Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

Haji Dulu atau Nikah?

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Haji Dulu atau Nikah ? Haji merupakan salah satu ibadah utama dalam Islam, bahkan ia termasuk salah satu ibadah yang tercantum dalam rukun Islam, Haji juga merupakan ibadah yang sangat agung karena ia termasuk Syari’at (ajaran) umat terdahulu. Sebagaimana ibadah lainnya, Haji juga memiliki syarat dan ketentuan agar sah dilaksanakan, namun karena ibadah haji merupakan ibadah harta dan jiwa tentunya ada syarat tambahan untuk wajibnya haji, yaitu : memiliki biaya untuk berangkat dan bekal dalam perjalanan, bahkan jika seseorang tinggal di tempat yang jauhnya lebih dari dua marhalah dari kota mekah maka disyaratkan memiliki kendaraan untuk berangkat. Pada syarat memiliki bekal atau biaya untuk melaksanakan Haji ada sebuah problema yang menarik tetapi sering dilupakan oleh setiap muslim, yaitu : ketika seseorang telah memiliki biaya yang cukup untuk berangkat Haji, namun disisi lain ia juga sangat berhajat untuk menikah, apakah ia boleh mempergunakan biaya yang telah ia kumpulkan untuk menikah dulu, atau ia harus mendahulukan Haji dan menunda pernikahan? para Ulama berbeda pendapat dalam menyikapi kasus diatas, menurut imam Haramain : orang yang sangat berhajat nikah boleh mendahulukan nikah dan Haji tidak wajib atasnya meski pernah memiliki harta yang memadai untuk biaya Haji. Dan menurut pendapat yang kuat : orang tersebut boleh mendahulukan nikah, karena kebutuhan terhadap nikah tidak bisa ditunda, sedangkan haji kewajibannya memiliki waktu yang lebih longgar (tarakkhi), dan bisa dilaksanakan ketika ia telah mampu mengumpulkan biaya di lain waktu, namun haji telah wajib atasnya, dan andai ia meninggal sebelum sempat melaksanakan haji maka ia tidak berdosa, namun tetap wajib badal Haji-nya dari harta yang ditinggalkan, ini merupakan pendapat yang di kemukakan oleh mayoritas ulama Iraqiyyin dan selainnya bahkan pendapat ini pula yang dianggap kuat oleh An-Nawawi dalam Raudhah at-Thalibiin. Pendapat diatas berlaku bagi mereka yang sangat berhajat/kebelet nikah, adapun orang yang memiliki biaya untuk haji dan ingin nikah, tetapi keinginannya tidak disertai kebutuhan, maka mendahulukan Haji lebih utama bahkan jika ia mendahulukan nikah hingga tidak sempat melaksanakan haji, selain wajib qadha dia juga dianggap berdosa. Ref : 1. Syarah Al Mahalli juz 2 hal 111-112 cet haramain: ولو ملك ما يمكنه به الحج واحتاج إلى النكاح لخوفه العنت، فصرف المال إلى النكاح أهم، لأن الحاجة إليه ناجزة والحج على التراخي، وصرح الإمام بعدم وجوبه عليه، وصرح كثير من العراقيين وغيرهم بوجوبه وصححه في الروضة. 2. Hasyiah al-Qalyubi juz 2 hal 112 cet Haramain : (وصححه في الروضة) هو المعتمد لأن حاجة النكاح لا تمنع وجوب الحج لكن تقديم النكاح أولى وعليه لو مات بعد تقديم النكاح لم يكن عاصياً ويقضي من تركته، وإذا لم يخف العنت فالأفضل تقديم الحج وفي هذه لو مات قبله كان عاصياً. كذا اعتمده شيخنا تبعاً لشيخنا الرملي فراجعه ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Kenapa Makruh Salat pada Waktu Tertentu?

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Kenapa Makruh Salat pada Waktu Tertentu? Ketahuilah bahwa ada hikmah yang agung di balik semua kejadian, tidak ada yang sia-sia di balik perintah Allah Yang Maha Bijaksana kepada kita untuk menunaikan shalat dengan sifat-sifat (cara) tertentu. Sayangnya, tidak semua orang memahami hikmah agung tersebut sehingga sebagian orang ada yang berkata bahwa shalat adalah hukum-hukum yang bersifat ta’abbudi (tidak bisa dinalar akal). Sebaliknya, orang yang telah diberi ilmu, hikmah, dan kejernihan mata batin, akan dapat mengerti secara jelas bahwa Allah Yang Maha Bijaksana seperti dokter yang memberikan obat kepada pasien sesuai dengan keadaan yang dikehendaki. Sedangkan jiwa itu bagaikan seorang pasien yang membutuhkan obat dengan sifat dan tata cara tertentu. Sebagaimana yang telah maklum bahwa satu-satunya tujuan dari pembebanan hukum (taklif) kepada kita (manusia) berupa shalat adalah untuk kebahagiaan manusia itu sendiri baik di dunia maupun di akhirat kelak nanti serta agar seorang hamba dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt.   Dalam pelaksanaannya, shalat dikerjakan pada waktu-waktu tertentu sebagaimana telah diatur dalam syariat Islam, ada waktu fadhilah (waktu yang paling utama untuk mengerjakan shalat), waktu ikhtiar, jawaz (boleh), makruh bahkan haram. Adapun makruh mengerjakan shalat pada beberapa waktu tertentu adalah merujuk kepada sebuah tradisi orang-orang musyrik melaksanakan ritual ibadah untuk sembahan mereka, yang pada waktu tersebut dimakruhkan mengerjakan shalat bagi umat Islam. Oleh sebab itu, Allah Yang Maha Bijaksana ingin mendidik dan menambah kesempurnaan diri manusia dengan tidak menyerupakan diri kita dengan orang-orang musyrik di dalam ibadah mereka. Termasuk di antaranya adalah manusia dimakruhkan melakukan shalat di hadapan patung atau benda fisik lainnya untuk menghindari fitnah dan menyerupai kaum paganis (penyembah berhala).   Hukum makruh mengerjakan shalat pada beberapa waktu tertentu itu hanya berlaku bila dikerjakan di luar Baitul Haram saja, sedangkan bila dikerjakan di dalamnya maka tidak dihukum makruh, sehingga muncul sebuah pertanyaan “kenapa shalat hanya makruh dikerjakan pada waktu-waktu tertentu di tempat lain selain Baitul Haram, namun hukum makruh tersebut tidak berlaku bila shalat dikerjakan di dalam Baitul Haram?” Ini merupakan salah satu keistimewaan yang terdapat pada Baitul Haram. Sebab ketika terdapat eksistensi Baitul Haram dalam diri orang Islam, maka ia tidak akan menyerupakan dirinya dengan orang-orang musyrik dan majusi. Selain itu, karena Baitul Haram adalah rumah pertama yang dibangun untuk manusia.   Diriwayatkan bahwa Nabi saw. melarang shalat ketika terbit matahari dan beliau bersabda, “Sesungguhnya waktu tersebut muncul di antara dua tanduk setan yang menghiasi mata orang yang menyembahnya hingga orang tersebut bersujud kepadanya. Di kala matahari naik (terbit), maka jangan lakukan salat. Di kala matahari berada di puncak waktu zuhur, maka jangan lakukan salat. Dan di kala matahari terbenam, maka jangan lakukan salat. Oleh sebab itu janganlah kalian shalat di waktu-waktu tadi (terbit dan terbenam matahari)”. Nabi SAW melarang shalat pada waktu-waktu ini tanpa menjelaskan secara detail. Beliau hanya menyebut secara umum dan global, sekaligus menjelaskan hikmah di balik larangan tersebut, yaitu karena waktu tersebut muncul dari dua tanduk setan. Mengapa demikian? Sebab sebagian orang menyembah matahari dan bersujud padanya ketika muncul matahari sebagai penghormatan pada matahari. Ketika tengah hari untuk menyempurnakan penghormatan tersebut dan ketika terbenam sebagai perpisahan dalam penyembahan.   Karena itu, setan datang dan menjadikan matahari di antara dua tanduknya supaya mereka bersujud kepadanya. Dengan kata lain, Nabi saw melarang shalat pada waktu-waktu tersebut agar umat Islam tidak menyerupai (mengikuti) perbuatan para penyembah matahari maka jelaslah semua alasan dimakruhkannya shalat pada waktu-waktu tersebut. Sumber: Ali bin Ahmad al-Jarjawi, Hikmah al-Tasyri’ Wa falsafatuh, Cet. Beirut, DKI, 1971, h. 57. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ: ‎https://whatsapp.com/channel/0029ValKVW6F1YlPl1ZAWz3C ‎📷Instagram LDRQ: https://instagram.com/ldrq.raudhatulquran ‎📷Instagram Dayah RQ : https://instagram.com/dayahraudhatulquran__ ‎🌎Fanpage FB: https://www.facebook.com/dayahrqcenter ‎📡Facebook: https://www.facebook.com/pusat.rq ‎🎬Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCXam1oDfCU_ieIA9WBD3VoQ ‎🐦X: https://x.com/LPI_DayahRQ ‎📝Telegram: t.me/dayahraudhatulquran ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Hikmah Ziarah ke Makam Rasulullah SAW

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Hikmah Ziarah ke Makam Rasulullah SAW Setiap manusia yang hidup di dunia ini, pasti suatu saat nanti akan meninggalkan dunia ini. Oleh sebab itu, banyak orang yang mengatakan bahwa “tidak ada yang kekal di dunia ini kecuali kematian”. Ketika manusia meninggal maka akan dimakamkan ditempat pemakaman yang telah ditentukan. Sementara itu, bagi keluarga yang ditinggalkan pasti akan merasakan kesedihan yang mendalam karena kehilangan anggota keluarganya. Kemudian beberapa bulan atau satu tahun sekali, keluarga yang telah ditinggalkan akan melakukan ziarah kubur. Ketika akan melakukan ziarah kubur, maka kita berdoa agar senantiasa almarhum dan almarhumah mendapat tempat terbaik disisi Allah SWT. Maka Pengertian dari ziarah ialah kunjungan ketempat yang yang dianggap mulia dan lain sebagainya. Disaat kita menziarahi makam seseorang, kita pun akan teringat pada kematian dan juga akan Nampak kekuasaan Allah SWT. Namun, bagaimana keutamaannya kalau yang kita ziarahi itu makam manusia yang paling mulia dimuka bumi ini ? apa-apa saja hikmah menziarahi makam Rasulullah SAW ? tentu sangatlah banyak, karena Rasulullah merupakan manusia yang sangat mulia dan petunjuk bagi jalan yang benar. Maka dengan menjaga kemuliaannya yang dimiliki oleh Rasulullah, dalam agama diperintahkan untuk ziarah makamnya Rasulullah dan Raudhah, karena Raudhah merupakan salah satu dari kebun syurga. Maka kita tidak boleh mengatakan bahwa ziarah itu tidak ada keutamaanya, karena ziarah pada masa hidup dan waktu meninggal sangat lah besar mamfaatnya. Rasulullah bersabda dalam satu hadis: مَنْ زارني بعد موتي فكأنّما زارني في حياتي Sesiapa yg menziarahi aku selepas kematianku seumpama dia menziarahi aku ketika aku hidup. (Hr Ad-Dar Qutni) Dari hadis ini terpahami bahwa sangatlah besar mamfaat atau hikmah menziarahi makam Rasulullah SAW. Dalam hadis yang lain rasul SAW juga pernah bersabda : مَنْ جَاءَنِي زَائِرَاً لَا يهمه إِلَّا زِيَارَتِي، كَانَ حَقَّاً عَلَيَّ الله سبحانه أَنْ أَكُون لَهُ شَفِيعَاً Siapa saja yang menziarahiku dengan tujuan baik, maka nanti dihari kiamat aku pasti akan memberi syafa’at kepada dia. Maka Sebagian dari kemulian dan kehormatan orang menunaikan haji ialah sesudah melakukan segala kewajiban-kewajibannya, lalu mereka menziarahi makam Rasulullah lalu berdo’a dengan harapan semoga segala dosanya diampuni oleh Allah serta selamat bisa pulang lagi ke tempat tinggalnya. Maka inilah sedikit uraian bagaimana hikmah menziarahi makam manusia yang paling mulia dimuka bumi ini yaitu Rasulullah SAW. REF: HIKMATU AT-TASYRIK, HAL 112. CET: DKI. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ: ‎https://whatsapp.com/channel/0029ValKVW6F1YlPl1ZAWz3C ‎📷Instagram LDRQ: https://instagram.com/ldrq.raudhatulquran ‎📷Instagram Dayah RQ : https://instagram.com/dayahraudhatulquran__ ‎🌎Fanpage FB: https://www.facebook.com/dayahrqcenter ‎📡Facebook: https://www.facebook.com/pusat.rq ‎🎬Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCXam1oDfCU_ieIA9WBD3VoQ ‎🐦X: https://x.com/LPI_DayahRQ ‎📝Telegram: t.me/dayahraudhatulquran ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Cover Tausiah ldrq
Tausiah LDRQ

Hukum Mencium Mayat

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Hukum Mencium Mayat Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, kebahagiaan kita didunia tidak menjamin dikehidupan selanjutnya kita juga akan merasakan kebahagiaan. Hanyalah amal kebaikan yang kita kerjakan di dunia yang menjamin kebahagiaan kita di kehidupan selanjutnya, maka alangkah bahagianya bila dikehidupan dunia kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang shalih, orang-orang yang dicintai oleh allah dan rasulnya, orang-orang yang ditangisi ketika ia menghadap ilahi rabbi. Tanah indonesia ini adalah tanah yang memiliki sejarah panjang, dipenuhi dengan lika-liku perjuangan, pembelaan dan juga pengorbanan dari pejuang-pejuang dahulu. Indonesia juga tanah yang terkenal dengan banyaknya orang-orang shalih, ‘alim ulama dan juga cendikiawan-cendikiawan lainnya. Sudah menjadi tradisi dikalangan kita, bila wafatnya orang shalih atau orang ‘alim, kita beramai-ramai mengunjungi kediaman beliau, sambil mengambil i’tibar, kita juga dapat mengambil keberkahan dari orang shalih tersebut dengan menciumnya. Dalam hal ini para ulama sedikit berbeda pendapat dalam rinciannya sebagai berikut: Mubah mencium manyat bagi keluarga dan seumpamanya(kawan-kawannya) walau si manyat bukan orang shalih. Imam rauyani dalam bahrnya menyatakan: mencium manyat hukumnya sunnah, namun imam subki mengatakan: sunnah hanya untuk keluarga dan seumpamanya(kawan-kawannya) dan mubah bagi selain mereka, namun ibnu hajar menyatakan: sepatutnya dihamalkan sunnah bagi orang shalih, karena dapat di ambil barakah darinya. Makruh/khilaf aula mencium manyat selain keluarga, pendapat ini dipahami dari kalam imam Nawawi dalam matan minhaj. Namun yang terdapat dalam raudhah Imam Nawawi mengkhususkan boleh hanya bagi manyat orang shalih, maka selain org shalih hukum menciumnya adalah makruh. Oleh imam ramli berkomentar: namun bila yang meninggal adalah keluarga, sepatutnya tidak makruh walau bukan orang shalih. Catatan: Kebolehan/Kesunnahan(khilaf) mencium manyat orang shalih adalah ketika tidak larang oleh agama, maka perlu digaris bawahi dalam kasus orang shalih yang meninggal adalah laki-laki maka diharamkan bagi perempuan yang bukan mahramnya untuk mencium, juga dalam kasus sebaliknya. Referensi: Hasyiah syarwani (dari kutipan kalam imam ramli) halaman 183 jilid 3 Tuhfah al-Muhtaj (ويجوز لأهل الميت ونحوهم) كأصدقائه (تقبيل وجهه) لما صح «أنه – صلى الله عليه وسلم – قبل وجه عثمان بن مظعون – رضي الله عنه – بعد موته» ومن ثم قال في البحر إنه سنة وقيده السبكي بنحو أهله والأوجه حمله على صالح فيسن لكل أحد تقبيله تبركا به وعلى ما في المتن فالتقبيل لغير من ذكر خلاف الأولى حملا للجواز فيه على مستوى الطرفين كما هو ظاهر __________________________ Hasyiah syarwani (قوله كأصدقائه) إلى قوله والأوجه في النهاية والمغني قول المتن (تقبيل وجهه) أي أو يده أو غيرها من بقية البدن وإنما اقتصر على الوجه لأنه الوارد ع ش (قوله لما صح أنه إلخ) أي ولما في البخاري «أن أبا بكر – رضي الله تعالى عنه – قبل وجه رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بعد موته» نهاية ومغني (قوله والأوجه حمله على صالح إلخ) خلافا للنهاية والمغني عبارتهما وينبغي ندبه لأهله ونحوهم كما قاله السبكي وجوازه لغيرهم وفي زوائد الروضة ولا بأس بتقبيل الميت الصالح فقيده بالصالح وأما غيره فينبغي أن يكره اهـ وأقره سم قال ع ش قوله م ر وينبغي ندبه لأهله إلخ أي ولو كان غير صالح وقوله م ر وجوازه لغيرهم أي حيث لا مانع منه فلا يجوز ذلك من امرأة أجنبية لرجل ولا عكسه وقوله م ر ولا بأس بتقبيل الميت أي في أي محل كان كما يفيده إطلاقه لما هو معلوم أن الكلام حيث لا شهوة وأنه للتبرك أو الرقة والشفقة عليه وقوله م ر وأما غيره فينبغي إلخ هو ظاهر إن كان الغير معروفا بالمعاصي أما إذا كان لم يوصف بصلاح بحيث يتبرك به ولا بفساد فينبغي أن يكون مباحا ع ش ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ: ‎https://whatsapp.com/channel/0029ValKVW6F1YlPl1ZAWz3C ‎📷Instagram LDRQ: https://instagram.com/ldrq.raudhatulquran ‎📷Instagram Dayah RQ : https://instagram.com/dayahraudhatulquran__ ‎🌎Fanpage FB: https://www.facebook.com/dayahrqcenter ‎📡Facebook: https://www.facebook.com/pusat.rq ‎🎬Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCXam1oDfCU_ieIA9WBD3VoQ ‎🐦X: https://x.com/LPI_DayahRQ ‎📝Telegram: t.me/dayahraudhatulquran ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Cover Tausiah ldrq
Tausiah LDRQ

TAUHID DI TENGAH BANJIR BANDANG ACEH – SUMATERA

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎TAUHID DI TENGAH BANJIR BANDANG ACEH – SUMATERA ‎ ‎Musibah banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Aceh kembali membuka mata kita tentang hakikat kehidupan dunia. Rumah yang selama ini kita anggap kokoh, harta yang kita kira aman, dan rencana yang telah disusun dengan rapi, dapat sirna dalam waktu yang singkat. Peristiwa ini mengajarkan bahwa manusia sejatinya lemah, sementara Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. ‎ ‎Dalam pandangan akidah Islam, setiap musibah tidak pernah terjadi di luar kehendak Allah. Al-Qur’an dengan tegas menyatakan: ‎ ‎مَآ أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ‎ ‎Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah, …  (Q.S. At-Taghabun: 11) ‎ ‎Ayat ini meneguhkan hati orang beriman bahwa segala kejadian berada dalam pengaturan Allah. Banjir bandang bukan sekadar gejala alam, melainkan bagian dari ketetapan-Nya yang sarat dengan hikmah. Bagi hamba yang mau merenung, musibah menjadi sarana untuk meluruskan kembali tauhid, memperbaiki niat, dan menata ulang hubungan dengan Allah. ‎ ‎Orang yang bertauhid dengan benar akan menyadari bahwa dirinya dan segala yang dimilikinya adalah milik Allah. Ketika ujian datang, ia tidak larut dalam keluh kesah, tetapi mengembalikan segala urusan kepada Sang Pemilik. Inilah sikap yang digambarkan Al-Qur’an ketika menyebut keadaan orang-orang beriman saat ditimpa musibah: ‎ ‎الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ‎ ‎(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).”(Q.S. Al-Baqarah: 156) ‎ ‎Ucapan ini adalah pengakuan tauhid yang paling jujur. Dengan kalimat tersebut, seorang mukmin menenangkan hatinya bahwa kehilangan di dunia tidak sebanding dengan keselamatan iman. ‎ ‎Rasulullah juga mengajarkan bahwa seluruh urusan orang beriman selalu mengandung kebaikan. Beliau bersabda: ‎ ‎عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ ‎ ‎Perkara orang mukmin mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik. (H.R. Muslim) ‎ ‎Hadis ini meneguhkan hati kaum mukminin di tengah bencana. Kesabaran yang lahir dari tauhid menjadi sebab turunnya pahala dan penghapus dosa. Pada saat yang sama, tauhid juga melahirkan kepedulian sosial, mendorong kita untuk membantu semampu yang kita bisa, baik dengan tenaga, harta, maupun perhatian. ‎ ‎Namun tidak jarang, setelah segala ikhtiar dilakukan, kita menyadari bahwa daya kita terbatas dan kemampuan kita sangat kecil. Kebutuhan saudara-saudara kita yang terdampak banjir terkadang belum sepenuhnya terpenuhi, sementara keinginan untuk membantu masih begitu besar. Pada saat inilah tauhid mengajarkan ketenangan, yaitu dengan menyerahkan mereka kepada Allah melalui doa dan tawakal, seraya berkata dengan penuh harap: ‎ ‎اللَّهُمَّ أَنْتَ أَرْحَمُ بِهِمْ مِنَّا ‎ ‎“Ya Allah, Engkau lebih menyayangi mereka daripada kami.” ‎ ‎Doa ini bukan bentuk lepas tangan, melainkan pengakuan bahwa kasih sayang Allah jauh melampaui kemampuan manusia, dan pertolongan-Nya tidak dibatasi oleh kelemahan kita. ‎ ‎Al-Qur’an tetap memerintahkan kaum beriman untuk saling menguatkan dan menolong dalam kebaikan: ‎ ‎ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى ‎ ‎“… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, …” (Q.S. Al-Maidah: 2) ‎ ‎Maka banjir bandang ini hendaknya menjadikan kita semakin tunduk kepada Allah, semakin lembut kepada sesama, dan semakin sadar bahwa keselamatan sejati tidak terletak pada kuatnya bangunan atau banyaknya harta, melainkan pada lurusnya tauhid dan kokohnya iman. Semoga Allah mengangkat musibah ini, melapangkan hati saudara-saudara kita yang terdampak, serta menjadikan peristiwa ini sebagai jalan kembali kepada-Nya. ‎ ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ: ‎https://whatsapp.com/channel/0029ValKVW6F1YlPl1ZAWz3C ‎📷Instagram LDRQ: https://instagram.com/ldrq.raudhatulquran ‎📷Instagram Dayah RQ : https://instagram.com/dayahraudhatulquran__ ‎🌎Fanpage FB: https://www.facebook.com/dayahrqcenter ‎📡Facebook: https://www.facebook.com/pusat.rq ‎🎬Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCXam1oDfCU_ieIA9WBD3VoQ ‎🐦X: https://x.com/LPI_DayahRQ ‎📝Telegram: t.me/dayahraudhatulquran ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Cover Tausiah ldrq
Tausiah LDRQ

Menelantarkan Anak Kandung : Dosa Besar

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Menelantarkan Anak Kandung : Dosa Besar Perlu dipahami bersama, menelantarkan anak sama sekali tidak dibenarkan, apapun alasannya. Anak adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga dan dipenuhi kebutuhannya. Orang tua tidak hanya bertanggung jawab memberi nafkah, tetapi juga memastikan keselamatan dan kesejahteraan anaknya. Meninggalkannya sendirian tanpa kepastian adalah bentuk pengabaian terhadap amanah besar ini. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا Menurut Imam al-Ghazali Artinya, “Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS An-Nisa’ [4]: 58). Ayat di atas menjadi landasan umum bahwa setiap amanah wajib ditunaikan, dan anak termasuk amanah paling besar yang Allah titipkan kepada orang tua. Karena itu, hak-hak anak tidak boleh diabaikan, baik hak untuk hidup dengan aman, mendapatkan makan dan minum, perlindungan, maupun perhatian. Maka menelantarkan anak jelas bertentangan dengan perintah syariat Islam. Rasulullah pun mengingatkan bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang ayah adalah pemimpin bagi keluarganya, dan seorang ibu pemimpin di rumah suaminya. Maka orang tua yang menelantarkan anak berarti gagal menjalankan kepemimpinannya dan akan dimintai pertanggungjawaban kelak, كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا Artinya, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang perempuan adalah pemimpin atas rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atasnya.” (HR Bukhari dan Muslim). Dari hadits ini, jelaslah bahwa orang tua memiliki tanggung jawab besar terhadap anak-anaknya. Menelantarkan anak berarti melanggar amanah kepemimpinan yang telah diberikan oleh Allah swt. Dan orang tua yang melakukan perbuatan ini akan berdosa besar serta akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Rasulullah saw bersabda: كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ Artinya, “Cukuplah orang itu dianggap berdosa jika menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggung jawabnya.” (HR an-Nasai & al-Baihaqi). Berdasarkan riwayat di atas, Imam Ibnu Hajar al-Haitami (wafat 974 H) secara tegas memasukkan perbuatan menelantarkan keluarga, termasuk anak-anak yang masih kecil sebagai bagian dari dosa besar. Dalam kitab az-Zawajir ‘an Iqtirafil Kabair dijelaskan; الْكَبِيرَةُ الْحَادِيَةُ بَعْدَ الثَّلَاثِمِائَةِ : إضَاعَةُ عِيَالِهِ كَأَوْلَادِهِ الصِّغَارِ Artinya, “Dosa besar yang ke-301 adalah menelantarkan keluarganya, seperti anak-anaknya yang masih kecil.” (Imam Ibnu Hajar, az-Zawajir ‘an Iqtirafil Kabair, [Beirut: Darul Fikr, 1407 H/1987 m], jilid II, halaman 383). Oleh karena itu, membuang atau menelantarkan anak adalah perbuatan yang sangat dilarang dalam Islam. Bahkan jika anak dianggap nakal atau sulit diatur, Islam tidak memberi alasan bagi orang tua untuk menelantarkan mereka. Justru sebaliknya, anak yang dianggap sulit perlu perhatian, pendidikan, dan bimbingan yang lebih intens dari orang tuanya. Dengan kata lain, tidak ada satu pun alasan yang bisa membenarkan orang tua membuang atau menelantarkan anak. Anak adalah amanah dan tanggung jawab yang harus dijaga. Menelantarkannya berarti mengkhianati amanah Allah, melanggar prinsip syariat, dan membuka pintu dosa besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ: ‎https://whatsapp.com/channel/0029ValKVW6F1YlPl1ZAWz3C ‎📷Instagram LDRQ: https://instagram.com/ldrq.raudhatulquran ‎📷Instagram Dayah RQ : https://instagram.com/dayahraudhatulquran__ ‎🌎Fanpage FB: https://www.facebook.com/dayahrqcenter ‎📡Facebook: https://www.facebook.com/pusat.rq ‎🎬Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCXam1oDfCU_ieIA9WBD3VoQ ‎🐦X: https://x.com/LPI_DayahRQ ‎📝Telegram: t.me/dayahraudhatulquran ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Apakah Fungsi Berdo’a? Bukankah Allah Maha Mengetahui Segalanya?

‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Apakah Fungsi Berdo’a? Bukankah Allah Maha Mengetahui Segalanya? Allah SWT mengajarkan kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya senantiasa selalu berdoa kepada-Nya.Dikarenakan doa merupakan sarana komunikasi sang hamba dengan penciptanya. Dengan berdoalah seorang hamba menyampaikan segala keluh kesah dan permintaan yang berupa keinginan maupun kebutuhan. Namun meski demikian,banyak sekali timbul kemusykilan maupun kebingungan yang menjadi tanda tanya dikalangan orang awam. Mengapa kita harus berdoa ? Bukankah Allah Maha mengetahui segalanya? Segala isi hati, baik itu kebutuhan maupun keinginan yang ada dalam hati kita? Maka Syair Imam Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad Al Haddad telah menjadi jawabannya. Yang mana Syair tersebut tercipta dikala beliau berada dalam keadaan yang sangat sulit dan berharap kepada Allah. Demikian Syairnya: قَدْ كَفَانِي عِلْمُ رَبِّي مِنْ سُؤَالِي وَاخْتِيَارِي فَدُعَـائِي وابْتِهـَالِي شَـاهِدٌ لِي بِافْتِقَارِي “Qad kafani ilmu rabby.. Min sualy wakhtiyary.. Fadu’aiy wabtihaaly.. Syahidunly Biftiqaary.. Artinya : “Sungguh sangat mencukupi (mendapat kepuasan dan ketenangan) bagiku terhadap segala ilmu Tuhanku” “Yang mengetahui segala permintaan dan keinginanku” “Maka segala doa dan jeritan isi hatiku” “Adalah sebagai bukti dan menjadi saksi bahwa diriku sangat membutuhkan Tuhanku” Berdasarkan Syair Imam Alhaddad dapat kita ambil sebuah hikmah tentang berdoa,yaitu sebagai bukti bahwa kita sangat butuh kepada-Nya. Karena kita hanyalah hamba yang lemah,yang hina, bahkan yng selalu ketergantungan dengan Allah SWT. Maka berdoalah, Curahkan lah semua keluh kesah maupun curhatan yang ada di benakmu. Karena Allah sendiri yang memerintahkan kita sebagai hambanya untuk selalu berdoa. Sebagaimana firman-Nya dalam surah ( Al Ghafir ayat 60) : “وقال ربكم ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ” “Berkatalah Tuhanmu : Berdoalah kepadaku niscaya akan aku kabulkan” Setelah kita mengetahui fungsi dari sebuah doa,alangkah baiknya kita juga harus memperhatikan hal-hal yang membuat doa kita dikabulkan oleh Allah SWT. Syekh Abdul Qadir Al Jilani memberi arahan kepada kita kaum muslimin yang hendaknya ingin melakukan ibadah yang berbentuk doa.Dikarenakan,meski pada hakikatnya berdoa bisa dilakukan kapanpun dan di manapun. Akan tetapi, alangkah lebih baiknya doa dilakukan pada waktu-waktu dan tata cara yang telah ditentukan oleh syariat,Agar segala yang kita panjatkan diterima oleh sang Penerima Doa. Di dalam kitab Al Gunyah Lithalibin ala tariqil haq, karangannya beliau(Syekh Abdul Qadir Al Jilani) memberikan beberapa poin penting yang harus diperhatikan diketika berdoa,yaitu : أن يمد يديه ويحمد الله تعالى ويصلى على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يسأله الله حاجته ولا ينظر إلى السماء في حاله دعائه، وإذا فرغ يديه مسح يديه على وجهه، لما روى عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: سلوا الله ببطون اكفكم Dianjurkan pada saat berdoa membentangkan kedua tangan, mengawalinya dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, kemudian baru setelah itu mengutarakan permintaan dan permohonan. Jangan menghadap langit pada saat berdoa. Ketika selesai berdoa usaplah kedua tangan ke wajah. Dalam sebuah riwayat disebutkan Rasulullah berkata : “Mintalah kepada Allah dengan batin telapak tangan”. Dari penjelasan Syekh Abdul Qadir di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat berdoa: Pertama, membentangkan kedua telapak tangan pada saat berdoa, seperti orang yang sedang memohon dan meminta. Kedua, awali doa dengan pujian terhadap Allah SWT dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pujian itu sebagai ungkapan bahwa manusia sesungguhnya lemah dan tidak memiliki daya dan kuasa di hadapan Allah SWT. Ketiga, setelah memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi Muhammad baru utarakan permintaan dan permohonan kepada Allah SWT, sembari menunduk dan jangan menghadap ke langit. Keempat, selesai berdoa usaplah wajah dengan dua telapak tangan. Pada saat membentangkan kedua telapak tangan, hendaklah batin telapak tangan menghadap ke atas, seperti halnya orang meminta. Sebagaimana hadis Rasulullah Saw,yang diriwayatkan oleh Abu daud : “سلوا الله ببطون أكفكم ولا تسألوه بظهورها ” “mintalah kepada Allah dengan batin telapak tangan,jangan lah kalian meminta dengan punggung telapak tangan” ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ: ‎https://whatsapp.com/channel/0029ValKVW6F1YlPl1ZAWz3C ‎📷Instagram LDRQ: https://instagram.com/ldrq.raudhatulquran ‎📷Instagram Dayah RQ : https://instagram.com/dayahraudhatulquran__ ‎🌎Fanpage FB: https://www.facebook.com/dayahrqcenter ‎📡Facebook: https://www.facebook.com/pusat.rq ‎🎬Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCXam1oDfCU_ieIA9WBD3VoQ ‎🐦X: https://x.com/LPI_DayahRQ ‎📝Telegram: t.me/dayahraudhatulquran ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

4 Amalan Utama di Bulan Rajab

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊🎤 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Rq-Center 4 Amalan Utama di Bulan Rajab 1. Berpuasa Berpuasa pada bulan Rajab adalah amalan yang paling baik. Rasulullah SAW selalu berpuasa di bulan Rajab ini. Diriwayatkan dalam hadis shahih bahwa Rasulullah SAW berpuasa di bulan Rajab. حدثنا عثمان ابن حكيم الانصاري قال سالت سعيد ابن جبير عن صوم رجب نحن يومێذ في رجب فقال سمعت ابن عباس رضي الله عنهما يقولان كان رسول الله صلى الله عليه واله وسلم يصوم حتى نقول لا يفطر ويفطر حتى نقول لا يصوم “Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman ibn Hakim al-Anshari berkata, aku bertanya kepada Sa’id ibn Jubair tentang puasa Rajab, padahal pada waktu itu di bulan Rajab, dia menjawab, aku pernah mendengar Ibn Abbas berkata, Rasulullah SAW berpuasa (Rajab) terus hingga kami berkata, beliau tidak berbuka, dan (pada waktu yang lain) beliau berbuka hingga kami berkata, nabi tidak puasa.” (HR Muslim) Hadis ini secara eksplisit menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW sering puasa terus menerus di bulan rajab, hingga para sahabat mengira bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah berbuka, namun kadang Nabi Muhammad SAW tidak berpuasa hingga para sahabat mengira nabi tidak berpuasa di bulan Rajab. Adanya beberapa riwayat yang dha’if dan maudhu’ tentang keutamaan puasa Rajab bukan berarti puasa sunnah di bulan Rajab tidak ada. Puasa rajab sangat dianjurkan oleh Rasulallah saw walau hanya beberapa hari saja. 2. Istighfar Bulan Rajab adalah bulan permohonan ampun kepada Allah Ta’ala. Bulan Rajab disebut “syahr al-istighfar”, maka perbanyaklah istighfar di bulan ini. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Rajab artinya ‘mencurahkan,’ karena pada bulan rajab, Allah Ta’ala mencurahkan rahmat-Nya kepada hamba-Nya. Setiap manusia mempunyai salah dan khilaf, maka perbanyaklah memohon ampun di bulan ini. Imam as-Suyuthi dalam tafsirnya berkata; dalam menafsirkan surat al Taubah/9: 36. “Maka Janganlah pada bulan haram berbuat zalim terhadap dirimu sendiri”, maksudnya adalah sesungguhnya berbuat zalim pada bulan haram merupakan kesalahan yang besar dan lebih berat dosanya daripada di bulan lain. Diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim dari ibn Zaid, firman Allah Ta’ala, “janganlah kalian berbuat zalim terhadap diri sendiri di bulan haram”, maksudnya adalah perbuatan maksiat dan meninggalkan ketaatan. Allah Ta’ala mengajak kaum muslimin untuk memperbanyak “istighfar” atas dosa dan khilaf yang pernah dilakukannya pada masa lalu. Allah Ta’ala memerintahkan agar menghentikan perbuatan zalim terhadap diri sendiri dan orang lain. 3. Bersedekah Salah satu jalan yang ditempuh oleh “para salik” untuk mencapai kemuliaan adalah bersedekah. Namun yang paling utama adalah memilih waktu yang mulia untuk bersedekah. Dan salah satu bulan yang mulia untuk memperbanyak amal shaleh termasuk bersedekah adalah bulan Rajab. قال النبي صلى الله عليه وسلم : من تصدق في رجب باعده الله من النار كمقدار غراب طار فرخا حتى مات هرما Nabi Muhammad saw bersabda: “Siapa yang sedekah di bulan Rajab maka Allah Ta’ala menjauhkan dirinya dari neraka sejauh jarak terbang seekor burung elang yang terbang dari kecil hingga mati.” قال النبي صلى الله عليه وسلم : من فرج عن مؤمن كربة في رجب أعطاه الله في الفردوس قصرا مد بصره Nabi Muhammad saw bersabda: “Siapa yang melapangkan kesulitan seorang mukmin di bulan Rajab, maka Allah Ta’ala akan memberikan istana di surga firdaus seluas pandangan matanya.” Hadirnya bulan Rajab yang menyapa hamba merupakan isyarat dan kesempatan agar setiap hamba meningkatkan seluruh amalnya termasuk di dalamnya bersedekah. Bersedekah banyak keutamaannya. bersedekah dapat memadamkan murka Allah Ta’ala. bersedekah dapat menolak bala. bersedekah dapat memperlancar dan memperbanyak rizki. akan memperpanjang umur. bersedekah akan memberikan keberkahan hidup di dunia dan akhirat. 4. Zikir dan berdoa “Doa dan zikir” adalah amalan yang mulia. Perbedaan orang yang mati dan yang hidup adalah terletak pada zikirnya. Bulan Rajab yang penuh dengan kemuliaan hendaknya diisi dengan zikir dan berdoa. Zikir dan doa yang dilakukan di bulan rajab adalah: 1) Membaca doa ini saat memasuki bulan Rajab. اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَـعْبَانَ وَبَلِّـغْنَا رَمَضَانَ “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami hingga bulan Ramadhan.” 2) Memperbanyak shalawat إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS al-Ahzab/33: 56) 3) Membaca doa رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَتُبْ عَلَيَّ اَسْـتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِي لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ، تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لاَ يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا وَلاَ مَوْتًا وَلاَ حَيَاةً وَلاَ نُشُوْرًا سُـبْحَان الله الْحَيِّ الْقَيُّوْمِ 4) Membaca sayyidul istighfar اَللَّهُمّ أَنْتَ رَبِّيْ لآ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْـتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّه لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنت و الله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. *Media informasi LDRQ-Center* 📷Instagram Dayah RQ : https://instagram.com/dayahraudhatulquran 🌎Fans Page Fb : https://www.facebook.com/dayahrqcenter 📡Fb : https://www.facebook.com/pusat.rq 📷Instagram LDRQ: https://instagram.com/ldrq.raudhatulquran 🎬Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCXam1oDfCU_ieIA9WBD3VoQ 🐦Twitter : https://twitter.com/LPI_DayahRQ?s=09 📝Telegram : t.me/dayahraudhatulquran #dayahraudhatulquran #ldrqraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻

Tausiah LDRQ

Ancaman bagi Orang Alim yang Menyembunyikan Ilmunya

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Ancaman bagi Orang Alim yang Menyembunyikan Ilmunya Syari’at Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam, dengan misi utama memberikan hidayah dan pencerahan kepada umat manusia. Allah SWT telah memerintahkan kita untuk menyebarkan ilmu, mengajarkan kepada mereka yang belum tahu dan membimbing mereka yang telah salah arah dan tujuan. Al-Qur’an sebagai kitab suci berisi petunjuk-petunjuk yang jelas dan rinci untuk menuntun manusia menuju jalan yang lurus dan kehidupan yang bahagia. Setiap ayat dan hukum yang terkandung di dalamnya adalah ilmu yang menjadi cahaya dan petunjuk bagi umat. Maka jika ilmu itu disembunyikan sama saja telah memenjarakan umat manusia dalam kegelapan dan kesesatan. Allah Swt mengancam orang-orang yang menyembunyikan ilmu dalam firmannya: إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati. Secara historis, ayat di atas pada dasarnya memang diturunkan sebagai peringatan keras kepada ahli kitab Yahudi dan Nasrani. Hal ini dikarenakan mereka telah menyembunyikan kebenaran mengenai Rasulullah yang sejatinya telah ada dalam kitab suci mereka, Taurat dan Injil. Mereka sengaja melakukannya untuk mencegah kaum yahudi dan Nasrani menerima Rasulullah sebagai Nabi terakhir. Selain itu, mereka juga menyembunyikan beberapa hukum syariat yang telah Allah tetapkan, seperti hukum rajam bagi pelaku zina, serta mengubah beberapa ayat suci sesuai dengan kepentingan mereka. Akibat perbuatan mereka yang keji ini, Allah SWT melaknat mereka dan mengabadikannya dalam al-quran. Kaidah usul fiqih العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب menjadi landasan penting dalam memahami ayat ini. Meskipun ayat tersebut secara khusus ditujukan kepada Yahudi dan Nasrani, namun penggunaan kata ‘الَّذينَ’ yang bersifat umum membuat pesan ayat ini menjadi universal. Dengan demikian, ancaman Allah atas mereka yang menyembunyikan ilmu berlaku tidak hanya bagi Ahli Kitab yahudi dan nasrani, tetapi juga bagi seluruh umat manusia yang menyembunyian ilmu. Selain itu, Rasulullah dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh ibnu majah dan hakim juga mengecam orang yang menyembunyikan ilmu مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ Artinya: Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu yang dia mengetahuinya, lalu ia menyembunyikannya, maka akan diberi tali kekang dari neraka pada hari kiamat. Lantas, ilmu apa yang tidak boleh disembunyikan? Muhammad Ali As-Shabuni dalam kitab Rawai’ul Bayan mengutip pernyataan Abu Hayyan, yang menyatakan bahwa laknat Allah tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang menyembunyikan ayat-ayat-Nya, tetapi juga kepada mereka yang menyembunyikan ilmu agama yang seharusnya diajarkan dan disebarkan (ilmu fardhu ‘ain)” Di antara ilmu yang termasuk dalam fardhu ‘ain adalah ilmu yang diperlukan untuk memastikan sahnya ibadah dan mengesahkan aqidah. Ketika seseorang ditanya mengenai ilmu ini, padahal ia mengetahui kebenarannya, namun memilih untuk menyembunyikannya, maka ia termasuk dalam golongan yang berpotensi mendapat ancaman laknat dari Allah. Referensi: Rawai’ul Bayan ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ: ‎https://whatsapp.com/channel/0029ValKVW6F1YlPl1ZAWz3C ‎📷Instagram LDRQ: https://instagram.com/ldrq.raudhatulquran ‎📷Instagram Dayah RQ : https://instagram.com/dayahraudhatulquran__ ‎🌎Fanpage FB: https://www.facebook.com/dayahrqcenter ‎📡Facebook: https://www.facebook.com/pusat.rq ‎🎬Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCXam1oDfCU_ieIA9WBD3VoQ ‎🐦X: https://x.com/LPI_DayahRQ ‎📝Telegram: t.me/dayahraudhatulquran ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Suasana Zikir bersama dalam rangka memperingati 21 tahun Tsunami Aceh
Tausiah LDRQ

ZIKIR MENGENANG 21 TAHUN TSUNAMI ACEH

ZIKIR MENGENANG 21 TAHUN TSUNAMI ACEH Dalam rangka mengenang 21 tahun peristiwa Tsunami Aceh, sebuah musibah besar yang meninggalkan duka mendalam sekaligus pelajaran berharga bagi kita semua, berikut kami bagikan bacaan zikir dan doa bersama. Zikir ini menjadi sarana untuk mengenang para syuhada, memohon ampunan bagi mereka yang telah berpulang, serta memanjatkan doa agar Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, perlindungan, dan keteguhan iman kepada kita semua. Semoga melalui zikir dan doa ini, kita dapat mengambil hikmah dari peristiwa tersebut, memperkuat keimanan, serta menumbuhkan kepedulian dan kebersamaan dalam menghadapi setiap ujian kehidupan. Silakan unduh file zikir di bawah ini untuk digunakan dalam pelaksanaan zikir bersama.