Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

Apakah Anda Termasuk Sebaik-baik Manusia?

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊🎤 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Rq-Center Apakah Anda Termasuk Sebaik-baik Manusia? Setiap orang mendambakan menjadi yang terbaik. Sebagai seorang muslim, orientasi hidup untuk menjadi yang terbaik bukanlah dinilai dari ukuran manusia semata, tetapi karena ridha Allah Ta’ala. Inilah cara mudah menjadi orang terbaik dalam konsep Islam. Pertama, tidak ingkar melunasi hutang عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عن رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أنه فَقَالَ « خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً » متفق عليه Artinya: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” Muttafaqun ‘alaih Kedua, belajar Al-Quran dan mengajarkannya عَنْ عُثْمَانَ – رضى الله عنه- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري Artinya: “Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.” Hadits riwayat Bukhari. Ketiga, yang paling diharapkan kebaikannya dan paling jauh keburukannya عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَقَفَ عَلَى أُنَاسٍ جُلُوسٍ فَقَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ ». قَالَ فَسَكَتُوا فَقَالَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا. قَالَ « خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ …» رواه الترمذى Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di hadapan beberapa orang, lalu bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan sebaik-baik dan seburuk-buruk orang dari kalian?” Mereka terdiam, dan Nabi bertanya seperti itu tiga kali, lalu ada seorang yang berkata: “Iya, kami mau wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami sebaik-baik dan buruk-buruk kami,” beliau bersabda: “Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan sedangkan keburukannya terjaga…” Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 2603) Keempat, menjadi suami yang paling baik terhadap keluarganya عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى. رواه الترمذى Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallau ‘alaihi wasallam berasabda: “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Ash Shahihah (no. 285). Kelima, yang paling baik akhlaqnya dan menuntut ilmu عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «خَيْرُكُمْ إِسْلاَماً أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقاً إِذَا فَقِهُوا» رواه أحمد Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian islamnya adalah yang paling baik akhlaq jika mereka menuntut ilmu.” Hadits riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3312) Keenam, yang memberikan makanan عَنْ حَمْزَةَ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ رضي الله عنه قَالَ: فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ» رواه أحمد Artinya: “Hamzah bin Shuhaib meriwayatkan dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu yang berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan.” Hadits riwayat Ahmad dan dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3318) Ketujuh, yang panjang umur dan baik perbuatannya عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ رضي الله عنه أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ «مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ» رواه الترمذى Artinya: “Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ada seorang Arab Badui berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” beliau menjawab: “Siapa yang paling panjang umurnya dan baik amalannya.” Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihut Targhib wat Tarhib (no. 3363). Kedelapan, yang paling bermanfaat bagi manusia عَنِ جابر، رَضِيَ الله عَنْهُمَا، قَالَ : قال رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ Artinya: “Jabir radhiyallau ‘anhuma bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” Hadits dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3289). Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 📷Instagram LDRQ 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #ldrqraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻

Tausiah LDRQ

‎KESELAMATAN DAN KEBINASAAN SEORANG MUSLIM

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎KESELAMATAN DAN KEBINASAAN SEORANG MUSLIM ‎ ‎Setiap hari yang kita lalui sebenarnya adalah langkah kaki yang makin dekat menuju garis akhir kehidupan. Dalam perjalanan panjang ini, banyak dari kita yang sibuk mencari cara agar bisa selamat dunia dan akhirat. Namun, kita sering kali lupa bahwa selamat atau celakanya kita nanti sangat ditentukan oleh apa yang kita pelihara di dalam dada, serta bagaimana cara kita mengendalikan diri sendiri. ‎ ‎​Para ulama terdahulu pernah mewariskan seuntai nasihat berharga tentang dua hal yang bisa menjadi penyelamat, serta dua hal yang bisa menjadi bumerang penjerumus dalam kebinasaan: ‎​قَال سُفْيَانُ: وَقَالَ عَبْدُ اللهِ: اثْنَانِ مُنْجِيَتَانِ، وَاثْنَتَانِ مُهْلِكَتَانِ، فَالْمُنْجِيَتَانِ: النِّيَّةُ وَالنَّهْيُ، فَالنِّيَّةُ أَنْ تَنْوِيَ أَنْ تُطِيعَ اللهَ فِيمَا تَسْتَقْبِلُ، وَالنَّهْيُ أَنْ تَنْهَى نَفْسَكَ عَمَّا حَرَّمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَالْمُهْلِكَتَانِ: الْعُجْبُ وَالْقُنُوطُ ​“Sufyan berkata, dan Abdullah berkata: Ada dua perkara yang menyelamatkan dan ada dua perkara yang membinasakan. Dua perkara yang menyelamatkan adalah niat dan menahan diri. Niat adalah tekad untuk menaati Allah pada masa yang akan datang, sedangkan menahan diri adalah mencegah diri dari segala yang diharamkan oleh Allah. Adapun dua perkara yang membinasakan adalah ujub dan putus asa.” ‎ ‎Penyelamat pertama yang harus kita miliki adalah ketulusan niat. Niat adalah jangkar dari setiap perbuatan yang kita lakukan. Di mata Allah, sebuah amalan yang terlihat sepele bisa berubah menjadi sangat mulia jika dasarnya adalah keikhlasan hati. Sebaliknya, kerja keras yang luar biasa besar bisa menguap begitu saja tanpa arti kalau niat di baliknya sudah keliru. Itulah mengapa kita perlu sering-sering bertanya pada diri sendiri tentang untuk siapa kita bekerja, apa yang sebenarnya kita cari, dan apakah yang kita lakukan hari ini murni karena Allah atau sekadar demi mendapat tepuk tangan dari manusia. ‎ ‎​Setelah niat yang lurus, penyelamat kedua adalah kemampuan menahan diri. Kita diciptakan lengkap dengan hawa nafsu yang selalu menuntut untuk dituruti. Di sinilah letak ujiannya, karena tidak semua hal yang kita inginkan boleh kita lakukan. Menahan diri bukan hanya soal menjauhi kemaksiatan yang besar, melainkan juga menahan lisan agar tidak mengeluarkan ucapan yang melukai orang lain, mengerem amarah agar tidak meluap, serta menjaga hati dari rasa sombong. ‎ ‎Namun, kita juga harus waspada terhadap dua penyakit batin yang bisa menghanguskan seluruh modal kebaikan kita dalam sekejap. Penyakit yang pertama adalah ujub, sebuah kondisi di mana seseorang mulai merasa kagum, bangga, dan puas dengan kehebatan dirinya sendiri. Orang yang terjangkit ujub akan merasa ibadahnya sudah paling banyak, ilmunya paling tinggi, atau merasa posisinya lebih suci daripada orang lain. Mereka lupa bahwa semua kelebihan, kepintaran, dan kesempatan berbuat baik yang mereka miliki murni merupakan hadiah dan titipan dari Allah. ‎ ​Penyakit penghancur yang kedua adalah putus asa. Ini terjadi ketika seseorang merasa beban hidupnya sudah terlalu berat atau merasa dosa-dosanya sudah terlanjur menggunung, hingga akhirnya mereka menganggap pintu tobat telah tertutup. Pikiran seperti ini sangat berbahaya, karena sejatinya kasih sayang dan ampunan Allah jauh lebih luas daripada semua kesalahan yang pernah dilakukan manusia. Seorang mukmin yang sehat hatinya akan selalu berjalan dengan keseimbangan antara rasa takut akan dosa dan rasa optimis yang besar terhadap kebaikan Tuhannya. ‎ ​Mari kita jadikan nasihat ini sebagai cermin untuk melihat kondisi diri kita hari ini. Semoga kita bisa terus menjaga niat dan mengendalikan nafsu, sekaligus dijauhkan dari jebakan rasa bangga diri maupun keputusasaan yang merusak jiwa. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

JANGAN BUKA LEMBARAN DOSA YANG TELAH ALLAH TUTUPI

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎JANGAN BUKA LEMBARAN DOSA YANG TELAH ALLAH TUTUPI ‎ ‎Salah satu bentuk kasih sayang yang paling nyata namun sering kita lupakan adalah bagaimana Allah SWT menutupi segala kekurangan, aib, dan kesalahan kita. Sering kali manusia melakukan kekhilafan dalam kesunyian, di saat tidak ada satu pun mata makhluk yang melihat. Namun, alih-alih mempermalukan kita di depan umum, Allah justru menjaga rahasia tersebut rapat-rapat. Selimut penutup ini merupakan sebuah anugerah yang sangat besar. Manfaatnya, kita masih bisa dihormati dan dihargai oleh orang-orang di sekitar kita. Hadiah berupa kesempatan ini seharusnya melahirkan rasa malu yang mendalam di dalam dada, yang kemudian menggerakkan kita untuk segera berbenah, bukan malah menjadikannya sebagai bahan pameran. ‎ ‎Ada sebuah peringatan yang sangat tegas dari Rasulullah mengenai perilaku orang-orang yang dengan sengaja meruntuhkan dinding penutup aib yang telah dibangun oleh Tuhannya sendiri: ‎​عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ. ​Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Seluruh umatku akan mendapatkan ampunan, kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat maksiat. Termasuk bentuk terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu perbuatan maksiat pada malam hari, kemudian ketika pagi tiba, padahal Allah telah menutupi maksiatnya, ia berkata: ‘Wahai fulan, tadi malam aku telah melakukan ini dan itu.’ Padahal semalaman Allah telah menutupi aibnya, namun pada pagi harinya ia sendiri yang membuka penutup yang telah Allah berikan kepadanya.” (HR al-Bukhari) ‎ ‎Pesan dari lembaran hadis di atas mengulik sebuah realita yang miris. Di mana sebuah tindakan salah yang semestinya ditangisi dan disesali, di zaman sekarang justru kerap diumumkan dengan bangga kepada khalayak ramai, baik lewat obrolan santai maupun unggahan di media sosial. Ketika Sang Pencipta memilih untuk menyembunyikan masa lalu atau kekhilafan kita semalam, itu adalah sinyal bahwa Dia sedang memberikan kita waktu luang untuk pulang, bersujud, merenung, dan memohon ampun secara sunyi. Sungguh sebuah kerugian besar jika kelonggaran itu malah kita gunakan untuk mencari pengakuan semu dari sesama manusia. ‎ ​Sikap menyembunyikan dosa ini sama sekali bukan bertujuan untuk meremehkan esensi dari kesalahan itu sendiri. Sebaliknya, seorang hamba yang peka akan memahami bahwa ditutupnya sebuah noda adalah ajakan halus dari Allah agar kita memperbaiki diri secara senyap tanpa perlu membuat kegaduhan. Rasa syukur atas terjaganya nama baik kita wujudkan dengan cara menghentikan kebiasaan buruk tersebut secara total. ‎ ‎Pada akhirnya, kita semua perlu membumikan pandangan kita bahwa penilaian baik orang lain terhadap diri kita hari ini murni karena Allah masih memegang kunci rahasia keburukan kita. Kita terlihat mulia bukan karena kita suci tanpa noda, melainkan karena kejelekan kita belum ditampakkan ke permukaan. Oleh sebab itu, marilah kita jaga lisan dan jempol kita dengan baik, rawat kehormatan diri yang masih tersisa, dan jangan pernah sesekali membuka kembali lembaran kelam yang telah dikunci rapat oleh rahmat Allah SWT. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

‎MENGETUK PINTU LANGIT DI HARI ‘ASYURA

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎MENGETUK PINTU LANGIT DI HARI ‘ASYURA ‎ ‎Bulan Muharram selalu membawa suasana spiritual yang berbeda bagi umat Muslim, terutama saat memasuki tanggal sepuluh yang akrab kita sebut sebagai Hari ‘Asyura. Sejak zaman Rasulullah saw., hari ini bukan sekadar pergantian tanggal di kalender, melainkan sebuah waktu istimewa yang sarat akan sejarah perjuangan para nabi terdahulu serta tumpukan ruang pahala yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. ‎ ‎​Salah satu cara terbaik untuk menghidupkan momentum ini adalah dengan menjalankan ibadah puasa sunnah. Rasulullah saw. memberikan kabar gembira mengenai besarnya ganjaran bagi siapa saja yang mau menahan lapar dan haus di hari kesepuluh Muharram ini, sebagaimana sabda beliau dalam sebuah hadis: ‎صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ “Adapun puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar puasa tersebut dapat menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR Muslim) ‎ ‎​Menariknya, agar ibadah kita memiliki ciri khas dan tidak persis sama dengan tradisi kaum Yahudi maupun Nasrani yang juga mengagungkan tanggal sepuluh, Rasulullah saw. berniat untuk menggandengnya dengan puasa di hari sebelumnya, yaitu tanggal sembilan Muharram atau Hari Tasu’a. Komitmen ini terekam dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas RA: ‎فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهَ تَعَالَى صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ “Jika masih ada tahun depan, insya Allah kami akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR Muslim) ‎ ‎​Oleh karena itu, pilihan yang paling utama bagi kita adalah melaksanakan puasa dua hari berturut-turut pada tanggal sembilan dan sepuluh Muharram sebagai bentuk kesempurnaan ibadah. ‎ ‎​Di samping ibadah yang sifatnya pribadi, Hari ‘Asyura juga menjadi waktu yang sangat tepat untuk memperluas jangkauan kebaikan sosial kita, khususnya kepada anak-anak yatim yang membutuhkan uluran tangan. Memberikan perhatian, kasih sayang, dan bantuan kepada mereka ternyata memiliki dampak yang sangat luar biasa bagi kesehatan mental dan spiritual kita sendiri. Hal ini sejalan dengan pesan menyentuh yang tertuang dalam kitab Faydh al-Qadir: ‎أَتُحِبُّ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ وَتُدْرِكَ حَاجَتَكَ؟ ارْحَمِ الْيَتِيمَ وَامْسَحْ رَأْسَهُ وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ يَلِنْ قَلْبُكَ وَتُدْرِكْ حَاجَتَكَ ​“Apakah engkau ingin hatimu menjadi lembut dan kebutuhanmu terpenuhi? Sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah ia makan dari makananmu. Niscaya hatimu menjadi lembut dan kebutuhanmu terpenuhi.” ‎ ‎Selain berbagi kepada anak yatim, kebaikan di Hari ‘Asyura juga harus dimulai dari dalam rumah kita sendiri, yaitu dengan memberikan kelapangan nafkah dan perhatian lebih kepada keluarga tercinta. Kita disunnahkan untuk menyenangkan hati pasangan dan anak-anak dengan memberikan hidangan atau suasana yang lebih istimewa dari hari biasanya, sesuai dengan batas kemampuan finansial masing-masing. Langkah kecil ini merupakan pemicu datangnya keberkahan materi yang lebih luas, sebagaimana disebutkan dalam sebuah keterangan: ‎​مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ “Barang siapa melapangkan nafkah kepada keluarganya pada Hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun.” (HR Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi) ‎ ‎Di balik taburan anjuran amal saleh tersebut, lembaran kitab klasik seperti _Tanbih al-Ghafilin_ juga mencatat bahwa Hari ‘Asyura adalah hari yang menjadi saksi bisu berbagai peristiwa besar sejak awal penciptaan alam semesta. Di hari inilah Allah menciptakan langit, bumi, samudera, hingga surga dan pena takdir. Di tanggal yang sama pula, sejarah mencatat momen diterimanya tobat Nabi Adam, kelahiran Nabi Ibrahim serta keselamatannya dari kobaran api, hingga diangkatnya Nabi Isa ke hadirat-Nya. Semua benang merah sejarah ini menunjukkan betapa besarnya pertolongan dan kasih sayang Allah yang turun di hari tersebut. ‎ ‎​Mari kita jadikan semua catatan keutamaan ini sebagai pemantik semangat untuk tidak membiarkan Hari ‘Asyura berlalu begitu saja sebagai hari biasa. Isilah waktu-waktu berharga tersebut dengan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, mempererat kehangatan keluarga, serta mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan. Semoga melalui momentum ini, hati kita semakin peka, rasa syukur kita kian tebal, dan kita digolongkan sebagai hamba-hamba yang beruntung. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an