelaskan tentang keutamaan berkurban. Bahkan pada haditst terakhir, disebutkan bahwa orang yang sudah mampu berkorban, tetapi tidak mau melaksanakanya, maka ia dilarang mendekati tempat shalat Rasulullah atau tempat (majelis) kebaikan lainya. Ibadah kurban yang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha sampai hari tasyrik, tiada lain bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, kurban juga berarti menghilangkan sikap egoisme, nafsu serakah, dan sifat individual dalam diri seorang muslim. Dengan berkurban, diharapkan seseorang akan memaknai hidupnya untuk mencapai ridha Allah semata. Ia “korbankan” segalanya (jiwa, harta, dan keluarga) hanya untuk-Nya. Oleh karena itu, pada hakikatnya, yang diterima Allah dari ibadah kurban itu bukanlah daging atau darah hewan yang dikurbakan, melainkan ketakwaan dan ketulusan dari orang yang berkurban, itulah yang sampai kepada-Nya. D. Hakikat Kurban Kurban dalam dimensi vertikal adalah bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah supaya mendapatkan keridhaan-Nya. Sedangkan dalam dimensi sosial, kurban bertujuan untuk menggembirakan kaum fakir pada Hari Raya Adha, sebagaimana pada Hari Raya Fitri mereka digembirakan dengan zakat fitrah. Karena itu, daging kurban hendaklah diberikan kepada mereka yang membutuhkan, boleh menyisakan secukupnya untuk dikonsumsi keluarga yang berkurban, dengan tetap mengutamakan kaum fakir dan miskin. Allah berfirman: فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ “Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. al-Hajj, 22:28) Dengan demikian kurban merupakan salah satu ibadah yang dapat menjalin hubungan vertikal dan horizontal. E. Kriteria Hewan Kurban Para ulama sepakat bahwa semua hewan ternak boleh dijadikan untuk kurban. Hanya saja ada perbedaan pendapat mengenai mana yang lebih utama dari jenis-jenis hewan tersebut. Imam Malik berpendapat bahwa yang paling utama adalah kambing atau domba, kemudian sapi, lalu unta. Sedangkan Imam al-Syafi’i berpendapat sebaliknya, yaitu yang paling utama adalah unta, disusul kemudian sapi, lalu kambing (Ibn Rusyd: tt: I:315). Agar ibadah kurbannya sah menurut syariat, seorang yang hendak berkurban harus memperhatikan kriteria-kriteria dari hewan yang akan disembelihnya. Kriteria-kriteria tersebut diklasifisikasikan sesuai dengan usia dan jenis hewan kurban, yaitu: a. Domba (dha’n) harus mencapai minimal usia satu tahun lebih, atau sudah berganti giginya (al-jadza’). Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sembelilhlah domba yang jadza’, karena itu diperbolehkan.” (Hadits Shahih, riwayat Ibn Majah: 3130 Ahmad: 25826) b. Kambing kacang (ma’z) harus mencapai usia minimal dua tahun lebih. c. Sapi dan kerbau harus mencapai usia minimal dua tahun lebih. d. Unta harus mencapai usia lima tahun atau lebih. (Musthafa Dib al-Bigha: 1978:241). Selain kriteria di atas, hewan-hewan tersebut harus dalam kondisi sehat dan tidak cacat. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan dari al-Barra bin Azib radliyallâhu ‘anh: أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الْأَضَاحِيِّ فَقَالَ الْعَوْرَاءُ بَيِّنٌ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ بَيِّنٌ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ بَيِّنٌ ظَلْعُهَا وَالْكَسِيرُ الَّتِي لَا تَنْقَى “Ada empat macam hewan yang tidak sah dijadikan hewan kurban, “(1) yang (matanya) jelas-jelas buta (picek), (2) yang (fisiknya) jelas-jelas dalam keadaan sakit, (3) yang (kakinya) jelas-jelas pincang, dan (4) yang (badannya) kurus lagi tak berlemak.” (Hadits Hasan Shahih, riwayat al-Tirmidzi: 1417 dan Abu Dawud: 2420) Akan tetapi, ada beberapa cacat hewan yang tidak menghalangi sahnya ibadah kurban, yaitu; Hewan yang dikebiri dan hewan yang pecah tanduknya. Adapun cacat hewan yang putus telinga atau ekornya, tetap tidak

Tausiah LDRQ

Keutamaan dan Amaliyah Dzulhijjah

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊🎤 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Keutamaan dan Amaliyah Dzulhijjah Dzulhijjah merupakan bulan kedua belas dalam kalender Hijriah, dan merupakan salah satu dari bulan-bulan yang dimuliakan (al-asyhur al-hurum), yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Dinamakan Asyhur Hurum, karena di permulaan Islam kaum muslimin tidak diperbolehkan melakukan pertempuran dalam bulan-bulan tersebut. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah: 217 يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar…” Namun akhirnya larangan berperang di empat bulan yang dimuliakan ini dihapus berdasarkan firman Allah dalam Q.S. At-Taubat ayat 36. وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ “…dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” عَنْ أَبِى بَكْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ قَالَ «الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ “Rasulullah bersabda: Sesungguhnya masa berputar seperti hari saat Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun adalah 12 bulan, di antaranya ada 4 bulan yang mulia. Yang tiga secara beriringan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram, dan Rajab yang terletak antara Jumada dan Sya’ban” (H.R. al-Bukhari dan Muslim). Syekh Abdul Qadir al-Jilany dalam al-Ghuniyah li Thalibi Thariqil Haqq mengutip hadits dari Sa’id Al-Khudry, Rasulullah bersabda: سَيِّدُ الشُّهُوْرِ شَهْرُ رَمَضَانَ وَأَعْظَمُهَا حُرْمَةً ذُو الْحِجَّة “Penghulu bulan-bulan adalah bulan Ramadhan, sedangkan yang paling utama kemuliannya adalah Dzulhijjah.” Dari Jabir, tentang kemuliaan 10 hari awal Dzulhijjah Rasulullah juga bersabda: أَفْضَلُ أَيَّامِ الدُّنْيَا أَيَّامُ عَشْرِ ذِى الْحِجَّةِ “Hari-hari di dunia yang paling utama adalah hari-hari sepuluh awal bulan dzulhijjah.” Dzulhijjah bisa bermakna ‘bulan untuk haji’, karena mayoritas amalan ibadah haji dikerjakan pada bulan ini. Misalnya, wuquf di ‘Arafah, Mabit di Muzdalifah maupun Mina, melempar Jumrah, dan lain-lain. Dzulhijjah merupakan bulan yang menghimpun beberapa ibadah yang tidak ada di bulan lainnya, yaitu ibadah haji, qurban, shalat idhul Adha. Dalam bulan ini kita diingatkan beberapa peristiwa besar, yaitu pengorbanan Nabi Ibrahim ‘alayhis salam, dan putranya, Nabi Ismail ‘alayhis salam, peristiwa haji wada’, dan khotbah yang disampaikan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alayh wasallam. Amaliah-Amaliah Dzulhijjah Amal Shaleh Disunnahkan melaksanakan segala bentuk ketaatan yang disebut sebagai amal shaleh pada sepuluh hari pertama bulan dzulhijjah. Amal shaleh itu tidak terbatas pada amalan tertentu saja, sehingga amalan tersebut bisa berupa shalat, sedekah, membaca Qur’an, dzikir, puasa, dan amalan lainnya. Hadits riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Ahmad berikut menjelaskan bahwa amal sholeh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah itu lebih dicintai oleh Allah Ta’ala daripada amal shaleh di hari lainnya. مَا مِنْ أَيَّامِ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيّاَمِ يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلَا الْجِهَادُ فِى سَبِيْلِ اللهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِى سَبِيْلِ اللهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ “Tidak ada satu amal shaleh yang lebih dicintai oleh Allah yang melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya:” Tidak pula jihad di jalan Allah?” Rasulullah menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya tapi ia tidak kembali/mati syahid. و الله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷 IG Dayah RQ 📡 FB Dayah RQ 🌎 Fanpage FB Dayah RQ 🎬 Youtube LDRQ 📷 IG LDRQ 📝 Telegram Dayah RQ 🐦 Twitter Dayah RQ #dayahraudhatulqurandarussalam #lajnahdakwahraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻

Tausiah LDRQ

INVESTASI LANGIT: RAHASIA DI BALIK TETESAN DARAH KURBAN

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎INVESTASI LANGIT: RAHASIA DI BALIK TETESAN DARAH KURBAN ‎ ‎Tanpa kita sadari, kita telah memasuki sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Ini bukan sembarang waktu; ini adalah “musim panen” pahala yang paling dahsyat dalam setahun. Bahkan, amal ibadah di waktu ini nilainya bisa mengalahkan pahala jihad, kecuali bagi mereka yang syahid. ‎ ‎Allah SWT sampai bersumpah atas nama waktu-waktu ini dalam QS. Al-Fajr: 1-3: ‎وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرِ وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ “Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil.” ‎ ‎Salah satu ibadah paling utama di momen ini, selain ibadah haji, adalah menyembelih hewan kurban bagi yang mampu. Ini bukan soal makan-makan daging semata, tapi soal ketundukan total kepada Allah sebagaimana perintah-Nya dalam QS. Al-Kautsar: 2: ‎​فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ “Maka kerjakanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” ‎ ‎​Berikut adalah empat alasan mengapa kita tidak boleh melewatkan kesempatan berkurban tahun ini: ‎ ‎​1. Penghapus Dosa di Tetesan Pertama ‎ ‎Banyak dari kita yang merasa diri penuh dosa. Berkurban adalah salah satu cara “cuci gudang” dosa kita. Rasulullah SAW pernah berpesan kepada putrinya, Fatimah ra, bahwa pada tetesan darah pertama hewan kurban itu, Allah mengampuni dosa-dosa yang telah lalu. Ini adalah momen ampunan yang sangat mahal. ‎ ‎2. Ujian Ketakwaan (Bukan Pamer Kekayaan) ‎ ‎Perlu diingat, Allah tidak butuh daging atau darah hewan kita. Yang sampai kepada Allah adalah “kualitas” takwa di hati kita. Apakah kita berkurban karena ingin dipuji tetangga, atau murni karena syukur? Allah berfirman dalam QS. Al-Hajj: 37: ‎​لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاءُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ ​“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” ‎ ‎3. Amalan yang Paling Dicintai Allah ‎ ‎Pada hari Raya Idul Adha, tidak ada satu pun aktivitas manusia yang lebih dicintai Allah melebihi menyembelih hewan kurban. Jadi, jika kamu punya kelapangan rezeki namun tidak berkurban, Rasulullah SAW memberikan peringatan keras: “Jangan mendekati tempat shalat kami.” Ini menunjukkan betapa pentingnya ibadah ini bagi yang mampu. ‎ ‎4. Kendaraan dan Saksi di Hari Kiamat ‎ ‎Bayangkan, setiap bulu, tanduk, dan kuku hewan yang kita kurban akan datang pada hari kiamat sebagai saksi pembela kita. Dalam sebuah hadis riwayat Tirmidzi, disebutkan bahwa hewan tersebut akan bersaksi atas keikhlasan kita. Darah yang mengalir itu sudah diterima di sisi Allah bahkan sebelum menyentuh tanah. ‎ ‎Berkurban adalah soal “keberanian” melepaskan sebagian harta yang kita cintai demi kasih sayang Allah. Jangan sampai kita mampu membeli gawai terbaru atau kendaraan mewah, tapi merasa “miskin” saat harus membeli hewan kurban. ‎ ‎​Mari gunakan kesempatan di bulan Dzulhijjah tahun ini untuk membuktikan cinta kita kepada Sang Pencipta. Semoga kurban kita tahun ini diterima, dosa-dosa kita diampuni, dan kelak kita dikumpulkan bersama orang-orang shalih dalam keadaan husnul khatimah. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Keistimewaan Bulan Dzulhijjah

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ) Tema :Keistimewaan Bulan Dzulhijjah 📖 Kalam Hikmah: Alhamdulillah kita sudah berada di akhir bulan Dzulqaidah artinya kita hampir memasuki bulan Dzulhijjah dimana Dzulhijjah adalah bagian dari الأشهر المعلومات yaitu bulan-bulan yang dimaklumkan. Atau sering juga disebut dengan الأشهر الحرم هي أربعة: رجب وذو القعدة وذو الحجة والمحرم Artinya : Bulan-bulan yang diharamkan ada empat yaitu Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharram. Setiap bulan-bulan haram tersebut memiliki keistimewaan dan kelebihan masing-masing. Sudah banyak hadits dan riwayat-riwayat yang menceritakan tentang hal tersebut. Sepuluh awal bulan Dzulhijjah memiliki keistimewaan tersendiri, sehingga banyak para ulama memperkenalkan kepada kita tentang 10 awal bulan Dzulhijjah tersebut قال سعيد بن جبير: “لا تُطْفِئوا سُرُجَكم ليالي العشر”؛ [سير أعلام النبلاء Artinya : Sa’id bin Jubair –rahimahullah-mengatakan: “Jangan kalian matikan lampu rumah kalian pada malam-malam sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” Agar bisa terus beribadah. (Hilyatul Awliya’ 4/281 dan Siyar A’laam an Nubala’ 4/326). Maksudnya tidak mematikan lampu rumah pada malam sepuluh pertama bulan Dzulhijjah adalah diharapkan kita dapat beribadah semalaman dengan mengisi malamnya dengan shalat-shalat Sunnah, membaca Al-Qur’an dan ibadah-ibadah Sunnah lainnya. Akan tetapi diibaratkan kalau mati lampu pada malam hari artinya manusia di dalam rumah tersebut sudah pasti tidur sepanjang malam tanpa ibadah. Maka begitulah cara ulama menggalakkan sepuluh pertama bulan Dzulhijjah lampu rumah terus hidup hingga pagi dengan diisi oleh penghuninya dengan ibadah shalat dan membaca Al-Qur’an, dan berzikir. قال الحافظ ابن حجر العسقلاني رحمه الله: الذي يظهر أن السبب في امتياز عشر ذي الحجة لمكان اجتماع أمهات العبادة فيه, وهي: الصلاة, والصيام, والصدقة, والحج, ولا يتأني ذلك في غيره. Artinya: Ibnu Hajar Al-Asqalani r.a. berkata : ” Penyebab keistimewaan sepuluh Dzulhijjah berkumpulnya inti ibadah di dalamnya antara lain : shalat, puasa, sadakah, dan haji yang ibadah tersebut tidak ada pada bulan lain.” Karena sebab itulah sepuluh pertama bulan Dzulhijjah sangat istimewa karena berkumpulnya induk atau inti dari ibadah yang tidak ada pada bulan lain. Shalat boleh memperbanyak shalat-shalat sunnah seperti taubat, tasbih, tahajjud, hajat dan lainnya. Di siang harinya juga disunnahkan untuk berpuasa hingga puncaknya pada hari ‘Arafah. Rasulullah ﷺ bersabda: صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ Artinya: “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim) Adapun mayoritas ulama berpendapat bahwa, dosa-dosa yang dihapus sebab puasa Arafah adalah dosa kecil (An-Nawawi, Syarah Muslim, juz 3, h. 113). Pada bulan Dzulhijjah juga Allah wajibkan haji bagi orang Islam sekali seumur hidup. يقول الإمام ابن رجب رحمه الله: (لمَّا كان الله سبحانه وتعالى قد وضع في نفوس المؤمنين حنينًا إلى مشاهدة بيته الحرام، وليس كُلُّ أحد قادرًا على مشاهدته في كل عام، وقد فرض على المستطيع الحج مرة واحدة في عمره، وجعل موسم العشر مشتركًا بين السائرين والقاعدين، فمن عجز عن الحج في عام قدر في العشر على عمل يعمله في بيته يكون أفضل من الجهاد الذي هو أفضل من الحج. Artinya: Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Karena Allah SWT telah menanamkan dalam jiwa orang-orang mukmin kerinduan untuk melihat Baitullah-Nya, dan tidak semua orang mampu melihatnya setiap tahun, maka Dia telah mewajibkan haji bagi mereka yang mampu melakukannya sekali seumur hidup, dan Dia telah menjadikan masa sepuluh hari itu sebagai masa yang dijalani bersama bagi mereka yang bepergian dan mereka yang tinggal di rumah. Maka barang siapa yang tidak mampu melaksanakan haji dalam satu tahun, maka ia dapat beramal di rumahnya selama sepuluh hari itu, yang lebih baik daripada jihad, yang lebih baik daripada haji.” Dalam riwayat di atas jelas bahwasanya Allah wajibkan haji bagi umat Islam sekali seumur hidup dan itu dilakukan dalam bulan Dzulhijjah, bahkan bagi orang-orang yang belum mampu melaksanakan haji Allah juga berikan kesempatan untuk beribadah pada sepuluh pertama bulan Dzulhijjah dengan pahala yang sangat besar juga melebihi jihad fi Sabilillah. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW juga bersabda bahwa: “Sungguh Allah menurunkan pada setiap hari dan malam 120 rahmat di Baitullah ini. 60 rahmat untuk orang yang melakukan tawaf, 40 rahmat bagi orang yang mendirikan salat, dan 20 rahmat bagi orang yang memandang ke arah Ka’bah.” (HR. Thabrani) Dalam hadits lain Rasulullah SAW juga bersabda: Dari Jabir, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda: صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ Artinya: “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406. Beginilah Allah SWT memberikan keistimewaan pada bulan Dzulhijjah, orang-orang yang menunaikan ibadah haji di tanah suci mempunyai kelebihan yang berlimpat ganda pahalanya tetapi kita yang belum mampu menunaikan ibadah haji juga diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk melakukan amalan-amalan yang banyak pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah tersebut. سئل شيخ الإسلام رحمه الله: عن عشر ذي الحجة, والعشر الأواخر من رمضان, أيهما أفضل؟ فأجاب: أيام عشر ذي الحجة أفضل من أيام العشر من رمضان, والليالي العشر الأواخر من رمضان أفضل من ليالي عشر ذي الحجة. فضل العمل الصالح في أيام عشر ذي الحجة Artinya : Ada yang bertanya kepada Syaikhul Islam r.a tentang mana istimewa 10 Dzulhijjah atau 10 akhir bulan Ramadhan? Beliau menjawab: “10 awal hari bulan Dzulhijjah lebih utama dan afdhal dari 10 hari bulan Ramadhan, sedangkan 10 malam akhir bulan Ramadhan lebih utama dan afdhal dari 10 malam awal bulan Dzulhijjah. Banyak kelebihan beramal shalih pada hari 10 bulan Dzulhijjah” Jadi keistimewaan 10 hari bulan Dzulhijjah terletak pada siang harinya namun demikian anjuran untuk terus memperbanyak ibadah pada malamnya tersebut juga sangat banyak hingga anjuran jangan matikan lampu untuk terus beribadah semalaman. و الله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 📷Instagram LDRQ 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #ldrqraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻

Tausiah LDRQ

Kisah Inspiratif Suami Bersyukur dan Istri Bersabar yang Masuk Surga

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Kisah Inspiratif Suami Bersyukur dan Istri Bersabar yang Masuk Surga Imam Abul Qasim Ali bin Hasan bin Abdullah asy-Syafi’i, atau yang lebih masyhur dengan nama Imam Ibnu Asakir (wafat 571 H), dalam kitab Tarikh Madinah Dimasyq meriwayatkan sebuah kisah tentang cinta, kesabaran, dan syukur. Kisah ini menceritakan tentang seorang laki-laki bernama Imran bin Hattan dan istrinya yang cantik jelita. Dikisahkan, suatu hari Imran bin Hattan mengunjungi istrinya. Imran merupakan seorang pria tua yang parasnya jauh dari kata tampan, tubuhnya pendek, dan penampilannya sederhana. Sementara istrinya sangat cantik, senantiasa berhias, dan selalu terlihat memesona di mata suaminya. Ketika Imran melihatnya, kekagumannya semakin bertambah dan ia tidak bisa mengalihkan pandangannya. Sang istri yang menyadari tatapan kagum suaminya pun bertanya, “Ada apa denganmu?” Imran menjawab, “Demi Allah, engkau terlihat sangat cantik hari ini.” Sang istri kemudian berkata dengan lembut, “Bergembiralah, karena aku dan engkau akan berada di dalam surga.” Imran pun terkejut dan bertanya, “Dari mana engkau tahu hal itu?” Maka dengan penuh keyakinan, sang istri menjawab: لِأَنَّكَ أُعْطِيتَ مِثْلِي فَشَكَرْتَ، وَابْتُلِيتُ بِمِثْلِكَ فَصَبَرْتُ، وَالصَّابِرُ وَالشَّاكِرُ فِي الْجَنَّةِ Artinya, “Karena engkau diberi pasangan sepertiku, lalu engkau bersyukur. Dan aku diuji dengan mendapatkan pasangan sepertimu, lalu aku bersabar. Orang yang bersyukur dan orang yang bersabar akan berada di dalam surga,” (Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, [Beirut: Darul Fikr, 1995 M/1415 H], jilid XXXXIII, halaman 491). Kisah ini mengandung makna yang sangat dalam tentang pentingnya bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Imran menyadari bahwa memiliki istri yang cantik adalah sebuah nikmat yang besar dari-Nya, maka ia pun bersyukur. Kisah ini juga mengajarkan tentang pentingnya bersabar dalam menghadapi ujian. Istri Imran diuji dengan memiliki suami yang kurang rupawan. Namun, ia bersabar dan tidak pernah mengeluh. Keutamaan Bersyukur dan Bersabar Apa yang terjadi dalam kisah di atas memang sudah seharusnya menjadi pedoman bagi setiap orang dalam menjalani hidup. Berkaitan dengan kisah tersebut, Rasulullah SAW merasa takjub dengan keadaan seorang mukmin, karena segala urusannya akan bernilai baik apabila ia bersyukur ketika mendapatkan nikmat, dan bersabar ketika mendapatkan ujian. Dalam salah satu haditsnya, Nabi SAW bersabda: عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ Artinya, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal ini tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika ia tertimpa ujian, ia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR Muslim). Demikian, syukur dan sabar sejatinya memang harus dijadikan tameng bagi setiap orang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Keduanya akan menjaga hati agar tidak mudah goyah oleh perubahan keadaan, baik saat berada dalam keadaan lapang maupun ketika diuji dengan keadaan sempit. Hal ini karena sabar merupakan separuh dari iman, dan syukur pun merupakan separuh dari iman. Maka ketika syukur dan sabar bersatu dalam diri seseorang, iman pun menjadi utuh dan sempurna. Dalam beberapa riwayat, sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Baihaqi dalam ensiklopedia haditsnya, disebutkan: الشُّكْرُ نِصْفُ الإِيمَانِ، وَالصَّبْرُ نِصْفُ الإِيمَانِ، وَالْيَقِينُ الإِيمَانُ كُلُّهُ Artinya, “Syukur adalah separuh dari iman, sabar adalah separuh dari iman, dan keyakinan adalah seluruh iman,” (HR al-Baihaqi). Oleh karena itu, marilah kita jadikan kisah Imran bin Hattan dan istrinya sebagai inspirasi dalam menjalani kehidupan ini. Marilah senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan, sekecil apa pun itu. Marilah senantiasa bersabar dalam menghadapi setiap ujian yang menimpa, seberat apa pun itu. Dengan bersyukur dan bersabar, insya Allah kita akan menjadi hamba-hamba Allah yang dicintai-Nya, serta meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia dan di akhirat ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

10 Wejangan Imam Al-Ghazali untuk Pejabat dan Pemimpin

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center 10 Wejangan Imam Al-Ghazali untuk Pejabat dan Pemimpin Kekuasaan dan jabatan adalah amanat besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Seorang pemimpin dituntut untuk menegakkan keadilan dan menghadirkan kemaslahatan bagi rakyat sesuai tuntunan syariat. Dalam Islam, kepemimpinan bukan sekadar urusan dunia, tetapi amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ Artinya, “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin,” (HR. Bukhari). Dalam Islam, ulama berperan sebagai penuntun moral bagi penguasa. Mereka memberi nasihat agar kekuasaan tidak menyimpang dari nilai-nilai agama. Nasihat ulama ibarat cahaya yang menjaga seorang pemimpin agar keputusannya tidak hanya dilandasi kepentingan politik, melainkan berpijak pada kebenaran dan kebijaksanaan. Salah satu ulama besar yang banyak menasihati para penguasa adalah Imam Abu Hamid Al-Ghazali (w. 505 H). Nasihat beliau kepada para pemimpin terangkum dalam kitab At-Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk (Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988). Dalam karya ini, Al-Ghazali menekankan bahwa kepemimpinan adalah nikmat sekaligus ujian besar yang harus dijalankan dengan adil dan sesuai syariat. Berikut 10 nasihat Imam Al-Ghazali bagi para pejabat agar dapat menunaikan amanat kepemimpinan dengan sebaik-baiknya: 1. Adil dalam memimpin Kekuasaan adalah nikmat sekaligus amanat dari Allah SWT. Pemimpin yang menunaikannya dengan adil akan memperoleh kebahagiaan abadi, sedangkan yang mengkhianatinya akan terjerumus dalam kesengsaraan, bahkan bisa mengarah pada kekufuran. 2. Mendengarkan nasihat ulama yang saleh Seorang pejabat harus senantiasa membuka telinga terhadap nasihat ulama yang lurus dan tidak cinta dunia. Ulama yang benar berfungsi sebagai penasihat yang tulus, bukan sebagai “ulama su’” yang hanya mendekati kekuasaan demi keuntungan pribadi. 3. Memilih dan mengawasi jajaran Kebijakan pejabat akan tercermin dalam kinerja bawahannya. Oleh karena itu, ia harus selektif dalam memilih serta tegas dalam mengawasi aparatnya, sebab kelalaian mereka tetap menjadi tanggung jawab pemimpin. 4. Menjauhi kesombongan dan kesewenang-wenangan Jabatan bukan untuk disombongkan, apalagi dijadikan alat menindas rakyat. Seorang pejabat wajib rendah hati, menyadari bahwa kedudukannya adalah amanat rakyat, bukan hak istimewa pribadi. 5. Memosisikan diri sebagai wakil rakyat Pemimpin yang baik adalah perpanjangan tangan rakyat. Jika ia benar-benar menempatkan dirinya sebagai bagian dari rakyat, ia tidak akan rela rakyatnya menderita, sebagaimana ia tidak rela dirinya sendiri mendapat penderitaan. 6. Merespons kebutuhan rakyat dengan baik Kebutuhan rakyat harus menjadi prioritas utama, bahkan lebih utama dari ibadah sunnah. Mengabaikan rakyat demi urusan pribadi atau perkara kecil adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanat. 7. Tidak pamer kekayaan Pemimpin hendaknya hidup sederhana dan tidak memamerkan kemewahan. Menurut Al-Ghazali, keadilan tidak akan lahir tanpa kesederhanaan. Pakaian mewah dan makanan mahal tidak boleh menjadi kesibukan seorang pejabat. 8. Menanggapi kritik dengan kelembutan Kritik rakyat adalah bagian dari pengawasan. Pemimpin harus menanggapinya dengan bijak, penuh kelembutan, bukan dengan kekerasan. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa pemimpin yang tidak lembut terhadap rakyatnya, kelak Allah pun tidak akan lembut kepadanya pada hari kiamat. 9. Melakukan perbaikan sesuai syariat Kritik harus ditindaklanjuti dengan perbaikan nyata. Setiap pembaruan kebijakan dan tindakan pejabat wajib berlandaskan syariat serta diarahkan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. 10. Tidak menyelisihi syariat dalam kebijakan Seorang pejabat tidak boleh membuat keputusan yang bertentangan dengan syariat, meski hal itu sesuai dengan kehendak sebagian rakyat. Segala yang menyelisihi syariat pasti batil dan akan menjerumuskan kepemimpinan pada kebinasaan. Nasihat ulama kepada pemimpin adalah bentuk kasih sayang sekaligus tanggung jawab moral terhadap umat. Pemimpin yang mau mendengar akan lebih mudah menjaga integritas, menegakkan keadilan, dan mengutamakan kepentingan rakyat. Pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya urusan politik dan kekuasaan, melainkan jalan menuju keberkahan serta pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

‎DUA SAYAP KESALEHAN: SENI MENYEIMBANGKAN CINTA KEPADA ALLAH DAN MEMULIAKAN MANUSIA

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎DUA SAYAP KESALEHAN: SENI MENYEIMBANGKAN CINTA KEPADA ALLAH DAN MEMULIAKAN MANUSIA ‎ ‎Dalam kitab Nashaih ‘Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani memberikan sebuah “peta jalan” bagi siapa saja yang ingin meraih kesempurnaan akhlak. Beliau menekankan bahwa kehidupan seorang mukmin sejati tidak boleh berat sebelah. Kita tidak bisa hanya fokus bersembunyi di dalam masjid sementara hubungan sosial kita berantakan, begitu juga sebaliknya. ‎عَلَيْكُمْ بِجُمْلَةٍ مِنْ خِصَالِ الْخَيْرِ: مِنْهَا طَاعَةُ اللهِ، وَمِنْهَا إِكْرَامُ بَنِي آدَمَ “Hendaknya kalian berpegang teguh pada kumpulan perkara kebaikan: di antaranya adalah taat kepada Allah dan memuliakan sesama manusia (anak cucu Adam).” ‎ ‎Berikut adalah ulasan mengenai dua fondasi tersebut: ‎ ‎1. Ketaatan sebagai Wujud Cinta, Bukan Beban ‎ ‎Pilar pertama adalah ketaatan mutlak kepada Allah. Taat di sini bukan sekadar menggugurkan kewajiban seperti robot yang menjalankan perintah, melainkan sebuah manifestasi rasa syukur. Ketika kita menyadari betapa banyaknya nikmat yang diberikan Allah, maka menjalankan perintah-Nya menjadi cara kita berterima kasih. ‎ ‎Ketaatan ini bersifat berjenjang dan mencakup seluruh aspek hidup, sebagaimana ditegaskan dalam QS. An-Nisa: 59: ‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ . . . “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulu al-Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. …” (QS. An-Nisa: 59) ‎ ‎Syekh Nawawi menjelaskan bahwa taat yang sejati itu konsisten (istikamah). Kita tetap taat baik saat berada di depan orang banyak maupun saat sendirian. Ketaatan inilah yang membentuk karakter jujur, disiplin, dan rendah hati. ‎ ‎2. Kemanusiaan Tanpa Sekat ‎ ‎Pilar kedua yang sangat menarik adalah perintah untuk “memuliakan”. Perhatikan bahwa Syekh Nawawi tidak hanya menggunakan kata “berbuat baik”, tapi “memuliakan” (ikram). Memuliakan berarti kita menempatkan orang lain pada posisi terhormat, menjaga perasaan mereka, dan melindungi harga diri mereka. ‎ ‎Istilah “Bani Adam” (Anak Cucu Adam) yang digunakan menunjukkan bahwa sikap hormat ini bersifat universal. Kita wajib memuliakan manusia bukan karena status sosial, kekayaan, atau agamanya, melainkan karena mereka adalah ciptaan Allah yang telah diberi kemuliaan sejak lahir. Allah berfirman dalam QS. Al-Isra: 70: ‎وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ . . . ​“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, …” (QS. Al-Isra: 70) ‎ ‎Bahkan, kualitas iman seseorang bisa diukur dari cara dia memperlakukan orang terdekatnya, seperti tetangga: ‎​مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR al-Bukhari & Muslim) ‎ ‎Syekh Nawawi ingin mengingatkan bahwa integrasi antara taat kepada Allah dan memuliakan manusia akan menciptakan masyarakat yang beradab. ‎ ‎Integrasi Spiritual dan Sosial ‎ ‎Orang yang benar-benar taat kepada Allah pasti akan lembut hatinya kepada sesama manusia. Jika ada orang yang rajin ibadah namun justru kasar atau suka menghina orang lain, berarti ada yang salah dengan pemahaman ketaatannya. ‎ ‎Mencegah Kesombongan Spiritual ‎ ‎Ibadah boleh jadi membuat orang merasa “lebih suci”. Namun, dengan kewajiban memuliakan sesama, perasaan sombong itu akan terkikis karena kita sadar bahwa setiap manusia memiliki kemuliaan yang diberikan Allah. ‎ ‎Fondasi Moral yang Kuat ‎ ‎Jika kita berbuat baik kepada manusia hanya karena urusan kemanusiaan tanpa landasan ketaatan kepada Allah, biasanya kebaikan itu rapuh—mudah berubah kalau kita sedang marah atau dikecewakan. Tapi kalau kita baik karena perintah Allah, kebaikan itu akan tetap ada meski orang lain tidak baik kepada kita. ‎ ‎Sumber: Nashaih ‘Ibad, oleh Syekh Nawawi al-Bantani ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Kisah Ulama Mazhab Hanafi Menikah karena Mensyarahi Kitab Karya Ayahnya

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Kisah Ulama Mazhab Hanafi Menikah karena Mensyarahi Kitab Karya Ayahnya Jika kita sering membaca kitab-kitab karya ulama mazhab Hanafi, maka salah satu nama yang paling sering disebut dan dikutip pendapatnya adalah Imam Alauddin as-Samarqandi. Salah satu kitabnya yang berjudul Tuhfatul Fuqaha hingga saat ini masih menjadi rujukan otoritatif dalam kajian-kajian fiqih Hanafi, bahkan kerap dijadikan referensi dalam pembahasan fiqih lintas mazhab. Namun meski kontribusinya dalam perkembangan fiqih mazhab Hanafi sangat besar, data biografi perihal tahun Kelahirannya tidak tercatat secara pasti dalam sumber-sumber sejarah klasik. Para ulama ahli tarajum (biografi) umumnya hanya menyebutkan tahun wafatnya. Hanya saja, Khairuddin az-Zirikli dalam kitabnya al-A’lam memberikan taksiran bahwa Imam as-Samarqandi dilahirkan pada akhir abad ke-3 Hijriah. Adapun tahun wafatnya adalah tahun 450 Hijriah bertepatan dengan tahun 1145 Masehi. Sebagaimana yang dicatat oleh Khairuddin az-Zirikli, ia bernama lengkap Muhammad bin Ahmad bin Abi Hamid Abu Bakar Alauddin as-Samarqandi. Meski nisbah namanya kepada kota Samarkand (sekarang menjadi salah satu kota di Uzbekistan), tetapi beliau tumbuh besar hingga menjadi ulama tersohor di kota Halab (Aleppo), salah satu kota yang sekarang ada wilayah Syiria/Suriah. (Khairuddin az-Zirikli, ​​​​​al-A’lam, [Darul Ilmi, t.t], jilid V, halaman 317). Alauddin as-Samarqandi dikaruniai seorang putri bernama Fatimah yang ia didik sejak kecil untuk senantiasa cinta akan ilmu dan akhlak. Dan benar saja, didikan dari ayahnya berhasil memotivasi putrinya hingga sang putri tumbuh besar dalam naungan ilmu pengetahuan. Sejak usia dini, Fatimah terus menghabiskan waktunya untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu-ilmu dasar, sementara sang ayah dengan sabar dan tekun membimbing putrinya agar cinta pada ilmu tumbuh mekar dalam dirinya. Kemudian setelah Fatimah berhasil memiliki dasar keilmuan yang cukup, sang ayah mulai mengajarkan ilmu yang lebih luas kepada sang putri. Ia memperkenalkan Fatimah dengan salah satu kitab penting dalam mazhab Hanafi yang sekaligus buah karya dari sang ayah sendiri, yaitu kitab Tuhfatul Fuqaha. Kitab ini merupakan magnum opus yang berisi berbagai macam permasalahan fiqih yang kompleks, khususnya dalam mazhab Hanafi. Dan dari kitab Tuhfatul Fuqaha inilah, Fatimah mulai mendalami berbagai aspek hukum Islam, mulai dari bab-bab ubudiyah, muamalah, jinayah, hingga mampu mengkhatamkan dan memahaminya dengan sempurna, bahkan menurut Abul Wafa al-Hanafi (696 – 775 H), ia menghafal kitab tersebut. فَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ أَبِي أَحْمَدَ السَّمَرْقَنْدِيِّ: تَفَقَّهَتْ عَلىَ أَبِيْهَا وَحَفِظَتْ مُصَنّفَةَ التُّحْفَةِ Artinya, “Fatimah bint Muhammad bin Ahmad bin Abi Ahmad as-Samarqandi: Ia mempelajari fiqih dari ayahnya dan menghafal karyanya yang berjudul at-Tuhfah (Tuhfatul Fuqaha).” (al-Jawahirul Mudliyyah fi Thabaqatil Hanafiyyah, [India: Mathba’ah an-Nidhamiyah, 1332 H], jilid IV, halaman 122). Keberhasilan Fatimah dalam menguasai kitab Tuhfatul Fuqaha ini menjadi bekal yang sempurna untuk menjadi pedoman dalam mengarungi samudera ilmu yang lebih luas, sekaligus menjadi bukti potensi besar untuk menjadi seorang ulama wanita yang hebat di masa depan. Dan benar saja, setelah dengan tekun dan penuh kesabaran menuntut ilmu kepada ayahnya dan ulama-ulama tersohor lainnya saat itu, ia memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menyampaikan dan menjelaskan mazhab Hanafi dengan baik, hal ini sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu al-Adim dari ayahnya, yaitu: قَالَ ابْنُ الْعَدِيْمِ: حَكَى وَالِدِي أَنَّهَا كَانَتْ تَنْقلُ الْمَذْهَبَ نَقْلاً جَيِّدًا Artinya, “Ibnul Adim berkata: Ayahku bercerita kepadaku bahwa dia (Fatimah) mampu menukil mazhab (Hanafi) dengan penguasaan yang sempurna.” (A’lamun Nubala bi Tarikhi Halb as-Syahba, [Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 2024 M], jilid IV, halaman 205). Lamaran Raja hingga Mahar berupa Syarh Kitab Selain memiliki ilmu yang luas, Fatimah juga memiliki paras yang sangat cantik, sehingga tidak heran jika keberadaannya kerap kali menjadi perbincangan banyak orang. Bahkan berita tentang keistimewaannya menyebar luas hingga akhirnya sampai ke telinga para penguasa Romawi. Bahkan para raja dan pembesar dari negara tersebut pun turut terpukau dengan kehebatan Fatimah. Terpesona dengan keistimewaannya, para penguasa Romawi berbondong-bondong mengirimkan utusan menuju kota kelahirannya. Mereka membawa hadiah-hadiah mewah, menawarkan kekayaan dan kekuasaan, serta menyampaikan lamaran untuk menikahi Fatimah. Mereka berharap dapat mempersunting wanita cerdas dan berilmu ini, untuk menjadikannya sebagai bagian dari keluarga kerajaan mereka. Namun di balik semua tawaran menggiurkan itu, hati ayah Fatimah tidak tergoyahkan. Ia sangat menyayangi putrinya dan menginginkan yang terbaik untuknya. Ia tahu bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada kekayaan dan kekuasaan. Maka dengan penuh kelembutan, ayah Fatimah menolak semua lamaran dari para penguasa Romawi. Dan benar, ternyata keyakinan ayah Fatimah tidak salah. Di balik penolakan lamaran para penguasa Romawi, Allah swt sedang mempersiapkan seorang laki-laki saleh yang juga tak kalah keilmuannya dengan Fatimah. Laki-laki itu adalah Alauddin Abu Bakar bin Masud bin Ahmad al-Kasani, seorang ahli fiqih dan ushul fiqih yang sangat terkenal pada masanya. Pada mulanya, tujuan kedatangan al-Kasani ke kota Halab (Aleppo) tidak lain selain untuk menuntut ilmu kepada ayah Fatimah. Ia belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh, hingga akhirnya menjadi salah satu murid kesayangan ayah Fatimah. Ayah Fatimah juga sangat terkesan dengan al-Kasani. Ia melihat dalam dirinya terdapat sosok laki-laki yang saleh, berilmu, dan berakhlak mulia yang cocok untuk menjadi pendamping hidup Fatimah. Ia juga melihat bahwa al-Kasani memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan ilmu fiqih mazhab Hanafi, dan ia ingin agar muridnya itu dapat meneruskan perjuangannya dalam menyebarkan ilmu dan memberikan manfaat kepada umat Islam. Maka dengan itikad kuat, ayah Fatimah menikahkan putrinya dengan al-Kasani. Namun yang menarik dari kisah ini adalah bahwa pernikahan ini terealisasi setelah al-Kasani berhasil menyelesaikan sebuah karya tulis berjudul Badaius Shana’i’ fi Tartibis Syarai’, yang merupakan syarah (penjelasan lebih luas) dari kitab Tuhfatul Fuqaha karya gurunya sendiri atau ayah Fatimah. Kitab ini adalah sebuah karya yang sangat komprehensif dan detail, dalamnya membahas berbagai macam permasalahan fiqih dengan dalil-dalil yang kuat dan argumentasi yang logis. Ceritanya, ketika al-Kasani menyelesaikan kitab syarahnya, ia mempersembahkannya kepada ayah Fatimah sebagai tanda penghormatan dan pengabdiannya. Ayah Fatimah sangat terkejut dan gembira dengan karya al-Kasani ini. Ia melihat bahwa al-Kasani telah berhasil memahami dan menguasai ilmu fiqih dengan sangat baik, bahkan melebihi dirinya sendiri. Maka sebagai bentuk penghargaan dan pengakuan atas karyanya, ayah Fatimah kemudian menikahkan putrinya dengan al-Kasani. Ia juga menjadikan kitab Badaius Shana’i’ fi Tartibis Syarai’ sebagai mahar pernikahan mereka. Kisah ini kemudian diabadikan oleh beberapa ulama, salah satunya adalah Syekh Umar Ridha Kahhalah, dalam

Tausiah LDRQ

Rahasia dan Keagungan Haji Mabrur dan Hari ‘Arafah

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ) Bersama :Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA Tema :Rahasia dan Keagungan Haji Mabrur dan Hari ‘Arafah 📖 Kalam Hikmah: Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam yang memiliki keistimewaan yang sangat besar. Allah mewajibkan ibadah haji bagi umat Islam sekali dalam seumur hidup. Adapun apabila seseorang mempunyai kemudahan untuk melaksanakan haji lebih dari satu kali maka sudah dianggap sebagai Sunnah. Allah SWT berfirman: وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا” Artinya : “Dan kewajiban bagi manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, bagi siapa saja yang mampu sampai kepadanya” (QS. Ali Imran: 97) Pertama : Haji Mabrur Para ulama salaf sudah banyak menceritakan tentang keagungan ibadah haji yang sangat luar biasa, banyak rahasia-rahasia dalam perjalanan menuju baitullah tersebut. Terlebih dari itu ibadah haji memiliki peranan penting dalam mengisi spiritual jiwa umat Islam. Rasulullah SAW bersabda: العُمرةُ إلى العُمرةِ كفَّارةٌ لِما بينَهُما والحجُّ المبرورُ ليسَ لَهُ جزاءٌ إلَّا الجنَّةُ Artinya: “Perjalanan antara ibadah satu umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa. Haji mabrur tidak ada balasan kecuali surga.” (HR. Bukhari Muslim) Para ulama salaf telah banyak menyampaikan tentang makna haji yang mabrur, dan amalan serta syarat-syarat mereka ketika melaksanakan haji yang merupakan penerapan dari makna-makna kelebihan haji dan sifat-sifat yang agung tersebut. Salah satu makna haji yang mabrur adalah melaksanakan segala ketaatan dan istiqamah dalam mengerjakan amal kebajikan. Dan sungguh Allah SWT telah menjelaskan tentang istiqamah dalam mengerjakan amal kebajikan dalam firman-Nya : لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْاۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ ۝١٧٧ Artinya: “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177) Al-Hafiz Ibnu Rajab r.a. berkata: “Ayat tersebut menyebutkan bahwa ada enam macam ketakwaan, dan barang siapa menyempurnakannya maka ia telah menyempurnakan ketakwaan. Pertama: beriman kepada lima rukun iman. Kedua: memberi harta kesayangan kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, orang yang meminta, dan memerdekakan budak. Ketiga: mendirikan shalat. Keempat: menunaikan zakat. Kelima: memenuhi janji. Keenam: sabar dalam kesulitan, kesusahan, dan di kala perang.” Semua itu wajib bagi jamaah haji, karena hajinya tidak sah tanpa iman, dan hajinya tidak sempurna dan diterima tanpa mendirikan shalat dan menunaikan zakat, karena rukun Islam itu saling berkaitan, maka iman dan Islam tidaklah sempurna sehingga keduanya telah ditunaikan, dan tidak sempurna ketakwaan haji kecuali dengan menunaikan janji-janji dalam perjanjian dan persekutuan serta rukun-rukun yang diwajibkan dalam perjalanan haji. Memberikan harta yang dicintainya kepada orang yang Allah cintai untuk diberikan harta tersebut, dan masih harus bersabar terhadap musibah yang menimpanya dalam perjalanan, itulah ciri-ciri orang yang bertaqwa. Maka barangsiapa yang melaksanakan haji tanpa mendirikan shalat, apalagi hajinya sunnah, maka ia seperti orang yang berusaha mendapatkan satu dirham, lalu menghambur-hamburkan modalnya yang jumlahnya beribu-ribu dirham. Salah satu makna haji mabrur adalah bersikap baik kepada manusia, berbuat baik kepada mereka, dan memiliki adab yang baik terhadap mereka. Dalam Shahih Muslim, Nabi SAW ditanya tentang ketakwaan, lalu dia menjawab: “Akhlak yang baik.” Ini adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh jamaah haji. Itulah makna dari mendapatkan haji yang mabrur, Istiqamah dan terbimbing untuk selalu dekat dengan Allah SWT dan taat melaksanakan seluruh amal shaleh dan kebajikan-kebajikan yang antara satu kebajikan dengan kebajikan lain saling bergantung dan menyempurnakan. Kedua : Hari ‘Arafah Salah satu hari yang paling utama di sisi Allah SWT adalah Hari Arafah. Itulah hari berkumpulnya orang-orang, ketika para jamaah haji berada di padang Arafah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Haji itu adalah Arafah.” Keutamaan hari besar ini banyak sekali, di antaranya adalah sebagai hari penyempurna agama dan penyempurnaan keberkahan atas umat ini, sehingga mereka tidak membutuhkan agama lain. Oleh karena itu, Allah SWT menjadikannya sebagai penutup segala agama dan yang terbaik di antara semuanya, dan tidak ada agama yang diterima dari siapa pun selain agama Islam. Dalam riwayat sahih Bukhari Muslim dikatakan bahwa Umar bin Khattab r.a., seorang Yahudi berkata kepadanya: “Wahai Amirul Mukminin, ada sebuah ayat dari kitabmu yang engkau baca. Seandainya ayat itu diturunkan kepada kami, orang-orang Yahudi, niscaya kami menjadikan hari itu sebagai hari raya.” Dia bertanya: “Ayat yang mana?” Dia berkata: “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Kuridhai Islam sebagai agamamu.” Umar berkata: “Kami mengetahui hari dan tempat diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang wukuf di Arafah pada hari Jumat.” Di antara keutamaan hari Arafah adalah bahwa ia merupakan hari perayaan bagi umat Islam. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ayat ini turun pada hari besar, hari Jum’at, dan hari Arafah.” Dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Keduanya, alhamdulillah, adalah perayaan bagi kami.” Hari itu merupakan hari raya yang khusus diperuntukkan bagi orang-orang yang berkumpul, sedangkan puasa pada hari itu disyariatkan bagi orang-orang selainnya, sebagaimana yang akan disebutkan kemudian. Di antara keutamaannya ialah sebagai hari ampunan dan pengampunan dosa, hari terbebas dari api neraka, dan hari membanggakan orang-orang yang berkumpul. Dalam Shahih Muslim, dari Aisyah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: “Tidak ada satu hari pun di mana Allah SWT membebaskan lebih banyak hamba dari api neraka daripada hari Arafah. Allah SWT mendekat, lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat, seraya berkata: ‘Apa yang diinginkan orang-orang ini?’” Barangsiapa yang menginginkan agar terbebas dari api neraka, dan berharap agar dosa-dosanya diampuni, kesalahan-kesalahannya diampuni, dan kesalahan-kesalahannya diampuni pada hari Arafah, maka hendaklah ia bersemangat untuk melakukan hal-hal yang dapat membuatnya berharap, setelah mendapatkan karunia dan rahmat

Tausiah LDRQ

LIMA KEBIASAAN YANG MEMATIKAN HATI

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎LIMA KEBIASAAN YANG MEMATIKAN HATI ‎ ‎Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah mengingatkan kita bahwa hati bisa menjadi redup, lemah, dan sulit melihat kebenaran bukan hanya karena dosa besar, tapi karena kebiasaan sehari-hari yang tidak terkontrol. Beliau menyebutkan: ‎أَعْظَمُ مُفْسِدَاتِ الْقَلْبِ خَمْسَةٌ: كَثْرَةُ الْخُلْطَةِ، وَتَمَنِّي، وَالتَّعَلُّقُ بِغَيْرِ اللَّهِ، وَالشِّبَعُ، وَالْمَنَامُ ‎Berikut adalah penjelasan sederhananya: ‎ ‎1. Banyak Bergaul Tanpa Batas ‎ ‎Berteman itu perlu, tapi kalau setiap waktu habis hanya untuk kumpul-kumpul tanpa tujuan, hati jadi lalai. Terlalu banyak mendengar omongan orang membuat kita lupa mendengar suara hati sendiri. Kita butuh waktu menyendiri untuk evaluasi diri (muhasabah). ‎ ‎2. Panjang Angan-Angan ‎ ‎Terlalu sibuk menghayal tentang dunia sampai lupa bahwa hidup ini ada batasnya. Khayalan yang ketinggian membuat kita hobi menunda amal karena merasa “_besok masih ada waktu,_” padahal ajal tidak pernah memberi tahu kapan ia datang. ‎ ‎3. Bergantung pada Selain Allah ‎ ‎Inilah yang membuat hati rapuh. Kalau kita menggantungkan harapan dan rasa aman kepada manusia, jabatan, atau harta, kita akan mudah kecewa. Sebab, semua itu sifatnya sementara. Hanya Allah sandaran yang tidak akan pernah mengecewakan. ‎ ‎4. Kekenyangan ‎ ‎Perut yang terlalu penuh adalah beban bagi hati. Orang yang kekenyangan biasanya jadi malas bergerak, sulit fokus saat ibadah, dan bawaannya ingin tidur terus. Makanlah secukupnya agar badan tetap ringan untuk diajak taat. ‎ ‎5. Banyak Tidur ‎ ‎Tidur itu kebutuhan, tapi kalau berlebihan malah jadi penyakit. Waktu kita habis sia-sia, momen keberkahan di waktu subuh hilang, dan jiwa jadi tidak produktif. Banyak tidur membuat hati menjadi mati rasa terhadap semangat perjuangan hidup. ‎ ‎Agar kita terhindar dari lima hal yang merusak ini, mari kita amalkan doa yang sangat indah ini: ‎​اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَزِلْ عُيُوبَنَا، وَتَوَلَّنَا بِالْحُسْنَى، وَزَيِّنَّا بِالتَّقْوَى، وَاجْمَعْ لَنَا خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَارْزُقْنَا طَاعَتَكَ مَا أَبْقَيْتَنَا ​“Ya Allah, perbaikilah hati-hati kami, hilangkan aib-aib kami, uruslah kami dengan kebaikan-Mu, hiasilah kami dengan takwa, kumpulkan bagi kami kebaikan dunia dan akhirat, serta karuniakanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu selama Engkau masih memberi kami kehidupan.” ‎ ‎Hati yang sehat adalah hati yang seimbang. Tidak berlebihan dalam bergaul, makan, maupun tidur, serta selalu menjaga agar harapan hanya tertuju kepada Allah SWT. ‎ ‎Sumber: Madarij al-Salikin oleh Ibn al-Qayyim ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an