Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

Rahasia dan Keagungan Haji Mabrur dan Hari ‘Arafah

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ) Bersama :Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA Tema :Rahasia dan Keagungan Haji Mabrur dan Hari ‘Arafah 📖 Kalam Hikmah: Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam yang memiliki keistimewaan yang sangat besar. Allah mewajibkan ibadah haji bagi umat Islam sekali dalam seumur hidup. Adapun apabila seseorang mempunyai kemudahan untuk melaksanakan haji lebih dari satu kali maka sudah dianggap sebagai Sunnah. Allah SWT berfirman: وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا” Artinya : “Dan kewajiban bagi manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, bagi siapa saja yang mampu sampai kepadanya” (QS. Ali Imran: 97) Pertama : Haji Mabrur Para ulama salaf sudah banyak menceritakan tentang keagungan ibadah haji yang sangat luar biasa, banyak rahasia-rahasia dalam perjalanan menuju baitullah tersebut. Terlebih dari itu ibadah haji memiliki peranan penting dalam mengisi spiritual jiwa umat Islam. Rasulullah SAW bersabda: العُمرةُ إلى العُمرةِ كفَّارةٌ لِما بينَهُما والحجُّ المبرورُ ليسَ لَهُ جزاءٌ إلَّا الجنَّةُ Artinya: “Perjalanan antara ibadah satu umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa. Haji mabrur tidak ada balasan kecuali surga.” (HR. Bukhari Muslim) Para ulama salaf telah banyak menyampaikan tentang makna haji yang mabrur, dan amalan serta syarat-syarat mereka ketika melaksanakan haji yang merupakan penerapan dari makna-makna kelebihan haji dan sifat-sifat yang agung tersebut. Salah satu makna haji yang mabrur adalah melaksanakan segala ketaatan dan istiqamah dalam mengerjakan amal kebajikan. Dan sungguh Allah SWT telah menjelaskan tentang istiqamah dalam mengerjakan amal kebajikan dalam firman-Nya : لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْاۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ ۝١٧٧ Artinya: “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177) Al-Hafiz Ibnu Rajab r.a. berkata: “Ayat tersebut menyebutkan bahwa ada enam macam ketakwaan, dan barang siapa menyempurnakannya maka ia telah menyempurnakan ketakwaan. Pertama: beriman kepada lima rukun iman. Kedua: memberi harta kesayangan kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, orang yang meminta, dan memerdekakan budak. Ketiga: mendirikan shalat. Keempat: menunaikan zakat. Kelima: memenuhi janji. Keenam: sabar dalam kesulitan, kesusahan, dan di kala perang.” Semua itu wajib bagi jamaah haji, karena hajinya tidak sah tanpa iman, dan hajinya tidak sempurna dan diterima tanpa mendirikan shalat dan menunaikan zakat, karena rukun Islam itu saling berkaitan, maka iman dan Islam tidaklah sempurna sehingga keduanya telah ditunaikan, dan tidak sempurna ketakwaan haji kecuali dengan menunaikan janji-janji dalam perjanjian dan persekutuan serta rukun-rukun yang diwajibkan dalam perjalanan haji. Memberikan harta yang dicintainya kepada orang yang Allah cintai untuk diberikan harta tersebut, dan masih harus bersabar terhadap musibah yang menimpanya dalam perjalanan, itulah ciri-ciri orang yang bertaqwa. Maka barangsiapa yang melaksanakan haji tanpa mendirikan shalat, apalagi hajinya sunnah, maka ia seperti orang yang berusaha mendapatkan satu dirham, lalu menghambur-hamburkan modalnya yang jumlahnya beribu-ribu dirham. Salah satu makna haji mabrur adalah bersikap baik kepada manusia, berbuat baik kepada mereka, dan memiliki adab yang baik terhadap mereka. Dalam Shahih Muslim, Nabi SAW ditanya tentang ketakwaan, lalu dia menjawab: “Akhlak yang baik.” Ini adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh jamaah haji. Itulah makna dari mendapatkan haji yang mabrur, Istiqamah dan terbimbing untuk selalu dekat dengan Allah SWT dan taat melaksanakan seluruh amal shaleh dan kebajikan-kebajikan yang antara satu kebajikan dengan kebajikan lain saling bergantung dan menyempurnakan. Kedua : Hari ‘Arafah Salah satu hari yang paling utama di sisi Allah SWT adalah Hari Arafah. Itulah hari berkumpulnya orang-orang, ketika para jamaah haji berada di padang Arafah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Haji itu adalah Arafah.” Keutamaan hari besar ini banyak sekali, di antaranya adalah sebagai hari penyempurna agama dan penyempurnaan keberkahan atas umat ini, sehingga mereka tidak membutuhkan agama lain. Oleh karena itu, Allah SWT menjadikannya sebagai penutup segala agama dan yang terbaik di antara semuanya, dan tidak ada agama yang diterima dari siapa pun selain agama Islam. Dalam riwayat sahih Bukhari Muslim dikatakan bahwa Umar bin Khattab r.a., seorang Yahudi berkata kepadanya: “Wahai Amirul Mukminin, ada sebuah ayat dari kitabmu yang engkau baca. Seandainya ayat itu diturunkan kepada kami, orang-orang Yahudi, niscaya kami menjadikan hari itu sebagai hari raya.” Dia bertanya: “Ayat yang mana?” Dia berkata: “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Kuridhai Islam sebagai agamamu.” Umar berkata: “Kami mengetahui hari dan tempat diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang wukuf di Arafah pada hari Jumat.” Di antara keutamaan hari Arafah adalah bahwa ia merupakan hari perayaan bagi umat Islam. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ayat ini turun pada hari besar, hari Jum’at, dan hari Arafah.” Dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Keduanya, alhamdulillah, adalah perayaan bagi kami.” Hari itu merupakan hari raya yang khusus diperuntukkan bagi orang-orang yang berkumpul, sedangkan puasa pada hari itu disyariatkan bagi orang-orang selainnya, sebagaimana yang akan disebutkan kemudian. Di antara keutamaannya ialah sebagai hari ampunan dan pengampunan dosa, hari terbebas dari api neraka, dan hari membanggakan orang-orang yang berkumpul. Dalam Shahih Muslim, dari Aisyah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: “Tidak ada satu hari pun di mana Allah SWT membebaskan lebih banyak hamba dari api neraka daripada hari Arafah. Allah SWT mendekat, lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat, seraya berkata: ‘Apa yang diinginkan orang-orang ini?’” Barangsiapa yang menginginkan agar terbebas dari api neraka, dan berharap agar dosa-dosanya diampuni, kesalahan-kesalahannya diampuni, dan kesalahan-kesalahannya diampuni pada hari Arafah, maka hendaklah ia bersemangat untuk melakukan hal-hal yang dapat membuatnya berharap, setelah mendapatkan karunia dan rahmat

Tausiah LDRQ

LIMA KEBIASAAN YANG MEMATIKAN HATI

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎LIMA KEBIASAAN YANG MEMATIKAN HATI ‎ ‎Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah mengingatkan kita bahwa hati bisa menjadi redup, lemah, dan sulit melihat kebenaran bukan hanya karena dosa besar, tapi karena kebiasaan sehari-hari yang tidak terkontrol. Beliau menyebutkan: ‎أَعْظَمُ مُفْسِدَاتِ الْقَلْبِ خَمْسَةٌ: كَثْرَةُ الْخُلْطَةِ، وَتَمَنِّي، وَالتَّعَلُّقُ بِغَيْرِ اللَّهِ، وَالشِّبَعُ، وَالْمَنَامُ ‎Berikut adalah penjelasan sederhananya: ‎ ‎1. Banyak Bergaul Tanpa Batas ‎ ‎Berteman itu perlu, tapi kalau setiap waktu habis hanya untuk kumpul-kumpul tanpa tujuan, hati jadi lalai. Terlalu banyak mendengar omongan orang membuat kita lupa mendengar suara hati sendiri. Kita butuh waktu menyendiri untuk evaluasi diri (muhasabah). ‎ ‎2. Panjang Angan-Angan ‎ ‎Terlalu sibuk menghayal tentang dunia sampai lupa bahwa hidup ini ada batasnya. Khayalan yang ketinggian membuat kita hobi menunda amal karena merasa “_besok masih ada waktu,_” padahal ajal tidak pernah memberi tahu kapan ia datang. ‎ ‎3. Bergantung pada Selain Allah ‎ ‎Inilah yang membuat hati rapuh. Kalau kita menggantungkan harapan dan rasa aman kepada manusia, jabatan, atau harta, kita akan mudah kecewa. Sebab, semua itu sifatnya sementara. Hanya Allah sandaran yang tidak akan pernah mengecewakan. ‎ ‎4. Kekenyangan ‎ ‎Perut yang terlalu penuh adalah beban bagi hati. Orang yang kekenyangan biasanya jadi malas bergerak, sulit fokus saat ibadah, dan bawaannya ingin tidur terus. Makanlah secukupnya agar badan tetap ringan untuk diajak taat. ‎ ‎5. Banyak Tidur ‎ ‎Tidur itu kebutuhan, tapi kalau berlebihan malah jadi penyakit. Waktu kita habis sia-sia, momen keberkahan di waktu subuh hilang, dan jiwa jadi tidak produktif. Banyak tidur membuat hati menjadi mati rasa terhadap semangat perjuangan hidup. ‎ ‎Agar kita terhindar dari lima hal yang merusak ini, mari kita amalkan doa yang sangat indah ini: ‎​اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَزِلْ عُيُوبَنَا، وَتَوَلَّنَا بِالْحُسْنَى، وَزَيِّنَّا بِالتَّقْوَى، وَاجْمَعْ لَنَا خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَارْزُقْنَا طَاعَتَكَ مَا أَبْقَيْتَنَا ​“Ya Allah, perbaikilah hati-hati kami, hilangkan aib-aib kami, uruslah kami dengan kebaikan-Mu, hiasilah kami dengan takwa, kumpulkan bagi kami kebaikan dunia dan akhirat, serta karuniakanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu selama Engkau masih memberi kami kehidupan.” ‎ ‎Hati yang sehat adalah hati yang seimbang. Tidak berlebihan dalam bergaul, makan, maupun tidur, serta selalu menjaga agar harapan hanya tertuju kepada Allah SWT. ‎ ‎Sumber: Madarij al-Salikin oleh Ibn al-Qayyim ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

SKALA PRIORITAS: SIAPAKAH YANG PALING BERHAK MENERIMA SEDEKAH?

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎SKALA PRIORITAS: SIAPAKAH YANG PALING BERHAK MENERIMA SEDEKAH? ‎ ‎Dalam Islam, sedekah bukan sekadar melepaskan harta, melainkan wujud pembuktian iman dan cinta kepada Allah. Seseorang baru dikatakan mencapai puncak kebaikan jika ia rela mendermakan harta yang paling ia sayangi, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: ‎​لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ ‎Artinya: Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah Maha Mengetahui. (QS Ali ‘Imran: 92) ‎ ‎Sedekah memiliki dampak luar biasa bagi pelakunya, tidak hanya di dunia tetapi hingga ke alam kubur dan akhirat. Rasulullah bersabda: ‎​إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ عَنْ أَهْلِهَا حَرَّ الْقُبُورِ، وَإِنَّمَا يَسْتَظِلُّ الْمُؤْمِنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ Artinya: Sesungguhnya sedekah pasti bisa meredam orang-orang yang melaksanakannya dari hawa panasnya kubur. Pada hari kiamat, orang yang beriman akan mendapat naungan (berteduh) di bawah sedekahnya (saat di dunia). (Syu’ab al-Iman: 3076) ‎ ‎Sering muncul pertanyaan: haruskah kita membantu orang jauh sementara keluarga sendiri membutuhkan? Imam Nawawi menegaskan bahwa para ulama telah sepakat bahwa sedekah kepada kerabat lebih utama daripada orang lain. ‎أَجْمَعَتْ الْأُمَّةُ عَلَى أَنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الْأَقَارِبِ أَفْضَلُ مِنْ الْأَجَانِبِ وَالْأَحَادِيثُ فِي الْمَسْأَلَةِ كَثِيرَةٌ مَشْهُورَةٌ Artinya: “Ulama sepakat bahwa sedekah kepada sanak kerabat lebih utama daripada sedekah kepada orang lain. Hadis-hadis yang menyebutkan hal tersebut sangat banyak dan terkenal.” (al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab) ‎ ‎Hal ini diperkuat dengan kisah Zainab (istri Abdullah bin Mas’ud). Saat ia ingin bersedekah perhiasan, suaminya berkata bahwa keluarga sendiri lebih berhak. Rasulullah pun membenarkan hal tersebut: “Suami dan anakmu lebih berhak kamu kasih sedekah daripada orang lain.” (HR. Bukhari) ‎ ‎Meski sepakat bahwa keluarga adalah utama, para ulama memberikan rincian terkait urutannya: ‎ ‎1. Imam al-Baghawi: Mengutamakan keluarga yang menjadi tanggungan nafkah wajib (seperti istri dan anak-anak yang masih kecil). ‎ ‎2. Syekh Zainuddin (Fath al-Mu’in) menyarankan urutan: kerabat yang tidak wajib dinafkahi; mahram (keluarga yang haram dinikahi); pasangan (suami/istri); keluarga non-mahram, keluarga sepersusuan, hingga mertua. ‎ ‎Urutan di atas bukan alasan untuk bersikap pelit kepada orang luar. Skala prioritas ini berlaku jika keluarga kita termasuk dalam kategori mustahik, yaitu mereka yang fakir, miskin, atau terlilit utang (gharim). ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

‎MAHKOTA SYUKUR: ENAM PILAR KENIKMATAN UTAMA DALAM HIDUP

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎MAHKOTA SYUKUR: ENAM PILAR KENIKMATAN UTAMA DALAM HIDUP ‎ ‎Pesan ini mengajak kita untuk mengalihkan pandangan dari sekadar materi menuju hakikat kebahagiaan yang substansial. Seringkali kita merasa kurang karena membandingkan harta, padahal kita sedang menggenggam enam nikmat yang tak ternilai harganya. ‎ ‎1. Nikmat Islam (Hidayah Keyakinan) ‎ ‎Islam adalah fondasi utama. Tanpa Islam, segala amal kebaikan di dunia bagaikan debu yang beterbangan. Menjadi muslim berarti memiliki “paspor” keselamatan di akhirat dan kompas moral yang jelas di dunia. ‎ ‎​2. Nikmat Al-Qur’an (Pedoman Hidup) ‎ ‎Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan manual book kehidupan. Memilikinya berarti memiliki akses langsung ke firman Tuhan sebagai obat hati (syifa’), petunjuk (huda), dan cahaya dalam kegelapan dilema hidup. ‎ ‎3. Nikmat Nabi Muhammad Rasulullah SAW (Suri Teladan) ‎ ‎Kehadiran Nabi Muhammad adalah bentuk kasih sayang Allah yang nyata bagi alam semesta. Melalui beliau, kita mengenal tata cara beradab, mencintai sesama, dan cara mendekatkan diri kepada Sang Pencipta secara sempurna. ‎ ‎4. Nikmat al-‘Afiyah (Kesehatan dan Keselamatan) ‎ ‎’Afiyah mencakup kesehatan jasmani dan ketenangan batin. Betapa banyak harta menjadi tidak berarti ketika tubuh tak lagi mampu menikmati makanan atau jiwa dirundung kecemasan yang tiada henti. ‎ ‎5. Nikmat al-Sitr (Tertutupnya Aib) ‎ ‎Ini adalah nikmat yang sering terlupakan. Manusia terlihat mulia di mata orang lain bukan karena ia suci tanpa dosa, melainkan karena Allah dengan sifat Maha Menutupi-Nya masih menjaga rahasia dan keburukan kita agar tidak tampak di permukaan. ‎ ‎6. Nikmat al-Ghina ‘an al-Nas (Kemandirian Hati) ‎ ‎Merasa cukup dan tidak bergantung pada pemberian atau belas kasihan manusia adalah bentuk kemerdekaan sejati. Orang yang “kaya” dalam konteks ini adalah mereka yang hatinya hanya menggantungkan harapan kepada Allah, sehingga tidak diperbudak oleh rasa iri atau mencari muka di hadapan manusia. ‎ ‎Sebagai bentuk syukur atas enam nikmat tersebut, kita dianjurkan meresapi kalimat tauhid berikut setiap hari: ‎​رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولًا وَنَبِيًّا، وَبِالقُرْآنِ حُكْمًا وَإِمَامًا “Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, Muhammad SAW sebagai Rasul dan Nabiku, serta Al-Qur’an sebagai hukum dan imamku.” ‎ ‎Kebahagiaan bukan tentang mendapatkan apa yang kita inginkan, tapi tentang menyadari betapa besarnya apa yang telah kita miliki. Dengan mengamalkan zikir di atas, kita mengunci hati kita pada frekuensi syukur, sehingga nikmat-nikmat tersebut akan terus bertambah. ‎ ‎Sumber: Nashaih al-‘Ibad oleh Syekh Nawawi al-Bantani ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Mengingat Kematian

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ) Bersama :Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA Tema :Mengingat Kematian 📖 Kalam Hikmah: Rasulullah SAW bersabda: إذا مات أحدُكم؛ فقد قامتْ قيامتُه؛ فاعبدوا اللهَ كأنكم ترَوْنَه، واستغفِروه كُلَّ ساعةٍ. Artinya : “Apabila seseorang diantara kalian telah meninggal dunia, maka telah berlakulah kiamat untuknya. Oleh karena itu, beribadahlah kepada Allah seakan-akan kamu sedang melihat-Nya dan mintalah keampunan kepada-Nya setiap saat. (HR. Ad-Dailami) Penting diketahui bahwa kematian itu adalah kiamat bagi pribadi seseorang maka perlu mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin, karena kiamat yg dimaksud adalah akhir dari segala bentuk kehidupan dunia. Persiapan kematian tersebut harus dipersiapkan dengan ibadah-ibadah. Bagaimana kita beribadah dengan seakan-akan melihat Allah itu adalah sebuah perumpamaan untuk beribadah dengan sebaik dan sebanyak mungkin karena takut kepada Allah SWT. Banyak juga sekarang beribadah hanya sekedar melapas kewajiban tanpa dibarengi dengan keikhlasan dan kekusyukan. Dalam hadits di atas dikatakan bahwa beribadah dengan seakan-akan melihat Allah sebagai sebuah penekanan agar ibadah dilakukan dengan penuh penghayatan dan kesempurnaan sehingga menghasilkan nilai pahala yang besar disisi Allah SWT. Di samping hal tersebut juga dikatakan dalam hadits tersebut untuk memperbanyak istighfar yaitu minta ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan dan kekhilafan. Seseorang yang taat saja wajib memperbanyak istighfar kepada Allah SWT apalagi orang-orang yang penuh dengan kelalaian dalam hidup maka sudah sepatutnya untuk memperbanyak istighfar mohon ampun kepada Allah SWT. Imam Ad Daqqaq rahimahullah berkata: قال الإمام القرطبي: (قال الدقاق: من أكثر من ذكر الموت أكرم بثلاثة أشياء: تعجيل التوبة، وقناعة القلب، ونشاط العبادة. ومن نسي الموت عوقب بثلاثة أشياء: تسويف التوبة، وترك الرضى بالكفاف، والتكاسل في العبادة.) التذكرة: الجزء الأول، ص 27 Artinya: “Barang siapa yang banyak mengingat kematian maka dimuliakan dengan tiga hal; bersegera tobat, puas hati merasa cukup atas pemberian Allah, dan semangat ibadah, dan barang siapa yang lupa kematian diberikan hukuman dengan tiga hal; menunda taubat, tidak ridha dengan keadaan dan malas ibadah.” Apabila seseorang mengingat kematian dan mempersiapkan bekal untuk dirinya di akhirat, ia akan diberikan tiga hal, yakni Allah berikan kesempatan bagi dia untuk bertaubat kepada Allah SWT atas segala dosa-dosanya, kemudian Allah berikan sifat qanaah kepadanya dengan hati selalu merasa cukup atas semua nikmat dan karunia yang berikan, dan akan tumbuh semangat untuk memperbanyak ibadah. Begitu juga sebaliknya ketika seseorang lupa akan kematian maka Allah akan menunda baginya taubat atau dengan bahasa lain Allah akan berikan istidraj kepadanya dengan memberikan kelalaian dan kesibukan dunia hingga lupa kepada mati. Orang yang lupa akan kematian juga akan merasa tidak puas dan cukup dengan segala nikmat yang didapatkan di dunia ini dan pada akhirnya orang tersebut akan malas untuk beribadah kepada Allah SWT. Maka perlu diingat-ingat bahwa kehidupan yang dijalani sekarang adalah perjalanan menuju kematian maka perlu dipersiapkan dengan pembekalan yang baik dan cukup. Tak heran hari ini kita lihat orang-orang di sekitar kita baik keluarga atau tetangga sudah pulang menghadap Allah SWT. Dan pada akhirnya kita juga mendapatkan giliran yang sama akan menghadapi yang namanya kematian. Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata: الموت باب وكل الناس داخله فليت شعري بعد الموت مالدار Artinya: “Kematian adalah sebuah pintu yang setiap manusia pasti akan memasukinya, Aduhai kalau aku bisa tau dimana tempatku setelah kematian.” Sudah pasti semua yang bernyawa pasti akan merasakan yang namanya kematian, perjalanan kita di dunia ini hanya waktu sebentar untuk mempersiapkan bekal menuju hari Akhirat kelak dan awal dari akhirat tersebut adalah kematian. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa: الذي يغسل الميت اليوم هو الميت غداً Artinya: “Yang memandikan jenazah hari ini adalah jenazah besok.” Sangat dekat sebenarnya kematian tersebut, hari ini kita melaksanakan tajhiz mayat bagi jenazah yang baru meninggal memandikan, mengkafani, menyalatkan lalu menguburkan, maka besok giliran kita yang akan dimandikan dan dikuburkan oleh orang lain. Dalam sebuah riwayat juga diingatkan bahwa: الموت أهونُ ممّا بعده، وأشدّ مما قبله. Artinya: “Kematian lebih mudah dari pada apa yang datang setelahnya, dan lebih berat dari pada apa yang datang sebelumnya.” Kematian adalah hal yang sangat berat tetapi sangat kecil apabila dibandingkan dengan hari-hari setelahnya seperti dalam kubur, di Padang Mahsyar, di Mizan dan sebagainya. و الله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 📷Instagram LDRQ 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #ldrqraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻