Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

MENJAGA HATI DI HADAPAN KEBAIKAN MANUSIA

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center
‎
‎MENJAGA HATI DI HADAPAN KEBAIKAN MANUSIA
‎
‎Pada hakikatnya, Allah SWT adalah satu-satunya sumber limpahan nikmat, sementara sesama manusia hanyalah perantara jalan karunia tersebut. Namun secara naluriah, ketika seseorang mengulurkan pertolongan, berbagi hadiah, atau meringankan beban kita, batin kita sering kali tersandera oleh perasaan berutang budi yang teramat berat, seolah jiwa kita terikat kepadanya seumur hidup.
‎
‎Kondisi psikologis dan spiritual ini digambarkan secara cermat oleh Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam syarah kitab _al-Hikam_, di mana beliau mengingatkan bahwa siapa saja yang mencurahkan kebaikan kepadamu, sesungguhnya ia telah menundukkan hatimu lewat budi baiknya itu. Agar nurani tidak terbelenggu oleh rasa sungkan yang berlebihan kepada makhluk, Rasulullah menggariskan sebuah solusi yang memerdekakan jiwa:

‎​مَنْ أَسْدَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَادْعُوا اللهَ لَهُ

​“Barang siapa yang berbuat baik kepada kalian, maka balaslah kebaikannya. Jika kalian tidak mampu membalasnya, maka doakanlah kebaikan untuknya.”
‎
‎Tuntunan luhur ini bertujuan agar ketergantungan batin kita lekas terlepas dari jeratan rasa berutang kepada sesama insan, lalu mengembalikan poros keterikatan itu sepenuhnya kepada Allah Sang Pemberi Rezeki yang hakiki. Bentuk pembalasan yang paling indah adalah manakala pemberian setimpal dipadukan dengan tulusnya untaian doa.
‎
‎​Keteladanan ini terpancar nyata dari kebiasaan mulia Rasulullah. Suatu ketika, seorang wanita menghadiahkan sepiring kurma dan mentimun kepada beliau. Pada saat yang bersamaan, beliau baru saja menerima pemberian berupa segenggam emas. Tanpa menunda waktu, beliau langsung menyerahkan emas tersebut sebagai balasan atas kurma dan mentimun tadi. Nilai materi di antara keduanya terpaut sangat jauh bagai bumi dan langit, namun begitulah cara Nabi membebaskan hatinya agar tidak memendam beban budi, sekaligus mencontohkan kelapangan tangan untuk selalu membalas dengan yang jauh lebih baik. Jangankan terhadap uluran tangan yang ramah, bahkan terhadap perlakuan buruk pun beliau kerap membalasnya dengan siraman kasih sayang.
‎
‎Kelapangan jiwa semacam ini juga mengakar kuat di dalam dada sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika panggilan infak berkumandang, beliau menyerahkan seluruh hartanya tanpa menyisakan secuil pun untuk hari esok. Saat ditanya apa yang masih tersisa bagi keluarganya di rumah, beliau dengan mantap menjawab bahwa Allah dan Rasul-Nya telah lebih dari cukup sebagai penjamin hidup.
‎
‎​Oleh karena itu, ketika ada saudara kita yang menabur kebaikan dalam hidup kita hari ini, bersegeralah membalasnya dengan pemberian yang sepadan jika rezeki sedang berpihak kepada kita. Namun jika tangan kita masih dalam kesempitan, sebutlah namanya di keheningan sepertiga malam lewat doa-doa terbaik yang tulus. Dengan cara itulah jiwa kita tetap merdeka, lisan tetap berterima kasih, dan hati tidak pernah menjadi budak bagi manusia, melainkan semata-mata bersandar kepada kemurahan Allah SWT.

‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب

Do’a Kafaratul Majelis

‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ

‎Media informasi LDRQ-Center
‎
‎📞Channel whatsapp LDRQ
‎📷Instagram LDRQ
‎📷Instagram Dayah RQ
‎🌎Fanpage FB
‎📡Facebook
‎🎬Youtube
‎🐦X
‎📝Telegram
‎
‎#dayahraudhatulquran
‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Bagikan:

Tinggalkan Balasan