بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
🗒️🔊 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ)
Bersama :Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA
Tema :Rahasia dan Keagungan Haji Mabrur dan Hari ‘Arafah
📖 Kalam Hikmah:
Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam yang memiliki keistimewaan yang sangat besar. Allah mewajibkan ibadah haji bagi umat Islam sekali dalam seumur hidup. Adapun apabila seseorang mempunyai kemudahan untuk melaksanakan haji lebih dari satu kali maka sudah dianggap sebagai Sunnah.
Allah SWT berfirman:
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا”
Artinya : “Dan kewajiban bagi manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, bagi siapa saja yang mampu sampai kepadanya” (QS. Ali Imran: 97)
Pertama : Haji Mabrur
Para ulama salaf sudah banyak menceritakan tentang keagungan ibadah haji yang sangat luar biasa, banyak rahasia-rahasia dalam perjalanan menuju baitullah tersebut. Terlebih dari itu ibadah haji memiliki peranan penting dalam mengisi spiritual jiwa umat Islam.
Rasulullah SAW bersabda:
العُمرةُ إلى العُمرةِ كفَّارةٌ لِما بينَهُما والحجُّ المبرورُ ليسَ لَهُ جزاءٌ إلَّا الجنَّةُ
Artinya: “Perjalanan antara ibadah satu umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa. Haji mabrur tidak ada balasan kecuali surga.” (HR. Bukhari Muslim)
Para ulama salaf telah banyak menyampaikan tentang makna haji yang mabrur, dan amalan serta syarat-syarat mereka ketika melaksanakan haji yang merupakan penerapan dari makna-makna kelebihan haji dan sifat-sifat yang agung tersebut.
Salah satu makna haji yang mabrur adalah melaksanakan segala ketaatan dan istiqamah dalam mengerjakan amal kebajikan.
Dan sungguh Allah SWT telah menjelaskan tentang istiqamah dalam mengerjakan amal kebajikan dalam firman-Nya :
لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْاۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ ١٧٧
Artinya: “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)
Al-Hafiz Ibnu Rajab r.a. berkata: “Ayat tersebut menyebutkan bahwa ada enam macam ketakwaan, dan barang siapa menyempurnakannya maka ia telah menyempurnakan ketakwaan. Pertama: beriman kepada lima rukun iman. Kedua: memberi harta kesayangan kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, orang yang meminta, dan memerdekakan budak. Ketiga: mendirikan shalat. Keempat: menunaikan zakat. Kelima: memenuhi janji. Keenam: sabar dalam kesulitan, kesusahan, dan di kala perang.”
Semua itu wajib bagi jamaah haji, karena hajinya tidak sah tanpa iman, dan hajinya tidak sempurna dan diterima tanpa mendirikan shalat dan menunaikan zakat, karena rukun Islam itu saling berkaitan, maka iman dan Islam tidaklah sempurna sehingga keduanya telah ditunaikan, dan tidak sempurna ketakwaan haji kecuali dengan menunaikan janji-janji dalam perjanjian dan persekutuan serta rukun-rukun yang diwajibkan dalam perjalanan haji.
Memberikan harta yang dicintainya kepada orang yang Allah cintai untuk diberikan harta tersebut, dan masih harus bersabar terhadap musibah yang menimpanya dalam perjalanan, itulah ciri-ciri orang yang bertaqwa. Maka barangsiapa yang melaksanakan haji tanpa mendirikan shalat, apalagi hajinya sunnah, maka ia seperti orang yang berusaha mendapatkan satu dirham, lalu menghambur-hamburkan modalnya yang jumlahnya beribu-ribu dirham.
Salah satu makna haji mabrur adalah bersikap baik kepada manusia, berbuat baik kepada mereka, dan memiliki adab yang baik terhadap mereka. Dalam Shahih Muslim, Nabi SAW ditanya tentang ketakwaan, lalu dia menjawab: “Akhlak yang baik.” Ini adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh jamaah haji.
Itulah makna dari mendapatkan haji yang mabrur, Istiqamah dan terbimbing untuk selalu dekat dengan Allah SWT dan taat melaksanakan seluruh amal shaleh dan kebajikan-kebajikan yang antara satu kebajikan dengan kebajikan lain saling bergantung dan menyempurnakan.
Kedua : Hari ‘Arafah
Salah satu hari yang paling utama di sisi Allah SWT adalah Hari Arafah. Itulah hari berkumpulnya orang-orang, ketika para jamaah haji berada di padang Arafah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Haji itu adalah Arafah.” Keutamaan hari besar ini banyak sekali, di antaranya adalah sebagai hari penyempurna agama dan penyempurnaan keberkahan atas umat ini, sehingga mereka tidak membutuhkan agama lain. Oleh karena itu, Allah SWT menjadikannya sebagai penutup segala agama dan yang terbaik di antara semuanya, dan tidak ada agama yang diterima dari siapa pun selain agama Islam.
Dalam riwayat sahih Bukhari Muslim dikatakan bahwa Umar bin Khattab r.a., seorang Yahudi berkata kepadanya: “Wahai Amirul Mukminin, ada sebuah ayat dari kitabmu yang engkau baca. Seandainya ayat itu diturunkan kepada kami, orang-orang Yahudi, niscaya kami menjadikan hari itu sebagai hari raya.” Dia bertanya: “Ayat yang mana?” Dia berkata: “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Kuridhai Islam sebagai agamamu.” Umar berkata: “Kami mengetahui hari dan tempat diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang wukuf di Arafah pada hari Jumat.”
Di antara keutamaan hari Arafah adalah bahwa ia merupakan hari perayaan bagi umat Islam. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ayat ini turun pada hari besar, hari Jum’at, dan hari Arafah.” Dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Keduanya, alhamdulillah, adalah perayaan bagi kami.” Hari itu merupakan hari raya yang khusus diperuntukkan bagi orang-orang yang berkumpul, sedangkan puasa pada hari itu disyariatkan bagi orang-orang selainnya, sebagaimana yang akan disebutkan kemudian.
Di antara keutamaannya ialah sebagai hari ampunan dan pengampunan dosa, hari terbebas dari api neraka, dan hari membanggakan orang-orang yang berkumpul. Dalam Shahih Muslim, dari Aisyah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: “Tidak ada satu hari pun di mana Allah SWT membebaskan lebih banyak hamba dari api neraka daripada hari Arafah. Allah SWT mendekat, lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat, seraya berkata: ‘Apa yang diinginkan orang-orang ini?’”
Barangsiapa yang menginginkan agar terbebas dari api neraka, dan berharap agar dosa-dosanya diampuni, kesalahan-kesalahannya diampuni, dan kesalahan-kesalahannya diampuni pada hari Arafah, maka hendaklah ia bersemangat untuk melakukan hal-hal yang dapat membuatnya berharap, setelah mendapatkan karunia dan rahmat Allah. Karena dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa pada hari Arafah, aku berharap agar Allah menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya.” Adapun bagi para jamaah haji, sunah bagi mereka adalah berbuka, sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Rasulullah SAW.
Sebab yang terutama ialah memperbanyak kalimat tauhid dengan penuh keikhlasan dan kejujuran serta berdoa kepada Allah. Karena Islam adalah pondasi agama yang telah disempurnakan oleh Allah pada hari ‘Arafah. Dan doa pada hari itu sangat dianjurkan karena memiliki keutamaan yang sangat besar. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Nabi SAW bersabda: “Doa yang paling utama adalah doa pada hari Arafah, dan doa yang paling utama yang telah aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah:
لا إله إلا اللهُ وحدهُ لا شريكَ لهُ وله الملكُ وله الحمدُ وهو على كلِّ شيء قديرٍ
Artinya : “Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya-lah kekuasaan, bagi-Nya-lah pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
و الله أعلم بالصواب و علمه أتم
Do’a Kafaratul Majelis
سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ.
Media informasi LDRQ-Center
📷Instagram Dayah RQ
🌎Fans Page Fb
📡Fb
📷Instagram LDRQ
🎬Youtube
🐦Twitter
📝Telegram
#dayahraudhatulquran
#ldrqraudhatulquran
💎⭐⛅🤝🏻




