Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Uncategorized

Sambut 1 Muharram 1448 H, Ratusan Jamaah Larut dalam Zikir di Dayah Raudhatul Qur’an Tungkop

SERAMBINEWS.COM, ACEH BESAR – Menjelang pergantian tahun dalam kalender Islam, Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ) menggelar peringatan menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah. Acara religius yang sarat akan makna spiritual ini dipusatkan di kompleks Dayah Raudhatul Qur’an, Gampong Tungkop, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, Senin (15/6/2026). ​Momentum syiar Islam yang dihadiri oleh ratusan jamaah, santri, dan masyarakat setempat ini berlangsung khidmat sejak memasuki waktu matahari terbenam (maghrib), yang menandai dimulainya awal tahun baru dalam sistem penanggalan Hijriah. Baca juga: Lajnah Dakwah Raudhatul Quran (LDRQ) Peringati Maulid dengan Berbagai Kegiatan ​Pihak panitia dari LDRQ telah merancang serangkaian kegiatan spiritual yang tersusun secara sistematis. Agenda ini sengaja dikonsep sedemikian rupa untuk mengajak umat muslim melakukan muhasabah (evaluasi diri) serta memperkuat tali silaturahmi di momen pergantian tahun. ​Rangkaian acara diawali dengan pelaksanaan Shalat Maghrib berjamaah sebagai pembuka kegiatan sekaligus penanda resmi masuknya tanggal 1 Muharram 1448 H. Setelah itu, suasana religius semakin kental saat jamaah melaksanakan Shalat Sunnah Hajat dan Zikir Bersama. ​Melalui zikir dan doa terikat ini, para jamaah bersama-sama memohon keberkahan, keselamatan, ampunan atas kekhilafan di tahun lalu, serta perlindungan dari Allah Subhanahu wa ta’ala untuk menghadapi tahun yang baru. Usai mengumandangkan zikir, aktivitas ibadah dilanjutkan dengan Shalat Isya berjamaah. ​Acara puncak peringatan ini diisi dengan Tausiah Agama yang berlangsung di Balai Tajul ‘Arifin, Kompleks Dayah Raudhatul Qur’an. Ceramah agama tersebut disampaikan langsung oleh Tgk. Nikmal Maula, M.Pd. Baca juga: Tgk Sulfanwandi Hasan: Ulama Meninggal Jadi Pertanda Allah Mulai Mengangkat Ilmu dari Manusia ​Dalam penyampaiannya, Tgk. Nikmal Maula mengajak seluruh jamaah yang hadir untuk memaknai tahun baru Islam bukan sekadar pergantian angka semata, melainkan sebagai momentum emas untuk melakukan hijrah, baik secara spiritual, sikap, maupun perbuatan. ​”Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan mulia atau Asyhurul Hurum. Pada bulan yang penuh berkah ini, kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak amalan shaleh, meningkatkan kualitas ibadah, serta meninggalkan segala kebiasaan buruk yang merugikan diri sendiri dan orang lain,” ujar Tgk. Nikmal Maula dalam tausiahnya. ​Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan umat dan menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam menata kehidupan yang lebih baik di tahun 1448 Hijriah ini. ​​Setelah seluruh rangkaian ibadah dan ceramah agama selesai dilaksanakan, acara ditutup dengan sesi makan bersama. Hidangan yang telah disediakan dinikmati oleh seluruh jamaah, pengurus dayah, dan para santri dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan. (*) Sumber: https://aceh.tribunnews.com/nanggroe/1030056/sambut-1-muharram-1448-h-ratusan-jamaah-larut-dalam-zikir-di-dayah-raudhatul-quran-tungkop

Uncategorized

Dayah Raudhatul Qur’an megucapkan Selamat Tahun Baru Islam 1448 H

Aceh Besar – Dalam rangka menyambut datangnya 1 Muharram 1448 Hijriah, keluarga besar Dayah Raudhatul Qur’an Darussalam menyampaikan ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1448 H kepada seluruh umat Islam, khususnya para santri, dewan guru, wali santri, alumni, serta masyarakat luas. Momentum pergantian tahun Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Islam, tetapi menjadi saat yang tepat untuk melakukan muhasabah (evaluasi diri), memperkuat keimanan, dan memperbaharui tekad dalam menjalani kehidupan yang lebih baik sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Pimpinan dan seluruh civitas Dayah Raudhatul Qur’an mengajak masyarakat untuk menjadikan semangat Hijrah Rasulullah SAW sebagai inspirasi dalam membangun karakter yang berakhlakul karimah, meningkatkan kualitas ibadah, serta memperkuat persatuan dan kepedulian sosial di tengah kehidupan bermasyarakat. Tahun Baru Islam juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan semangat Muharram, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan agama, tetapi juga mampu memberikan kontribusi positif bagi umat, bangsa, dan negara. Sebagai lembaga pendidikan Islam yang berkomitmen mencetak generasi Qur’ani, Dayah Raudhatul Qur’an terus berupaya menghadirkan pendidikan yang berkualitas, membentuk pribadi yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang luhur. Melalui peringatan Tahun Baru Islam 1448 H ini, keluarga besar Dayah Raudhatul Qur’an Darussalam berharap agar tahun yang baru menjadi lembaran penuh keberkahan, kedamaian, dan kemajuan bagi seluruh umat Islam. “Mari jadikan momentum 1 Muharram 1448 H sebagai awal hijrah menuju pribadi yang lebih baik, lebih dekat kepada Allah SWT, dan lebih bermanfaat bagi sesama.” Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, keberkahan, dan kemudahan dalam setiap langkah kehidupan kita. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Tausiah LDRQ

Keikhlasan Sejati; Ciri Utama dari Imam Dzun-Nun Al-Mishri

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒️🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Keikhlasan Sejati; Tiga Ciri Utama dari Imam Dzun-Nun Al-Mishri Ikhlas adalah salah satu nilai inti dalam ajaran Islam yang menjadi dasar dari setiap amal ibadah dan perbuatan seorang muslim. Ikhlas berarti melakukan sesuatu semata-mata karena Allah Subhanahu Wa ta’ala, tanpa ada motivasi lain seperti mencari pujian, popularitas, atau keuntungan duniawi. Konsep ikhlas sangat penting karena Allah hanya menerima amal yang dilakukan dengan niat semata – mata karena Allah. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam beberapa hadist. Para ulama dan tokoh tasawuf telah banyak memberikan penjelasan mengenai tanda-tanda ikhlas. Misalnya, Dzun-Nun Al-Mishri menyebutkan bahwa salah satu tanda keikhlasan adalah kesamaan antara pujian dan celaan dari manusia. Fudhail bin ‘Iyadh juga menekankan bahwa meninggalkan amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik, sedangkan ikhlas adalah ketika Allah melindungi seseorang dari keduanya. penting bagi kita untuk mengenali tanda-tanda ikhlas dalam diri kita sebagai upaya untuk selalu memperbaiki niat dan meningkatkan kualitas amal ibadah kita. Mengkaji tanda-tanda ikhlas juga membantu kita dalam menjaga kemurnian hati dan niat dalam setiap perbuatan, serta menjauhkan diri dari sifat riya’ dan syirik khafi (syirik tersembunyi) yang dapat merusak amal kita di hadapan Allah Subhanahu Wa ta’ala,. Imam Dzun-Nun Al-Mishri juga menyebutkan tanda-tanda Orang yang ikhlas yaitu sebagai sebagai berikut 1. Kesamaan Antara Pujian dan Celaan: Orang yang ikhlas tidak terpengaruh oleh pujian atau celaan dari manusia. Baginya, penilaian manusia tidak penting dibandingkan dengan penilaian Allah. Dzun-Nun Al-Mishri menyatakan bahwa salah satu tanda keikhlasan adalah ketika seseorang merasa sama saja antara dipuji dan dicela oleh orang lain. 2. Melupakan Amal yang Dilakukan: Orang yang ikhlas melupakan amal baik yang telah mereka lakukan, karena mereka melakukannya semata-mata untuk Allah dan bukan untuk mengingat-ingatnya atau merasa bangga. Hal ini juga menunjukkan bahwa mereka tidak mengharapkan pujian atau balasan dari manusia. 3. Fokus pada Akhirat: Orang yang ikhlas selalu mengharapkan pahala dan balasan dari Allah di akhirat, bukan di dunia. Mereka mengerti bahwa pahala/balasan yang terbaik adalah yang diberikan oleh Allah nanti di akhirat, sehingga mereka tidak tergoda oleh imbalan duniawi semata. Bila kita sudah mengetahui tanda-tanda yang telah disebutkan, maka kita dapat lebih mampu untuk mengintropeksi diri dalam menilai niat dan kualitas amal kita, serta berusaha untuk selalu memperbaiki diri agar semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala, dengan hati ikhlas. Amiin… Ref: al- Nawawi, Bustanul Arifin, (Dark: arriyan) h.27 ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudh

Tausiah LDRQ

3 ALASAN MENGAPA MUHARRAM BEGITU ISTIMEWA

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎3 ALASAN MENGAPA MUHARRAM BEGITU ISTIMEWA ‎ ‎Bulan Muharram adalah pembuka dalam kalender Hijriyah. Sayangnya, banyak dari kita yang melewatkannya begitu saja tanpa makna, seolah itu hanya pergantian angka di kalender. Padahal, Muharram menyimpan rahasia spiritual dan keistimewaan besar yang langsung disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya. ‎ ‎​Berikut adalah tiga keistimewaan utama bulan Muharram yang patut kita renungkan dan amalkan: ‎ 1. Salah Satu dari Empat Bulan Haram (Mulia) ‎ ‎Muharram bukanlah bulan biasa. Ia dipilih Allah sebagai satu dari empat bulan yang disucikan, di mana pada bulan-bulan ini kita dilarang keras berbuat zalim dan diwajibkan menjaga kedamaian. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah: 36: ‎​إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ ​“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah SWT ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antara empat bulan haram (bulan Dzulqa’idah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam empat bulan mulia itu dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” ‎ ‎2. Penghapus Dosa di Hari ‘Asyura ‎ ‎Di dalam bulan Muharram, terdapat satu hari yang sangat sakral, yaitu hari ‘Asyura (10 Muharram). Rasulullah SAW sangat menganjurkan kita untuk berpuasa di hari tersebut, karena ganjarannya adalah dihapuskannya dosa-dosa kita selama setahun yang lalu. ‎​عَنْ أَبي قَتَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صِيامِ يَوْمِ عَاشُوراءَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ المَاضِيَةَ. (رواه مسلم) “Diriwayatkan dari Abu Qatadah RA: sungguh Rasulullah saw bersabda pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Asyura, lalu beliau menjawab: ‘Puasa Asyura melebur dosa setahun yang telah lewat’.” (HR. Muslim) ‎ ‎3. Menyandang Gelar Istimewa: “Syahrullah” (Bulan Allah) ‎ ‎Keistimewaan Muharram yang paling tinggi adalah statusnya yang disebut langsung oleh Nabi SAW sebagai Syahrullah (Bulan Allah). Ini adalah satu-satunya bulan yang namanya disandingkan langsung dengan nama Allah sebagai bentuk kehormatan tertinggi. ‎​عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ» (رَوَاهُ مُسْلِم) ​“Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim) ‎ ‎​Mengenai rahasia penamaan ini, Imam Jalaluddin As-Suyuthi menukil penjelasan dari Al-Hafizh Abul Fadhl Al-‘Iraqy: ‎​قَالَ الْحَافِظُ أَبُو الْفَضْلِ الْعِرَاقِيُّ فِي شَرْحِ التِّرْمِذِيِّ: مَا الْحِكْمَةُ فِي تَسْمِيَةِ الْمُحَرَّمِ “شَهْرُ اللَّهِ”، وَالشُّهُورُ كُلُّهَا لِلَّهِ؟ يَحْتَمِلُ أَنْ يُقَالَ: إِنَّهُ لَمَّا كَانَ مِنَ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ فِيهَا الْقِتَالَ، وَكَانَ أَوَّلَ شُهُورِ السَّنَةِ، أُضِيفَ إِلَيْهِ إِضَافَةَ تَخْصِيصٍ. وَلَمْ يَصِحَّ إِضَافَةُ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُورِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا “شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ”. Al-Hafizh Abul Fadhl al-‘Iraqy menjelaskan dalam Syarah al-Tirmidzi: “Apa hikmahnya penamaan bulan Muḥarram dengan ‘Bulan Allah’, padahal seluruh bulan adalah milik Allah?” Kemungkinan dijawab: Karena bulan Muharram termasuk dalam bulan-bulan haram yang Allah haramkan (dilarang) berperang di dalamnya, dan karena ia merupakan bulan pertama dalam tahun Hijriyah, maka dinisbahkan kepada Allah sebagai bentuk pengkhususan dan pemuliaan. Dan tidak ada bulan dari bulan-bulan yang dinisbahkan kepada Allah secara sahih dari Nabi SAW kecuali ‘Bulan Allah al-Muharram’. Muharram adalah momentum terbaik untuk melakukan “reset” kehidupan. Kita tidak perlu menunggu tahun baru masehi untuk berubah menjadi lebih baik. Mumpung kita berada di bulan yang dijuluki “Bulan Allah” ini, mari perbanyak puasa sunnah, hidupkan shalat malam, dan jaga diri kita dari berbuat zalim kepada sesama. Perubahan yang hakiki selalu dimulai saat hati kita tergerak oleh petunjuk-Nya. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudh

Tausiah LDRQ

‎MINIMAL JANGAN MERUGIKAN: 3 ATURAN EMAS MENJAGA PERASAAN SESAMA

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎MINIMAL JANGAN MERUGIKAN: 3 ATURAN EMAS MENJAGA PERASAAN SESAMA ‎ ‎Pernahkah kita merasa bingung bagaimana cara menjadi orang baik di tengah lingkungan yang penuh drama? Atau mungkin kita merasa belum mampu memberikan bantuan materi atau kontribusi besar bagi orang-orang di sekitar kita? ‎ ‎​Jika kita belum bisa menjadi orang yang paling bermanfaat, Islam memberikan batas aman agar kita tidak menjadi orang yang merugikan. Sahabat Muadz bin Jabal memberikan sebuah rumus luar biasa tentang bagaimana seharusnya seorang mukmin bersikap kepada mukmin lainnya: ‎ليَكُنْ حَظُّ الْمُؤمِنِ مِنْكَ ثَلَاثةٌ: إِنْ لَمْ تَنْفَعْهُ فَلَا تَضُرَّهُ، وَإِنْ لَمْ تُفْرِحْهُ فَلَا تَغُمَّهُ، وَإِنْ لَمْ تَمْدَحْهُ فَلَا تَذُمَّهُ “Hendaknya seorang mukmin mendapatkan tiga hal darimu: Jika kamu tidak bisa memberinya manfaat, maka jangan merugikannya. Jika kamu tidak bisa membuatnya bahagia, maka jangan membuatnya sedih. Dan jika kamu tidak bisa memujinya, maka jangan mencelanya.” ‎ ‎1. Jika Belum Bisa Memberi Manfaat, Jangan Merugikan ‎ ‎Idealnya, seorang Muslim adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain (Anfa’uhum linnas). Namun, jika karena keterbatasan ekonomi, tenaga, atau pikiran membuat kita belum bisa menolong sesama, maka tahanlah diri kita agar tidak merugikan mereka. ‎ ‎​Jangan merusak reputasinya, jangan merusak barangnya, jangan mempersulit urusannya, dan jangan mengambil haknya. Diam dan tidak mengganggu orang lain itu sudah dinilai sebagai sedekah untuk diri kita sendiri. ‎ ‎2. Jika Belum Bisa Membahagiakan, Jangan Membuat Sedih ‎ ‎Kita mungkin tidak punya hadiah untuk diberikan, tidak punya kata-kata motivasi yang hebat untuk menghibur, atau tidak bisa hadir di setiap momen bahagia mereka. Itu tidak apa-apa. ‎ ‎​Yang menjadi masalah adalah ketika kita sengaja melempar candaan yang menyakitkan hati, mengungkit masa lalu yang kelam, atau menyebarkan berita yang membuat hatinya menciut dan gelisah. Jika tidak bisa menjadi alasan seseorang tersenyum hari ini, minimal jangan sampai kita menjadi penyebab mereka menangis atau sesak dada. 3. Jika Belum Bisa Memuji, Jangan Mencela ‎ ‎Melihat keberhasilan atau kebaikan orang lain terkadang memicu rasa iri di hati kita. Jika kita belum mampu berlapang dada untuk memberikan pujian atau apresiasi yang tulus atas pencapaian orang lain, maka tutup rapat-rapat lisan dan jempol kita dari mencela mereka. ‎ ‎​Jangan mencari-cari kesalahan di balik kesuksesannya (mencari celah), jangan meremehkan usahanya, dan jangan menyebarkan fitnah. Menahan diri dari mencela adalah bukti bahwa kita memiliki jiwa yang besar. ‎ ‎Nasihat Muadz bin Jabal ini mengajarkan kita tentang akhlak “paling minimal” dalam Islam. Menjadi orang shalih itu tidak selalu dituntut melakukan hal-hal besar yang heroik. Terkadang, kesalehan itu sesederhana kemampuan kita untuk mengendalikan diri agar orang lain merasa aman dari lisan dan perbuatan kita. ‎ ​Sebelum kita tidur malam ini, mari kita merenung: “Apakah hari ini ada orang yang merasa rugi, sedih, atau terhina karena ulahku?” Jika ada, mari segera perbaiki. Jika tidak ada, bersyukurlah karena kita telah berhasil mengamalkan salah satu akhlak terbaik dalam Islam. ‎ ‎Sumber: al-Zuhd wa al-Raqaiq oleh al-Khathib al-Baghdadi ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an