Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

CAHAYA DI ATAS CAHAYA: KEAJAIBAN HUSNUZAN KEPADA ALLAH

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎CAHAYA DI ATAS CAHAYA: KEAJAIBAN HUSNUZAN KEPADA ALLAH ‎ ‎Dalam Al-Qur’an, salah satu kisah yang paling mengajarkan kita tentang penerimaan takdir adalah kisah keluarga Imran. Terkadang, kita meminta sesuatu kepada Allah, namun Allah memberikan sesuatu yang berbeda. Kita mengira itu adalah kegagalan, padahal itulah awal dari kemuliaan yang lebih besar. ‎ ‎Allah mengabadikan doa istri Imran (ibunda Maryam) yang sangat berharap memiliki anak laki-laki untuk berkhidmat di Baitul Maqdis: ‎فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَىٰ “Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.’” (QS. Āli ‘Imrān: 36) ‎ ‎Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ada nada kesedihan dan permintaan maaf dari istri Imran karena ia merasa tidak bisa memenuhi nazarnya. Namun, Allah justru memberikan kalimat penegas: “Dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya.”. Allah tahu bahwa anak perempuan ini (Maryam) akan menjadi jalan bagi lahirnya mukjizat besar, yaitu Nabi Isa ‘alaihissalām. ‎ ‎Penerimaan yang tulus atas takdir ini membuahkan hasil yang luar biasa: ‎فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا “Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik.” (QS. Āli ‘Imrān: 37) ‎ ‎Menurut Tafsir al-Sa’di, “penerimaan yang baik” (Qabūlin Ḥasan) berarti Allah melimpahkan keberkahan yang tidak pernah diberikan kepada anak laki-laki manapun pada saat itu. Maryam dipilih menjadi wanita terbaik sepanjang masa karena keteguhan hatinya dalam menjaga kehormatan dan ketaatan kepada Allah. ‎ ‎Dari kisah ini, kita belajar bahwa standar “baik” menurut manusia seringkali berbeda dengan standar “baik” menurut Allah. Kita sering bersedih karena merasa doa kita “salah alamat” atau rencana kita gagal total. Padahal, bisa jadi kegagalan itu adalah cara Allah menyelamatkan kita dari sesuatu yang lebih buruk, atau cara Allah menyiapkan kita untuk menerima kejutan yang lebih agung. ‎ ‎Jangan pernah berburuk sangka kepada Allah ketika rencana hidupmu berantakan. Tugas kita hanyalah menanam niat yang tulus dan melakukan yang terbaik, lalu biarkan Allah yang mengatur hasilnya. Sebagaimana Maryam, jika kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada pengaturan-Nya, maka Allah sendiri yang akan mengasuh urusan kita dan menumbuhkan kebahagiaan dari jalan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

DOA PALING TULUS SAAT SEMUA SEBAB TERPUTUS

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎DOA PALING TULUS SAAT SEMUA SEBAB TERPUTUS ‎ ‎Di antara kisah yang paling menenangkan hati dalam Al-Qur’an adalah kisah Nabi Zakaria ‘alaihissalām. Allah mengabadikan doa beliau ketika segala sebab secara lahir telah terputus. Usia telah lanjut, tulang melemah, rambut memutih, dan istri yang mandul. Namun, keadaan itu tidak memadamkan harapan seorang nabi kepada Rabb-nya. ‎Allah berfirman: ‎هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ ‎“Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya, ia berkata: ‘Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.’” (QS. Āli ‘Imrān: 38) ‎ ‎Dalam ayat lain, Allah menggambarkan betapa lemahnya kondisi Nabi Zakaria saat berdoa: ‎قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُن بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا ‎“Ia berkata: ‘Wahai Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku dipenuhi uban, namun aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku.’” (QS. Maryam: 4) ‎ ‎Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa Nabi Zakaria menyebutkan kelemahan dirinya bukan untuk mengeluh, melainkan sebagai bentuk ketundukan dan pengakuan bahwa segala urusan berada sepenuhnya di tangan Allah. Penyebutan kondisi lemah itu justru menjadi sebab diterimanya doa, karena menunjukkan keikhlasan dan tawakal yang sempurna. ‎ ‎Allah pun menjawab doa tersebut dengan cara yang tidak disangka: ‎فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى ‎“Kemudian para malaikat memanggilnya ketika ia sedang berdiri shalat di mihrab, bahwa Allah memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya.” (QS. Āli ‘Imrān: 39) ‎ ‎Menurut Tafsir al-Qurthubi, pengabulan doa Nabi Zakaria menunjukkan bahwa terputusnya sebab-sebab secara lahir tidak menghalangi kekuasaan Allah. Justru doa yang dipanjatkan dalam keadaan paling lemah adalah doa yang paling dekat dengan ijabah. ‎ ‎Dari kisah ini, kita diajarkan untuk tidak berhenti berdoa, betapa pun sulit dan sempit keadaan. Selama seorang hamba masih mengangkat tangan dan menggantungkan harap kepada Allah, maka pintu langit tidak pernah tertutup. Doa mampu mengubah takdir, menolak keburukan, dan menghadirkan pertolongan dengan izin-Nya. ‎ ‎Sebagaimana ditegaskan oleh para ulama, doa bukan hanya permintaan, tetapi ibadah dan bukti ketergantungan total kepada Allah. Ia adalah senjata orang beriman dan penguat hati orang yang bersabar. ‎ ‎Maka jangan lelah berdoa dan jangan berputus asa berharap. Ketika sebab terputus di mata manusia, di sisi Allah justru terbuka jalan yang tidak pernah kita sangka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Pengumuman

Dayah Raudhatul Qur’an Gelar Kegiatan Riyadhah Ramadhan

Dayah Raudhatul Qur’an Gelar Kegiatan Riyadhah Ramadhan Dayah Raudhatul Qur’an Tungkop, Darussalam, Aceh Besar kembali mengadakan kegiatan Riyadhah Ramadhan sebagai bagian dari penguatan ibadah dan pembinaan spiritual umat Islam selama bulan suci Ramadhan. Kegiatan ini akan dilaksanakan mulai puasa ke-1 hingga puasa ke-10 Ramadhan dan terbuka untuk umum, baik laki-laki maupun perempuan. Riyadhah Ramadhan ini dirancang sebagai wadah untuk memperbanyak ibadah, mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta menghidupkan suasana Ramadhan dengan berbagai amalan sunnah dan wajib secara berjamaah. Peserta akan mengikuti rangkaian kegiatan ibadah yang terstruktur dan dibimbing oleh para pengajar Dayah Raudhatul Qur’an. Adapun kegiatan yang dilaksanakan meliputi Qiyamul Lail, shalat rawatib, shalat tarawih, shalat tahajud, shalat dhuha, shalat taubat, shalat hajat, istighfar, shalawat Nabi, doa bersama, qira’ah dan khatam Al-Qur’an, serta pengajian kitab. Seluruh rangkaian kegiatan ini bertujuan untuk membentuk pribadi yang lebih disiplin dalam ibadah dan memperdalam pemahaman keislaman. Untuk mendukung kenyamanan peserta, panitia juga menyediakan berbagai fasilitas, antara lain tempat tidur, kamar mandi, berbuka puasa bersama, dan sahur bersama. Peserta yang mengikuti kegiatan ini dikenakan infaq sebesar Rp500.000 sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan. Bagi masyarakat yang berminat mengikuti Riyadhah Ramadhan ini, dapat melakukan konfirmasi pendaftaran melalui 0813 6055 8577 (Ummi). Dayah Raudhatul Qur’an berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana meningkatkan kualitas ibadah serta memperkuat ukhuwah Islamiyah selama bulan Ramadhan.

Tausiah LDRQ

Kenapa Makruh Salat pada Waktu Tertentu?

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Kenapa Makruh Salat pada Waktu Tertentu? Ketahuilah bahwa ada hikmah yang agung di balik semua kejadian, tidak ada yang sia-sia di balik perintah Allah Yang Maha Bijaksana kepada kita untuk menunaikan shalat dengan sifat-sifat (cara) tertentu. Sayangnya, tidak semua orang memahami hikmah agung tersebut sehingga sebagian orang ada yang berkata bahwa shalat adalah hukum-hukum yang bersifat ta’abbudi (tidak bisa dinalar akal). Sebaliknya, orang yang telah diberi ilmu, hikmah, dan kejernihan mata batin, akan dapat mengerti secara jelas bahwa Allah Yang Maha Bijaksana seperti dokter yang memberikan obat kepada pasien sesuai dengan keadaan yang dikehendaki. Sedangkan jiwa itu bagaikan seorang pasien yang membutuhkan obat dengan sifat dan tata cara tertentu. Sebagaimana yang telah maklum bahwa satu-satunya tujuan dari pembebanan hukum (taklif) kepada kita (manusia) berupa shalat adalah untuk kebahagiaan manusia itu sendiri baik di dunia maupun di akhirat kelak nanti serta agar seorang hamba dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dalam pelaksanaannya, shalat dikerjakan pada waktu-waktu tertentu sebagaimana telah diatur dalam syariat Islam, ada waktu fadhilah (waktu yang paling utama untuk mengerjakan shalat), waktu ikhtiar, jawaz (boleh), makruh bahkan haram. Adapun makruh mengerjakan shalat pada beberapa waktu tertentu adalah merujuk kepada sebuah tradisi orang-orang musyrik melaksanakan ritual ibadah untuk sembahan mereka, yang pada waktu tersebut dimakruhkan mengerjakan shalat bagi umat Islam. Oleh sebab itu, Allah Yang Maha Bijaksana ingin mendidik dan menambah kesempurnaan diri manusia dengan tidak menyerupakan diri kita dengan orang-orang musyrik di dalam ibadah mereka. Termasuk di antaranya adalah manusia dimakruhkan melakukan shalat di hadapan patung atau benda fisik lainnya untuk menghindari fitnah dan menyerupai kaum paganis (penyembah berhala). Hukum makruh mengerjakan shalat pada beberapa waktu tertentu itu hanya berlaku bila dikerjakan di luar Baitul Haram saja, sedangkan bila dikerjakan di dalamnya maka tidak dihukum makruh, sehingga muncul sebuah pertanyaan “kenapa shalat hanya makruh dikerjakan pada waktu-waktu tertentu di tempat lain selain Baitul Haram, namun hukum makruh tersebut tidak berlaku bila shalat dikerjakan di dalam Baitul Haram?” Ini merupakan salah satu keistimewaan yang terdapat pada Baitul Haram. Sebab ketika terdapat eksistensi Baitul Haram dalam diri orang Islam, maka ia tidak akan menyerupakan dirinya dengan orang-orang musyrik dan majusi. Selain itu, karena Baitul Haram adalah rumah pertama yang dibangun untuk manusia. Diriwayatkan bahwa Nabi saw. melarang shalat ketika terbit matahari dan beliau bersabda, “Sesungguhnya waktu tersebut muncul di antara dua tanduk setan yang menghiasi mata orang yang menyembahnya hingga orang tersebut bersujud kepadanya. Di kala matahari naik (terbit), maka jangan lakukan salat. Di kala matahari berada di puncak waktu zuhur, maka jangan lakukan salat. Dan di kala matahari terbenam, maka jangan lakukan salat. Oleh sebab itu janganlah kalian shalat di waktu-waktu tadi (terbit dan terbenam matahari)”. Nabi SAW melarang shalat pada waktu-waktu ini tanpa menjelaskan secara detail. Beliau hanya menyebut secara umum dan global, sekaligus menjelaskan hikmah di balik larangan tersebut, yaitu karena waktu tersebut muncul dari dua tanduk setan. Mengapa demikian? Sebab sebagian orang menyembah matahari dan bersujud padanya ketika muncul matahari sebagai penghormatan pada matahari. Ketika tengah hari untuk menyempurnakan penghormatan tersebut dan ketika terbenam sebagai perpisahan dalam penyembahan. Karena itu, setan datang dan menjadikan matahari di antara dua tanduknya supaya mereka bersujud kepadanya. Dengan kata lain, Nabi saw melarang shalat pada waktu-waktu tersebut agar umat Islam tidak menyerupai (mengikuti) perbuatan para penyembah matahari maka jelaslah semua alasan dimakruhkannya shalat pada waktu-waktu tersebut. Sumber: Ali bin Ahmad al-Jarjawi, Hikmah al-Tasyri’ Wa falsafatuh, Cet. Beirut, DKI, 1971, h. 57. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Uncategorized

Selamat Hari Jadi ke-37 Serambi Indonesia

Selamat Hari Jadi ke-37 Serambi Indonesia 9 Februari 1989 – 9 Februari 2026 Keluarga Besar Dayah Raudhatul Qur’an mengucapkan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Serambi Indonesia atas perjalanan panjang selama 37 tahun sebagai media informasi yang konsisten, kredibel, dan berimbang. Semoga Serambi Indonesia terus menjadi sumber informasi terpercaya, mencerdaskan masyarakat, serta menjadi rujukan utama dalam menyampaikan dinamika sosial, budaya, dan pembangunan Aceh kepada publik luas. Dengan semangat profesionalisme dan independensi jurnalistik, semoga Serambi Indonesia senantiasa berjaya, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan tetap berpihak pada kebenaran serta kepentingan masyarakat. Selamat ulang tahun ke-37 Serambi Indonesia.Terus berkarya untuk Aceh dan Indonesia.