بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center
BATAS ANTARA MENEGAKKAN KEADILAN DAN MELAMPIASKAN AMARAH
Dalam ajaran Islam, mengambil harta orang lain tanpa hak merupakan perbuatan dosa yang sangat dilarang. Harta seorang Muslim memiliki kehormatan yang harus dijaga, sama halnya dengan darah dan martabatnya. Namun, tegasnya larangan mencuri tidak serta-merta memberikan lampu hijau bagi masyarakat untuk mengambil alih peran hukum sebagai hakim sekaligus algojo jalanan.
Islam membedakan dengan sangat tegas antara upaya menghentikan kejahatan dan tindakan menjatuhkan hukuman. Ketika aksi kejahatan terjadi, masyarakat memang dibenarkan untuk membantu menghentikan pelaku agar tidak melarikan diri. Namun, begitu situasi dapat dikendalikan, tugas masyarakat selesai sampai pada tahap pengamanan saja. Penetapan bersalah atau tidaknya seseorang serta penentuan jenis hukumannya sepenuhnya merupakan wewenang sah dari pemerintah dan aparat penegak hukum.
Aturan mengenai pelaksanaan hukuman ini ditegaskan oleh Syekh Abu Ishaq al-Syirazi dalam kitab al-Muhadzdzab:
لَا يُقِيمُ الْحُدُودَ عَلَى الْأَحْرَارِ إِلَّا الْإِمَامُ أَوْ مَنْ فَوَّضَ إِلَيْهِ الْإِمَامُ، لِأَنَّهُ لَمْ يُقَمْ حَدٌّ عَلَى حُرٍّ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا فِي أَيَّامِ الْخُلَفَاءِ إِلَّا بِإِذْنِهِمْ. وَلِأَنَّهُ حَقُّ اللَّهِ تَعَالَى يَفْتَقِرُ إِلَى الْإِجْتِهَادِ، وَلَا يُؤْمَنُ فِي اسْتِيفَائِهِ الْحَيْفُ فَلَمْ يَجُزْ بِغَيْرِ إِذْنِ الْإِمَامِ
“Hukuman had terhadap orang merdeka tidak boleh dilaksanakan kecuali oleh imam atau pihak yang memperoleh mandat darinya. Sebab, pada masa Rasulullah SAW tidak ada hukuman had terhadap orang merdeka yang dilaksanakan tanpa izin beliau. Begitu pula pada masa para khalifah, hukuman tidak dilaksanakan kecuali dengan izin mereka. Selain itu, hukuman had merupakan hak Allah Ta’ala yang penerapannya memerlukan ijtihad. Pelaksanaannya juga dikhawatirkan menimbulkan ketidakadilan apabila dilakukan tanpa pengawasan. Oleh sebab itu, hukuman had tidak boleh dilaksanakan tanpa izin imam.”
Tindakan main hakim sendiri sering kali berlindung di balik dalih amar makruf nahi mungkar. Padahal, tugas mengubah kemungkaran memiliki tahapan dan batasan kewenangan yang jelas. Mengenai hal ini, Syekh Muhammad Amin al-Kurdi menjelaskan pesan Rasulullah dalam kitab Tanwir al-Qulub:
وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَابْنُ مَاجَهْ، وَالنَّسَائِيُّ. فَالتَّغْيِيرُ بِالْيَدِ فِعْلُ الْوُلَاةِ وَمَنْ فِي حُكْمِهِمْ، وَبِاللِّسَانِ فِعْلُ الْعُلَمَاءِ، وَبِالْقَلْبِ فِعْلُ ضُعَفَاءِ الْعَامَّةِ
“Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dengan lisannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dengan hatinya. Itulah selemah-lemahnya iman. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, At-Tirmidzi, Ibn Majah, dan An-Nasa’i. Mengubah kemungkaran dengan tangan merupakan tugas para penguasa dan pihak yang memiliki kewenangan serupa. Mengubahnya dengan lisan merupakan tugas para ulama, sedangkan mengingkarinya dengan hati merupakan sikap kalangan awam yang tidak memiliki kemampuan.”
Bahkan, ketika negara menjatuhkan sanksi hukum sekalipun, para ulama menetapkan batasan yang sangat ketat. Dalam kitab Hasyiyah al-Jamal, Syekh Sulaiman al-Jamal merincikan syarat penerapan hukuman fisik yang tidak boleh sewenang-wenang:
وَيَحْصُلُ بِنَحْوِ حَبْسٍ وَضَرْبٍ غَيْرِ مُبَرِّحٍ… بِاجْتِهَادِ إمَامٍ جِنْسًا وَقَدْرًا. قَوْلُهُ: (بِنَحْوِ حَبْسٍ وَضَرْبٍ) وَلَا يَجُوزُ بِأَخْذِ الْمَالِ قَالَ فِي الْخَادِمِ: وَاعْلَمْ أَنَّهُ إنَّمَا يَجُوزُ الضَّرْبُ بِشُرُوطٍ: أَحَدُهَا، أَنْ لَا يَكُونَ بِشَيْءٍ يَجْرَحُ. الثَّانِي، أَنْ لَا يَكْسِرَ الْعَظْمَ. الثَّالِثُ، أَنْ يَنْفَعَ الضَّرْبُ وَيُفِيدَ وَإِلَّا لَمْ يَجُزْ. الرَّابِعُ، أَنْ لَا يَحْصُلَ الْمَقْصُودُ بِالتَّهْدِيدِ وَالتَّخْوِيفِ. الْخَامِسُ، أَنْ لَا يَكُونَ فِي الْوَجْهِ. السَّادِسُ: أَنْ لَا يَكُونَ فِي مَقْتَلٍ. السَّابِعُ، أَنْ يَكُونَ لِمَصْلَحَةٍ
“Hukuman takzir dapat dilaksanakan, antara lain, dalam bentuk penahanan dan pukulan yang tidak menyakitkan secara berlebihan. Jenis dan kadar hukumannya ditentukan berdasarkan ijtihad imam atau penguasa. Adapun ungkapan: dengan bentuk seperti penahanan dan pukulan, menunjukkan bahwa hukuman takzir tidak boleh dilakukan dengan mengambil harta. Dalam kitab al-Khadim dijelaskan: Ketahuilah bahwa hukuman berupa pukulan hanya diperbolehkan dengan beberapa syarat. Pertama, tidak menggunakan sesuatu yang dapat melukai. Kedua, tidak menyebabkan tulang patah. Ketiga, pukulan itu harus memberikan manfaat dan menghasilkan efek jera apabila tidak, pukulan itu tidak diperbolehkan. Keempat, tujuan pendisiplinan tidak dapat dicapai hanya dengan ancaman dan menakut-nakuti. Kelima, pukulan tidak diarahkan ke wajah. Keenam, tidak mengenai bagian tubuh yang dapat menyebabkan kematian. Ketujuh, hukuman tersebut harus dilakukan demi kemaslahatan.”
Prinsip larangan masyarakat mengambil alih tugas aparat hukum ini juga ditegaskan kembali oleh Syekh Dr. Syauqi Ibrahim ‘Allam melalui fatwanya:
وَلِذَلِك فَإِنَّهُ لَا يُسْمَحُ شَرْعًا لِآحَادِ النَّاسِ أَنْ يُبَادِرُوا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ بِمَهَامِّ الْحِمَايَةِ الْمَذْكُورَةِ، مَا دَامَتِ الْقُوَّاتُ الْمَسْؤُولَةُ مَوْجُودَةً لِصَدِّ الْعُدْوَانِ عَنِ الْمُنْشَآتِ، وَإِلَّا كَانَ فِي ذَلِكَ افْتِيَاتٌ عَلَيْهِمْ فِيْمَا أُقِيمُوْا فِيْهِ
“Karenanya, secara syariat tidak dibenarkan bagi setiap orang bertindak atas inisiatif sendiri untuk menjalankan tugas-tugas pengamanan tersebut selama masih terdapat aparat yang bertanggung jawab melindungi fasilitas dari serangan. Sebab, tindakan semacam itu berarti mengambil alih kewenangan yang telah diberikan kepada aparat.”
Kesimpulannya, ketika masyarakat menangkap terduga pelaku kejahatan, batas tindakan yang dibenarkan hanyalah mengamankannya secara wajar lalu menyerahkannya kepada kepolisian. Pengeroyokan, penganiayaan, hingga perusakan barang milik pelaku bukanlah bentuk penegakan hukum, melainkan kejahatan baru. Ketika hukum diserahkan kepada emosi massa, yang lahir bukanlah keadilan, melainkan kerusakan yang mengancam keselamatan bersama.
والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب
Do’a Kafaratul Majelis
سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ
Media informasi LDRQ-Center
📞Channel whatsapp LDRQ
📷Instagram LDRQ
📷Instagram Dayah RQ
🌎Fanpage FB
📡Facebook
🎬Youtube
🐦X
📝Telegram
#dayahraudhatulquran
#lajnahdakwahraudhatulqur’an




