Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

Rumah Tangga atau Karir ?

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Rumah Tangga atau Karir ? Perdebatan tentang apakah wanita harus fokus pada mengurus rumah tangga atau mengejar karir profesional telah menjadi topik yang kontroversial dalam masyarakat modern. Namun, Islam mengajarkan bahwa baik mengurus rumah tangga maupun berkarir adalah pilihan yang mulia, dan keduanya memiliki keutamaan tersendiri. 1. Keutamaan Mengurus Rumah Tangga Mengurus rumah tangga adalah tugas yang sangat mulia dalam Islam. Rasulullah S.A.W. pernah bersabda, “Wanita yang terbaik adalah yang membuat suaminya senang ketika ia melihatnya, taat ketika diperintahkan, dan menjaga dirinya dan hartanya ketika suaminya tidak ada.” (HR. At-Tirmidzi). Peran sebagai ibu dan istri yang baik memiliki dampak yang besar dalam membentuk fondasi keluarga yang kokoh dan harmonis. Wanita yang mengabdikan diri untuk mengurus rumah tangga berperan penting dalam membesarkan generasi penerus yang saleh dan salehah. Apalagi “wanita(ibu) adalah madrasatul ula bagi para anak”. Ini menjadi landasan mengapa begitu pentingnya peran penuh seorang ibu atau istri mempunyai andil dalam kemaslahatan keluarga. Jika nafkah dan kepentingan lain oleh suami(ayah) telah dipenuhi atau berkecukupan walau sederhana sekalipun, maka selayaknya bagi sang wanita memegang peran bagi kemaslahatan rumah tangga. Dalam Islam, ada beberapa hadis yang menyoroti keutamaan wanita yang mengurus rumah tangga. Salah satu hadis yang sering dikutip adalah hadis riwayat Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi yang menyatakan: “Seorang wanita yang rajin shalat lima waktu, berpuasa bulan Ramadan, menjaga kehormatan dirinya, dan taat kepada suaminya, akan masuk surga dari pintu mana saja yang dia inginkan.” Hadis ini menekankan bahwa wanita yang menjalankan tugas-tugas keagamaan dan tanggung jawabnya dalam rumah tangga akan mendapatkan pahala besar di sisi Allah. 2. Keutamaan Berkarir Di sisi lain, Islam juga memberikan kebebasan kepada wanita untuk mengejar karir profesional jika mereka memiliki kemampuan dan minat dalam bidang tertentu. Nabi Muhammad SAW memberikan dukungan kepada wanita yang ingin berperan aktif dalam masyarakat, seperti hal nya Siti Khadijah, yang merupakan seorang pedagang sukses di zaman Jahiliyah.Mengembangkan bakat dan keterampilan melalui karir dapat memberikan kontribusi positif bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan. Wanita yang bekerja juga dapat memberikan contoh bagi anak-anak mereka tentang pentingnya kesetaraan gender dan tanggung jawab sosial. Dan ini bukanlah sebuah larangan, dengan syarat yakni tidak melewatkan kewajiban-kewajiban hakiki nya sebagai seorang istri dirumah tangga. Karir adalah hal tersier bagi wanita , namun sebagai istri tercinta ialah keniscayaan yang tak bisa dilupa. 3. Keseimbangan Antara Keduanya Islam mendorong wanita untuk mencapai keseimbangan antara mengurus rumah tangga dan mengejar karir, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. Sebagian besar wanita Muslim modern memilih untuk bekerja di luar rumah sambil tetap memperhatikan kebutuhan rumah tangga dan keluarga. Maka dari hal itu perlu bagi individual wanita agar benar-benar bisa menstabilkan antara keduanya. Dan ini adalah yang ideal. Kesimpulan nya Mengurus rumah tangga dan berkarir adalah dua pilihan yang dapat menjadi ladang amal bagi wanita Muslim. Penting bagi masyarakat untuk menghargai dan mendukung wanita dalam pilihan mereka, baik itu dalam mengurus rumah tangga, mengejar karir, atau keseimbangan antara keduanya. Yang terpenting, kebaikan, keadilan, dan kesetaraan harus menjadi pedoman dalam memahami peran wanita dalam masyarakat dan keluarga. Namun, yang terpenting ambil garis besarnya dari tulisan ini, dengan tidak lupa kepada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra. Seorang perempuan datang dan bertanya “ya Rasulullah engkau kan diutus Allah kepada kaum laki dan perempuan??”. Jawab Nabi “iya kepada kaum laki dan perempuan” . Berkata lagi oleh si perempuan “ya Rasulullah, kalian kaum laki diberi kelebihan dibandingkan kami bisa sholat jamaah, sholat Jumat, berhaji dan berperang, sedangkan kami pembantu rumah, perawat anak kalian, tukang menyiapkan kepentingan kepentingan kalian, lalu mana bagian kami??! Rasulullah spontan berkata pada kepada para sahabat di sekitarnya ” pernahkah kalian melihat perempuan yang lebih bagus dari pertanyaan ini ?! Nabi melanjutkan “sampaikan kepada seluruh perempuan di luar sana, yang paling beretika kepada suaminya dan menyamai pahala semua ibadah tadi serta tidak akan luput dari kalian shalat Jumat, shalat jamaah, berhaji dan berperang juga akan mendapatkan pahala semuanya ialah mengurus segala kepentingan rumah rumah tangga dan suami.”. Wallahu a’lam. Ref : Al-Adab Al-Mufrad, karya imam Bukhari ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Keikhlasan Sejati; 3 Ciri Utama dari Imam Dzun-Nun Al-Mishri

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Keikhlasan Sejati; Tiga Ciri Utama dari Imam Dzun-Nun Al-Mishri Ikhlas adalah salah satu nilai inti dalam ajaran Islam yang menjadi dasar dari setiap amal ibadah dan perbuatan seorang muslim. Ikhlas berarti melakukan sesuatu semata-mata karena Allah Subhanahu Wa ta’ala, tanpa ada motivasi lain seperti mencari pujian, popularitas, atau keuntungan duniawi. Konsep ikhlas sangat penting karena Allah hanya menerima amal yang dilakukan dengan niat semata – mata karena Allah. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam beberapa hadist. Para ulama dan tokoh tasawuf telah banyak memberikan penjelasan mengenai tanda-tanda ikhlas. Misalnya, Dzun-Nun Al-Mishri menyebutkan bahwa salah satu tanda keikhlasan adalah kesamaan antara pujian dan celaan dari manusia. Fudhail bin ‘Iyadh juga menekankan bahwa meninggalkan amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik, sedangkan ikhlas adalah ketika Allah melindungi seseorang dari keduanya. penting bagi kita untuk mengenali tanda-tanda ikhlas dalam diri kita sebagai upaya untuk selalu memperbaiki niat dan meningkatkan kualitas amal ibadah kita. Mengkaji tanda-tanda ikhlas juga membantu kita dalam menjaga kemurnian hati dan niat dalam setiap perbuatan, serta menjauhkan diri dari sifat riya’ dan syirik khafi (syirik tersembunyi) yang dapat merusak amal kita di hadapan Allah Subhanahu Wa ta’ala,. Imam Dzun-Nun Al-Mishri juga menyebutkan tanda-tanda Orang yang ikhlas yaitu sebagai sebagai berikut 1. Kesamaan Antara Pujian dan Celaan: Orang yang ikhlas tidak terpengaruh oleh pujian atau celaan dari manusia. Baginya, penilaian manusia tidak penting dibandingkan dengan penilaian Allah. Dzun-Nun Al-Mishri menyatakan bahwa salah satu tanda keikhlasan adalah ketika seseorang merasa sama saja antara dipuji dan dicela oleh orang lain. 2. Melupakan Amal yang Dilakukan: Orang yang ikhlas melupakan amal baik yang telah mereka lakukan, karena mereka melakukannya semata-mata untuk Allah dan bukan untuk mengingat-ingatnya atau merasa bangga. Hal ini juga menunjukkan bahwa mereka tidak mengharapkan pujian atau balasan dari manusia. 3. Fokus pada Akhirat: Orang yang ikhlas selalu mengharapkan pahala dan balasan dari Allah di akhirat, bukan di dunia. Mereka mengerti bahwa pahala/balasan yang terbaik adalah yang diberikan oleh Allah nanti di akhirat, sehingga mereka tidak tergoda oleh imbalan duniawi semata. Bila kita sudah mengetahui tanda-tanda yang telah disebutkan, maka kita dapat lebih mampu untuk mengintropeksi diri dalam menilai niat dan kualitas amal kita, serta berusaha untuk selalu memperbaiki diri agar semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala, dengan hati ikhlas. Amiin… Ref: al- Nawawi, Bustanul Arifin, (Dark: arriyan) h.27 ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Adab Menghidangkan Makanan

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Adab Menghidangkan Makanan Islam mengajarkan kita untuk senantiasa berlaku baik terhadap tamu dan juga memuliakannya, Karena tamu itu membawa keberkahan dan kebaikan. Dalam Kitab Ihya Ulumiddin Imam al- Ghazali banyak Menjelaskan Kemuliaan tamu dan cara Menjamu tamu sesuai anjuran sunnah, salah satunya adalah penjelasan tentang adab menghidangkan makanan. Ada 5 poin yang sangat penting mengenai adab menghidangkan makanan, yaitu : 1. Menyegerakan menghidangkan makanan kepada tamu, Rasulullah bersabda ” siapa saja yang beriman dengan Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamu”. Hatim al- Asam juga pernah berkata “Perkara yang terburu- buru datangnya dari syaitan kecuali lima perkara : Memberi makan tamu Tajhiz mayat Menikahkan anak gadis Membayar hutang Taubat. Begitu juga pada acara Walimatul Ursy ,sebagian ulama berpendapat; Walimah hari pertama Hukumnya sunah, Hari kedua Mubah (baik) Sedangkan walimah hari ketika adalah riya. 2. Menikmati makanan yang telah dihidangkan secara teratur. sesuai dengan anjuran medis yaitu mencicipi buah-buahan terlebih dahulu jika ada, yang khasiatnya lebih cepat dicerna dan sehat karena lebih awal berada pada dasar perut. Setelah buah-buahan, maka dianjurkan lagi untuk mencicipi daging dan tsarid (roti yang direndam dengan kuah). Nabi pernah bersabda bahwa kelebihan Aisyah dengan wanita lainnya yaitu seperti kelebihan tsarid dengan makanan lainnnya. Menandakan bahwa tsarid adalah mananan yang sangat dianjurkan untuk dikonsumsi. jika ditambah lagi dengan mengonsumsi makanan yang manis sesudah daging maka berkumpullah segala jenis kebaikan didalam tubuhnya yang mewarisi kepada ridha Allah SWT. kemudian dianjurkan untuk meminum air putih serta mencuci tangan dengan air hangat. 3. Menyajikan hidangan yang ringan/lunak terlebih dahulu. sementara kebiasaan orang yang bermewah-mewahan mereka lebih utama mendahulukan makanan berat (bersifat cepat mengenyangkan) sehingga mudah terbangkitnya syahwat untuk mencicipi makanan ringan setelahnya, namun ini sebalik sunah nabi karena dianggap mencari cara untuk memperbanyak makan. Sebagian dari sunah para pendahulu, mereka menyajikan segala jenis makanan sekaligus dan meletakkan piring diantara hidangan tersebut supaya tamu dapat memilih sendiri makanan mana yang mereka inginkan dan. Dikisahkan sebagian para sahabat terdahulu mereka menyediakan selembar kertas dan menulis segala menu makanan yang telah disediakan dan kemudian mereka menampilkannya kepada para tamu, sehingga para tamu nantinya dapat memilih makanan mana yang mereka inginkan. 4. Jangan bersegera memindahkan semua hidangan sebelum selesainya para tamu menikmatinya karena terkadang ada sebagian hidangan yang lebih disukai para tamu. 5. Menyajikan makanan sesuai dengan kadar kebutuhan, jangan sampai kurang ataupun berlebihan, karena menyedikitkan dari kadar keperluan dapat menurunkan muruah/ martabat pemilik hidangan serta terlalu berlebihan pada menyajikan hidangan merupakan sikap berpura- pura dan riya’ apalagi terdapat perasaan tidak rela jika semua hidangan dihabiskan kecuali ada niat yang baik dari pemilik makanan untuk memperoleh keberkahan dari para tamu dengan memakan kembali sisa makanan yang tidak habis dimakan oleh tamu. Dikisahkan, Ibrahim bin Adham pernah menghidangkan makanan yang banyak kemudian Sufyan bertanya ” Wahai Aba Ishak apakah tidak engkau takut semua ini akan berlebihan ? lalu Ibrahim bin Adham pun menjawab ” tidak ada istilah berlebihan pada makanan”. Sikap Ibrahim bin Adham disini melebihkan makanan dengan tujuan yang baik, akan tetapi jika tidak ada niat yang baik dalam menyajikan makanan yang banyak maka dianggap memberatkan diri sendiri. Ibnu Mas’ud RA juga mengatakan, kami pernah dilarang untuk menerima undangan seseorang yang berbangga-bangga dalam menyajikan hidangan. dan juga satu golongan dari sahabat yang tidak suka mencicipi makanan orang yang berbangga- bangga. Ibnu Mas’ ud sendiri tidak pernah menyajikan hidangan dihadapan Rasulullah dengan berlebihan namun hanya sekedar keperluan saja. Dianjurkan pula sebelum makanan dihidangkan, ahli bait ada baiknya memisahkan sebagian makanan tersebut untuk dirinya dan keluarganya supaya nantinya mereka tidak menginginkan makanan yang telah dihidangkan itu tersisa kembali jikalau tidak diambil separuh, andaikata nanti hidangannya habis maka mereka tidak akan rela, sehingga timbulnya perasaan dan perkataan yang tidak baik kepada para tamu. Hidangan yang tersisa setelah perjamuan bukanlah milik tamu sehingga menurut ahli sufi hukumnya dosa mengambil hidangan tersebut untuk dibawa pulang oleh tamu, kecuali diberikan izin dan ridha dari tuan rumah, ataupun diketahui dengan indikasi bahwasanya pemilik hidangan senang jika hidangannya yang lebih dibawa pulang oleh tamu namun jika ada dugaan tidak senangnya pemilik rumah jika diambil makanan yang tersisa tadi maka dengan demikian tamu tidak boleh mengambilnya. Referensi Ihya Ulumuddin, cet Dar- al-Fikri, jld 2, hal.18-20* ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an