Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

MENGUBAH SUDUT PANDANG MENGHADAPI BADAI KEHIDUPAN

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎MENGUBAH SUDUT PANDANG MENGHADAPI BADAI KEHIDUPAN ‎ ‎Bukan besarnya gelombang yang menentukan tenggelamnya sebuah perahu, melainkan bagaimana ketangguhan nakhoda dalam mengendalikan kemudi. Begitu pula dalam kehidupan, ujian adalah keniscayaan yang menyapa setiap jiwa. Sebagian orang terjebak dalam keluhan sambil meratapi kapan penderitaannya akan usai, sementara jiwa yang matang memilih merenungi bagaimana cara bersikap agar badai tersebut mendewasakan batin dan merekatkan hubungannya dengan Sang Pencipta. ‎ ‎Langkah awal untuk menata batin adalah menyadari bahwa ujian merupakan hukum alam penciptaan, bukan tanda bahwa Allah berpaling atau murka. Dalam QS. Al-Baqarah: 155, Allah SWT telah menegaskan ketetapan ini: ‎وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ “Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” ‎ ‎Setiap duri kepedihan, rasa lelah, maupun air mata yang menetes sesungguhnya berfungsi sebagai penggugur noda kekhilafan dan pengangkat derajat seorang mukmin di hadirat-Nya. Beban tersebut pun tidak pernah diletakkan secara serampangan di pundak kita. Allah SWT menegaskan batas ukurannya dalam QS. Al-Baqarah: 286: ‎لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.” ‎ ‎Ketika rasa putus asa mulai membisikkan bahwa kita tidak lagi sanggup bertahan, ingatkanlah diri bahwa Sang Pencipta telah menakar kekuatan kita jauh lebih presisi daripada perkiraan kita sendiri. Bersamaan dengan himpitan tersebut, benih kelapangan sesungguhnya telah disemai sejak awal, sebagaimana janji-Nya dalam QS. Al-Insyirah: 5–6: ‎فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” ‎ ‎Al-Qur’an menggunakan kata “beserta”, menandakan bahwa jalan keluar tidak hadir belakangan, melainkan berjalan berdampingan dengan masalah itu sendiri, menunggu kepekaan nurani kita untuk menemukannya. ‎ ‎Menghadapi kenyataan pahit tentu bukan bermakna berdiam diri dalam kepasrahan yang pasif. Sikap seorang mukmin bergerak dinamis memadukan ikhtiar nyata dan kepasrahan tawakal yang bulat, layaknya seekor burung yang tetap mengepakkan sayap terbang di pagi hari dalam kondisi lapar, lalu kembali saat senja dalam keadaan kenyang. Ketika usaha telah dimaksimalkan dan doa terus dilangitkan dengan ketakwaan, Allah SWT sendiri yang menjamin jalan keluar dari arah yang tak pernah terlintas di benak kita, sebagaimana termaktub dalam QS. At-Talaq: 2–3: ‎وَمَنْ يَتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barang siapa bertakwa kepada Allah, Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” ‎ ‎Ujian hidup pada hakikatnya tidak datang untuk meremukkan, melainkan untuk menuntun kita kembali bersujud, merapatkan jarak yang sempat renggang dengan-Nya, dan membuktikan seberapa kokoh iman yang bersemayam di dalam dada. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Agar Tidak Terikat Hati dengan Kebaikan Manusia

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Agar Tidak Terikat Hati dengan Kebaikan Manusia Dalam realita kehidupan, seseorang pasti tidak akan terlepas dari kebaikan manusia lainnya. Ketika seseorang mendapatkan kebaikan baik berupa hadiah, sedekah, suatu pertolongan atau perlakuan baik lainnya dari seseorang yang lain, umumnya seseorang tersebut akan merasa berjasa, terikat hati atau merasa tidak enakan dengan orang yang berbuat baik kepadanya tersebut. Lalu bagaimana supaya rasa tersebut tidak membebani hati seseorang? Ibnu Athailllah as-Sakandari dalam Syarah Hikam pernah menguraikan penjelasan tersebut. Beliau mengatakan bahwa seseorang yang telah berbuat baik kepadamu maka sungguh engkau telah diperbudak dengan wujud nikmat yang telah diberikannya. Maka karena demikian Rasulullah pernah berkata dalam untaian sabdanya, bahwa siapa saja yang berbuat baik kepadamu maka balaslah kebaikan tersebut sesuai dengan kebaikan yang diberikan namun jika engkau tidak sanggup membalasnya maka doakanlah kebaikan kepada Allah untuknya supaya hati engkau terlepas dari belenggu kebaikan yang telah diperbuat seseorang kepadamu dan hanya kepada Allah terikat hatimu karena sesungguhnya Allah-lah yang memberi kebaikan kepadamu dan manusia hanya perantara saja, Namun bila adanya balasan kebaikan disertai adanya doa maka itu lebih sempurna. Pernah diceritakan bahwa Rasullullah pernah diberi hadiah satu tabak yang berisi kurma dan mentimun oleh bintu mikwat dan secara bersamaan Rasullullah pun baru saja dihadiahi satu genggam emas. Setelah bintu mikwat memberi kepada nabi tabak yang berisi kurma dan mentimun tersebut maka nabi langsung membalasnya dengan satu genggam emas yang ada padanya. Padahal nilai dan harga dari satu tabak yang berisi kurma dan mentimun sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan harga satu genggam emas.sangat jauh bandingannya seperti langit dan bumi. Jangankan kebaikan, keburukanpun Rasulullah membalasnya dengan kebaikan, bahkan nabi sangat gemar memberi atau dermawan sehingga apa saja yang dimilikinya beliau sumbangkan untuk keperluan umatnya dan untuk agamanya. Pada hakikatnya Rasulullah sangatlah kaya, beliau mendapatkan harta ghanimah, harta fai’ dan harta harta lainnya dalam Islam dan jika beliau mau para sahabat akan memberikan harta mereka untuk beliau karena janganpun harta nyawapun mereka korbankan untuk Rasulullah walaupun demikian semua harta tersebut Rasullullah sumbangkan semuanya untuk kepentingan umat dan agamanya tidak tersisa satu dirhampun disisinya untuk esok hari. Begitu pula dengan saidina Abu Bakar ketika menyumbangkan hartanya untuk peperangan, beliau menyumbangkan semuanya, tidak tersisa sedikitpun untuk dirinya dan ketika nabi bertanya kepada Abu bakar ” apa yang tersisa di sisimu Abu bakar” beliau menjawab “Allah dan Rasulnya” Begitulah gambaran kedermawanan dan kecintaan mereka kepada hamba Allah yang lain dan pada Agama Allah. ومن أحسن اليك فقد استرقك بوجود امتنانه ولذلك قال صل لله عليه وسلم : من أسدى اليكم معروفا فكافئوه فان لم تقدروا فادعو الله له كل ذلك ليتخلص القلب من احسان الخلق وليتعلق بالملك الحق Referensi Syarah Hikam jilid 2 hlm. 58 cet.Dar al-Ihya indonesia. والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Hukum Berburuk Sangka dalam Hati

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Hukum Berburuk Sangka dalam Hati Buruk sangka (su’uz zhan) tidak hanya dapat dilakukan secara lisan. Buruk sangka juga dapat dilakukan oleh seseorang di dalam hati. Buruk sangka di dalam hati merupakan tindakan yang dilarang sebagaimana buruk sangka secara lisan. Buruk sangka di sini bermakna keyakinan seseorang di dalam hati, bukan sekadar dugaan, syak, keraguan belaka. Keterangan seperti ini dapat ditemukan pada Kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali: اعلم أن سوء الظن حرام مثل سوء القول فكما يحرم عليك أن تحدث غيرك بلسانك بمساوئ الغير فليس لك أن تحدث نفسك وتسيء الظن بأخيك ولست أعني به إلا عقد القلب وحكمه على غيره بالسوء Artinya, “Ketahuilah, buruk sangka diharamkan sebagaimana buruk perkataan. Sebagaimana diharamkan menceritakan keburukan orang lain dengan lisanmu, kamu juga tidak boleh menceritakan dirimu dan berburuk sangka kepada saudaramu. Yang saya maksud tidak lain adalah keyakinan dan kemantapan hati atas keburukan orang lain,” (Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439 H-1440 H], juz III, halaman 155). Islam secara tegas menganjurkan umat manusia untuk menghindari buruk sangka. Buruk sangka merupakan perbuatan dosa sebagaimana keterangan Surat Al-Hujurat ayat 12. فقد قال الله تعالى يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا ٱجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ Artinya, “Allah berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, Jauhilah banyak prasangka karena sebagian prasangka mengandung dosa,’” (Surat Al-Hujurat ayat 12). Imam Al-Ghazali menyebutkan penyebab keharaman buruk sangka. Menurutnya, rahasia setiap orang hanya diketahui oleh Allah yang maha tahu akan yang ghaib sehingga kamu tidak boleh berburuk sangka dalam hatimu kecuali ada penglihatan jelas secara mukasyafah yang tidak mungkin dita’wil. Sampai di sini, kamu tidak mungkin selain meyakini apa yang kamu tahu dan saksikan. Informasi yang tidak kamu saksikan secara kasatmata dan tidak kamu dengar dengan telingamu, kemudian hadir di dalam pikiranmu, maka sesungguhnya setan telah melemparkan narasinya ke dalam batinmu. Dalam pada ini, kamu seharusnya mendustakan bisikan tersebut karena ia adalah makhluk paling fasik. Buruk sangka yang dibisikkan setan juga berpotensi merusak hubungan sosial sebagaimana Surat Al-Hujurat ayat 6. يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَٰلَةٍ Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya,” (Surat Al-Hujurat ayat 6). Larangan buruk sangka juga dapat ditemukan pada hadits Rasulullah saw. Dalam hadits nabi saw, umat Islam dilarang untuk menganiaya fisik dan menzalimi harta seorang Muslim, serta berburuk sangka kepada mereka. وقد قال صلى الله عليه وسلم إِنَّ اللهَ حَرَّمَ مِنَ المُسْلِمِ دَمَه ومَالَه وَأَنْ يَظُنَّ بِهِ ظَنَّ السُّوْءِ Artinya, “Rasulullah saw bersabda, ‘Allah mengharamkan (penumpahan) darah dan (pengambilan) harta umat Islam, serta berburuk sangka terhadapnya,’ (HR Baihaqi dan Ibnu Majah),” (Al-Ghazali, 2018 M/1439 H-1440 H: III/155). ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Apakah Doa Anak yang Tidak Saleh Tetap Berguna bagi Orang Tuanya?

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Apakah Doa Anak yang Tidak Saleh Tetap Berguna bagi Orang Tuanya? Sebuah hadits menyebutkan bahwa doa anak yang saleh, salah satuunya, dapat berguna bagi kedua orang tuanya yang sudah meninggal dunia. Hadits tersebut hanya menyebutkan doa anak yang saleh. Tetapi hadits tersebut tidak menyebutkan efek doa anak yang tidak saleh bagi kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia. Sebelum masuk ke dalam pembahasan doa anak yang tidak saleh, ada baiknya kita kutip hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang menyebutkan amal yang terus berlanjut meski seseorang telah meninggal dunia. عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاثة صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له Artinya, “Dari sahabat Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, ‘Bila seseorang meninggal dunia, maka amalnya terputus kecuali berasal dari tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya,’” (HR Bukhari dan Muslim). Benar sekali bahwa hadits riwayat Bukhari dan Muslim ini tidak menyebut doa anak yang tidak saleh. Apakah Allah hanya mencatat aliran pahala dari doa anak yang saleh. Sedangkan doa anak yang tidak saleh ditolak karena ketidaksalehannya? Masalah ini menarik perhatian Imam Al-Ghazali. Dalam Kitab Ihya Ulumiddin, Imam Al-Ghazali membantah klaim sebagian orang yang mengatakan bahwa doa anak yang tidak saleh bagi kedua orang tuanya tidak berguna karena ketidaksalehannya sebagaimana keterangan hadits Bukhari dan Muslim tersebut. Imam Al-Ghazali mengakui bahwa hadits itu hanya menyebutkan doa anak yang saleh. Tetapi secara umum, kesalehan itu melekat pada anak-anak orang yang beriman, terlebih anak orang-orang yang teguh dalam beragama. Mereka dapat dikatakan sebagai anak yang saleh meski juga melakukan dosa dan berbuat fasik. وقول القائل إن الولد ربما لم يكن صالحا لا يؤثر فإنه مؤمن والصلاح هو الغالب على أولاد ذوي الدين لا سيما إذا عزم على تربيته وحمله على الصلاح وبالجملة دعاء المؤمن لأبويه مفيد برا كان أو فاجرا فهو مثاب على دعواته وحسناته فإنه من كسبه وغير مؤاخذ بسيئاته فإنه لا تزر وازرة وزر أخرى Artinya, “Seseorang berkata, ‘Anak kadang tidak saleh sehingga doanya tidak berpengaruh bagi kedua orang tua. Padahal ia mukmin.’ Kesalehan sudah umum pada keturunan orang beragama, terlebih kalau orang bertekad mendidik dan mengantarkannya pada kesalehan. Secara global, doa orang beriman untuk kedua orang tuanya tetap berguna baik ia anak berbakti maupun anak durhaka. Kedua orang tuanya akan tetap diberi pahala atas doa dan kebaikan anaknya karena itu bagian dari ikhtiarnya dan ia tidak akan disiksa karena dosa keturunannya. Pasalnya setiap orang tidak menanggung dosa orang lain,” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439-1440 H], juz II, halaman 30). Imam Al-Ghazali berpijak pada Surat At-Thur ayat 21 di dalam membangun argumentasinya. Ia mengutip Surat At-Thur ayat 21. وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَٰهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍ ۚ كُلُّ ٱمْرِئٍۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ Artinya: “Orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan keturunan mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat pada apa yang dikerjakannya,” (Surat At-Thur ayat 21). Menurut Imam Al-Ghazali, Allah berdasarkan Surat At-Thur ayat 21 tidak akan mengurangi pahala kedua orang tua yang telah meninggal karena amal fasik dan dosa yang diperbuat anaknya yang masih hidup. Sebaliknya, Allah menjadikan kehidupan anak mereka sebagai tambahan pahala bagi kedua orang tuanya. (Al-Ghazali, 2018 M/1439-1440 H], II/30). ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an