Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

Obat Was-Was Dalam Shalat

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Obat Was-Was Dalam Shalat Bahaya sifat was was dalam niat shalat dan solusi menghilangkannya Was was adalah bisikan (godaan) syaitan yang ditujukan kepada manusia. Setiap manusia memiliki sifat was was, namun bila terus dibiarkan akan mengganggu ketenangan (kekhusyukan) dalam beribadah. Oleh karena itu, was was bukanlah tindakan yang benar. Jadi kalaupun ada perasaan was was ketika kita beribadah seperti shalat atau ibadah lainnya, diperintahkan untuk mengabaikannya dan meminta perlindungan kepada Allah. Niat dalam shalat merupakan tempat yang paling sering timbulnya sifat was was, oleh karena demikian sepatutnya bagi seseorang yang memiliki sifat was was untuk mengetahui bagaimana cara niat yang benar sehingga dapat menghilangkan rasa was was tersebut. Niat adalah mengkasadkan suatu perkara beriringan dengan melakukan perkara tersebut. Waktu niat shalat menurut madzhab Syafi’i adalah pada saat melafadzkan takbir. Jadi, ketika kita mengucapkan takbir, harus bersamaan dengan niat di dalam hati. Para ulama berbeda pendapat mengenai bagaimana cara penempatan niat di dalam hati. Pendapat pertama: Lafadz niat (misal: Ushalli fardhal-Maghribi) harus bertepatan waktu mulai mengucapkan alif lafadz ALLAH, dan berakhir tepat pada ra’ lafadz AKBAR. Pendapat kedua : Harus ada niat pada sebagian takbir, tidak masalah di awal atau di akhir takbir. Namun ada pendapat lain yang lebih mudah dilakukan, yaitu boleh sedikit terdahulu niat dibandingkan takbir. Pendapat ini ditulis oleh Abu Qusyairi dalam kitab Qalaid. Dan Imam Abu Makhramah sangat menganjurkan penggunaan qaul ini bagi orang was was yakni Boleh menghadirkan niat di dalam hati sebelum pelafadzan takbir. Jadi, kita niat dalam hati dulu, lalu langsung takbir.   Referensi : Fawaaidul Janiyyah hasyiyah Mawaahibus saniyyah syarah Faraaidul-bahiyyah Hal. 103-157 ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Pengumuman

PENERIMAAN SANTRI BARU TPQ RAUDHATUL QUR’AN TUNGKOB

📢 PENERIMAAN SANTRI BARU TPQ RAUDHATUL QUR’AN TUNGKOB TPQ Raudhatul Qur’an kembali menerima Santri Baru, Yuk daftarkan sekarang! ✅ Syarat : 1. Usia Minimal 4 tahun 2. Pas foto 3×4 latar merah (2 lembar) 3. Fotokopi Akta Kelahiran (2 lembar) 4. Fotokopi Kartu Keluarga (2 lembar) 5. Memakai baju muslim/mah 6. Membayar biaya administrasi 🗓️ Jadwal Pendaftaran: – Pendaftaran: 15 Juli – 31 Agustus 2026 – Waktu: 16:30 – 18:00 WIB – Hari : Senin – Sabtu 📞 Narahubung: – 082363682644 (Ustzh. Sri Wahyuni) – 081291575839 (Ust. Ramadhan) 📍Lokasi TPQ Raudhatul Qur’an – Desa Tungkob, Darussalam, Aceh Besar – https://maps.app.goo.gl/8r1Fe6xUTYbfdGUa7 Mari bergabung menjadi generasi Qur’ani, cerdas, dan berakhlak mulia bersama TPQ Raudhatul Qur’an.

Tausiah LDRQ

Mencari Ketenangan dalam Shalat

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Mencari Ketenangan dalam Shalat Ketenangan adalah suatu keadaan jiwa yang damai dan terbebas dari segala kegelisahan, kegundahan, dan kehkawatiran. Pada umumnya para manusia cenderung mencari ketenangan tersebut dengan cara mereka sendiri, namun pada akhirnya ketenangan itu tidak kunjung hadir malahan berhujung pada kegelisahan. Dalam agama islam ada salah satu spiritualitas yang dapat menghadirkan ketenangan dalam hati dan jiwa manusia, yaitu shalat. Mayoritas muslim pasti mengetahui apa itu shalat dan juga senantiasa melaksanakannya, Dan sangat sedikit orang tau bahwa shalat itu bisa menghadirkan ketenangan dalam hati, bahkan ada sebagian yang tau namun kenapa tidak bisa mendapatkan ketenangan tersebut!. Berikut ini tips- tips agar dapat mendapat ketenangan dalam shalat: 1.Khusu’ dengan hati: Tidak memfokuskan hati kepada selain shalat. 2.Khusu’ dengan anggota tubuh: seseorang tidak bermain-main dengan anggota tubuhnya di saat melaksanakan shalat. 3. Fokus pada bacaan: fokus pada bacaan shalat, seperti al-fatihah dan surah-surah lainnya, untuk meningkatkan kesadaran dan ketenangan. 4.Fokus pada dzikir: fokus dan merenungkan makna dari dzikir yang dibaca seperti bacaan tasbih ketika ruku’ dan sujud. 5.Konsisten melihat tempat sujud: konsisten / berkekalan melihat tempat sujud adalah perkara yang disunnahkan karna agar lebih mempermudah seseorang untuk lebih khusu’ dalam melaksanakan shalat sekalipun seseorang itu dalam kodisi buta. Sayyidi al-qutbi al arif billah berkata: “Hal- hal yang dapat membuat seseorang khusu’ dalam shalat ada 2, yaitu: memperpanjang Ruku’ dan sujud.” Manfaat mencari ketenangan dalam shalat menurut fisikologi 1. Dapat mengurangi stres: shalat dapat mengurangi stres dan kecemasan dengan menurunkan kadar hormon stres 2. Meningkatkan relaksasi: shalat dapat membantu meningkatkan relaksasi dan mengurangi ketegangan otot dengan memicu pelepasan hormon endorfin dan serotonin. 3. Meningkatkan keseimbangan sistem saraf. 4. Meningkatkan kualitas tidur: shalat dapat membantu meningkatkan kualitas tidur dengan mengurangi stres dan kecemasan, serta meningkatkan relaksasi.   Tujuan: Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi dan inspirasi kepada kita tentang mencari ketenangan dalam shalat, serta memberikan tips dan manfaan yang besar bagi jiwa untuk meningkatkan keinginan kita dalam mencari ketenangan dalam shalat. Dengan demikian, tulisan ini dapat membantu para pembaca memahami konsep mencari ketenangan dalam shalat dam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.   Referensi: kitab fathul mu’in, hal: 181. Cetakan al-haramain. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Istiqamah

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊🎤 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Rq-Center Tema :Istiqamah 📖 Kalam Hikmah: ما هي استقامة ؟ Apa itu Istiqamah ? الاستقامة من اسباب دخول الجنة والثبات على الحق وما أحلى أنْ يداومَ العبدُ على طاعة مولاه Istiqamah adalah sebab seseorang hamba masuk surga, membuat tetap dalam kebenaran, dan menjadikan hamba tetap taat kepada Allah SWT. الاستقامة هي روحُ الحياة وجَوهرها النفيس، لا يعرف قيمتها إلاَّ العارفون Istiqamah adalah ruh kehidupan dan inti jiwa, tidak ada yang mengetahui nilainya kecuali orang-orang bijaksana. عاش السلف الصالِحُ مع هذا المعنى، فعبَّر كلٌّ منهمعمَّا عاشه مع الله؛ نتيجةً لمداومته على الاستقامة؛ ولذلك اختلفت تعبيراتُهم وألفاظهم، ولكنَّها تعبِّر في حقيقتها عن معنى واحد، وحقيقة واحدة، هي: “من وجد الله، فما فقد، ومن فقد الله، فما وجد”. Barang siapa yang mendapatkan dan menemukan Allah maka dia tidak akan pernah kehilangan, dan barang siapa yang tidak pernah mendapatkan dan menemukan Allah sungguh dia tidak mendapatkan apa-apa. وسُئِلَ صدِّيق الأُمَّة وأعظمها استقامةً أبو بكر الصديق – رضي الله عنه – عن الاستقامة فقال: “ألاَّ تشركَ بالله شيئًا”؛ يريد الاستقامة على محض التوحيد. Menurut Abu Bakar Ash-Shiddiq, istiqamah adalah tidak menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu apapun. وقال عمر بن الخطاب – رضي الله عنه -: الاستقامة: أنْ تستقيمَ على الأمر والنهي، ولا تروغ روغان الثعالب. Menurut Umar bin Khattab, istiqamah adalah menegakkan perintah dan larangan. وقال عثمان – رضي الله عنه -: استقاموا: أخلصوا العملَ لله. Dan menurut Utsman bin Affan, istiqamah adalah ikhlaslah kalian beramal karena Allah Ta’ala. وقال عليُّ بن أبي طالب، وابن عباس – رضي الله عنهم -: استقاموا؛ أي: أدُّوا الفرائض. Menurut Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Abbas Ra, istiqamah adalah mempertahankan melakukan fardhu-fardhu. وقال الحسن: استقاموا على أمر الله، فعملوا بطاعته، واجتنبوا معصيته. Adapun menurut Hasan, istiqamah adalah kontinyu dalam melakukan perintah Allah, melaksanakan dengan taat kepada-Nya, dan menjauhi maksiat kepada Allah SWT. وقال مجاهد: استقاموا على شهادة أن لا إلهَ إلا الله، حتى لحقوا بالله. Salafus Shalih juga mengatakan : Istiqamah lah kalian atas syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah hingga kalian mendapatkan manisnya hidup selalu bersama Allah. وقال الآخر: استقاموا على محبته وعبوديته، فلم يلتفتوا عنه يَمنة أو يَسرة Salafushalih lain juga berkata : Istiqamah lah kalian dalam cinta dan mengabdi kepada Allah SWT, jangan pernah berpaling dari Allah SWT Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 📷Instagram LDRQ 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #ldrqraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻

Tausiah LDRQ

Nasehat dalam Pernikahan

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊🎤 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Rq-Center Tema :Nasehat dalam Pernikahan 📖 Kalam Hikmah: عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم «أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا». رواه الترمذي Artinya : Abu Hurairah Ra. menuturkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah ia yang paling baik perilakunya di antara kalian terhadap perempuan mereka.” (Sunan at-Tirmidzi) Ukuran sempurna iman dalam agama itu adalah orang paling baik akhlaknya bukan yang paling banyak shalat atau puasanya. Begitu juga orang mukmin yg paling hebat adalah orang yang selalu berbuat baik kepada perempuan. Suami yang baik kepada istri dan keluarganya begitu juga sebaliknya istri yg selalu mematuhi suaminya. Banyak orang memahami pernikahan indahnya sebelum menjalani pernikahan tersebut tanpa menyadari ketika sudah menjalaninya banyak permasalahan yang timbul yang dapat menguji kesiapan dan kedewasaan dalam berumah tangga, bahkan kalau tidak siap dengan ilmu dan pengalaman rumah tangga akan hancur. Dalam riwayat, Nabi Muhammad SAW pernah menjatuhkan talaq kepada istrinya yang bernama Hafshah yang disebabkan karena marahnya Nabi kepada Hafshah yang dalam riwayat disebutkan karena telah membocorkan rahasianya kepada istri Nabi lainnya. Walaupun setelah itu Allah perintahkan kembali kepada Nabi Muhammad SAW malalui Jibril untuk merujuk kembali perkawinannya dengan Hafshah tersebut. Apa yang menjadi pelajaran disini begitulah permasalahan rumah tangga yang terkadang kalau seseorang tidak siap dengan badai atau permasalahan yang datang maka akan hancur lebur rumah tangga tersebut. Terkait perintah rujuk ini, disebutkan dalam hadits riwayat Ath-Thabrani berikut: عَنْ قَيْسِ بْنِ زَيْدٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، طَلَّقَ حَفْصَةَ؛ فَدَخَلَ عَلَيْهَا خَالَاهَا: قُدَامَةُ، وَعُثْمَانُ؛ فَبَكَتْ، وَقَالَتْ: وَاللهِ، مَا طَلَّقَنِي عَنْ شَبَعٍ. وَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: قَالَ لِي جِبْرِيلُ: رَاجِعْ حَفْصَةَ، فَإِنَّهَا صَوَّامَةٌ، قَوَّامَةٌ، وَإِنَّهَا زَوْجَتُكَ فِي الْجَنَّةِ Artinya, “Dari Qais bin Zaid: bahwa Nabi pernah menceraikan Hafshah. Maka masuklah dua pamannya (dari pihak ibu), yaitu Qudamah dan ‘Utsman, menemuinya. Ia pun menangis dan berkata, “Demi Allah, beliau tidak menceraikanku karena sudah bosan.” Kemudian Nabi datang dan bersabda, “Jibril telah berkata kepadaku, ‘Rujuklah dengan Hafshah, karena ia wanita yang rajin berpuasa, tekun beribadah malam, dan sungguh ia adalah istrimu di surga.’” (HR Ath-Thabrani) Maka berumah tangga itu berat bekali diri dengan ilmu yang cukup dan bersikap lah dewasa terhadap pasangan jangan pernah mementingkan diri sendiri apalagi harus mempertahankan ego dan tidak mau mengalah terhadap pasangan masing-masing. Abu Sa’id al-Khudri juga meriwayatkan hadits lainnya dari Nabi Muhammad SAW: أَلَا فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ Artinya, “Ketahuilah, takutlah kalian terhadap dunia dan para wanita,” (HR At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah). Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ، فَإِنَّ المَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ” Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda: “Berwasiatlah (dalam kebaikan) pada wanita, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah pangkalnya. Jika kamu coba meluruskan tulang rusuk yang bengkok itu, maka dia bisa patah. Namun bila kamu biarkan maka dia akan tetap bengkok. Untuk itu nasihatilah para wanita”. (HR. Bukhari dan Muslim Itulah yang menjadi landasan nasehatilah perempuan tersebut dengan sebaik dan selembut mungkin agar dia patuh terhadap kamu dan bisa sama-sama menjalani rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah. Dalam riwayat juga disebutkan tentang besarnya pahala mendidik anak perempuan yaitu seseorang ayah yang mendidik satu anak perempuannya maka pahalanya mendapatkan tiket masuk surga, seorang ayah yang mendidik dengan baik dia anak perempuannya dia mendapatkan jaminan lepas dari api neraka, dan seseorang ayah yang mampu mendidik dengan baik tiga anak perempuannya maka dia akan bisa memasukkan kedua orangtuanya ke dalam surga juga. Maka sudah sepantasnya kita sebagai kepala keluarga membimbing istri dan keluarga kita ke jalan yang benar dan melindungi mereka dari masuk neraka. Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan dalam segala hal terutama dalam berumah tangga, suami harus menjadi pembimbing yang baik bagi istrinya dan juga sebagai panutan bagi anak-anaknya. Allah SWT berfirman: اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ Artinya : “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya.” (QS. An-Nisa : 34) Dalam ayat lain Allah SWT berfirman: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (Qs. At-Tahrim: 6) Dalam hadits Nabi Muhammad SAW juga bersabda: فَاتَّقُوْا اللهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَانِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوْطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُوْنَهُ فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوْهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ Artinya: “Bertakwalah kepada Allah tentang (urusan) wanita, karena sesungguhnya kalian telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kalian mempunyai hak yang menjadi kewajiban mereka, yaitu mereka tidak boleh memasukkan ke rumah kalian orang yang tidak kalian sukai. Jika mereka melakukannya maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Mereka pun memiliki hak yang menjadi kewajiban kalian, yaitu nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang makruf (HR Malik, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, an-Nasai, ad-Darimi, Ahmad, Ibn Hibban, al-Baihaqi, Ibn Khuzaimah, Abad bin Humaid, Ibn Abi Syaibah) Imam an-Nawawi di dalam Syarh Shahîh Muslim menjelaskan bahwa Hadis tersebut merupakan dorongan untuk memperhatikan hak para wanita, menasihati mereka dan memperlakukan mereka secara makruf. Karena surga seorang istri terletak pada keridhaan suami, sedangkan surga suami terletak pada ibunya. Maka saling melengkapi dengan pasangan dalam kelebihan dan kekurangan adalah sesuatu yang harus diperhatikan dalam berumah tangga supaya aman