Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

‎MENGAPA ALLAH MENINGGIKAN DERAJAT ORANG BERILMU?

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎MENGAPA ALLAH MENINGGIKAN DERAJAT ORANG BERILMU? ‎ ‎Orang berilmu memiliki posisi yang sangat mulia dalam Islam. Al-Qur’an surat Al-Mujadalah ayat 11, ‎يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ Artinya, “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” ‎ ‎Syekh Wahbah menjelaskan ayat di atas bahwa kompensasi bagi orang yang beriman sekaligus orang yang cari ilmu adalah dijanjikan naik derajatnya, baik di dunia maupun di akhirat, dengan memberikan anugerah sesuai porsi keilmuan yang mereka pelajari. (Wahbah Zuhaili, Tafsir al-Munir, [Beirut, Darul Fikr: 1985], juz 28, halaman 41). ‎ ‎Berdasarkan hal ini, menarik untuk ditelisik mengapa golongan pencari ilmu memiliki posisi yang spesial di sisi Allah. Imam Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan secara rinci alasan diangkatnya derajat orang berilmu (Mafatih al-Ghaib, [Beirut: Darul Ihya’, 1999], jilid 29, halaman 494). ‎ ‎Pertama, orang yang berilmu memahami cara dan langkah dalam menghindari perkara haram dan syubhat yang tidak diketahui orang lain. Tidak sedikit orang awam yang masih terjebak atau bahkan terpaksa melakukan perkara syubhat sampai haram. ‎ ‎Kedua, orang berilmu memahami metode untuk fokus (khusyuk) serta merendahkan diri dalam beribadah yang mana tidak diketahui orang lain. Jamak diketahui bahwa dalam melakukan ibadah-ibadah tertentu, tidak jarang terbesit dalam hati rasa sombong dan merasa lebih baik. Orang berilmu tidak melakukan ini, sehingga posisinya sangat spesial. ‎ ‎Ketiga, orang berilmu tahu bagaimana harus bertobat, kapan waktunya serta karakternya, yang tidak dipahami orang lain. Tentu, manusia adalah tempatnya salah. Namun tidak semua orang mampu atau berkenan untuk bertaubat. ‎ ‎Keempat, orang berilmu mampu menjaga dirinya dalam persoalan hak-hak yang wajib, yang mana tidak dimiliki oleh orang lain. Banyak sekali orang yang serampangan dan ceroboh dalam menunaikan hak-hak yang wajib, sedangkan orang berilmu teliti dalam hal tersebut ‎ ‎Demikianlah deskripsi Imam Fakhruddin Ar-Razi berkenaan dengan alasan-alasan diangkatnya derajat seseorang yang berilmu. Mulai dari mampu menghindari perkara haram dan syubhat, memahami metode khusyuk dan tawaduk dalam beribadah, memahami persoalan-persoalan dalam bertobat, dan mampu menjaga dirinya dalam persoalan hak-hak yang wajib. ‎ ‎Kendati ilmu menjadi sebab diangkatnya derajat yang tinggi, pencapaian itu tidak dapat diraih kecuali setelah melalui tahapan pertama, yaitu beriman. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi, Allah terlebih dahulu mengangkat derajat orang beriman, kemudian secara khusus meninggikan derajat orang-orang yang diberi ilmu di antara mereka. ‎ وَالْعُمُومُ أَوْقَعُ فِي الْمَسْأَلَةِ وَأَوْلَى بِمَعْنَى الْآيَةِ، فَيَرْفَعُ الْمُؤْمِنَ بِإِيمَانِهِ أَوَّلًا ثُمَّ بِعِلْمِهِ ثَانِيًا “Makna yang umum lebih tepat dalam masalah ini dan lebih sesuai dengan maksud ayat. Maka Allah mengangkat seorang mukmin dengan imannya terlebih dahulu, kemudian mengangkatnya lagi dengan ilmunya sebagai yang kedua.” (Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, juz 17, halaman 300). ‎ ‎Alhasil, ilmu tidak menjadi pengganti iman, namun ia berfungsi sebagai nilai plus bagi orang beriman. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an ‎

Tausiah LDRQ

ATURAN MENENTUKAN ARAH KIBLAT DALAM SALAT

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎ATURAN MENENTUKAN ARAH KIBLAT DALAM SALAT ‎ ‎Menghadap ke arah kiblat merupakan salah satu rukun penting yang menentukan sah atau tidaknya ibadah salat seorang Muslim. Bagi seluruh umat Islam di berbagai belahan dunia, kiblat tunggal yang menjadi pusat ibadah adalah bangunan Ka’bah yang berdiri di kota suci Makkah. Jika seseorang dengan sengaja atau tanpa uzur menunaikan salat dengan membelakangi atau melenceng dari arah ini, maka ibadahnya dinilai tidak sah. Namun, hukum syariat memberikan kelonggaran dalam dua keadaan darurat yang khusus, yaitu ketika situasi sedang diliputi bahaya yang amat mencekam seperti perang yang berkecamuk, serta ketika seseorang hendak melaksanakan salat sunnah di tengah perjalanan di atas kendaraan. ‎ ‎Pandangan ini sejalan dengan rumusan yang ditulis oleh Imam Abu Ishak Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Fairuzzabadi al-Syairazi dalam kitab al-Muhadzdzab: ‎​استقبال القبلة شرط في صحة الصلاة إلا في حالين في شدة الخوف وفي النافلة في السفر “Menghadap kiblat merupakan syarat sah shalat kecuali dalam dua kondisi, yakni ketika kondisi teramat bahaya (perang berkecamuk) dan shalat sunnah yang dikerjakan saat perjalanan.” ‎ ‎Lebih lanjut, cara kita menghadap kiblat juga dibedakan berdasarkan posisi geografis atau jarak kita dari bangunan suci tersebut. Perbedaan kondisi ini mendatangkan konsekuensi hukum yang tidak sama, sebagaimana yang diterangkan kembali dalam kitab yang sama: ‎​فَإِنْ كَانَ بِحَضْرَةِ الْبَيْتِ لَزِمَهُ التَّوَجُّهُ إِلَى عَيْنِهِ… وَإِنْ لَمْ يَكُنْ بِحَضْرَةِ الْبَيْتِ نَظَرْتَ فَإِنْ عَرَفَ الْقِبْلَةَ صَلَّى إِلَيْهَا وَإِنْ أَخْبَرَهُ مَنْ يُقْبَلُ خَبَرُهُ عَنْ عِلْمٍ قَبِلَ قَوْلَهُ وَلَا يَجْتَهِدُ …وَإِنْ رَأَى مَحَارِيبَ الْمُسْلِمِينَ فِي مَوْضِعٍ صَلَّى إِلَيْهَا وَلَا يَجْتَهِدُ لِأَنَّ ذَلِكَ بِمَنْزِلَةِ الْخَبَرِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ نَظَرْتَ فَإِنْ كَانَ مِمَّنْ يَعْرِفُ الدَّلَائِلَ فَإِنْ كَانَ غَائِباً عَنْ مَكَّةَ اجْتَهَدَ فِي طَلَبِ الْقِبْلَةِ لِأَنَّ لَهُ طَرِيقاً إِلَى مَعْرِفَتِهَا بِالشَّمْسِ وَالْقَمَرِ وَالْجِبَالِ وَالرِّيَاحِ … فَكَانَ لَهُ أَنْ يَجْتَهِدَ كَالْعَالِمِ فِي الْحَادِثَةِ “Apabila ia berada di dalam bait (Masjidil Haram), maka wajib baginya menghadap ‘ain kiblat… Apabila ia tidak berada didalamnya, maka dilihat dulu, jika ia tahu arah kiblat, maka sholat menghadap arah tersebut, jika ada seorang terpercaya yang mengabarinya, maka terima kabar tersebut dan tidak perlu berijtihad lagi…jika ia melihat sekumpulan muslimin di suatu tempat shalat menghadap ke sebuah arah, maka ia tidak perlu ijtihad, karena hal itu sama saja seperti sebuah kabar. Jika tidak ada sesuatu pun, maka dilihat dulu, jika ia adalah seseorang yang bisa menangkap pertanda, sedangkan kondisinya jauh dari Makkah, ia mesti berijtihad mencari arah kiblat menggunakan metode bisa dari melihat matahari, bulan, bintang, atau arah angin bertiup…maka wajib baginya berijtihad sebagaimana orang alim berijtihad menyikapi persoalan fiqih terbaru.” ‎ ‎Berdasarkan penjelasan mendalam di atas, kita dapat menyimpulkan adanya batas kemudahan yang diberikan oleh agama. Bagi orang yang sedang berada langsung di dalam kompleks Masjidil Haram, ia wajib menghadapkan tubuhnya secara presisi ke wujud fisik Ka’bah itu sendiri. Namun, bagi kaum Muslimin yang berada jauh di luar area tersebut, termasuk kita yang tinggal di Indonesia, kewajiban tersebut menjadi lebih ringan, yakni cukup menghadapkan diri ke arah umum keberadaan Ka’bah. ‎ ‎​Selain itu, ketika kita berada di suatu tempat yang baru dan asing serta bingung menentukan arah, agama menuntut kita untuk berusaha mencari tahu secara aktif. Jika ada petunjuk yang jelas dari penduduk setempat yang tepercaya, atau jika kita melihat bangunan masjid yang memiliki mihrab yang sudah mapan, maka kita bisa langsung mengikutinya tanpa perlu ragu lagi. Namun, jika sama sekali tidak ada petunjuk visual, barulah kita diwajibkan untuk mengerahkan kemampuan kita untuk memperkirakan arah, baik dengan memanfaatkan tanda-tanda alam seperti posisi peredaran matahari dan arah mata angin, maupun dengan bantuan alat kompas modern. Melakukan usaha terbaik untuk mencari arah adalah bukti kesungguhan kita dalam menjaga kesempurnaan ibadah di hadapan Allah SWT. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X: https://x.com/LPI_DayahRQ ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an ‎

Tausiah LDRQ

Istighfar, Satu Kalimat Beribu Solusi

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Istighfar, Satu Kalimat Beribu Solusi Diriwayatkan dari Al Hasan bahwa suatu ketika datang kepadanya seseorang yang mengadu akan kefakiran yang dialaminya. Kondisi ekonominya begitu terpuruk. Kebutuhan keluarga yang ia tanggung tak dapat ia cukupi. Ada lagi seorang yang lain mengadu kepadanya untuk meminta solusi terhadap masalah yang ia alami. Ya, seorang itu bisa dikatakan mandul. Telah lama ia menginginkan seorang buah hati, namun tak juga dikaruniai. Tapi ia tak mau putus asa. Maka datanglah ia ke Al Hasan sebagai bentuk ikhtiarnya. Al Hasan juga didatangi oleh seorang petani. Ia begitu gamang terhadap bumi yang ia tanami. Bagaimana tidak, setelah sekian tahun mengolah tanah, tak sekali pun ia menuai hasil yang melimpah. Malah yang terjadi adalah kerusakan tanaman akibat kekeringan dan tanah yang tandus. Semua itu dijawab oleh Al Hasan hanya dengan satu kalimat, اِسْتَغْفِرِ اللهَ “Bacalah istighfar, mintalah ampunan kepada Allah.” Betapa mengherankan Al Hasan ini. Di antara sekian banyak masalah yang dia adukan kepadanya hanya satu solusi yang ia berikan kepada orang-orang tersebut. Maka Rabi’ bin Shahib pun memberanikan diri untuk bertanya, “Wahai Al Hasan, banyak orang yang mendatangimu dengan mengadukan berbagai hal dan meminta (pertolongan) bermacam-macam kepadamu. Tapi mengapa hanya istighfar yang kau jadikan sebagai solusi jalan keluar?” Al Hasan pun terdiam, kemudian ia hanya membacakan beberapa ayat dari Surat Nuh sebagai berikut: فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَّيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12) مَا لَكُمْ لَا تَرْجُوْنَ اللهَ وَقَارًا (13 “Maka aku (Nuh) katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah maha pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan kepadamu hujan yang lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (Ulin Nuha Karim) Sumber: Kitab Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain karya Imam Ahmad Ibn Muhammad Al-Showy Al-Maliki, halaman 326, vol. 4. Kisah ini juga pernah disampaikan oleh Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, KH Muhammad Shofi Al Mubarok pada pengajian Kitab Tafsir Jalalain. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

SENI BERBICARA PENUH WIBAWA ALA RASULULLAH

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎SENI BERBICARA PENUH WIBAWA ALA RASULULLAH ‎ ‎Lidah merupakan bagian tubuh yang ukurannya terbilang sangat kecil jika dibandingkan dengan organ lainnya. Namun, jangan pernah meremehkan kekuatannya, karena si kecil ini memiliki daya pengaruh yang luar biasa besar dalam menentukan jalan hidup manusia. Melalui cara kita berbicara, lisan bisa menjadi jembatan yang mengantarkan pemiliknya menuju surga, atau justru menjadi pemicu yang melemparkannya ke dalam jurang neraka. ‎ ‎​Oleh sebab itu, kemampuan dalam mengontrol ucapan sering kali dijadikan barometer untuk melihat kualitas iman serta menjadi kunci keselamatan seseorang. Seperti sebuah ungkapan bijak yang sering kita dengar: ‎​سَلامةُ الإنسانِ في حِفْظِ الِلسانِ ​“Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.” ‎ ‎Sebagai panutan terbaik sepanjang masa, Rasulullah SAW tidak hanya sekadar memerintahkan kita untuk berhati-hati dalam berucap melalui untaian sabdanya. Beliau juga memberikan contoh nyata di kehidupan sehari-hari tentang bagaimana cara berkomunikasi yang beradab dan berwibawa. Lewat kesaksian para sahabat, kita bisa mempelajari cara beliau berbicara yang sangat tertata. ‎ ‎​Karakteristik pertama yang sangat menonjol dari cara berkomunikasi beliau adalah ketegasan dan kejelasan suara. Kita mungkin sering bertemu dengan orang yang berbicara terlalu cepat, hingga kata-katanya terdengar bertumpuk dan membingungkan. Rasulullah SAW sangat jauh dari karakter tersebut. Sayyidah Aisyah RA pernah menggambarkan bagaimana cara Nabi menyampaikan pesan: ‎ما كان رسول الله ﷺ يسرد كسردكم هذا، ولكنه كان يتكلم بكلام بيّن فصل، يحفظه من جلس إليه ​“Rasulullah tidak berbicara dengan cepat dan bertumpuk-tumpuk seperti gaya bicara kalian ini. Beliau berbicara dengan kalimat yang jelas dan tegas, sampai-sampai orang yang duduk bersamanya bisa menghafal kata-kata tersebut.” (HR. Tirmidzi) ‎ ‎​Setiap patah kata yang keluar dari lisan beliau memiliki jeda yang ideal, memberikan ruang bagi siapa saja yang mendengarkan untuk meresapi dan memahami maksudnya dengan baik. ‎ ‎Selain artikulasi yang jelas, Rasulullah SAW juga sangat peduli apakah pesan yang beliau bawa bisa dipahami dengan tepat atau tidak oleh lawan bicaranya. Oleh karena itu, untuk hal-hal yang sifatnya sangat penting atau berupa prinsip hidup, beliau tidak segan untuk melakukan pengulangan demi efektivitas komunikasi. Sahabat Anas bin Malik RA menceritakan kebiasaan tersebut: ‎​كان رسول الله يعيد الكلمة ثلاثا لتعقل عنه ​“Rasulullah terbiasa mengulang kalimatnya sebanyak tiga kali agar kalimat tersebut benar-benar dipahami darinya.” (HR. Tirmidzi) ‎ ‎Metode pengulangan ini bukanlah tanda bahwa beliau bertele-tele, melainkan sebuah cara mengajar yang sangat cerdas agar informasi penting tersebut melekat kuat di dalam ingatan para sahabat. ‎ ‎​Keistimewaan lain yang menjadi ciri khas utama beliau adalah efisiensi dalam memilih kata. Allah SWT menganugerahi beliau sebuah kelebihan luar biasa yang dikenal dengan istilah jawami’ al-kalim, yaitu kemampuan merangkai kalimat yang sangat ringkas namun sarat akan makna yang luas dan mendalam. Sifat komunikasi ini ditegaskan langsung oleh beliau dalam sebuah hadis: ‎​بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ ​“Aku diutus dengan jawami’ al-kalim (ucapan singkat tetapi sarat makna)…” (HR. Bukhari) ‎ ‎Saat berbicara, penjelasan beliau selalu berada di porsi yang pas; tidak berlebihan hingga membuat orang bosan, dan tidak kurang hingga membuat orang bingung. Kalimat beliau selalu padat dan langsung menyentuh esensi masalah. ‎ ‎​Semua kelebihan lisan tersebut juga didukung oleh bahasa tubuh yang penuh dengan rasa hormat kepada lawan bicara. Menurut catatan sejarah, beliau adalah sosok yang lebih banyak diam dan hanya akan berbicara jika memang ada keperluan mendesak yang membawa manfaat. Ketika memulai atau mengakhiri ucapan, beliau selalu membiasakan diri untuk mengagungkan nama Allah. Selain itu, tutur kata beliau selalu santun, tidak pernah bernada kasar, dan pantang merendahkan harga diri orang lain. Beliau bahkan selalu menghargai pemberian sekecil apa pun dan tidak pernah sekalipun mencela hidangan makanan yang disuguhkan kepada beliau. ‎ ‎​Melalui gaya berkomunikasi Rasulullah SAW, kita bisa mengambil pelajaran berharga bahwa kehebatan dalam berbicara bukan diukur dari seberapa banyak kita menggunakan istilah-istilah sulit agar terlihat pintar. Komunikasi yang menggerakkan hati adalah yang disampaikan dengan ketenangan, artikulasi yang jelas, penuh penghormatan, serta menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh siapa saja. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Mengenal Imam Abu Hasan al-Asy’ari, Pencetus disiplin Ilmu Kalam

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Mengenal Imam Abu Hasan al-Asy’ari, Pencetus disiplin Ilmu Kalam Nama lengkap Imam al-Asy’ari adalah Ali bin Isma’il bin Ishaq bin Salim bin Isma’il bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abi burdah bin Abi Musa Abdullah bin Qais, Sahabat Rasulullah Saw. Abu Hasan al-Asy’ari dikenal sebagai penggagas disiplin ilmu kalam yang menjadi pondasi akidah seorang muslimin, beberapa gelar yang disematkan kepada beliau, seperti nashiru al-Sunnah yakni penolong sunnah Nabi Muhammad, al-Dzabbu ‘an al-Din artinya pembela agama. Beliau adalah salah satu ulama yang melestarikan pemahaman yang diwariskan generasi salaf untuk membentengi aqidah kaum muslimin yang manfaatnya hingga hari kiamat. Syeikh Abu Hasan al-Asy’ari lahir pada tahun 260 H. Imam al-Subki menyebutkan bahwa Imam al-Asy’ari sebelumnya berguru kepada Ali al-Jabba`i. Oleh karena itu beliau mengikuti gurunya yang menganut pemahaman mu’tazilah. Ada sebagian kalangan ulama yang masih meragukan pernyataan tersebut, seperti al-Qadhi ‘Iyadh lantas beliau berkata: “Jika memang benar sebelumnya Abu Hasan al-Asy’ari beraliran mu’tazilah, ini tidak mengurangi keagungan beliau, bahkan ini menunjukkan keteguhan dan shahih keyakinan beliau dalam mengikuti sunnah Nabi, hal ini merupakan pemberian Allah Swt dalam hati beliau. Adapun masa Abu Hasan al-Asy’ari berpahaman mu’tazilah yaitu selama 40 tahun, dari periode tersebutlah beliau menjadi panutan dan pemuka aliran mu’tazilah. Semenjak Allah menganugerahkan kebaikan dan menghendaki untuk memurnikan akidah, Abu Hasan al-Asy’ari melakukan pengasingan diri selama 15 hari. Dalam 15 hari tersebut beliau menemukan satu penelitian yang baru yang menunjukkan bahwa pemahaman dirinya sebelumnya terdapat beberapa hal keliru, kemudian beliau bergegas keluar dari pengasingan diri menuju ke sebuah masjid jami’. Melalui mimbar masjid tersebut beliau berkata:” wahai manusia sekalian, aku mengasingkan diri dengan kalian semua untuk meneliti kebenaran dan aku dapati beberapa keterangan yang berbenturan, lantas aku tidak bisa mengambil kesimpulan maka Allah Swt menunjukkan jalan kebenaran kepada diriku, aku tuangkan pemahaman tersebut dalam dalam kitab ini(sambil menunjukan bukunya kepada khalayak ramai)”. Dari kejadian ini beliau merevisi seluruh pemahaman sebelumnya layaknya melepaskan baju dari badannya dan mencurahkan pemikiran yang benar di dalam sebuah karyanya selama 15 hari dalam masa pengasingan serta memberinya kepada masyarakat ketika itu. seperti aku lepaskan baju ini. Kisah tersebut diceritakan al-Subki, tetapi beliau tidak memberikan keterangan yang kuat tentang periode Abu Hasan al-Asy’ari berakidah mu’tazilah selama 40 tahun, Sedangkan menurut Syeikh Sa’id Foudah, Abu Hasan al-Asy’ari tidak berakidah mu’tazilah selama 40 tahun, tetapi berakidah mu’tazilah hingga usia 40 tahun buktinya beliau berakidah ahlussunnah di permulaan tahun 300 H, dan lahir pada tahun 260 H, serta wafat pada usia 324 H. Sesuatu yang patut diperhatikan adalah Ketika Imam Abu Hasan al-Asy’ari berada di era Mazhab mu’tazilah lantas beliau juga ditunjuk sebagai Imam Mazhab mu’tazilah dan berdebat dengan pemahaman lainnya, kemudian kita mengetahui bahwa beliau Kembali mengikuti ajaran ahlussunnah, ini perlu dilakukan sebuah pengkajian dan pertanyaan bagaimana beliau bisa pindah dari satu manhaj kepada manhaj yang lain, dan apa landasan beliau, dalam hal ini Syeikh sa’id foudah menerangkan bahwa ketika Abu Hasan al-Asy’ari mendalami aliran mu’tazilah, dan memeriksa seluruh masalah-masalah mazhab mu’tazilah, dan salah satu ciri orang yang niatnya ikhlas kepada tuhan sehingga beliau tidak terpengaruhi dan terhanyut dalam lobang taqlid, meskipun gurunya ketika itu seorang tokoh mu’tazilah, hal ini dikarenakan tidak dianggap sebuah kekurangan ketika sebelumnya meyakini kebenaran pada satu pendapat, kemudian setelah melakukan penelitian lebih jauh menemukan bukti yang benar bahwa pemahaman yang dianut sebelumnya merupakan kesalahan. Setelah mendapat sebuah pemahaman yang utuh beliau mulai menulis sebuah karya dan membagikan kepada manusia untuk membaca serta memahaminya dan melakukan diskusi terhadap pihak yang tidak menyetujuinya. Ketika pandangan Imam al-Asy’ari telah masyhur dan dikenal di khalayak ramai, mereka menilai bahwa pendapat tersebut adalah yang paling sesuai dengan al-Qur`an, Sunnah Nabi, dan perkataan ulama salaf baik dari kalangan tabi’in maupun sahabat. Mereka semuanya sepakat bahwa penelitian Imam al-Asy’ari dan pemikirannya merupakan gambaran dari Ahli Sunnah wal Jama’ah. Kita dapat memahami bahwa Imam Abu Hasan al-Asy’ari tidak berpindah dari aliran mu’tazilah ke mazhab Ahli Sunnah selama sehari semalam sebagaimana pemahaman sebagian kalangan tetapi terdapat sebuah tahapan dan proses yang sempurna disertai sebuah perdebatan terhadap lawan dari pemikiran beliau, oleh karena itu kita tidak boleh mengklaim bahwa ini merupakan sebuah bentuk khianat terhadap gurunya yang bermanhaj mu’tazilah, bahkan Ketika beliau tetap berada beraliran mu’tazilah yang dianggap khianat karena ridha dalam kesalahan Ketika telah muncul bukti kebenaran yang akurat. Perpindahan beliau ke aliran ahli sunnah bukan semata-mata karena berpijak dari mimpi beliau bertemu Rasulullah yang dialaminya walaupun ini merupakan perkara yang istimewa dan mempunyai nilai yang agung sebagai berita gembira terhadap Imam al-Asy’ari, Namun proses pemikiran beliau sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan yang diterima merupakan hal sangat penting, apalagi perjumpaan dalam mimpinya dengan Nabi Saw. memberikan tekad kuat supaya mengerahkan penelitian lebih dalam yang disertai niat yang ikhlas, Imam Abu Hasan al-Asy’ari bukanlah perintis aliran baru, tetapi tindakan beliau sebagai bentuk pelestarian pemahaman yang dianut generasi sahabat Rasulullah, dan juga tabi’in. Penisbatan aliran al-Asy’ari kepada Imam Abu Hasan al-Asy’ari layaknya seperti penyebutan mazhab penduduk Madinah dengan Malik yakni seorang yang menganut aliran ahli Madinah dinamakan Maliki, apakah kita mengklaim bahwa Imam Malik memelopori pemahaman baru dalam fikih yang berseberangan dengan para sahabat, tentunya tidak, karena Imam Malik mencoba melestarikan pemahaman yang diwarisi sahabat dengan bentuk uraian dan menciptakan metode tersendiri yang nantinya bisa dipelajari oleh murid-murid beliau, hal demikian juga sama seperti penyebutan aliran Ahli Sunnah terkhusus kepada Akidah Asy’ari, bukan berarti Imam Abu Hasan al-Asy’ari mencoba mencetuskan pemikiran baru tetapi melestarikan aqidah para sahabat dan tabi’in di samping beliau juga menyusun beberapa buku-buku terkait akidah ahli Sunnah. Imam Abu Hasan al-Asy’ari dikenal sebagai penyelamat pendapat dari generasi emas sebelumnya seperti akidah yang dibawakan Abi hanafiyah, Sufyan al-Tsauri dari penduduk Kufah, Auza’I dari Syam, Malik, dan al-Syafi’I dari Madinah dan Makkah, dan dari wilayah sekitarnya seperti Ahmad bin Hambal, Laits bin Sa’ad, al-Bukhari, dan lainnya. Aqidah Asy’ari juga selaras dengan pemikiran penganut mazhab empat, tidak ada ulama dari kalangan mazhab empat mencoba mengkritik pemahaman Imam Abu Hasan al-Asy’ari , bahkan ulama yang dikenal hidup semasa dengannya seperti Abu Umar ibn Hajib tokoh ushul fikih dari