Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

INVESTASI LANGIT: RAHASIA DI BALIK TETESAN DARAH KURBAN

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎INVESTASI LANGIT: RAHASIA DI BALIK TETESAN DARAH KURBAN ‎ ‎Tanpa kita sadari, kita telah memasuki sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Ini bukan sembarang waktu; ini adalah “musim panen” pahala yang paling dahsyat dalam setahun. Bahkan, amal ibadah di waktu ini nilainya bisa mengalahkan pahala jihad, kecuali bagi mereka yang syahid. ‎ ‎Allah SWT sampai bersumpah atas nama waktu-waktu ini dalam QS. Al-Fajr: 1-3: ‎وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرِ وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ “Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil.” ‎ ‎Salah satu ibadah paling utama di momen ini, selain ibadah haji, adalah menyembelih hewan kurban bagi yang mampu. Ini bukan soal makan-makan daging semata, tapi soal ketundukan total kepada Allah sebagaimana perintah-Nya dalam QS. Al-Kautsar: 2: ‎​فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ “Maka kerjakanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” ‎ ‎​Berikut adalah empat alasan mengapa kita tidak boleh melewatkan kesempatan berkurban tahun ini: ‎ ‎​1. Penghapus Dosa di Tetesan Pertama ‎ ‎Banyak dari kita yang merasa diri penuh dosa. Berkurban adalah salah satu cara “cuci gudang” dosa kita. Rasulullah SAW pernah berpesan kepada putrinya, Fatimah ra, bahwa pada tetesan darah pertama hewan kurban itu, Allah mengampuni dosa-dosa yang telah lalu. Ini adalah momen ampunan yang sangat mahal. ‎ ‎2. Ujian Ketakwaan (Bukan Pamer Kekayaan) ‎ ‎Perlu diingat, Allah tidak butuh daging atau darah hewan kita. Yang sampai kepada Allah adalah “kualitas” takwa di hati kita. Apakah kita berkurban karena ingin dipuji tetangga, atau murni karena syukur? Allah berfirman dalam QS. Al-Hajj: 37: ‎​لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاءُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ ​“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” ‎ ‎3. Amalan yang Paling Dicintai Allah ‎ ‎Pada hari Raya Idul Adha, tidak ada satu pun aktivitas manusia yang lebih dicintai Allah melebihi menyembelih hewan kurban. Jadi, jika kamu punya kelapangan rezeki namun tidak berkurban, Rasulullah SAW memberikan peringatan keras: “Jangan mendekati tempat shalat kami.” Ini menunjukkan betapa pentingnya ibadah ini bagi yang mampu. ‎ ‎4. Kendaraan dan Saksi di Hari Kiamat ‎ ‎Bayangkan, setiap bulu, tanduk, dan kuku hewan yang kita kurban akan datang pada hari kiamat sebagai saksi pembela kita. Dalam sebuah hadis riwayat Tirmidzi, disebutkan bahwa hewan tersebut akan bersaksi atas keikhlasan kita. Darah yang mengalir itu sudah diterima di sisi Allah bahkan sebelum menyentuh tanah. ‎ ‎Berkurban adalah soal “keberanian” melepaskan sebagian harta yang kita cintai demi kasih sayang Allah. Jangan sampai kita mampu membeli gawai terbaru atau kendaraan mewah, tapi merasa “miskin” saat harus membeli hewan kurban. ‎ ‎​Mari gunakan kesempatan di bulan Dzulhijjah tahun ini untuk membuktikan cinta kita kepada Sang Pencipta. Semoga kurban kita tahun ini diterima, dosa-dosa kita diampuni, dan kelak kita dikumpulkan bersama orang-orang shalih dalam keadaan husnul khatimah. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Keistimewaan Bulan Dzulhijjah

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ) Tema :Keistimewaan Bulan Dzulhijjah 📖 Kalam Hikmah: Alhamdulillah kita sudah berada di akhir bulan Dzulqaidah artinya kita hampir memasuki bulan Dzulhijjah dimana Dzulhijjah adalah bagian dari الأشهر المعلومات yaitu bulan-bulan yang dimaklumkan. Atau sering juga disebut dengan الأشهر الحرم هي أربعة: رجب وذو القعدة وذو الحجة والمحرم Artinya : Bulan-bulan yang diharamkan ada empat yaitu Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharram. Setiap bulan-bulan haram tersebut memiliki keistimewaan dan kelebihan masing-masing. Sudah banyak hadits dan riwayat-riwayat yang menceritakan tentang hal tersebut. Sepuluh awal bulan Dzulhijjah memiliki keistimewaan tersendiri, sehingga banyak para ulama memperkenalkan kepada kita tentang 10 awal bulan Dzulhijjah tersebut قال سعيد بن جبير: “لا تُطْفِئوا سُرُجَكم ليالي العشر”؛ [سير أعلام النبلاء Artinya : Sa’id bin Jubair –rahimahullah-mengatakan: “Jangan kalian matikan lampu rumah kalian pada malam-malam sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” Agar bisa terus beribadah. (Hilyatul Awliya’ 4/281 dan Siyar A’laam an Nubala’ 4/326). Maksudnya tidak mematikan lampu rumah pada malam sepuluh pertama bulan Dzulhijjah adalah diharapkan kita dapat beribadah semalaman dengan mengisi malamnya dengan shalat-shalat Sunnah, membaca Al-Qur’an dan ibadah-ibadah Sunnah lainnya. Akan tetapi diibaratkan kalau mati lampu pada malam hari artinya manusia di dalam rumah tersebut sudah pasti tidur sepanjang malam tanpa ibadah. Maka begitulah cara ulama menggalakkan sepuluh pertama bulan Dzulhijjah lampu rumah terus hidup hingga pagi dengan diisi oleh penghuninya dengan ibadah shalat dan membaca Al-Qur’an, dan berzikir. قال الحافظ ابن حجر العسقلاني رحمه الله: الذي يظهر أن السبب في امتياز عشر ذي الحجة لمكان اجتماع أمهات العبادة فيه, وهي: الصلاة, والصيام, والصدقة, والحج, ولا يتأني ذلك في غيره. Artinya: Ibnu Hajar Al-Asqalani r.a. berkata : ” Penyebab keistimewaan sepuluh Dzulhijjah berkumpulnya inti ibadah di dalamnya antara lain : shalat, puasa, sadakah, dan haji yang ibadah tersebut tidak ada pada bulan lain.” Karena sebab itulah sepuluh pertama bulan Dzulhijjah sangat istimewa karena berkumpulnya induk atau inti dari ibadah yang tidak ada pada bulan lain. Shalat boleh memperbanyak shalat-shalat sunnah seperti taubat, tasbih, tahajjud, hajat dan lainnya. Di siang harinya juga disunnahkan untuk berpuasa hingga puncaknya pada hari ‘Arafah. Rasulullah ﷺ bersabda: صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ Artinya: “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim) Adapun mayoritas ulama berpendapat bahwa, dosa-dosa yang dihapus sebab puasa Arafah adalah dosa kecil (An-Nawawi, Syarah Muslim, juz 3, h. 113). Pada bulan Dzulhijjah juga Allah wajibkan haji bagi orang Islam sekali seumur hidup. يقول الإمام ابن رجب رحمه الله: (لمَّا كان الله سبحانه وتعالى قد وضع في نفوس المؤمنين حنينًا إلى مشاهدة بيته الحرام، وليس كُلُّ أحد قادرًا على مشاهدته في كل عام، وقد فرض على المستطيع الحج مرة واحدة في عمره، وجعل موسم العشر مشتركًا بين السائرين والقاعدين، فمن عجز عن الحج في عام قدر في العشر على عمل يعمله في بيته يكون أفضل من الجهاد الذي هو أفضل من الحج. Artinya: Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Karena Allah SWT telah menanamkan dalam jiwa orang-orang mukmin kerinduan untuk melihat Baitullah-Nya, dan tidak semua orang mampu melihatnya setiap tahun, maka Dia telah mewajibkan haji bagi mereka yang mampu melakukannya sekali seumur hidup, dan Dia telah menjadikan masa sepuluh hari itu sebagai masa yang dijalani bersama bagi mereka yang bepergian dan mereka yang tinggal di rumah. Maka barang siapa yang tidak mampu melaksanakan haji dalam satu tahun, maka ia dapat beramal di rumahnya selama sepuluh hari itu, yang lebih baik daripada jihad, yang lebih baik daripada haji.” Dalam riwayat di atas jelas bahwasanya Allah wajibkan haji bagi umat Islam sekali seumur hidup dan itu dilakukan dalam bulan Dzulhijjah, bahkan bagi orang-orang yang belum mampu melaksanakan haji Allah juga berikan kesempatan untuk beribadah pada sepuluh pertama bulan Dzulhijjah dengan pahala yang sangat besar juga melebihi jihad fi Sabilillah. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW juga bersabda bahwa: “Sungguh Allah menurunkan pada setiap hari dan malam 120 rahmat di Baitullah ini. 60 rahmat untuk orang yang melakukan tawaf, 40 rahmat bagi orang yang mendirikan salat, dan 20 rahmat bagi orang yang memandang ke arah Ka’bah.” (HR. Thabrani) Dalam hadits lain Rasulullah SAW juga bersabda: Dari Jabir, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda: صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ Artinya: “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406. Beginilah Allah SWT memberikan keistimewaan pada bulan Dzulhijjah, orang-orang yang menunaikan ibadah haji di tanah suci mempunyai kelebihan yang berlimpat ganda pahalanya tetapi kita yang belum mampu menunaikan ibadah haji juga diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk melakukan amalan-amalan yang banyak pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah tersebut. سئل شيخ الإسلام رحمه الله: عن عشر ذي الحجة, والعشر الأواخر من رمضان, أيهما أفضل؟ فأجاب: أيام عشر ذي الحجة أفضل من أيام العشر من رمضان, والليالي العشر الأواخر من رمضان أفضل من ليالي عشر ذي الحجة. فضل العمل الصالح في أيام عشر ذي الحجة Artinya : Ada yang bertanya kepada Syaikhul Islam r.a tentang mana istimewa 10 Dzulhijjah atau 10 akhir bulan Ramadhan? Beliau menjawab: “10 awal hari bulan Dzulhijjah lebih utama dan afdhal dari 10 hari bulan Ramadhan, sedangkan 10 malam akhir bulan Ramadhan lebih utama dan afdhal dari 10 malam awal bulan Dzulhijjah. Banyak kelebihan beramal shalih pada hari 10 bulan Dzulhijjah” Jadi keistimewaan 10 hari bulan Dzulhijjah terletak pada siang harinya namun demikian anjuran untuk terus memperbanyak ibadah pada malamnya tersebut juga sangat banyak hingga anjuran jangan matikan lampu untuk terus beribadah semalaman. و الله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 📷Instagram LDRQ 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #ldrqraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻

Tausiah LDRQ

Kisah Inspiratif Suami Bersyukur dan Istri Bersabar yang Masuk Surga

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Kisah Inspiratif Suami Bersyukur dan Istri Bersabar yang Masuk Surga Imam Abul Qasim Ali bin Hasan bin Abdullah asy-Syafi’i, atau yang lebih masyhur dengan nama Imam Ibnu Asakir (wafat 571 H), dalam kitab Tarikh Madinah Dimasyq meriwayatkan sebuah kisah tentang cinta, kesabaran, dan syukur. Kisah ini menceritakan tentang seorang laki-laki bernama Imran bin Hattan dan istrinya yang cantik jelita. Dikisahkan, suatu hari Imran bin Hattan mengunjungi istrinya. Imran merupakan seorang pria tua yang parasnya jauh dari kata tampan, tubuhnya pendek, dan penampilannya sederhana. Sementara istrinya sangat cantik, senantiasa berhias, dan selalu terlihat memesona di mata suaminya. Ketika Imran melihatnya, kekagumannya semakin bertambah dan ia tidak bisa mengalihkan pandangannya. Sang istri yang menyadari tatapan kagum suaminya pun bertanya, “Ada apa denganmu?” Imran menjawab, “Demi Allah, engkau terlihat sangat cantik hari ini.” Sang istri kemudian berkata dengan lembut, “Bergembiralah, karena aku dan engkau akan berada di dalam surga.” Imran pun terkejut dan bertanya, “Dari mana engkau tahu hal itu?” Maka dengan penuh keyakinan, sang istri menjawab: لِأَنَّكَ أُعْطِيتَ مِثْلِي فَشَكَرْتَ، وَابْتُلِيتُ بِمِثْلِكَ فَصَبَرْتُ، وَالصَّابِرُ وَالشَّاكِرُ فِي الْجَنَّةِ Artinya, “Karena engkau diberi pasangan sepertiku, lalu engkau bersyukur. Dan aku diuji dengan mendapatkan pasangan sepertimu, lalu aku bersabar. Orang yang bersyukur dan orang yang bersabar akan berada di dalam surga,” (Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, [Beirut: Darul Fikr, 1995 M/1415 H], jilid XXXXIII, halaman 491). Kisah ini mengandung makna yang sangat dalam tentang pentingnya bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Imran menyadari bahwa memiliki istri yang cantik adalah sebuah nikmat yang besar dari-Nya, maka ia pun bersyukur. Kisah ini juga mengajarkan tentang pentingnya bersabar dalam menghadapi ujian. Istri Imran diuji dengan memiliki suami yang kurang rupawan. Namun, ia bersabar dan tidak pernah mengeluh. Keutamaan Bersyukur dan Bersabar Apa yang terjadi dalam kisah di atas memang sudah seharusnya menjadi pedoman bagi setiap orang dalam menjalani hidup. Berkaitan dengan kisah tersebut, Rasulullah SAW merasa takjub dengan keadaan seorang mukmin, karena segala urusannya akan bernilai baik apabila ia bersyukur ketika mendapatkan nikmat, dan bersabar ketika mendapatkan ujian. Dalam salah satu haditsnya, Nabi SAW bersabda: عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ Artinya, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal ini tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika ia tertimpa ujian, ia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR Muslim). Demikian, syukur dan sabar sejatinya memang harus dijadikan tameng bagi setiap orang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Keduanya akan menjaga hati agar tidak mudah goyah oleh perubahan keadaan, baik saat berada dalam keadaan lapang maupun ketika diuji dengan keadaan sempit. Hal ini karena sabar merupakan separuh dari iman, dan syukur pun merupakan separuh dari iman. Maka ketika syukur dan sabar bersatu dalam diri seseorang, iman pun menjadi utuh dan sempurna. Dalam beberapa riwayat, sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Baihaqi dalam ensiklopedia haditsnya, disebutkan: الشُّكْرُ نِصْفُ الإِيمَانِ، وَالصَّبْرُ نِصْفُ الإِيمَانِ، وَالْيَقِينُ الإِيمَانُ كُلُّهُ Artinya, “Syukur adalah separuh dari iman, sabar adalah separuh dari iman, dan keyakinan adalah seluruh iman,” (HR al-Baihaqi). Oleh karena itu, marilah kita jadikan kisah Imran bin Hattan dan istrinya sebagai inspirasi dalam menjalani kehidupan ini. Marilah senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan, sekecil apa pun itu. Marilah senantiasa bersabar dalam menghadapi setiap ujian yang menimpa, seberat apa pun itu. Dengan bersyukur dan bersabar, insya Allah kita akan menjadi hamba-hamba Allah yang dicintai-Nya, serta meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia dan di akhirat ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

10 Wejangan Imam Al-Ghazali untuk Pejabat dan Pemimpin

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center 10 Wejangan Imam Al-Ghazali untuk Pejabat dan Pemimpin Kekuasaan dan jabatan adalah amanat besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Seorang pemimpin dituntut untuk menegakkan keadilan dan menghadirkan kemaslahatan bagi rakyat sesuai tuntunan syariat. Dalam Islam, kepemimpinan bukan sekadar urusan dunia, tetapi amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ Artinya, “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin,” (HR. Bukhari). Dalam Islam, ulama berperan sebagai penuntun moral bagi penguasa. Mereka memberi nasihat agar kekuasaan tidak menyimpang dari nilai-nilai agama. Nasihat ulama ibarat cahaya yang menjaga seorang pemimpin agar keputusannya tidak hanya dilandasi kepentingan politik, melainkan berpijak pada kebenaran dan kebijaksanaan. Salah satu ulama besar yang banyak menasihati para penguasa adalah Imam Abu Hamid Al-Ghazali (w. 505 H). Nasihat beliau kepada para pemimpin terangkum dalam kitab At-Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk (Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988). Dalam karya ini, Al-Ghazali menekankan bahwa kepemimpinan adalah nikmat sekaligus ujian besar yang harus dijalankan dengan adil dan sesuai syariat. Berikut 10 nasihat Imam Al-Ghazali bagi para pejabat agar dapat menunaikan amanat kepemimpinan dengan sebaik-baiknya: 1. Adil dalam memimpin Kekuasaan adalah nikmat sekaligus amanat dari Allah SWT. Pemimpin yang menunaikannya dengan adil akan memperoleh kebahagiaan abadi, sedangkan yang mengkhianatinya akan terjerumus dalam kesengsaraan, bahkan bisa mengarah pada kekufuran. 2. Mendengarkan nasihat ulama yang saleh Seorang pejabat harus senantiasa membuka telinga terhadap nasihat ulama yang lurus dan tidak cinta dunia. Ulama yang benar berfungsi sebagai penasihat yang tulus, bukan sebagai “ulama su’” yang hanya mendekati kekuasaan demi keuntungan pribadi. 3. Memilih dan mengawasi jajaran Kebijakan pejabat akan tercermin dalam kinerja bawahannya. Oleh karena itu, ia harus selektif dalam memilih serta tegas dalam mengawasi aparatnya, sebab kelalaian mereka tetap menjadi tanggung jawab pemimpin. 4. Menjauhi kesombongan dan kesewenang-wenangan Jabatan bukan untuk disombongkan, apalagi dijadikan alat menindas rakyat. Seorang pejabat wajib rendah hati, menyadari bahwa kedudukannya adalah amanat rakyat, bukan hak istimewa pribadi. 5. Memosisikan diri sebagai wakil rakyat Pemimpin yang baik adalah perpanjangan tangan rakyat. Jika ia benar-benar menempatkan dirinya sebagai bagian dari rakyat, ia tidak akan rela rakyatnya menderita, sebagaimana ia tidak rela dirinya sendiri mendapat penderitaan. 6. Merespons kebutuhan rakyat dengan baik Kebutuhan rakyat harus menjadi prioritas utama, bahkan lebih utama dari ibadah sunnah. Mengabaikan rakyat demi urusan pribadi atau perkara kecil adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanat. 7. Tidak pamer kekayaan Pemimpin hendaknya hidup sederhana dan tidak memamerkan kemewahan. Menurut Al-Ghazali, keadilan tidak akan lahir tanpa kesederhanaan. Pakaian mewah dan makanan mahal tidak boleh menjadi kesibukan seorang pejabat. 8. Menanggapi kritik dengan kelembutan Kritik rakyat adalah bagian dari pengawasan. Pemimpin harus menanggapinya dengan bijak, penuh kelembutan, bukan dengan kekerasan. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa pemimpin yang tidak lembut terhadap rakyatnya, kelak Allah pun tidak akan lembut kepadanya pada hari kiamat. 9. Melakukan perbaikan sesuai syariat Kritik harus ditindaklanjuti dengan perbaikan nyata. Setiap pembaruan kebijakan dan tindakan pejabat wajib berlandaskan syariat serta diarahkan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. 10. Tidak menyelisihi syariat dalam kebijakan Seorang pejabat tidak boleh membuat keputusan yang bertentangan dengan syariat, meski hal itu sesuai dengan kehendak sebagian rakyat. Segala yang menyelisihi syariat pasti batil dan akan menjerumuskan kepemimpinan pada kebinasaan. Nasihat ulama kepada pemimpin adalah bentuk kasih sayang sekaligus tanggung jawab moral terhadap umat. Pemimpin yang mau mendengar akan lebih mudah menjaga integritas, menegakkan keadilan, dan mengutamakan kepentingan rakyat. Pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya urusan politik dan kekuasaan, melainkan jalan menuju keberkahan serta pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an