بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center
DUA SAYAP KESALEHAN: SENI MENYEIMBANGKAN CINTA KEPADA ALLAH DAN MEMULIAKAN MANUSIA
Dalam kitab Nashaih ‘Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani memberikan sebuah “peta jalan” bagi siapa saja yang ingin meraih kesempurnaan akhlak. Beliau menekankan bahwa kehidupan seorang mukmin sejati tidak boleh berat sebelah. Kita tidak bisa hanya fokus bersembunyi di dalam masjid sementara hubungan sosial kita berantakan, begitu juga sebaliknya.
عَلَيْكُمْ بِجُمْلَةٍ مِنْ خِصَالِ الْخَيْرِ: مِنْهَا طَاعَةُ اللهِ، وَمِنْهَا إِكْرَامُ بَنِي آدَمَ
“Hendaknya kalian berpegang teguh pada kumpulan perkara kebaikan: di antaranya adalah taat kepada Allah dan memuliakan sesama manusia (anak cucu Adam).”
Berikut adalah ulasan mengenai dua fondasi tersebut:
1. Ketaatan sebagai Wujud Cinta, Bukan Beban
Pilar pertama adalah ketaatan mutlak kepada Allah. Taat di sini bukan sekadar menggugurkan kewajiban seperti robot yang menjalankan perintah, melainkan sebuah manifestasi rasa syukur. Ketika kita menyadari betapa banyaknya nikmat yang diberikan Allah, maka menjalankan perintah-Nya menjadi cara kita berterima kasih.
Ketaatan ini bersifat berjenjang dan mencakup seluruh aspek hidup, sebagaimana ditegaskan dalam QS. An-Nisa: 59:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ . . .
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulu al-Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. …” (QS. An-Nisa: 59)
Syekh Nawawi menjelaskan bahwa taat yang sejati itu konsisten (istikamah). Kita tetap taat baik saat berada di depan orang banyak maupun saat sendirian. Ketaatan inilah yang membentuk karakter jujur, disiplin, dan rendah hati.
2. Kemanusiaan Tanpa Sekat
Pilar kedua yang sangat menarik adalah perintah untuk “memuliakan”. Perhatikan bahwa Syekh Nawawi tidak hanya menggunakan kata “berbuat baik”, tapi “memuliakan” (ikram). Memuliakan berarti kita menempatkan orang lain pada posisi terhormat, menjaga perasaan mereka, dan melindungi harga diri mereka.
Istilah “Bani Adam” (Anak Cucu Adam) yang digunakan menunjukkan bahwa sikap hormat ini bersifat universal. Kita wajib memuliakan manusia bukan karena status sosial, kekayaan, atau agamanya, melainkan karena mereka adalah ciptaan Allah yang telah diberi kemuliaan sejak lahir. Allah berfirman dalam QS. Al-Isra: 70:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ . . .
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, …” (QS. Al-Isra: 70)
Bahkan, kualitas iman seseorang bisa diukur dari cara dia memperlakukan orang terdekatnya, seperti tetangga:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR al-Bukhari & Muslim)
Syekh Nawawi ingin mengingatkan bahwa integrasi antara taat kepada Allah dan memuliakan manusia akan menciptakan masyarakat yang beradab.
Integrasi Spiritual dan Sosial
Orang yang benar-benar taat kepada Allah pasti akan lembut hatinya kepada sesama manusia. Jika ada orang yang rajin ibadah namun justru kasar atau suka menghina orang lain, berarti ada yang salah dengan pemahaman ketaatannya.
Mencegah Kesombongan Spiritual
Ibadah boleh jadi membuat orang merasa “lebih suci”. Namun, dengan kewajiban memuliakan sesama, perasaan sombong itu akan terkikis karena kita sadar bahwa setiap manusia memiliki kemuliaan yang diberikan Allah.
Fondasi Moral yang Kuat
Jika kita berbuat baik kepada manusia hanya karena urusan kemanusiaan tanpa landasan ketaatan kepada Allah, biasanya kebaikan itu rapuh—mudah berubah kalau kita sedang marah atau dikecewakan. Tapi kalau kita baik karena perintah Allah, kebaikan itu akan tetap ada meski orang lain tidak baik kepada kita.
Sumber: Nashaih ‘Ibad, oleh Syekh Nawawi al-Bantani
والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب
Do’a Kafaratul Majelis
سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ
Media informasi LDRQ-Center
📞Channel whatsapp LDRQ
📷Instagram LDRQ
📷Instagram Dayah RQ
🌎Fanpage FB
📡Facebook
🎬Youtube
🐦X
📝Telegram
#dayahraudhatulquran
#lajnahdakwahraudhatulqur’an




