Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

GARIS AKHIR YANG PASTI KITA TUJU

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎GARIS AKHIR YANG PASTI KITA TUJU ‎ ‎Sebagian orang mengira bahwa mereka yang telah terbujur di bawah gundukan tanah sudah pasti beristirahat dengan damai dan terbebas dari segala kepedihan. Padahal, kita yang masih menginjak bumi tidak pernah tahu bagaimana nasib mereka di alam barzakh sana; apakah pembaringan itu menjelma menjadi salah satu taman surga yang harum semerbak, atau justru berubah menjadi ruang sempit yang dipenuhi rintihan penyesalan. Mereka yang kini terdiam di dalam tanah pun dahulunya sama seperti kita: pernah tertawa lepas, merajut impian panjang, memeras peluh mengejar karier, dan begitu mencemaskan urusan hari esok. ‎ ‎Namun, ketukan maut seketika memutus segala rantai rencana tersebut. Tumpukan materi yang dikumpulkan dengan susah payah tak lagi dapat disentuh, kedudukan sosial yang dibanggakan menguap tanpa sisa, dan orang-orang terkasih yang biasa mendampingi hanya bisa mengantar hingga tepi liang lahat lalu berbalik melangkah pulang, meninggalkan jasad itu sendirian dalam kesunyian yang pekat. ‎ ‎​Sungguh sebuah kerugian besar jika hari-hari kita habis hanya untuk memoles urusan duniawi yang fana, hingga alpa menyiapkan perbekalan untuk perjalanan panjang yang abadi. Cepat atau lambat, giliran kita pasti akan tiba untuk menyusul mereka. Raga yang setiap hari kita rawat dan beri kenyamanan ini akan kaku tak berdaya, keberadaan kita perlahan hanya tinggal kenangan di lembaran doa, dan tanah merah akan menjadi atap penutup raga kita. ‎ ‎​Selagi dada ini masih naik turun menyerap udara, bersegeralah membasahi lisan dengan istigfar, merapatkan barisan sujud, merajut taubat yang tulus, serta menebar kebaikan kepada sesama. Jangan pernah menunda ketaatan hingga rambut memutih, jangan menunggu tubuh remuk oleh penyakit baru mencari sajadah, dan jangan menunggu keranda dipikul baru menangisi tumpukan khilaf. Sebab ketika waktu telah habis, pintu ikhtiar telah tertutup rapat, dan yang tersisa hanyalah harapan cemas menanti kucuran rahmat dari Sang Maha Pengampun. ‎ ‎​Di sela-sela langkah yang kian mendekati tepian ajal ini, mari kita basahi bibir dengan untaian munajat: ‎​اللَّهُمَّ أَحْسِنْ خَوَاتِيمَنَا ​“Ya Allah, baguskanlah akhir kehidupan kami.” ‎​Semoga Allah SWT senantiasa mengikis noda-noda dosa kita, menerangi serta meluaskan pembaringan terakhir kita kelak, dan menjaga hati agar tidak terlena oleh bujuk rayu duniawi. Sebab pada akhirnya, kepulangan adalah sebuah kepastian, dan kemuliaan sejati bukan diukur dari seberapa lama jatah usia kita di dunia, melainkan dalam keadaan jiwa seperti apa kita melangkah menghadap-Nya. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Menjauhi Su’uzon dan Meningkatkan Husnuzon

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Menjauhi Su’uzon dan Meningkatkan Husnuzon Penyakit hati berupa prasangka buruk (su’uzon) ini bukan perkara ringan dan remeh. Ia adalah penyakit berbahaya yang dapat membunuh iman, dan orang yang dihinggapi penyakit ini merupakan orang yang jauh dari ketakwaan. Sehingga ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai hal ini ditutup dengan perintah untuk bertakwa dan bertaubat. Allah SWT berfirman: يا ايّها الذين أمنوااجْتَنِبُوا كَثيرًا من الظَّنِّ* إن بعضَ الظنِّ إثْمٌ ولا تجَسَّسُوا ولا يَغْتَبْ بعضُكم بعضًا* أيُحِبُّ احدُكم أن يأكُلَ لحْمَ أخِيه مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوه* واتّقوااللهَ إنّ اللهَ توّابٌ رحيم “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu sekalian yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12) Prasangka yang banyak mengandung dosa dan dilarang dalam ayat di atas adalah prasangka buruk. Prasangka buruk memang bukan sebuah tindakan dan aksi nyata, tetapi ia adalah penyakit hati yang bisa menggerakkan manusia berbuat sesuatu yang tercela. Oleh karena itu, meskipun su’uzon merupakan prasangka di dalam hati, ia tetap dilarang karena banyak mengandung dosa. Bahkan dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyebut prasangka (buruk) sebagai “ucapan” yang paling dusta. Beliau bersabda: اِيّاكُم والظنَّ فاِن الظنَّ اَكْذَبُ الحَدِيث “Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta.” (HR. Al-Bukhari) Hadits di atas sangat penting untuk direnungkan dan dipahami karena penyakit hati berupa prasangka buruk merupakan maksiat yang samar dan terkadang diremehkan oleh manusia. Padahal Rasulullah SAW menyamakan prasangka buruk yang hanya berupa pikiran dan belum diucapkan itu dengan ucapan, bahkan ia disamakan dengan perkataan yang paling dusta. Pernyataan Rasulullah SAW yang menyejajarkan prasangka buruk sebagai ucapan atau perkataan yang paling dusta itu merupakan pelajaran penting dan penggambaran lugas serta mendalam. Nabi Muhammad menunjukkan betapa keji dan jahatnya prasangka buruk. Di zaman canggih saat ini, mudahnya komunikasi menggunakan perangkat elektronik dan maraknya penggunaan media sosial, prasangka buruk menjadi kekejian yang mengerikan. Hati dan jiwa yang dipenuhi kebencian dan mengedepankan prasangka buruk kepada orang-orang yang tidak disukai mendapatkan tempat dan rumah bersama lalu melahirkan caci maki, fitnah, dan hasutan bahkan sampai pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Kalau prasangka buruk saja merupakan dosa serius dan disamakan dengan ucapan yang paling dusta, begitu juga dengan caci maki, fitnah, hasutan, dan ujaran kebencian yang dihasilkan oleh prasangka buruk itu. Barangkali, masyarakat yang kini gandrung dengan gadget (gawai) sudah seharusnya sering merenung. Yaitu fitnah, tuduhan-tuduhan keji, hasutan, dan caci maki yang barangkali pernah diucapkan atau ditulis dan disebarkan di media-media sosial, maupun grup WhatsApp dan lain sebagainya. Kira-kira berapa persen yang didasari oleh kebenaran pasti? Buruk sangka bukanlah ciri orang beriman. Orang beriman itu lebih mendahulukan prasangka baik, kepada siapa pun, termasuk kepada Allah. Bahkan Imam Syafi’i, berwasiat kepada umat Islam, agar siapa pun yang ingin meninggal dunia dalam keadaan husnul khotimah maka hendaknya ia selalu berprasangka baik kepada manusia. Berbaik sangka ini bukan hanya diperintahkan kepada sesama manusia, tetapi juga kepada Allah SWT. Artinya kita diperintahkan untuk berprasangka baik bahwa Allah akan memperlakukan kita dengan baik, akan memberikan kita kebahagiaan, akan menyelamatkan kita di akhirat. Dan jika kita berprasangka baik kepada Allah, maka Allah akan memperlakukan kita sebagaimana prasangka baik kita itu. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah ta’ala berfirman: انَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاء “Aku ‘mengikuti’ prasangka hamba-Ku kepada-Ku, maka silakan berprasangka apa saja terhadap-Ku.” (HR. Ahmad) Kalau Allah memperlakukan manusia sesuai dengan prasangka manusia itu sendiri terhadap Allah akan lebih bagus jika manusia berprasangka yang baik-baik saja. Akal yang sehat dan jiwa yang lurus tentu akan memilih untuk berprasangka baik kepada Allah. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

MENJAGA HATI DI HADAPAN KEBAIKAN MANUSIA

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎MENJAGA HATI DI HADAPAN KEBAIKAN MANUSIA ‎ ‎Pada hakikatnya, Allah SWT adalah satu-satunya sumber limpahan nikmat, sementara sesama manusia hanyalah perantara jalan karunia tersebut. Namun secara naluriah, ketika seseorang mengulurkan pertolongan, berbagi hadiah, atau meringankan beban kita, batin kita sering kali tersandera oleh perasaan berutang budi yang teramat berat, seolah jiwa kita terikat kepadanya seumur hidup. ‎ ‎Kondisi psikologis dan spiritual ini digambarkan secara cermat oleh Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam syarah kitab _al-Hikam_, di mana beliau mengingatkan bahwa siapa saja yang mencurahkan kebaikan kepadamu, sesungguhnya ia telah menundukkan hatimu lewat budi baiknya itu. Agar nurani tidak terbelenggu oleh rasa sungkan yang berlebihan kepada makhluk, Rasulullah menggariskan sebuah solusi yang memerdekakan jiwa: ‎​مَنْ أَسْدَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَادْعُوا اللهَ لَهُ ​“Barang siapa yang berbuat baik kepada kalian, maka balaslah kebaikannya. Jika kalian tidak mampu membalasnya, maka doakanlah kebaikan untuknya.” ‎ ‎Tuntunan luhur ini bertujuan agar ketergantungan batin kita lekas terlepas dari jeratan rasa berutang kepada sesama insan, lalu mengembalikan poros keterikatan itu sepenuhnya kepada Allah Sang Pemberi Rezeki yang hakiki. Bentuk pembalasan yang paling indah adalah manakala pemberian setimpal dipadukan dengan tulusnya untaian doa. ‎ ‎​Keteladanan ini terpancar nyata dari kebiasaan mulia Rasulullah. Suatu ketika, seorang wanita menghadiahkan sepiring kurma dan mentimun kepada beliau. Pada saat yang bersamaan, beliau baru saja menerima pemberian berupa segenggam emas. Tanpa menunda waktu, beliau langsung menyerahkan emas tersebut sebagai balasan atas kurma dan mentimun tadi. Nilai materi di antara keduanya terpaut sangat jauh bagai bumi dan langit, namun begitulah cara Nabi membebaskan hatinya agar tidak memendam beban budi, sekaligus mencontohkan kelapangan tangan untuk selalu membalas dengan yang jauh lebih baik. Jangankan terhadap uluran tangan yang ramah, bahkan terhadap perlakuan buruk pun beliau kerap membalasnya dengan siraman kasih sayang. ‎ ‎Kelapangan jiwa semacam ini juga mengakar kuat di dalam dada sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika panggilan infak berkumandang, beliau menyerahkan seluruh hartanya tanpa menyisakan secuil pun untuk hari esok. Saat ditanya apa yang masih tersisa bagi keluarganya di rumah, beliau dengan mantap menjawab bahwa Allah dan Rasul-Nya telah lebih dari cukup sebagai penjamin hidup. ‎ ‎​Oleh karena itu, ketika ada saudara kita yang menabur kebaikan dalam hidup kita hari ini, bersegeralah membalasnya dengan pemberian yang sepadan jika rezeki sedang berpihak kepada kita. Namun jika tangan kita masih dalam kesempitan, sebutlah namanya di keheningan sepertiga malam lewat doa-doa terbaik yang tulus. Dengan cara itulah jiwa kita tetap merdeka, lisan tetap berterima kasih, dan hati tidak pernah menjadi budak bagi manusia, melainkan semata-mata bersandar kepada kemurahan Allah SWT. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Ketika Sa’id bin Jubair Ditanya, Siapa yang Paling Banyak Ibadahnya

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Ketika Sa’id bin Jubair Ditanya, Siapa yang Paling Banyak Ibadahnya Dalam kitab al-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal mencatat sebuah riwayat tentang pertanyaan seseorang kepada Imam Sa’id bin Jubair. Berikut riwayatnya: دثنا عبد الله حدثني محمد بن زيد الكوفي حدثنا يحيي بن يمان عن أشعث عن جعفر قال: قيل لسعيدٍ: مَن أعْبَدُ النّاسِ؟ قال: رجلٌ إجترَح من الذنوب فكلَّمَا ذكَرَ ذَنبَهُ إحتقَر عمَلَه Abdullah bercerita kepada kami, Muhammad bin Zaid al-Kufi bercerita, Yahya bin Yaman bercerita, dari Asy’ats, dari Ja’far, ia berkata: “Sa’id bin Jubair ditanya: “Siapa orang yang paling (banyak) ibadah(nya di antara) manusia?” (Imam) Sa’id bin Jubair menjawab: “Seseorang yang melakukan dosa, kemudian setiap kali dia teringat dosanya, dia memandang rendah amalnya” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2017, h. 314) Imam Sa’id bin Jubair (w. 95 H) adalah seorang ulama dari kalangan tabi’in. Ia mengambil riwayat hadits dari Ibnu ‘Abbas, Sayyidiah ‘Aisyah, ‘Adi bin Hatim, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah, Abu Mas’ud al-Badri, Ibnu ‘Umar, Ibnu Zubair, ad-Dlahak bin Qais, Abu Sa’id al-Khudri, dan lain sebagainya. Ia belajar Al-Qur’an kepada Sayyidina Abdullah bin ‘Abbas (qara’al qur’ân ‘alâ ibni ‘abbâs). Ia memiliki banyak murid, sebut saja Abu Shalih al-Samman, Adam bin Sulaiman, Abu ‘Amr, Habib bin Abi Tsabit, Sulaiman bin Abi al-Mughirah, Abdullah bin Sa’id (anak), Abdul Malik bin Abu Sulaiman, dan masih banyak lainnya. (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, Bairut: Muassasah al-Risalah, 2001, juz 4, h. 322-324) Ibadah adalah pembebasan. Dengan hanya menyembah Allah yang Maha Esa, yang ke-mahaan-Nya tidak bisa diukur dan diangankan, manusia terbebas dari perbudakan horizontal, atau perbudakan sesama makhluk. Dengan hanya menyembah-Nya, manusia mengalami pembebasan. Dalam bahasa Sayyidina al-Mughirah bin Syu’bah (w. 50 H), sahabat nabi yang mulia itu, menjadi Muslim adalah terbebas dari penyembahan sesama makhluk. Ia mengatakan: وإخراج العباد من عبادة العباد إلى عبادة الله “Mengeluarkan (atau membebaskan) para hamba dari menyembah sesama makhluk kepada (hanya) menyembah Allah (semata).” (Imam Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, 2003, juz 9, h. 621-622) Artinya, beribadah dapat melahirkan kesetaraan sesama makhluk, tidak ada yang lebih mulia, tidak ada yang lebih unggul, dan tidak ada yang lebih utama, selain ketakwaan dan manfaat yang diberikannya untuk sesama. Seorang ahli ibadah, tidak akan memandang rendah orang lain, apalagi memuliakan dirinya sendiri. Karena itu, ketika ditanya tentang siapakah orang yang paling banyak ibadahnya, Imam Sa’id bin Jubair tidak menjawabnya secara langsung, tapi menggambarkannya dengan sebuah proses. Mengingatkan kembali manusia bahwa tidak ada seorang pun yang luput dari dosa. Semua manusia pasti pernah berbuat dosa, tentu dengan tingkatan yang berbeda-beda. Tidak terkecuali ahli ibadah. Hanya para nabi lah yang terbebas dari itu. Ia menjawab: “Seseorang yang melakukan dosa, kemudian setiap kali dia teringat dosanya, dia memandang rendah amalnya.” Dari jawaban tersebut, ada tiga hal penting. Pertama, soal pentingnya manusia tersadarkan bahwa dia pasti pernah berbuat dosa, baik kecil ataupun besar. Misalnya dia tidak pernah mencuri, tapi pernah menggunjingkan seseorang tanpa disadari. Kedua, soal pentingnya kesadaran mengingat dosa di masa lalu. “Mengingat” bukan berarti meragukan kemaha-ampunan Allah. Allah pasti mengampuni segala dosa ketika manusia benar-benar memohon ampunan-Nya. “Mengingat” di sini harus dimaknai sebagai pelajaran dan pijakan hidup. “Pelajaran” agar kita memperbaiki diri dan tidak mengulanginya lagi. “Pijakan” agar kita selalu diingatkan bahwa kita memiliki kemungkinan untuk mengulangi perbuatan dosa, dan melakukan dosa lain yang belum kita lakukan. Dengan “mengingat”, kita tidak akan mudah menyombongkan diri dan memandang diri paling mulia di antara manusia. Ketiga, soal pentingnya memandang rendah amal. Memandang rendah amal kurang lebih sama dengan memandang sedikit amal yang kita lakukan. Ini sangat penting untuk meredakan kesombongan kita. Memang, kita tidak bisa pungkiri, struktur kejiwaan manusia sangat memungkinkan untuk menyombongkan diri. Setiap manusia yang mempunyai kelebihan, sadar atau tidak sadar, dia akan memandang dirinya lebih, dan itu, jika tidak dibarengi dengan kesadaran akan “dosa”, akan bergejolak sangat liar. Sebagaimana Iblis yang mengatakan, “anâ khairun minhu” (aku lebih baik dari Adam). Asumsi sepihak itulah yang membuat Iblis terusir dari surga. Dengan demikian, kesadaran tentang ketidaksempurnaan dan ketidakmampuan manusia untuk terlepas dari dosa, sangat penting dimiliki manusia. Tentu, ini bukan berarti manusia bebas melakukan dosa. Malah sebaliknya, ini adalah benteng, atau metode pertahanan diri agar manusia tidak berhenti berupaya menghindari dosa. Selain itu, kesadaran semacam ini dapat membentengi manusia dari kesombongan. Dengan mengingat dosa-dosanya, dan menyadari ketidakmampuannya untuk selalu benar, manusia tidak akan mudah menyombongkan diri. Dia akan terus diingatkan dan disadarkan, sehingga tidak mudah menyibukkan diri untuk mencari keburukan orang lain. Dia akan lebih sibuk dalam mencari keburukannya sendiri dan berusaha memperbaikinya. والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Ciri-ciri Ilmu yang Bermanfaat

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Ciri-ciri Ilmu yang Bermanfaat Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat menjadikan seseorang lebih baik dan mulia dalam segala hal. Alangkah ruginya jika ilmu yang ada pada seseorang tersebut tidak bisa memberi manfaad kepadanya karena disebutkan dalam hadis bahwa azab yang paling berat pada hari kiamat adalah orang-orang yang tidak dapat mengambil manfaat dengan ilmunya. Ilmu yang ada pada dirinya tidak dapat meberikannya manfaad bahkan dengan ilmu tersebut memudharatkannya. sehingga menyebabkan seseorang dilemparkan keneraka, nauzubillahiminzalik. Dalam hal ini Rasulullah pernah mengajarkan doa untuk menjadikan ilmu yang kita miliki bermanfaad. Doanya adalah. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبِ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari Ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu, dan dari jiwa yang tidak pernah puas, serta doa yang tidak dijabah. Berikut adalah ciri² ilmu yang bermanfaat 1. Ilmu yang dapat meningkatkan rasa takut kepada Allah. Semakin seseorang bertambahnya ilmu maka semakin bertambahnya rasa takut kepada Allah. Rasulullah bersabda bahwa seseorang yang semakin bertambahnya ilmu namun tidak bertambah rasa takut kepada Allah maka seseorang tersebut akan semakin jauh daripada Allah. Berarti yang bertambahnya bukan dekat tetapi jauh. 2. Ilmu yang Menambah kesadaran pada pandangan mata bathin melihat aib/kekurangan diri sendiri. Semakin tinggi ilmu seseorang semakin dalam melihat kekurangan diri sendiri bukan semakin tinggi ilmu seseorang semakin mudah melihat dan nampak kekurangan pada orang lain. 3. Semakin bertambah makrifah dan ibadat kepada Allah. Dengan ilmu tersebut seseorang akan lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan giat beribadah kepadanya dan melakukan kebaikan kebaikan kepada hambanya Allah. 4. Ilmu yang dapat mengurangi dan meminimalisir kegemaran pada dunia. Semakin banyak ilmu yang dimilikinya semakin sedikit kegemaran terhadap hal-hal yang bersifat duniawi yang tidak membawaki kepada kebaikan akhirat. 5. Ilmu yang dapat menambah kesenangan atau kegemaran pada akhirat. Seseorang tersebut akan lebih terikat hatinya pada perkara yang menjadikan akhiratnya lebih baik.sehingga ia lebih giat beramal untuk akhirat Bukan berarti ia tidak mengambil dunia namun tetap mengambil dunia sedikit/ seperlunya demi menyempurnakan akhiratnya. 6. Ilmu yang dapat membuka mata bathindan relung hati melihat berbagai penyakit yang dapat merusak segala amalan sehingga seseorang dapat menghindarinya. Karena jika masih ada penyakit hati pada seseorang besar kemungkinan ilmu yang dimilikinya tidak berfaedah dan amalannya tidak selamat. 7. Ilmu yang dapat memperlihat dan menyadari tipuan syaitan dan siasatnya. Seseorang akan lebih mengenali dan sadar akan hal-hal yang merupakan bisikan syaitan dan nafsu syahwat semata sehingga ia tidak mengikutinya. Karena mengikuti ajakannya menjadikan kita manusia yang tersesat dan hilang arah. Inilah tujuh ilmu.yang bermanfaad, jika kita sudah memiliki Alhamdulillah. jika belum, kita tinggal mengupayakan ilmu yang ada pada kita menjadi ilmu yang bermanfaad. Semoga kita semua memiliki ilmu yang bermanfaad yang dapat menolong kita didunia dan diakhirat kelak. والعلم النافع هو ما يزيد في خوفك من الله تعالى، ويزيد في بصيرتك بعيوب نفسك، ويزيد في معرفتك بعبادة ربك، ويقلل من رغبتك في الدنيا، ويزيد في رغبتك فني الآخرة، ويفتح بصيرتك بآفات أعمالك حتى تحترز منها، ويطلعك على مكايد الشيطان وغروره، Referensi Bidayatul Hidayah Imam Ghazali hlm. 38 ,( cet. di kitab turast) ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an