Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Pengumuman

UNDANGAN IBADAH MALAM NISFU SYA’BAN

Dalam rangka memperingati Malam Nisfu Sya’ban 15 Sya’ban 1447 H, Dayah Raudhatul Qur’an Tungkop Darussalam mengundang seluruh santri, alumni, wali santri, serta masyarakat umum untuk menghadiri dan mengikuti Ibadah Malam Nisfu Sya’ban. 🗓 Hari/Tanggal: Malam Selasa🕰 Waktu: Maghrib Berjamaah📍 Tempat: Dayah Raudhatul Qur’an, Tungkop Darussalam, Aceh Besar👳‍♂️ Penceramah: Abu Dr. Tgk. H. Sulfanwandi, MA Mari bersama-sama menghidupkan malam yang penuh keutamaan ini dengan shalat berjamaah, zikir, doa, dan muhasabah diri, sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadan. Atas kehadiran dan partisipasi Bapak/Ibu serta saudara-saudari sekalian, kami ucapkan jazakumullahu khairan katsiran. PanitiaDayah Raudhatul Qur’an Tungkop Darussalam

Tausiah LDRQ

‎KEUTAMAAN DAN KEMULIAAN MALAM NISFU SYA’BAN

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ KEUTAMAAN DAN KEMULIAAN MALAM NISFU SYA’BAN ‎ ‎Bulan Sya’ban memegang peranan krusial dalam kalender Hijriyah sebagai gerbang spiritual menuju Ramadhan. Di masa ini, seorang Muslim dianjurkan untuk mulai memperbanyak amalan sunnah—seperti puasa, zikir, serta shalat malam—sebagai bentuk persiapan diri. ‎ ‎​Momentum yang paling dinantikan di bulan ini adalah malam ke-15, yang akrab kita kenal sebagai malam Nisfu Sya’ban. Malam ini bukan sekadar pergantian waktu biasa; ia adalah waktu yang sarat akan rahmat dan pengampunan. Berikut adalah tinjauan mendalam mengenai alasan mengapa malam ini begitu mulia di mata agama. ‎ ‎​1. Malam Ampunan bagi Seluruh Makhluk ‎ ‎​Keutamaan utama Nisfu Sya’ban terletak pada luasnya ampunan Allah yang dibentangkan bagi hamba-Nya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani dan Imam Ibnu Hibban dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah bersabda: ‎‎يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ ‎Artinya: “Allah memperhatikan makhluk-Nya pada malam nisfu Sya’ban, lalu mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang kafir dan orang yang gemar menyulut api permusuhan.” ‎ ‎​Selain itu, terdapat seruan ilahi yang turun di malam tersebut sebagaimana terekam dalam riwayat Imam Ibnu Majah dan Imam Baihaqi: ‎عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَ صُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ: أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ ! أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ ! أَلاَ مُبْتَلَى فَأُعَافِيَهُ ! أَلاَ كَذَا… أَلاَ كَذَا… حَتَّى يَطْلُعَ الفَجْرُ ‎Artinya: “Dari Ali bin Abu Thalib bahwasanya Rasulullah bersabda: “Apabila tiba malam Nisfu Sya’ban, shalatlah pada malam harinya dan puasalah di siang harinya karena Allah menyeru hamba-Nya di saat tenggelamnya matahari, lalu berfirman: ‘Adakah yang meminta ampun kepada-Ku? niscaya Aku akan mengampuninya, adakah yang meminta rezeki kepada-Ku? niscaya Aku akan memberinya rezeki. Adakah yang sakit? niscaya Aku akan menyembuhkannya, adakah yang demikian (maksudnya Allah akan mengabulkan hajat hambanya yang memohon pada waktu itu)…. Adakah yang demikian…. sampai terbit fajar.” ‎ ‎​2. Rekapitulasi Amal dan Penentuan Takdir ‎ ‎​Nisfu Sya’ban juga diyakini sebagai malam di mana berkas-berkas kehidupan manusia ditinjau kembali. Berdasarkan penjelasan Rasulullah kepada Sayyidah ‘Aisyah, malam ini merupakan waktu pencatatan takdir tahunan: ‎عَنْ عَائِشَةَ، عَنِ النَّبِي ﷺ قَالَ: هَلْ تَدْرِيْنَ مَا هَذِهِ اللَّيْلَة؟ قَالَتْ: مَا فِيْهَا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ فَقَالَ: فِيْهَا أَنْ يُكْتَبَ كُلُّ مَوْلُوْدِ بَنِي آَدَمَ فِي هَذِهِ السَّنَةِ، وَفِيْهَا أَنْ يُكْتَبَ كُلُّ هَالِكٍ مِنْ بَنِي آدَمَ فِي هَذِهِ السَّنَةِ، وَفِيْهَا تُرْفَعُ أَعْمَالُهُمْ، وَفِيْهَا تَنْزِلُ أَرْزَاقُهُمْ ‎​Artinya: “Dari Aisyah, dari Nabi Muhammad, beliau bertanya: ‘Apakah kamu tahu ada apa dengan malam ini (Nishfu Sya’ban)?’ Sayyidah ‘Aisyah kembali bertanya: ‘Ada apa di dalamnya, wahai Rasulullah?’ Maka nabi menjawab: ‘Di dalamnya dicatat semua anak yang dilahirkan dari keturunan Nabi Adam pada tahun ini. Pada malam itu di catat semua orang yang celaka dari keturunan Nabi Adam pada tahun ini. Pada malam itu (juga) diangkat semua amal (perbuatan) mereka, dan pada malam itu diturunkan rezeki mereka.” ‎ ‎3. Manifestasi Kasih Sayang Allah yang Tak Terbatas ‎ ‎​Besarnya pengampunan Allah di malam ini juga digambarkan melalui sebuah peristiwa yang dialami oleh Sayyidah Aisyah saat beliau menemukan Rasulullah sedang bermunajat di pemakaman Baqi’. Beliau bersabda: ‎​فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كِلَبٍ Artinya: “Sesungguhnya Allah menyeru hamba-Nya di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuninya dengan pengampunan yang lebih banyak dari bilangan bulu domba Bani Kilab (maksudnya pengampunan yang sangat banyak).” ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

3 Adab Berpamitan Menurut Imam Al-Ghazali

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center 3 Adab Berpamitan Menurut Imam Al-Ghazali Karakter yang baik merupakan anugerah terbesar yang dikaruniai Allah SWT, tidak semua orang mendapatkan karunia tersebut, maka bersyukurlah kita yang mendapatkannya, perkara yang sempurna adalah perkara yang diawali dengan kebaikan dan terus menerus dalam kebaikan hingga diakhiri juga dengan kebaikan. Sama halnya dengan pengamalan adab-adab bertamu yang dianjurkan, sebagaimana yang telah diketahui, beserta teori yang telah disampaikan pada awal dan pertengahan pembahasan mengenai etika yang baik dalam mengundang tamu hingga terakhir Imam Ghazali menutup dengan tiga adab yang baik dalam berpamitan ketika meninggalkan tempat perjamuan, dilengkapi juga dengan tuntunan yang baik dari tuan rumah ketike tamu berpamitan, yang semuanya diuraikan sebagai berikut: Pertama, disunahkan kepada tuan rumah untuk mengantarkan tamu tersebut sampai kedepan pintu karena yang demikian termasuk kedalam perkara memuliakan tamu dan diperintahkan untuk memuliakan tamu. Dalam satu hadis disampaikan “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamu. Kesempurnaan pada memuliakan tamu adalah berseri seri wajah dan sopan santun dalam bercengkrama diketika hadirnya tamu, diketika tamu dihadapan hidangan dan diketika tamu berpamitan meninggalkan tempat perjamuan”. Pernah ditanyakan kepada al-Auzai perihal memuliakan tamu, beliau menjawab dengan cara berseri-seri wajah (penuh senyuman) dan berbicara dengan lemah lembut. Berkata Yazid bin Abi Ziyad “Tidaklah aku mengunjungi Abdurrahman bin Abi Laili melainkan beliau bercakap dengan kami dengan perkataan yang baik dan beliau memberi makan kami dengan makanan yang baik pula”. Dari masa Rasulullah hingga salafus saleh mereka sangat menjaga adab-adab dalam bertamu, baik dari tuan rumahnya atau dari tamunya sendiri, bahkan dalam kitab tanbihul mugtarrin pernah disampaikan “termasuk pula yang tidak baik ketika bertamu adalah seseorang membawa makanan ketika bertamu dan makanan tersebut dimakan bersama dengan pemilik rumah” dikarenakan dulunya mungkin pemilik rumah merasa malu dan tidak enak jika tamu membawa makanan dan makanan tersebut dimakan bersama dengan ahli bait, berbeda halnya mungkin dengan keadaan sekarang yang menganggap perkara diatas adalah hal yang sudah lumrah dan biasa saja. Kedua, dianjurkan bagi tamu ketika berpamitan untuk menampakkan rasa bahagia sekalipun selama bertamu terdapat pelayanan kurang menyenangkan dari tuan rumah, karena yang demikian merupakan akhlak yang baik dan tawaduk, dalam satu hadist dijelaskan bahwa dengan berakhlak yang baik seseorang akan memperoleh balasan derajat orang yang berpuasa sunah dan orang yang qiyamullail. Ketiga, tidak bergegas pulang seorang tamu kecuali dengan ridha dan izin pemilik rumah, apabila berencana untuk menginap maka jangan melebihkan dari tiga hari karena terkadang tuan rumah bosan melayani terlalu lama dan dan tidak jarang pula tuan rumah menginginkan tamu untuk cepat pulang.Dibolehkan lebih dari tiga hari jika tuan rumah bersikeras meminta tamu untuk terus bermalam dirumahnya lagi.Dalam satu hadist Rasulullah menyampaikan ” perjamuan adalah tiga hari, jika lebih maka merupakan sedekah”. Disunahkan bagi tuan rumah mempunyai tempat tidur bagi tamu yang menginap, ada baiknya dalam menyediakan tempat tidur dirumah jangan berlebihan karena tempat tidur yang tidak dipakai akan tidak bermanfaat dan ditiduri oleh syaitan, sebenarnya bukan dalam perkara ini saja rasulullah menganjurkan kita untuk tidak berlebihan, dalam hal lainnya juga demikian. Referensi: Ihya Ulumuddin, Cet.Dar al-Fikr jld 2, hal: 20-21. فَأَمَّا الِانْصِرَافُ فَلَهُ ثَلَاثَةُ آدَابٍ الْأَوَّلُ أَنْ يَخْرُجَ مَعَ الضَّيْفِ إِلَى بَابِ الدَّارِ وَهُوَ سنة وذلك من إكرام الضيف وقد أمر بإكرامه قَالَ ﷺ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَقَالَ ﷺ إن من سنة الضيف أن يشيع إلى باب الدار قال أبو قتادة قدم وفد النجاشي عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فقام يخدمهم بنفسه فقال له أصحابه نحن نكفيك يا رسول الله فقال كلا إنهم كانوا لأصحابي مكرمين وأنا أحب أن أكافئهم وَتَمَامُ الْإِكْرَامِ طَلَاقَةُ الْوَجْهِ وَطَيِّبُ الْحَدِيثِ عِنْدَ الدخول والخروج وعلى المائدة، قيل للأوزاعي ﵁ ما كرامة الضيف قال طلاقة الوجه وطيب الحديث، وقال يزيد بن أبي زياد ما دخلت على عبد الرحمن بن أبي ليلى إلا حدثنا حديثا حسنا وأطعمنا طعاما حسنًا الثَّانِي أَنْ يَنْصَرِفَ الضَّيْفُ طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِنْ جَرَى فِي حَقِّهِ تَقْصِيرٌ فَذَلِكَ مِنْ حُسْنِ الخلق والتواضع قال ﷺ إن الرجل ليدرك بحسن خلقه درجة الصائم القائم ودعي بعض السلف برسول فلم يصادفه الرسول فلما سمع حضر وكانوا قد تفرقوا وفرغوا وخرجوا فخرج إليه صاحب المنزل وقال قد خرج القوم فقال هل بقي بقية قال لا قال فكسرة إن بقيت قال لم تبق قال فالقدر أمسحها قال قد غسلتها فانصرف يحمد الله تعالى فقيل له في ذلك فقال قد أحسن الرجل دعانا بنية وردنا بنية فهذا هو معنى التواضع وحسن الخلق، وحكى أن أستاذ أبى القاسم الجنيد دعاه صبي إلى دعوة أبيه أربع مرات فرده الأب في المرات الأربع وهو يرجع في كل مرة تطييبا لقلب الصبي بالحضور ولقلب الأب بالانصراف فهذه نفوس قد ذللت بالتواضع لله تعالى واطمأنت بالتوحيد وصارت تشاهد في كل رد وقبول عبرة فيما بينها وبين ربها فلا تنكسر بما يجري من العباد من الإذلال كما لا تستبشر بما يجري منهم من الإكرام بل يرون الكل من الواحد القهار ولذلك قال بعضهم أنا لا أجيب الدعوة إلا لأني أتذكر بها طعام الجنة أي هو طعام طيب يحمل عنا كده ومؤنته وحسابه الثالث أن لا يخرج إلا برضا صَاحِبِ الْمَنْزِلِ وَإِذْنِهِ وَيُرَاعِيَ قَلْبَهُ فِي قَدْرِ الْإِقَامَةِ وَإِذَا نَزَلَ ضَيْفًا فَلَا يَزِيدُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فَرُبَّمَا يَتَبَرَّمُ بِهِ وَيَحْتَاجُ إِلَى إخراجه قال ﷺ الضيافة ثلاثة فما زاد فصدفة نَعَمْ لَوْ أَلَحَّ رَبُّ الْبَيْتِ عَلَيْهِ عَنْ خُلُوصِ قَلْبٍ فَلَهُ الْمُقَامُ إِذْ ذَاكَ وَيُسْتَحَبُّ أن يكون عنده فراش للضيف النازل قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فراش للرجل وفراش للمرأة وفراش للضيف والرابع للشيطان ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Jama’ Qashar dan Syaratnya

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Jama’ Qashar dan Syaratnya Dalam keadaan musafir (bepergian) seorang muslim diberikan keringanan berupa jama’ dan qasar. Jama’ adalah menggabungkan dua sholat dalam satu waktu, seperti melaksanakan sholat maghrib diwaktu isya, sedangkan qasar adalah meringkas sholat yang 4 raka’at menjadi 2 raka’at, seperti sholat isya yang 4 raka’at diringkas menjadi 2 raka’at. Qasar disyari’atkan pada tahun ke empat hijriah sebagaimana yang dijelaskan oleh ibn al-atsir sedangkan jama’ disyaria’atkan pada tahun kesembilan hijriah pada perang tabuk. Safar dibagi menjadi 2 yaitu: safar mubah dan safar maksiat.Safar maksiat terbagi menjadi 2 yaitu: maksiat bi-safar dan maksiat fi-safar. Maksiat bi-safar adalah safar yang dilakukan dengan niat bermaksiat, sedangkan maksiat fi-safar adalah safar yang dilakukan bukan dengan niat bermaksiat, namun terjadi maksiat dipertengahan safar karena disebabkan oleh beberapa faktor eksternal. Yang dibolehkan qasar cuman pada safar mubah, sedangkan safar maksiat yang dibolehkan cuman pada kasus maksiat fi-safar. Qasar dibolehkan dengan beberapa syarat yaitu : Safar yang dilakukan tidak berupa safar maksiat (maksiat bi-safar)yang dimaksud disini termasuk safar wajib seperti safar untuk melunasi hutang, dan safar sunah seperti safar untuk silaturrhmi, dan safar mubah seperti safar untuk berniaga. Adapun safar maksiat seperti safar untuk merampok / menyedupkan barang terlarang seperti narkoba dan sejenisnya, maka tidak dibolehkan baik jama’ maupun qasar. Jarak yang ditempuh mencapai 16 farsakh (83km ~+) Sholat yang dilaksanakan harus berupa sholat tunai (bukan sholat qadha)yang 4 raka’at. Adapun sholat yang luput ketika belum berstatus musafir maka tidak boleh diqasar. Niat qasar ketika takbiratul ihram. Tidak mengikuti imam muqim yang status shalatnya sempurna(bukan qasar). Adapun bagi musafir yang melakukan perjalanan jauh boleh menjama’ sholatnya baik jama’ taqdim ataupun jama’ takkhir. Jama’ taqdim adalah jama’ yang dilakukan pada waktu sholat pertama seperti sholat maghrib dan isya berbarengan pada waktu maghrib, sedangkan jama’ takkhir adalah jama’ yang dilakukan pada waktu sholat kedua seperti sholat maghrib dan isya berbarengan diwaktu isya. Syarat jama’ taqdim ada 3 yaitu: Memulai sholat dengan yang pertama seperti menunaikan sholat dhuhur sebelum sholat asar, begitu juga pada kasus sholat maghrib dan isya. Adapun kebalikannya maka tidak sah semisalnya duluan dilaksanakan sholat asar baru kemudian sholat dhuhur, dan harus diulang. Niat jama’ taqdim dilakukan pada takbiratul ihram sholat yang pertama dan tidak boleh dilakukan setelah salam sholat pertama, namun menurut pendapat kuat boleh melakukan niat jama’ taqdim di sela-sela sholat pertama sebelum salam. Harus berurutan antara sholat yang pertama dengan sholat yang kedua, semisalnya antara 2 sholat ini memiliki masa tenggang yang lama menurut uruf yang disebabkan tertidur atau semisalnya maka sholat kedua harus dilaksanakan pada waktunya. Dan tidak masalah apabila tenggang waktu antara 2 sholat ini hanya sedikit menurut uruf. Adapun jama’ takkhir hanya memiliki satu syarat yaitu : niat jama’ pada waktu shalat pertama dan boleh hingga akhir waktu sholat pertama yang apabila dilaksanakan shalat kedua maka sholatnya terhitung tunai(bukan qada)dan pada jama’ takkhir tidak wajib tertib dan tidak wajib beriringan antara sholat pertama dan kedua, dan tidak wajib niat jama’ dalam sholat pertama sebagaimana pada syarat jama’ taqdim. Namun dalam kasus muqim (bukan musafir) juga dibolehkan melakukan jama’ sholat dengan beberapa ketentuan sebagai berikut: Diketika hujan lebat dan jama’ yang dibolehkan adalah jama’ taqdim dengan syarat-syaratnya diatas. Hujan turun pada awal sholat yang pertama, bukan pada pertengahannya. Hujan masih ada pada salam sholat yang pertama. Hal ini cuma dikhususkan kepada jama’ah (bukan munfarid/sholat sendiri) yang melaksanakan sholat di masjid atau di menasah dan tempat-tempat jama’ah lain yang jauh, yang tidak mungkin kembali ketempat pelaksanaan jama’ah apabila ia sudah kembali. فتح القريب المجيب.ص.٩٤.ج 1 (ويجوز للمسافر) أي الملتبس بالسفر (قصرُ الصلاة الرباعية) لا غيرها، من ثنائية وثلاثية. وجواز قصر الصلاة الرباعية (بخمس شرائط): الأول (أن يكون سفره) أي الشخص (في غير معصية) هو شامل للواجب كقضاء دين، وللمندوب كصلة الرحم، وللمباح كسفر تجارة.أما سفر المعصية كسفر لقطع الطريق، فلا يترخص فيه بقصر ولا جمع. (و) الثاني (أن تكون مسافته) أي السفر (ستةَ عشرَ فرسَخًا) تحديدا في الأصح، ولا تحسب مدةُ الرجوع منها. والفرسخ ثلاثة أميال؛ وحينئذ فمجموع الفراسخ ثمانية وأربعون مِيلًا، والميلُ أربعة آلاف خُطوة، والخُطوة ثلاثة أقدام. والمراد بالأميال الهاشمية. (و) الثالث (أن يكون) القاصر (مؤديًا للصلاة الرباعية). أما الفائتة حضرا فلا تقضى فيه مقصورة. والفائتة في السفر تقضى فيه مقصورة، لا في الحضر.(و) الرابع (أن ينوي) المسافر (القصر) للصلاة (مع الإحرام) بها؛ (و) الخامس (أن لا يأتَمَّ) في جزء من صلاته (بمقيم) أي بمن يصلي صلاة تامة ليشمل المسافر المتم.(ويجوز للمسافر) سفرا طويلا مباحا (أن يجمع بين) صلاتَي (الظهروالعصر) تقديما وتأخيرا، وهو معنى قوله: (في وقت أيهما شاء، و) أن يجمع (بين) صلاتَي (المغرب والعشاء) تقديما وتأخيرا، وهو معنى قوله: (في وقت أيهما شاء). وشروط جمع التقديم ثلاثة: الأول أن يبدأ بالظهر قبل العصر، وبالمغرب قبل العشاء؛ فلو عكس كأن بدأ بالعصر قبل الظهر مثلا لم يصح، ويعيدها إن أراد الجمع. والثاني نية الجمع أولَ الصلاة الأولى، بأن تُقترَن نيةُ الجمع بتحرمها، فلا يكفي تقديمها على التحرم ولا تأخيرها عن السلام من الأولى. وتجوز في أثنائها على الأظهر. والثالث الموالاة بين الأولى والثانية، بأن لا يطول الفصل بينهما؛ فإن طال عُرفًا ولو بعذر كنوم وجب تأخير الصلاة الثانية إلى وقتها. ولا يضر في الموالاة بينهما فصل يسير عرفا. وأما جمع التأخير فيجب فيه أن يكون نية الجمع، وتكون النية هذه في وقت الأولى. ويجوز تأخيرها إلى أن يبقى من وقت الأولى زمنٌ لو ابتُدِئت فيه كانت أداء. ولا يجب في جمع التأخير ترتيبٌ ولا موالاةولا نية جمع على الصحيح في الثلاثة. (ويجوز للحاضر) أي المقيم (في) وقت (المطر أن يجمع بينهما) أي الظهر والعصر، والمغرب والعشاء، لا في وقت الثانية، بل (في وقت الأولى منهما) إن بَلَّ المطرُ أعلى الثوب وأسفل النعل، ووجدت الشروط السابقة في جمع التقديم. ويشترط أيضا وجود المطر في أول الصلاتين، ولا يكفي وجوده في أثناء الأولى منهما. ويشترط أيضا وجوده عند السلام من الأولى، سواء استمر المطر بعد ذلك أم لا. وتختص رُخصة الجمع بالمطر بالمصلي في جماعة بمسجد أو غيره من مواضع الجماعة بعيد عرفا، ويتأذى الذاهب للمسجد أو غيره من مواضع الجماعة بالمطر في طريقه. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ

KBIHU-RQ

KBIHU Raudhatul Qur’an Laksanakan Praktik Manasik Haji

Tungkop, Darussalam, Aceh Besar — KBIHU Raudhatul Qur’an melaksanakan kegiatan praktik manasik haji bagi seluruh calon jamaah haji yang tergabung dalam KBIHU Raudhatul Qur’an. Kegiatan ini berlangsung pada Minggu, 25 Januari 2026, bertempat di halaman Dayah Raudhatul Qur’an, Tungkop, Darussalam, Aceh Besar. Praktik manasik haji ini dipimpin langsung oleh pembimbing KBIHU Raudhatul Qur’an, Abu Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA. Seluruh calon jamaah haji mengikuti kegiatan dengan penuh kesungguhan dan kekhusyukan, mengenakan pakaian ihram sebagaimana pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci Arab Saudi, sehingga suasana praktik menyerupai kondisi ibadah haji yang sesungguhnya. Kegiatan praktik ini merupakan implementasi dari materi manasik haji yang telah disampaikan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Dalam praktik tersebut, calon jamaah haji dibimbing secara langsung mengenai rukun haji, bacaan-bacaan wajib, serta tata cara dan hitungan dalam pelaksanaan ibadah haji. Setiap tahapan dijelaskan secara rinci agar jamaah dapat memahami dan mempraktikkan ibadah haji sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Abu Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA dalam arahannya menyampaikan bahwa praktik manasik haji sangat penting untuk memberikan gambaran nyata kepada calon jamaah sebelum berangkat ke Tanah Suci. Melalui praktik ini, diharapkan jamaah tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki kesiapan mental, fisik, dan spiritual dalam melaksanakan ibadah haji secara mandiri dan tertib. Kegiatan berlangsung dengan tertib dan lancar, serta mendapat antusiasme tinggi dari para calon jamaah haji. Melalui pelaksanaan praktik manasik haji ini, KBIHU Raudhatul Qur’an berharap seluruh jamaah dapat melaksanakan ibadah haji dengan baik, khusyuk, dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW ketika berada di Tanah Suci nantinya.

Tausiah LDRQ

FILOSOFI BULAN SYA’BAN: PERSPEKTIF SYEKH ABDUL QADIR

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎FILOSOFI BULAN SYA’BAN: PERSPEKTIF SYEKH ABDUL QADIR ‎ ‎Sya’ban dikenal luas sebagai bulan yang sarat akan keberkahan. Namun, di balik kemuliaannya, tersimpan rahasia filosofis pada setiap huruf yang membentuk kata “Sya’ban”. Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab al-Ghunyah mengupas tuntas makna mendalam di balik nama bulan tersebut. ‎ ‎Secara etimologi, kata “Sya’ban” terdiri dari lima huruf: Syin, ‘Ain, Ba’, Alif, dan Nun. Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjelaskan bahwa setiap huruf merupakan simbol dari anugerah Allah bagi hamba-Nya: ‎ ‎​شَعْبَانُ خَمْسَةُ أَحْرُفٍ، شِينٌ وَعَيْنٌ وَبَاءٌ وَأَلِفٌ وَنُونٌ، فَالشِّينُ مِنَ الشَّرَفِ، وَالْعَيْنُ مِنَ الْعُلُوِّ، وَالْبَاءُ مِنَ الْبِرِّ، وَالْأَلِفُ مِنَ الْأَلْفَةِ، وَالنُّونُ مِنَ النُّورِ، فَتِلْكَ الْعَطَايَا مِنَ اللَّهِ تَعَالَى لِلْعَبْدِ فِي هَذَا الشَّهْرِ. ‎ ‎​Artinya: “Syin akronim dari kata syaraf (mulia), ‘ain dari kata ‘uluw (luhur), ba’ dari kata birru (kebaikan), alif dari kata ulfah (kasih sayang) dan nun dari kata nur (cahaya). Dan seluruh pemberian Allah kepada hamba-Nya terjadi pada bulan ini.” ‎ ‎​Melalui filosofi ini, beliau menegaskan betapa istimewanya kedudukan Sya’ban: ‎ ‎​وَهُوَ شَهْرٌ تُفَتَّحُ فِيهِ الْخَيْرَاتُ، وَتُنَزَّلُ فِيهِ الْبَرَكَاٰتُ، وَتُتْرَكُ فِيهِ الْخَطِيئَاتُ، وَتُكَفَّرُ فِيهِ السَّيِّئَاتُ. ‎ ‎​Artinya: “Bulan Sya’ban merupakan pembuka dari segala kebaikan, di dalamnya turun pula keberkahan, sebagai bentuk untuk meninggalkan kemaksiatan, dan sebagai pelebur dari setiap kesalahan.”_ ‎ ‎Bulan ini juga sering disebut sebagai “Bulan Shalawat”. Hal ini didasari pada fakta sejarah bahwa perintah Allah agar umat beriman bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW diturunkan pada bulan Sya’ban. Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjelaskan: ‎ ‎وَتُكْثَرُ فِيهِ الصَّلَواتُ عَلَى مُحَمَّدٍ -صَلَّى اللَّٰهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- خَيْرِ الْبَرِيَّاتِ. وَهُوَ شَهْرُ الصَّلاةِ عَلَى النَّبِيِّ الْمُخْتَارِ، قَالَ اللَّٰهِ تَعَالَى: {إِنَّ اللَّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا} [الأحزاب: 56]. ‎ ‎​Artinya: “Dan memperbanyak membaca shalawat pada bulan Sya’ban adalah kebaikan yang sangat luar biasa. (karena) bulan Sya’ban merupakan bulan shalawat kepada baginda Nabi yang terpilih. Karena di dalamnya turun ayat yang berupa: ‘Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.’” ‎ ‎Syekh Abdul Qadir menekankan pentingnya beribadah dan bertawasul melalui Rasulullah SAW agar penyakit hati kita disembuhkan. Beliau memberikan analogi waktu yang sangat menyentuh: ‎ ‎1. ​Kemarin: nasihat (pelajaran yang sudah berlalu). ‎2. ​Hari Ini: kesempatan emas (ghanimah) untuk beramal. ‎3. ​Esok Hari: sebuah risiko (ketidakpastian apakah kita masih hidup). ‎ ‎​Begitu pula dengan siklus bulan: Rajab telah pergi, Ramadhan masih menjadi rahasia umur, maka Sya’ban yang berada di tengah-tengah adalah kesempatan terbaik yang harus segera dimanfaatkan. ‎ ‎Sebagai jembatan menuju sucinya Ramadhan, mari kita maksimalkan Sya’ban dengan ketaatan dan shalawat. Jangan sampai kita menunda kebaikan, sebab tidak ada jaminan usia kita akan sampai pada bulan berikutnya. ‎ ‎​Sumber: _al-Ghunyah li Thalib Thariq al-Haq_ ‎ ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Amalan dan Keutamaan Bulan Sya‘ban

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊🎤 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Rq-Center Amalan dan Keutamaan Bulan Sya‘ban Bulan Sya‘ban merupakan bulan yang di dalamnya terdapat berbagai peristiwa bersejarah, yakni peristiwa pengalihan arah kiblat dari Masjidil Aqsha di Palestina ke Ka‘bah di Arab Saudi dengan penurunan Surat Al-Baqarah ayat 144, Surat Al-Ahzab ayat 56 yang menganjurkan pembacaan shalawat, diangkatnya amal-amal manusia menuju ke hadirat Allah SWT, dan berbagai peristiwa lainnya. Menilisik dari segi linguistik, Al-Imam ‘Abdurraḥmān As-Shafury dalam literatur kitab momumentalnya Nuzhatul Majâlis wa Muntakhabun Nafâ’is mengatakan bahwa kata Sya’bān (شَعْبَانَ) merupakan singkatan dari huruf shīn yang berarti kemuliaan (الشَّرَفُ). Huruf ‘ain yang berarti derajat dan kedudukan yang tinggi yang terhormat (العُلُوُّ). Huruf ba’ yang berarti kebaikan (البِرُّ). Huruf alif yang berarti kasih sayang (الأُلْفَة). Huruf nun yang berarti cahaya (النُّوْرُ). Bila ditinjau dari segi amaliyah, termaktub beberapa hal yang lazim dilaksanakan pada malam Nisfu Sya’bān, yaitu membaca Surat Yasin sebanyak 3 kali yang dilanjutkan dengan berdoa. Tradisi demikian selain sudah berkembang di Nusantara ini juga menjadi amaliyah tahunan yang dilaksanakan secara rutin terutama oleh masyarakat NU. Rasulullah SAW menyatakan dalam sebuah hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Dailami, Imam ‘Asakir, dan Al-Baihaqy berikut. ‎ خَمْسُ لَيَالٍ لَا تُرَدُّ فِيْهِنَّ الدَّعْوَةُ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبَ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَةُ الجُمْعَةِ وَلَيْلَتَيِ العِيْدَيْنِ Artinya, “Ada 5 malam di mana doa tidak tertolak pada malam-malam tersebut, yaitu malam pertama bulan Rajab, malam Nisfu Sya‘ban, malam Jumat, malam Idul Fitri, dan malam Idul Adha.” ‎مَنْ أَحْيىَ لَيْلَةَ العِيْدَيْنِ وَلَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوْتُ القُلُوْبُ. Artinya, “Siapa saja yang menghidupkan dua malam hari raya dan malam Nisfu Sya‘ban, niscaya tidaklah akan mati hatinya pada hari di mana pada hari itu semua hati menjadi mati.” وقد جمع دعاء مأثور مناسب للحال خاص بليلة النصف من شعبان مشهور, يقرأه المسلمون تلك الليلة الميمونة فرادى وجمعا في جوامعهم وغيرها يلقنهم احدهم ذلك الدعاء او يدعو وهم يؤمنون كما هو معلوم . وكيفيته : تقرأ أولا قبل ذلك الدعاء بعد صلاة المغرب سورة يس ثلاثا . Artinya, “Sungguh telah dikumpulkan doa ma’tsūr yang terkait khusus dengan malam Nisfu Sya‘ban. Doa ini dibaca oleh para muslimin pada malam penuh anugerah secara sendiri-sendiri dan berjamaah. Seorang dari mereka menalqin doa tersebut dan jamaah mengikutinya atau ada juga salah seorang yang berdoa dan jamaahnya mengaminkan saja sebagaimana dimaklum. Caranya, pertama membaca Surat Yasīn 3 kali setalah shalat Maghrib yang diakhiri dengan berdoa. Informasi tersebut tentu bisa mengindikasikan bahwa melaksanakan ibadah pada malam Nisfu Sya‘ban merupakan suatu anjuran dari syariat Rasulullah SAW. Oleh karena itu, siapapun yang tidak sepakat dengan amaliyah untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’bān, tentu tidak sepatutnya memberikan kecaman yang tidak berdasar karena sikap demikian selain dapat menganggu kerukunan antarmasyarakat juga dapat mengganggu pelaksanaan ibadah bagi orang yang bersedia mengerjakannya. Upaya menata stabilitas hati dan pikiran merupakan sikap yang sangat bijak untuk dapat diimplementasikan. Kita dianjurkan untuk memelihara persaudaraan sesama Muslim. Di sisi lain penting untuk diperhatikan juga bahwa amaliah menghidupkan malam Nisfu Sya‘ban merupakan persoalan furū’iyyah yang tetap membuka ruang perbedaan tapi tetap dalam semangat yang saling toleran. Pelaksanaaan amaliyah ini berfungsi untuk mempertebal keimanan hamba terhadap Tuhannya. Oleh karena itu, tidak sepatutnya untuk diarahkan pada dimensi sakralitas hukum. Sakralitas hukum terhadap persoalan keimanan juga bisa berimplikasi pada munculnya gesekan-gesekan. Selama semua amaliyah memiliki dasar dan pijakan ilmu pengetahuan tentu tidak perlu untuk dipertentangkan. Perbedaan merupakan suatu keniscayaan (sunnatullâh), tapi menyikapi perselisihan dengan hal yang tidak bijak tentu semakin menjauhkan umat Islam dari nilai-nilai luhur keislamannya. Islam adalah agama yang fleksibel terkait perkara prinsip dasar (ushuliyyah) bergerak secara eksklusif, sedangkan terkait perkara cabang (furu’iyyah) bergerak secara inklusif. Urusan-urusan yang termasuk unity of diversity (al-ijtimā’ fil ikhtilāf) merupakan bentuk keluasan dari ajaran Islam itu sendiri. Wallahu a’lam. والله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. *Media informasi LDRQ-Center* 📷 IG Dayah RQ 📡 FB Dayah RQ 🌎 Fanpage FB Dayah RQ 🎬 Youtube LDRQ 📷 IG LDRQ 📝 Telegram Dayah RQ 🐦 Twitter Dayah RQ #dayahraudhatulqurandarussalam #lajnahdakwahraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻

Tausiah LDRQ

Keistimewaan Bulan Sya’ban

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊🎤 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Rq-Center Keistimewaan Bulan Sya’ban Sya’ban adalah istilah bahasa Arab yang berasal dari kata syi’ab yang artinya jalan di atas gunung. Islam kemudian memanfaatkan bulan Sya’ban sebagai waktu untuk menemukan banyak jalan, demi mencapai kebaikan. Karena bulan Sya’ban terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan, karena diapit oleh dua bulan mulia ini, maka Sya’ban seringkali dilupakan. Padahal semestinya tidaklah demikian. Dalam bulan Sya’ban terdapat berbagai keutamaan yang menyangkut peningkatan kualitas kehidupan umat Islam, baik sebagai individu maupun dalam lingkup kemasyarakatan. Karena letaknya yang mendekati bulan Ramadhan, bulan Sya’ban memiliki berbagai hal yang dapat memperkuat keimanan. Umat Islam dapat mulai mempersiapkan diri menjemput datangnya bulan termulia dengan penuh suka cita dan pengharapan anugerah dari Allah SWT karena telah mulai merasakan suasana kemuliaan Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda, ذاكَ شهر تغفل الناس فِيه عنه ، بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين، وأحب أن يرفع عملي وأنا صائم — حديث صحيح رواه أبو داود النسائي ”Bulan Sya’ban adalah bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadan. Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal. Karenanya, aku menginginkan pada saat diangkatnya amalku, aku dalam keadaan sedang berpuasa.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i) Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pengakuan Aisyah, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa (sunnah) lebih banyak daripada ketika bulan Sya’ban. Periwayatan ini kemudian mendasari kemuliaan bulan Sya’ban di antar bulan Rajab dan Ramadhan. Karenanya, pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berdzikir dan meminta ampunan serta pertolongan dari Allah SWT. Pada bulan ini, sungguh Allah banyak sekali menurunkan kebaikan-kebaikan berupa syafaat (pertolongan), maghfirah (ampunan), dan itqun min adzabin naar (pembebasan dari siksaan api neraka). Dari sinilah umat Islam, berusaha memuliakan bulan Sya’ban dengan mengadakan shodaqoh dan menjalin silaturrahim. Umat Islam di Nusantara biasanya menyambut keistimewaan bulan Sya’ban dengan mempererat silaturrahim melalui pengiriman oleh-oleh yang berupa makanan kepada para kerabat, sanak famili dan kolega kerja mereka. Sehingga terciptalah tradisi saling mengirim parcel di antara umat Islam. Karena, di kalangan umat Islam Nusantara, bulan Sya’ban dinamakan sebagai bulan Ruwah, maka tradisi saling kirim parcel makanan ini dinamakan sebagai Ruwahan. Tradisi ini menyimbolkan persaudaraan dan mempererat ikatan silaturrahim kepada sesama Muslim. Nishfu Sya’ban Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam penanggalan Hijriyah. Keistimewaan bulan ini terletak pada pertengahannya yang biasanya disebut sebagai Nishfu Sya’ban. Secara harfiyah istilah Nisfu Sya’ban berarti hari atau malam pertengahan bulan Sya’ban atau tanggal 15 Sya’ban. Kaum Muslimin meyakini bahwa pada malam ini, dua malaikat pencatat amalan keseharian manusia, yakni Raqib dan Atid, menyerahkan catatan amalan manusia kepada Allah SWT, dan pada malam itu pula buku catatan-catatan amal yang digunakan setiap tahun diganti dengan yang baru. Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurut al-Ghazali, pada malam ke-13 bulan Sya’ban Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karepa pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT. Para ulama menyatakan bahwa Nisfu Sya’ban juga dinamakan sebagai malam pengampunan atau malam maghfirah, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi, terutama kepada hamba-Nya yang saleh. Dengan demikian, kita sebagai umat Islam semestinya tidak melupakan begitu saja, bahwa bulan sya’ban dalah bulan yang mulia. Sesungguhnya bulan Sya’ban merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadhan. Dari sini, umat Islam dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan mempertebal keimanan dan memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan. والله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷 IG Dayah RQ 📡 FB Dayah RQ 🌎 Fanpage FB Dayah RQ 🎬 Youtube LDRQ 📷 IG LDRQ 📝 Telegram Dayah RQ 🐦 Twitter Dayah RQ #dayahraudhatulqurandarussalam #lajnahdakwahraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻

Tausiah LDRQ

‎TIGA TINGKATAN IKHLAS

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎TIGA TINGKATAN IKHLAS ‎Sudah menjadi maklum bahwa ikhlas merupakan satu syarat diterimanya amal ibadah seseorang. Tanpa keikhlasan, sebaik apa pun amal yang dilakukan oleh seorang mukmin tak akan ada nilainya di sisi Allah. ‎Dalam kitab _al-Ta’rîfât_ karya Imam Ali al-Jurjani, disebutkan bahwa ikhlas adalah engkau tidak mencari orang yang menyaksikan amalmu selain Allah. Ikhlas juga diartikan membersihkan amal dari berbagai kotoran. Meski demikian, terdapat kriteria tertentu di mana seseorang yang melakukan amalan dengan motivasi tertentu masih dikategorikan sebagai ikhlas. Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani dalam kitabnya _Nashâih al-‘Ibâd_ membagi keikhlasan ke dalam tiga tingkatan: ‎1. Tingkatan Paling Tinggi‎Tingkatan ini merupakan tingkat tertinggi, di mana seorang hamba beribadah murni sebagai bentuk penghambaan. Syekh Nawawi al-Bantani memaparkan: ‎ ‎فأعلى مراتب الاخلاص تصفية العمل عن ملاحظة الخلق بأن لا يريد بعبادته الا امتثال أمر الله والقيام بحق العبودية دون اقبال الناس عليه بالمحبة والثناء والمال ونحو ذلك “Tingkatan ikhlas yang paling tinggi adalah membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk (manusia) di mana tidak ada yang diinginkan dengan ibadahnya selain menuruti perintah Allah dan melakukan hak penghambaan, bukan mencari perhatian manusia berupa kecintaan, pujian, harta dan sebagainya.” ‎Pada tingkatan ini, seseorang menyadari bahwa dirinya adalah hamba/budak Allah, sedangkan Allah adalah Tuannya. Ia tidak peduli apakah kelak akan dimasukkan ke surga atau neraka; ia hanya berharap rida Tuhannya. ‎2. Tingkatan Menengah ‎Tingkatan kedua adalah beramal karena Allah namun masih mengharapkan balasan ukhrawi. Syekh Nawawi menuturkan: ‎ ‎والمرتبة الثانية أن يعمل لله ليعطيه الحظوظ الأخروية كالبعاد عن النار وادخاله الجنة وتنعيمه بأنواع ملاذها ‎ ‎“Tingkat keikhlasan yang kedua adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian-bagian akhirat seperti dijauhkan dari siksa api neraka dan dimasukkan ke dalam surga dan menikmati berbagai macam kelezatannya.” ‎Motivasi ini tetap dikategorikan ikhlas karena Allah dan Rasul-Nya pun sering memotivasi umat dengan janji pahala dan surga. Namun, tingkatannya berada di bawah tingkatan yang pertama. ‎3. Tingkatan Paling Rendah ‎Tingkatan ini adalah ketika seseorang beribadah karena Allah, namun mengharapkan imbalan duniawi melalui ibadah tersebut. Syekh Nawawi menjelaskan: ‎والمرتبة الثالثة أن يعمل لله ليعطيه حظا دنيويا كتوسعة الرزق ودفع المؤذيات ‎“Tingkatan ikhlas yang ketiga adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian duniawi seperti kelapangan rizki dan terhindar dari hal-hal yang menyakitkan.” Contohnya adalah shalat Dhuha agar rezeki lancar atau istighfar agar mendapatkan keturunan. Hal ini tetap dianggap ikhlas karena agama memang menawarkan imbalan-imbalan tersebut sebagai motivasi, meski merupakan tingkat yang paling rendah. Lalu bagaimana jika motivasinya di luar tiga hal di atas? Misalnya beribadah agar dipuji orang, menuntut ilmu agar dihormati, atau bersedekah demi kepentingan politik (suara pemilih). Menurut Syekh Nawawi, hal tersebut bukanlah ikhlas, melainkan riya yang tercela: ‎​وما عدا ذلك رياء مذموم “Selain ketiga motivasi di atas adalah riya yang tercela.” ‎Sumber: _Nashâih al-‘Ibâd_ karya Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an