بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center
MENGHALAU UJUB DAN RASA MERENDAHKAN SESAMA
Di dalam dinamika kehidupan beragama, kita senantiasa dipacu untuk berlomba-lomba memanen kebaikan, memperbanyak lembaran ibadah, mendalami ilmu syariat, dan memperluas bentang kepedulian sosial. Namun, di balik giatnya amal saleh tersebut, ada satu celah jebakan batin yang sangat halus dan berbahaya. Sering kali ketika seseorang telah merasa banyak berbuat baik, tumbuh benih rasa bangga diri bahwa ia lebih suci, lebih terhormat, dan lebih layak dipandang tinggi dibandingkan orang lain di sekitarnya.
Padahal, ada jurang pemisah yang sangat tegas antara berjuang menjadi pribadi yang baik dengan merasa diri paling baik. Menjadi orang baik adalah ikhtiar seumur hidup yang tak pernah selesai, sedangkan merasa diri paling baik justru menjadi pintu gerbang menuju penyakit ujub dan kesombongan. Allah SWT telah memberikan rambu-rambu yang sangat jelas dalam QS. An-Najm: 32:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.”
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini melarang keras seseorang memuji-muji kesalehan dirinya sendiri, sebab hanya Allah yang memegang timbangan ketakwaan yang sejati. Kaki yang mampu melangkah ke majelis ilmu, raga yang sanggup berdiri dalam sujud malam, serta tangan yang ringan bersedekah, semuanya adalah karunia dari Allah semata, bukan murni kehebatan diri kita. Mengapa kita harus menyombongkan fasilitas yang sejatinya hanya titipan dari Sang Pencipta?
Pangkal dari seluruh gerak-gerik dan cara pandang ini berakar langsung pada kesehatan batin. Rasulullah memberikan gambaran mendalam tentang peran vital segumpal daging di dalam rongga tubuh kita:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, baiklah seluruh tubuh. Apabila ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengingatkan bahwa ibadah lahiriah yang megah akan kehilangan jiwanya jika hati dipenuhi rasa meremehkan orang yang jarang ke masjid, atau jika kedalaman ilmu justru membuat lisan enteng mencela mereka yang masih awam. Kedekatan kepada Allah seharusnya melahirkan akhlak yang santun, bukan pandangan sinis yang menghakimi. Menegur kekeliruan orang lain adalah tuntunan syariat, namun merendahkan martabat pelakunya adalah racun kesombongan.
Untuk melatih jiwa agar senantiasa rendah hati, Hujjatul Islam Imam Abu Hamid al-Ghazali _rahimahullah_ merumuskan sudut pandang batin yang sangat menakjubkan dalam kitab _Bidayat al-Hidayah_:
يَنْبَغِي أَلَّا تَنْظُرَ إِلَى أَحَدٍ إِلَّا وَتَرَى أَنَّهُ خَيْرٌ مِنْكَ وَأَنَّ الْفَضْلَ لَهُ عَلَى نَفْسِكَ
“Sepatutnya engkau tidak memandang seseorang pun kecuali engkau melihat bahwa ia lebih baik daripada dirimu dan memiliki kelebihan atas dirimu.”
Beliau menjabarkan cara memandang sesama insan dalam berbagai keadaan agar hati terhindar dari rasa ujub. Ketika berhadapan dengan orang yang berusia lebih muda, hendaknya kita berkata dalam hati:
فَإِنْ رَأَيْتَ صَغِيرًا قُلْ هَذَا لَمْ يَعْصِ اللَّهَ وَأَنَا عَصَيْتُهُ فَلَا شَكَّ أَنَّهُ خَيْرٌ مِنِّي
“Jika engkau melihat seorang anak kecil, katakanlah: Anak ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan aku telah bermaksiat kepada-Nya. Maka tidak diragukan lagi, ia lebih baik daripada diriku.”
Sebaliknya, ketika tatapan kita tertuju kepada orang yang jauh lebih berumur, tundukkanlah pandangan seraya merenungkan:
وَإِنْ رَأَيْتَ كَبِيرًا قُلْ هَذَا قَدْ عَبَدَ اللَّهَ قَبْلِي فَلَا شَكَّ أَنَّهُ خَيْرٌ مِنِّي
“Jika engkau melihat orang yang lebih tua, katakanlah: Orang ini telah beribadah kepada Allah sebelum diriku, maka tidak diragukan lagi bahwa ia lebih baik daripada diriku.”
Bahkan saat kita menjumpai orang yang berilmu tinggi, tempatkanlah rasa hormat dengan penuh ketulusan:
وَإِنْ رَأَيْتَ عَالِمًا قُلْ هَذَا قَدْ أُعْطِيَ مَا لَمْ أُعْطَ وَبَلَغَ مَا لَمْ أَبْلُغْ وَعَلِمَ مَا جَهِلْتُ فَكَيْفَ أَكُونُ مِثْلَهُ
“Jika engkau melihat orang berilmu, katakanlah: Ia telah diberi sesuatu yang belum diberikan kepadaku, telah mencapai sesuatu yang belum kucapai, dan mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui.”
Yang paling menguji kedewasaan iman adalah saat kita berhadapan dengan orang yang tampak belum paham agama atau terperosok dalam kebodohan. Alih-alih mengejek atau merasa lebih mulia, bisikkanlah pada nurani:
وَإِنْ رَأَيْتَ جَاهِلًا قُلْ هَذَا قَدْ عَصَى اللَّهَ بِجَهْلٍ وَأَنَا عَصَيْتُهُ بِعِلْمٍ، فَحُجَّةُ اللَّهِ عَلَيَّ أَكْدَ وَمَا أَدْرِي بِمَ يُخْتَمُ لِي وَبِمَ يُخْتَمُ لَهُ
“Jika engkau melihat orang yang bodoh, katakanlah: Ia telah bermaksiat kepada Allah karena kebodohan, sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya dengan pengetahuanku. Maka alasan yang memberatkanku di hadapan Allah lebih kuat. Aku tidak mengetahui bagaimana akhir hidupku dan bagaimana akhir hidupnya.”
Bahkan terhadap orang yang belum memeluk keyakinan yang sama sekalipun, Imam al-Ghazali mengingatkan kita untuk tidak bersikap jemawa atas rahasia takdir. Beliau mengingatkan:
وَإِنْ رَأَيْتَ كَافِرًا قُلْ لَا أَدْرِي عَسَى أَنْ يُسْلِمَ وَيُخْتَمَ لَهُ بِخَيْرِ الْعَمَلِ، وَأَمَّا أَنَا وَالْعِيَاذُ بِاللَّهِ فَعَسَى أَنْ يُضِلَّنِيَ اللَّهُ فَأَكْفُرَ فَيُخْتَمَ لِي بِشَرِّ الْعَمَلِ
“Jika engkau melihat orang yang belum beriman, katakanlah: Aku tidak tahu, boleh jadi suatu hari ia berserah diri lalu akhir hidupnya ditutup dengan husnul khatimah. Sedangkan aku, semoga Allah melindungi, bisa saja tersesat lalu akhir hayatku ditutup dengan keburukan.”
Pelajaran besar dari untaian nasihat tersebut adalah kesadaran bahwa kita tidak pernah memegang kunci akhir kehidupan siapa pun. Menyibukkan diri mencari aib sesama sering kali bermula dari kebiasaan berprasangka buruk dan mengorek rahasia orang lain. Padahal, Allah SWT telah melarang keras penyakit sosial ini dalam QS. Al-Hujurat: 12:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.”
Prasangka yang tidak berdasar adalah bibit perpecahan yang menghancurkan ikatan persaudaraan. Rasulullah menguatkan larangan ini melalui sabda beliau:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَجَسَّسُوا، وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta. Jangan mencari-cari kesalahan, jangan saling memata-matai, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Pada akhirnya, ukuran kematangan spiritual seseorang tercermin dari seberapa bersih hatinya dari rasa bangga diri dan seberapa tulus ia menjaga kehormatan sesamanya. Jangan biarkan amal ibadah yang kita bangun dengan susah payah lenyap tak berbekas hanya karena kita merasa lebih tinggi di hadapan manusia. Semoga Allah SWT senantiasa membersihkan batin kita dari penyakit ujub dan prasangka, serta melimpahi kita dengan kelapangan jiwa untuk selalu memandang orang lain dengan mata kasih sayang.
والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب
Do’a Kafaratul Majelis
سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ
Media informasi LDRQ-Center
📞Channel whatsapp LDRQ
📷Instagram LDRQ
📷Instagram Dayah RQ
🌎Fanpage FB
📡Facebook
🎬Youtube
🐦X
📝Telegram
#dayahraudhatulquran
#lajnahdakwahraudhatulqur’an




