بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊 *Kajian Malam Jumat Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ)* Bersama :Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA Tema :Catatan Bulan Syawal : Oleh-oleh Bulan Ramadhan 26 | Maret | 2026 M / 06 | Syawal | 1447 H 📖 Kalam Hikmah: Syukur Alhamdulillah kita masih diberikan umur oleh Allah SWT setelah Ramadhan kita berjumpa dengan bulan Syawal yang memang disunnahkan untuk melanjutkan program-program yang sudah dijalankan selama Ramadhan. Adapun program pertama yaitu berpuasa Syawal enam hari. Rasulullah SAW bersabda: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ “Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim) Mengapa disamakan dengan puasa setahun? Alasan disamakan dengan puasa setahun penuh adalah berdasarkan bahwa satu kebaikan bernilai sepuluh kebaikan. Dengan demikian bulan Ramadhan menyamai sepuluh bulan, dan enam hari di bulan syawal menyamai dua bulan. (6 x 10 = 60 = 2 bulan) Disunnahkan menjalankan puasa enam hari di bulan Syawal meskipun ia memiliki tanggungan qadha puasa. Para ulama kalangan Syafi’i berpendapat bahwa menjalankannya secara berurutan terus-menerus (mulai hari kedua syawal) itu lebih utama, namun andaikan dilakukan terpisah-pisah atau dilakukan di akhir bulan Syawal pun juga masih mendapatkan pahala sesuai keutamaan dalam hadits tersebut. Menurut Imam Ramli, diperbolehkan menggabungkan niat puasa enam hari bulan Syawal dengan niat qadha ganti puasa Ramadhan dan keduanya mendapatkan pahala. Imam Ramli (wafat 1004 H) menyebutkan dalam kitabnya Nihayatul Muhtaj tentang sahnya menggabungkan dua niat puasa qada’ dengan puasa sunah. وَلَوْ صَامَ فِي شَوَّالٍ قَضَاءً أَوْ نَذْرًا أَوْ غَيْرَهُمَا أَوْ فِي نَحْوِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ حَصَلَ لَهُ ثَوَابُ تَطَوُّعِهَا كَمَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى – تَبَعًا لِلْبَارِزِيِّ وَالْأَصْفُونِيِّ وَالنَّاشِرِيِّ وَالْفَقِيهِ عَلِيِّ بْنِ صَالِحٍ الْحَضْرَمِيِّ وَغَيْرِهِمْ Artinya : “Kalau seorang puasa pada bulan Syawal sekaligus qadha atau nadzar atau selain keduanya atau juga di hari Asyura, maka dia mendapatkan pahala puasa sunnah juga, sebagaimana fatwa ayah kami (Sayamsudin ar-Ramli) mengikuti fatwanya al-Barizi, al-Asfuni, an-Nasyiri, al-Faqih Ali bin Shalih al-Hadrami dan selainnya.” (Syihabbuddin ar-Ramli, Nihayatul Mujtaj [Bairut, Darul Fikr: 1984 H] juz III halaman 208). Adapun program kedua adalah melanjutkan shalat-shalat malam (qiyamullail) yang dikerjakan selama Ramadhan Rasulullah SAW bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (يا أيها الناس، أفشوا السلام، وأطعموا الطعام، وصِلوا الأرحام، وصلوا بالليل والناسُ نيام، تحُلُّوا الجنة بسلام)؛ [أخرجه الترمذي، وقال: هذا حديث صحيح]. Artinya : “Wahai manusia tebarkanlah salam, bagikanlah makanan kepada orang lain, sambungkanlah silaturahmi, dan shalatlah kalian pada malam hari di mana manusia dalam keadaan tertidur, niscaya masuklah dalam surga dengan selamat.” (HR. At-Tirmidzi) Di antara shalat-shalat sunnah malam yang sudah sering dikerjakan pada malam bulan Ramadhan adalah: 1. Shalat taubat Syekh Nawawi Banten dalam kitab Nihâyatuz Zain menuturkan perihal shalat taubat sebagai berikut: وَمِنْه صَلَاة التَّوْبَة وَهِي رَكْعَتَانِ قبل التَّوْبَة يَنْوِي بهما سنة التَّوْبَة Artinya: “Termasuk shalat sunah adalah shalat taubat, yakni shalat dua rakaat sebelum bertaubat dengan niat shalat sunnah taubat.” Dari penjelasan Syekh Nawawi di atas dapat disimpulkan bahwa shalat taubat merupakan shalat sunnah yang terdiri dari dua rakaat dan dilakukan sebelum seseorang bertaubat kepada Allah atas dosa yang telah dilakukan. 2. Shalat tasbih Ibnu Hajar al-Haitami di dalam kitabnya Al-Minhâjul Qawîm menuliskan sebagai berikut: و صلاة التسبيح وهي أربع ركعات يقول في كل ركعة بعد الفاتحة والسورة: سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر، زاد في الإحياء: ولا حول ولا قوة إلا بالله خمس عشرة مرة وفي كل من الركوع والاعتدال وكل من السجدتين والجلوس بينهما والجلوس بعد رفعه من السجدة الثانية في كل عشرة فذلك خمس وسبعون مرة في كل ركعة Artinya: Dan (termasuk shalat sunnah) adalah shalat tasbih, yaitu shalat empat rakaat di mana dalam setiap rakaatnya setelah membaca surat Al-Fatihah dan surat lainnya membaca kalimat subhânallâh wal hamdu lillâh wa lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar—di dalam kitab Ihyâ ditambahi wa lâ haulâ wa lâ quwwata illâ billâh—sebanyak 15 kali, dan pada tiap-tiap ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan duduk setelah sujud yang kedua masing-masing membaca (kalimat tersebut) sebanyak 10 kali. Maka itu semua berjumlah 75 kali dalam setiap satu rakaat. (Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhâjul Qawîm, Beirut: Darul Fikr, tt., halaman: 203) 3. Shalat tahajjud Allah SWT berfirman: وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا Artinya, “Dan dari sebagian malam shalat tahajudlah kamu (Muhammad ﷺ) dengan membaca Al-Qur’an (di dalamnya) sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu menempatkanmu pada tempat yang terpuji” (QS al-Isra: 79). 4. Shalat hajat Orang yang sedang dirundung kesulitan atau memiliki sebuah kepentingan tertentu dianjurkan untuk melakukan shalat dua rakaat dan berdoa menyatakan hajatnya kepada Allah SWT. فمن ضاق عليه الأمر ومسته حاجة في صلاح دينه ودنياه وتعسر عليه ذلك فليصل هذه الصلاة الآتية Artinya, “Orang sedang mengalami kesempitan, berhajat untuk membuat mashlahat agama dan dunianya, dan merasakan kesulitan karenanya, hendaklah melakukan shalat sebgai berikut,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2002 M/1422 H], cetakan pertama, halaman 103) 5. Shalat witir Rasulullah SAW bersabda: أَوْتِرُوْا يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ، فَإِنَّ اَللّٰهَ وِتْرٌ يُحِبُّ اَلْوِتْرَ Artinya: Berwitirlah kalian semua, wahai ahli Al-Qur’an, karena sesungguhnya Allah itu ganjil, dan menyukai hal-hal yang ganjil (HR Khuzaimah). Dalam riwayat lain juga disebutkan: اِجْعَلُوْا اٰخِرَ صَلَاتِكُمْ مِنَ الَّليْلِ وِتْراً Artinya: Jadikanlah akhir shalat kalian semua di malam hari dengan dengan shalat witir (Syekh Wahbah Zuhaili, al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Bairut: Darul Fikr, Damaskus, 2010], juz II, h. 185). و الله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 📷Instagram LDRQ 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #ldrqraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻
بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center HUKUM MENGGABUNGKAN PUASA QADHA DAN PUASA SUNNAH Mengenai legalitas mencampur niat antara puasa wajib (qadha) dengan puasa sunnah, terdapat perbedaan pandangan (khilaf) di kalangan ulama. Meski demikian, mayoritas ulama mutaakhirin cenderung memperbolehkannya. Hal ini merujuk pada penjelasan dalam kitab Fath al-Mu’in: أَفْتَى جَمْعٌ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ بِحُصُولِ ثَوَابِ عَرَفَةَ وَمَا بَعْدَهُ بِوُقُوعِ صَوْمِ فَرْضٍ فِيهَا، خِلَافًا لِلْمَجْمُوعِ، وَتَبِعَهُ الْأَسْنَوِيُّ فَقَالَ: إِنْ نَوَاهُمَا لَمْ يَحْصُلْ لَهُ شَيْءٌ مِنْهُمَا. ”Mayoritas ulama muta’akhkhirīn berfatwa bahwa bisa menghasilkan pahala puasa Arafah dan hari setelahnya dengan (hanya) berpuasa wajib pada hari itu. Berbeda dengan pendapat dalam kitab al-Majmū‘. Al-Asnawi mengikuti pendapat al-Majmū‘, dan berkata: Jika seseorang meniatkan keduanya (puasa wajib dan puasa sunah Arafah), maka tidak akan mendapatkan apa pun dari keduanya.” Bagi para ulama yang memberikan lampu hijau pada penggabungan ini, disyaratkan untuk tetap melafalkan niat keduanya secara bersamaan. Logikanya berbeda dengan mandi wajib yang secara otomatis menggugurkan hadas kecil. Dalam konteks puasa, niat sunah harus disertakan agar pahalanya didapat, sebagaimana dijelaskan lebih lanjut dalam kitab yang sama: قَالَ شَيْخُنَا كَشَيْخِهِ: وَالَّذِي يَتَّجِهُ أَنَّ الْقَصْدَ وُجُودُ صَوْمٍ فِيهَا، فَهِيَ كَالتَّحِيَّةِ، فَإِنْ نَوَى التَّطَوُّعَ أَيْضًا حَصَلَا، وَإِلَّا سَقَطَ عَنْهُ الطَّلَبُ. “Guru kami—sebagaimana gurunya—berkata: Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa yang dimaksud adalah adanya puasa pada hari tersebut. Maka hukumnya seperti shalat tahiyyatul masjid; jika ia juga meniatkan sunnah, maka keduanya (puasa wajib dan sunah) diperoleh; namun jika tidak, maka gugurlah tuntutan (puasa sunnah) darinya.” Selain antara wajib dan sunah, menyatukan dua jenis puasa sunnah dalam satu hari juga diperkenankan. Penulis kitab I’anah al-Thalibin mengibaratkan hal ini seperti seseorang yang bersedekah kepada saudaranya sendiri; ia mendapatkan pahala sedekah sekaligus pahala menyambung tali silaturahmi secara bersamaan. Contoh Penerapan: Apabila suatu puasa sunnah jatuh pada hari Senin atau Kamis, maka seseorang diperbolehkan menggabung niatnya. Dengan meniatkan kedua ibadah tersebut (misalnya puasa Syawal sekaligus puasa Senin), maka ia akan memperoleh keutamaan dari kedua jenis puasa tersebut. والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center 📞Channel whatsapp LDRQ 📷Instagram LDRQ 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fanpage FB 📡Facebook 🎬Youtube 🐦X 📝Telegram #dayahraudhatulquran #lajnahdakwahraudhatulqur’an
بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center KEUTAMAAN DAN PANDUAN PUASA SUNNAH SYAWAL Umat Islam sangat dianjurkan untuk menyempurnakan ibadah setelah merayakan Idul Fitri dengan melaksanakan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal. Ibadah ini sudah bisa dimulai sejak tanggal 2 Syawal. Keistimewaan utamanya adalah seseorang yang telah menuntaskan puasa Ramadhan lalu melengkapinya dengan enam hari di bulan Syawal akan diganjar pahala yang setara dengan berpuasa selama satu tahun penuh. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ سِتَّاً مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ ”Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan enam hari dari Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun.” (HR Muslim) Mengapa hitungannya bisa menjadi satu tahun? Landasannya terdapat dalam Al-Qur’an mengenai pelipatgandaan pahala kebaikan: مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ ”Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.” (QS. Al-An’am [6]: 160) Jika kita bedah secara matematis berdasarkan ayat tersebut: • 30 hari Ramadhan dikali 10 setara dengan 10 bulan (300 hari). • 6 hari Syawal dikali 10 setara dengan 2 bulan (60 hari). • Total keduanya adalah 12 bulan, yang menggenapi waktu satu tahun. Secara teknis, puasa Syawal dilakukan layaknya puasa pada umumnya, yakni menahan diri dari segala pembatal puasa sejak fajar menyingsing hingga matahari terbenam. 1. Niat pada Malam Hari Jika Anda sudah berencana melakukannya esok hari, berikut adalah lafal niatnya: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى Artinya, “Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah ta’ala.” 2. Niat pada Siang Hari Mengingat ini adalah ibadah sunnah, terdapat fleksibilitas jika Anda lupa berniat di malam hari. Anda diperbolehkan berniat di pagi atau siang hari selama belum mengonsumsi apa pun atau melakukan hal yang membatalkan puasa. Berikut lafalnya: نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى Artinya, “Aku berniat puasa sunnah Syawal hari ini karena Allah ta’ala.” والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center 📞Channel whatsapp LDRQ 📷Instagram LDRQ 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fanpage FB 📡Facebook 🎬Youtube 🐦X 📝Telegram #dayahraudhatulquran #lajnahdakwahraudhatulqur’an
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊 Kajian Spesial Hari Raya Idul Fitri 1447 H Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ) الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ كثيرا وسبحان الله بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ Intisari Khutbah Shalat Idul Fitri 1447 H Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA di Mesjid Jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Tema : Istiqamah Setelah Ramadhan 📖 Kalam Hikmah: ثلاث رسائل ما بعد رمضان Tiga pesan setelah Ramadhan الرسالة الأولى : ” إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ ” أيها الأحبة الأفاضل الأكارم ها هو شهر رمضان قد ودعنا وصعد إلى الله تعالى بأعمالنا , وقد سبق فيه من سبق , وفاز فيه من فاز , وخسر فيه من خسر , فمن المقبول فنهنيه ومن الخاسر فنعزيه ؟ , فالله تبارك وتعالى لا يتقبل إلا من المتقين المخلصين, قال تعالى: \” { إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ} (27) سورة المائدة. Pesan pertama: “Sesungguhnya Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.” Bulan Ramadhan telah berlalu dari kita dan naik ke sisi Allah SWT bersama amal perbuatan kita. Sebagian telah mendahului sebagian lainnya di dalamnya, sebagian telah menang, dan sebagian telah kalah. Maka, siapa yang diterima, maka kita ucapkan selamat kepadanya, dan siapa yang kalah, maka kita hibur dia? Karena Allah, Maha Berkah dan Maha Agung, hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa dan tulus. Allah Yang Maha Kuasa berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Ma’idah : 27) Diriwayatkan dari Shaddad Abu Ammar, dari Abu Umamah al-Bahili, yang berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan berkata: Apa pendapatmu tentang seorang laki-laki yang berperang untuk mencari pahala dan pengakuan? Rasulullah, SAW bersabda: Dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Dia mengulanginya tiga kali, dan Rasulullah SAW berkata kepadanya: Dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Kemudian beliau bersabda: Allah tidak menerima amal perbuatan kecuali yang dilakukan semata-mata karena Allah dan dicari karena Allah. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i 6/25 dan dalam “Al-Kubra” 4333 الرسالة الثانية : ” وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ”: Pesan kedua: “Dan janganlah kamu berpaling muka, karena jika demikian kamu akan menjadi orang-orang yang rugi.” Merupakan dosa besar dan kerugian besar bagi seseorang untuk kembali sebagai orang yang rugi setelah mendapatkan rampasan perang dan menghambur-hamburkan keuntungan yang telah Allah SWT mudahkan di bulan suci ini, dan berpaling setelah berinisiatif melakukan amal kebaikan dan meninggalkannya setelah bergegas melakukannya dan memenuhi masjid dengan lantunan doa dan ketaatan. Karena hal-hal ini menunjukkan bahwa hati belum menjalani kehidupan yang sempurna dengan iman dan belum diterangi oleh cahaya Al-Qur’an yang sempurna, dan bahwa jiwa belum merasakan manisnya ketaatan dan doa. Dan iman masih lemah dalam jiwa manusia dan keterikatan kepada Allah Yang Maha Kuasa masih lemah karena kita, saudara-saudara, telah menghabiskan satu bulan penuh dalam pelatihan ketaatan, bersegera melakukan perbuatan baik, tekun beribadah, senantiasa mengingat dan membaca Al-Quran, terus berdoa, memohon, berdoa memohon ampunan, dan berlomba-lomba dalam berinfak, memberi, dan berbuat baik, lalu seseorang tersesat setelah itu. الرسالة الثالثة : ” أحب الأعمال إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ” Pesan ketiga: “Amal yang paling dicintai Allah SWT adalah amal yang paling konsisten, meskipun jumlahnya sedikit.” Allah SWT dalam kebijaksanaan dan rahmat-Nya, tidak membebani manusia dengan ibadah, ketaatan, dan kewajiban agama di luar kemampuan mereka. Sebaliknya, Dia membebani mereka dengan apa yang mampu dan sanggup mereka lakukan. Allah SWT berfirman: “Allah tidak membebani suatu jiwa melebihi kemampuannya. Jiwa itu akan menerima akibat dari apa yang telah diperolehnya, dan akan menanggung akibat dari apa yang telah diusahakannya.” (286) Aisyah RA, berkata: Nabi Muhammad SAW ditanya: Amal manakah yang paling dicintai Allah? Beliau menjawab: Amal yang paling konsisten, meskipun jumlahnya sedikit. Dan beliau bersabda: Lakukanlah amal yang paling… mampu kamu lakukan. Diriwayatkan oleh Ahmad 6/176, Al-Bukhari 8/122 dan Muslim 2/189. Istiqamah adalah solusi dan jalan dari segala perbuatan amal yang kita usahakan, dan istiqamah ini tidak dicapai hanya melalui keinginan semata, melainkan memiliki syarat dan sebab, antara lain: أولا: الاستعانة بالله Pertama: Memohon pertolongan Allah Yang mengetahui seseorang beribadah dengan ikhlas kepada Allah SWT selama Ramadan adalah Allah, dan hanya Dia yang mampu membantu untuk bertahan dan istiqamah untuk terus beribadah. Ketakwaan bukanlah karena kekuatan, kekuasaan, atau kemampuan sendiri, melainkan semata-mata karunia dan rahmat dari Allah yang membimbing hamba-hamba-Nya kepada ketaatan dan kemudian menerimanya dari mereka. Istiqamah ini adalah awal dari ketakwaan. Adapun orang yang memandang amal perbuatannya dengan sikap merasa benar sendiri, berpikir bahwa ibadahnya semata-mata karena kekuatan dan kemampuannya sendiri, Allah akan membiarkannya begitu saja. Dan siapa pun yang Allah biarkan begitu saja akan binasa. Itulah sebabnya salah satu doa Nabi SAW adalah: “Dan janganlah Engkau tinggalkan aku sendirian bahkan sekedip mata pun.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud) ثانيا: المجاهدة Kedua: Berusaha Mengetahui bahwa kebenaran tidak diperoleh dengan bermalas-malasan di tempat tidur, atau dengan menikmati semua hal yang menyenangkan dan diinginkan, tetapi diperoleh melalui usaha, ketekunan, dan kesabaran—berjuang melawan diri sendiri, keinginan, dan setan; tekun dalam melaksanakan amalan wajib dan meningkatkan amalan ketaatan; dan dengan sabar menjauhi keinginan dan larangan. ثالثا: رفقة أهلها Ketiga: Dukungan keluarganya Ini adalah salah satu penolong terbesar baginya dan salah satu alasan terbesar untuk keteguhan dalam ibadahnya. Ja’far bin Muhammad berkata, “Setiap kali aku mengalami masa lemah, aku akan pergi dan melihat wajah Muhammad bin Wasi’, dan aku akan bertindak sesuai dengan itu selama seminggu.”Istiqamah dalam kebaikan menjadi lebih mudah di bulan Ramadan karena banyaknya orang yang taat, dan kehadiran orang-orang di sekitar yang mendukung dalam melaksanakan amal kebaikan. Kesepian dan kelalaian lebih mungkin menimpa seseorang yang sendirian daripada dua orang. Sesungguhnya, serigala memangsa domba yang tersesat. والله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram LDRQ 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #lajnahdakwahraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻
Dayah Raudhatul Qur’an Darussalam menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H kepada seluruh keluarga besar dayah, para santri, wali santri, alumni, serta kaum muslimin dan muslimat di mana pun berada. Ucapan ini disampaikan oleh Abu Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, M.A, selaku Pimpinan Dayah Raudhatul Qur’an, sebagai bentuk silaturahmi dan ungkapan syukur setelah menunaikan ibadah di bulan suci Ramadhan. Dalam momentum penuh berkah ini, beliau juga menyampaikan pesan: “Minal ‘Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.” Melalui perayaan Idul Fitri ini, besar harapan agar Allah SWT menerima seluruh amal ibadah yang telah dilaksanakan selama bulan Ramadhan. Hari kemenangan ini juga diharapkan menjadi awal yang baik untuk terus memperbaiki diri, memperkuat keimanan, serta menumbuhkan semangat kebersamaan, persaudaraan, dan kepedulian di tengah masyarakat. “Semoga Allah menerima segala amal ibadah kita di bulan Ramadhan, dan menjadikan hari kemenangan ini sebagai awal untuk memperbaiki diri serta memperkuat keimanan.” Atas nama keluarga besar Dayah Raudhatul Qur’an Darussalam, kami mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Minal ‘Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.