Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

Ramadhan ke – 27 : Keutamaan Shalat Malam

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊 *Kajian Malam Ramadhan Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ)* Bersama :Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA Tema :Keutamaan Shalat Malam (فضائل قيام الليل) 📖 Kalam Hikmah: صلاة الليل من أعظم أسباب دخول الجنة؛ Shalat malam merupakan sebab yang sangat besar seseorang hamba masuk ke dalam surga. Rasulullah SAW bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (يا أيها الناس، أفشوا السلام، وأطعموا الطعام، وصِلوا الأرحام، وصلوا بالليل والناسُ نيام، تحُلُّوا الجنة بسلام)؛ [أخرجه الترمذي، وقال: هذا حديث صحيح]. Artinya : “Wahai manusia tebarkanlah salam, bagikanlah makanan kepada orang lain, sambungkanlah silaturahmi, dan shalatlah kalian pada malam hari di mana manusia dalam keadaan tertidur, niscaya masuklah dalam surga dengan selamat.” (HR. At-Tirmidzi) (وقال أبو سليمان) الداراني -رحمه الله تعالى – (أهل الليل في ليلهم ألذ من أهل اللهو في لهوهم، ولولا الليل ما أحببت البقاء في الدنيا) كذا في “القوت” Artinya: Abu Sulaiman berkata: “Ahlul Lail (ahli ibadah malam) memiliki kelezatan melebihi kegembiraan (yang didapati) ahli lalai dalam permainan mereka. Seandainya bukan karena malam, sungguh aku tidak ingin hidup (tinggal lama) di dunia”. قيل لابن مسعود رضي الله عنه: ما نستطيع قيام الليل. قال: أقعدتكم ذنوبكم Artinya: Dikatakan kepada Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu : “Kita tidak bisa shalat malam. Dia berkata: Dosa-dosamu telah membuatmu terpuruk” قال بعض السلف: أذنبت ذنباً فحرمت به قيام الليل ستة أشهر. Artinya: Ulama salaf berkata “Mengerjakan satu dosa di siang hari telah membuat saya kehilangan ibadah malam selama enam bulan.” و الله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 📷Instagram LDRQ 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #ldrqraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻

Tausiah LDRQ

Zakat Fitrah

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊🎤 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Rq-Center Zakat Fitrah Para ulama Syafi’iyah memberikan ketentuan tentang tempat pendistribusian zakat fitrah dengan mengacu pada tempat di mana seseorang berada pada saat terbenamnya matahari di hari akhir bulan Ramadhan atau malam hari raya Id. Maka bagi orang yang masih berada di tanah rantau pada saat malam hari raya Id, wajib baginya untuk membayar zakat fitrah di tanah rantaunya. Ketentuan ini salah satunya dijelaskan dalam kitab Ghayah Talkhish al-Murad: (مسألة): تجب زكاة الفطر في الموضع الذي كان الشخص فيه عند الغروب، فيصرفها لمن كان هناك من المستحقين، وإلا نقلها إلى أقرب موضع إلى ذلك المكان “Zakat fitrah wajib (ditunaikan) di tempat di mana seseorang berada pada saat matahari (di hari akhir Ramadhan) tenggelam. Maka ia memberikan zakat fitrah pada orang yang berhak menerima zakat yang berada di tempat tersebut, jika tidak ditemukan, maka ia berikan di tempat terdekat dari tempatnya” (Syekh Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Ba’lawi, Ghayah Talkhish al-Murad, hal. 43). Berdasarkan referensi di atas, menunaikan zakat fitrah yang benar adalah di tempat di mana seseorang berada. Ketika seseorang masih berada di tanah rantau pada saat malam hari raya, maka ia harus menunaikan zakat pada orang-orang yang berhak menerima zakat (mustahiq zakat) yang ada di tempat tersebut. Jika ia berada di kampung halamannya, maka zakat fitrahnya diberikan pada orang-orang yang berhak menerima zakat di kampung halamannya. Sedangkan ketika ketentuan demikian tidak dilaksanakan, misalnya orang yang berada di perantauan pada saat malam hari raya, mewakilkan kepada keluarganya di kampung halaman agar membayarkan zakat fitrah atas dirinya dan dibagikan kepada orang-orang yang berhak menerima zakat di kampung halamannya, maka dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat di antara ulama tentang masalah naql az-zakat (memindahkan pengalokasian harta zakat). Hal ini seperti dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab: قال أصحابنا إذا كان في وقت وجوب زكاة الفطر في بلد وماله فيه وجب صرفها فيه فإن نقلها عنه كان كنقل باقي الزكوات ففيه الخلاف والتفصيل السابق “Para Ashab (ulama Syafi’iyah) berkata: ‘Ketika seseorang pada saat wajibnya zakat fitrah berada di suatu daerah, dan hartanya juga berada di daerah tersebut, maka wajib untuk menunaikan zakat di daerah tersebut. Jika ia memindahkan pembagian zakatnya (ke tempat yang lain) maka hukumnya seperti halnya hukum memindahkan pembagian zakat yang terdapat perbedaan di antara ulama dan terdapat perincian yang telah dijelaskan.” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 6, hal. 225) Sedangkan perbedaan pendapat dalam menyikapi naql az-zakat dalam mazhab Syafi’i, yakni menurut pendapat yang unggul (rajih), memindah pengalokasian harta zakat adalah hal yang tidak diperbolehkan, sedangkan menurut sekelompok ulama yang lain, seperti Ibnu ‘Ujail dan Ibnu Shalah memperbolehkan naql az-Zakat (Syekh Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Ba’lawi, Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 217). Maka dapat disimpulkan bahwa wajib bagi orang yang berada di perantauan agar menunaikan zakat fitrah di tempat di mana ia berada pada saat malam hari raya. Kebiasaan menunaikan zakat fitrah di kampung halaman bagi orang yang masih berada di perantauan tidak bisa dibenarkan, kecuali menurut sebagian ulama yang memperbolehkan naql az-zakat. Wallahu a’lam. Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 📷Instagram LDRQ 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #ldrqraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻

Tausiah LDRQ

Ramadhan ke – 23 : Keutamaan Malam Lailatul Qadar

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊 Kajian Malam Ramadhan Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ) Bersama :Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA Tema :Keutamaan Malam Lailatul Qadar (فضائل ليلة القدر)   📖 Kalam Hikmah: ١- الفضيلة الأولى : ليلة مصطفاة من رب العالمين Keutamaan yang pertama adalah malam yang dipilih oleh Tuhan semesta alam ٢- الفضيلة الثانية : تسمية سورة من سور القرآن بهذه اليلة العظيمة Keutamaan kedua adalah Allah memberi nama salah satu surat dalam Al-Qur’an dengan nama malam yang agung ini. ٣- الفضيلة الثالثة : عظم الله شأنها وقدرها Keutamaan ketiga adalah Allah SWT meninggikan kedudukan dan keutamaan malam Lailatul Qadar. ٤- الفضيلة الرابعة : ليلة مباركة Keutamaan keempat adalah malam yang penuh dengan keberkahan. ٥- الفضيلة الخامسة : من فضائل ليلة القدر نزل القرآن فيها Keutamaan kelima adalah Allah SWT menurunkan Al-Qur’an pada malam tersebut. ٦- الفضيلة السادسة : عمل صالح فيها خير من عمل ألف شهر Keutamaan keenam adalah amal kebaikan yang dilakukan pada malam tersebut sama dengan melakukan amal kebaikan 1000 bulan. ٧- الفضيلة السابعة : المفلح من نال خيرها والمحروم من حرم خيرها Keutamaan ketujuh adalah orang beruntung adalah orang yang memperoleh kebaikan pada malam tersebut, dan orang yang rugi adalah orang yang kehilangan kebaikan pada malam tersebut. ٨- الفضيلة الثامنة : من أقامها إيمانا واحتسابا غفرت له ذنوبه Keutamaan kedelapan adalah barang siapa yang mendirikan ibadah pada malam tersebut Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya. ٩- الفضيلة التاسعة: إحياء ليلة القدر من سنن النبي صلى الله عليه وسلم Keutamaan Kesembilan adalah menghidupkan kembali Lailatul Qadra yang merupakan salah satu Sunnah Nabi. Muhammad SAW. ١٠- الفضيلة العاشرة: الدعاء إتباع لهدي حبيبنا عليه الصلاة والسلام Keutamaan kesepuluh adalah berdoa pada malam tersebut mengikuti petunjuk Rasulullah SAW. ١١- الفضيلة الحادية عشر : من فضائل ليلة القدر نزول الملائكة والروح فيها Keutamaan kesebelas adalah salah satu keutamaan Lailatul Qadr adalah turunnya malaikat dan ruh pada saat itu. ١٢- الفضيلة الثانية عشر: سلام هي حتى مطلع الفجر Keutamaan kedua belas adalah sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar. و الله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 📷Instagram LDRQ 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #ldrqraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻

Tausiah LDRQ

Ramadhan ke – 21 : Ilmu dan Amal

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊 Kajian Malam Ramadhan Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ) Bersama :Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA Tema :Ilmu dan Amal (العلم والعمل)   📖 Kalam Hikmah: قال الإمام ابن القيم -رحمه الله-: “العلم والعمل توأمان أمهما علو الهمة، الجهل والبطالة توأمان أمهما إيثار الكسل” Artinya: Al-Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah Rahimahullah berkata: “Ilmu dan amal adalah dua saudara kembar. Ibu keduanya adalah kuatnya kemauan. Kebodohan dan pengangguran juga saudara kembar. Ibu keduanya adalah menuruti kemalasan.” Kuatnya kemauan merupakan landasan utama untuk begusnya ilmu dan amal, ilmu akan diperoleh dengan jihad yang kuat, begitu juga dengan amal, tidak akan beramal seseorang hamba apabila dalam dirinya tidak ada semangat yang kuat sekalipun dia memiliki ilmu. Makan keduanya ilmu dan amal berjalan dan berkembang dengan baik apabila memiliki landasan semangat yang kuat. Begitu juga dengan bodoh dan pengangguran merupakan dua saudara kembar yang tidak bisa dipisahkan, dan landasan dari keduanya adalah memperturut malas. Malas akan membawa kebodohan dan pengangguran. Banyak orang sudah mengetahui bahwa puncak dari bulan Ramadhan ini adalah malam-malam 10 terakhir, di mana ada malam yang istimewa yang patut dikejar oleh semua hamba yaitu malam Lailatul Qadar. Banyak orang sudah mengetahui malam Lailatul Qadar itu adalah malam agung yang sangat besar dan berlipat ganda pahala dari amalan yang dilakukan pada malam tersebut namun sebagian orang tidak memperolehnya dikarenakan tidak ada keinginan yang kuat untuk beramal walaupun sudah ada ilmu tentang hal tersebut. Begitulah pengaruh dari semangat yang kuat terhadap ilmu dan amal seseorang. Bayangkan misalnya orang yang jauh tempat tinggalnya dari mesjid atau tempat ibadah namun sampai untuk melaksanakan ibadah pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan, namun sebaliknya ada orang-orang yang dekat dari mesjid atau tempat ibadah namun tidak sampai dan sempat beribadah pada malam-malam tersebut. Makanya salah satu doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk menghilangkan penyakit malas adalah: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kebingungan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.” والله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram LDRQ 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #lajnahdakwahraudhatulquran 💎⭐⛅🤝

Tausiah LDRQ

Ramadhan ke – 20 : Kaidah Menandai Lailatul Qadar Menurut Imam al-Ghazali

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ Kaidah Menandai Lailatul Qadar Menurut Imam al-Ghazali Rasulullah menganjurkan umatnya untuk mengharap dianugerahi Lailatul Qadar pada bulan yang sepuluh pertamanya adalah rahmat, sepuluh keduanya adalah ampunan, dan sepuluh akhirnya adalah bebas dari neraka ini. Walaupun, hakikatnya memang tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan terjadinya Lailatul Qadar kecuali Allah ‘azza wajalla. Hanya saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan dalam sabdanya: تَحَرَّوْا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان “Carilah Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. ” (Muttafaqun ‘alaihi dari Aisyah radliyallahu ‘anha) Dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan, dari Aisyah radliyallahu anha, ia berkata: كَانَ رَسُوْلُ الله إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ {هذا لفظ البخاري} “Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengencangkan kainnya (menjauhkan diri dari menggauli isterinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” Demikian menurut lafadz Al-Bukhari. Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radliyallahu anha: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَجْتَهِدُ فِيْ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مَالاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari akhir bulan Ramadan, hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya.” (HR Muslim) Dalam shahihain disebutkan, dari Aisyah radliyallahu ‘anha: أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ الله “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkan beliau.” Lebih khusus lagi, adalah malam-malam ganjil sebagaimana sabda beliau: تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِفِي الْوِتْرِمِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ “Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan)”. (HR. Al-Bukhari dari Aisyah radliyallahu ‘anha) Dan lebih khusus lagi adalah malam-malam ganjil pada rentang tujuh hari terakhir dari bulan tersebut. Beberapa shahabat Nabi pernah bermimpi bahwa Lailatul Qadar tiba di tujuh hari terakhir. Maka Rasulullah bersabda: أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ “Aku juga bermimpi sama sebagaimana mimpi kalian bahwa Lailatul Qadar pada tujuh hari terakhir, barangsiapa yang berupaya untuk mencarinya, maka hendaknya dia mencarinya pada tujuh hari terakhir. ” (muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma) Dalam riwayat Muslim dengan lafazh: الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir, jika salah seorang dari kalian merasa lemah atau tidak mampu, maka janganlah sampai terlewatkan tujuh hari yang tersisa dari bulan Ramadhan. ” (HR. Muslim dari Ibnu ‘Umar radliyallahu ‘anhuma) Yang lebih khusus lagi adalah malam 27 sebagaimana sabda Nabi tentang Lailatul Qadar: لَيْلَةُ سَبْع وَعِشْرِيْنَ “(Dia adalah) malam ke-27. ” (HR. Abu Dawud, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radliyallahu ‘anhuma, dalam Shahih Sunan Abi Dawud. Sahabat Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu menegaskan: والله إني لأعلمها وأكثر علمي هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها هي ليلة سبع وعشرين Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam (Lailatul Qadar) tersebut. Puncak ilmuku bahwa malam tersebut adalah malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menegakkan shalat padanya, yaitu malam ke-27. (HR. Muslim) Dengan demikian dapat dibuat kesimpulan bahwa Lailatul Qadar itu ada pada sepuluh akhir Ramadhan, terutama pada malam tanggal ganjil. Dalam hadits Abu Dzar disebutkan: أَنَّهُ قَامَ بِهِمْ لَيْلَةَ ثَلاَثٍ وَعِشْرِيْنَ، وَخَمْسٍ وَعِشْرِيْنَ، وَسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ، وَذَكَرَ أَنَّهُ دَعَا أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ خَاصَّةً “Bahwasanya Rasulullah melakukan shalat bersama mereka (para sahabat) pada malam dua puluh tiga (23), dua puluh lima (25), dan dua puluh tujuh (27) dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak salat keluarga dan isteri-isterinya pada malam dua puluh tujuh (27).” Para ulama kemudian berusaha meneliti pengalaman mereka dalam menemukan Lailatul Qadar. Menurut keterangan Fathul Qarib, Hasyiah Al-Bajury, dan Fathul Muin beserta Ianatut Thalibin, Imam Syafii menyatakan bahwa Lailatul Qadar itu ada pada sepuluh akhir Ramadhan, lebih-lebih pada malam ganjilnya, dan yang paling diharapkan adalah pada malam 21, atau 23 Ramadhan. Di antara ulama yang menyatakan bahwa ada kaidah atau formula untuk mengetahui itu adalah Imam Abu Hamid Al-Ghazali (450 H- 505 H) dan Imam Abul Hasan as Syadzili. Bahkan dinyatakan bahwa Syekh Abu Hasan semenjak baligh selalu mendapatkan Lailatul Qadar dan menyesuai dengan kaidah ini. Menurut Imam Al-Ghazali dan juga ulama lainnya, sebagaimana disebut dalam I’anatut Thalibin juz 2, hal. 257, bahwa cara untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari hari pertama dari bulan Ramadan: قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء فهي ليلة تسع وعشرين أو يوم الاثنين فهي ليلة إحدى وعشرين أو يوم الثلاثاء أو الجمعة فهي ليلة سبع وعشرين أو الخميس فهي ليلة خمس وعشرين أو يوم السبت فهي ليلة ثلاث وعشرين قال الشيخ أبو الحسن ومنذ بلغت سن الرجال ما فاتتني ليلة القدر بهذه القاعدة المذكورة 1. Jika awalnya jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29 2. Jika awalnya jatuh pada hari Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21 3. Jika awalnya jatuh pada hari Selasa atau Jum’at maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27 4. Jika awalnya jatuh pada hari Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25 5. Jika awalnya jatuh pada hari Sabtu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23 Syekh Abul Hasan As-Syadzili berkata: “Semenjak saya menginjak usia dewasa Lailatul Qadar tidak pernah melesat dengan jadwal atau qaedah tersebut.” Kaidah ini sesuai dengan keterangan dalam Hasyiah al-Jamal, hal. 480: كما اختاره الغزالي وغيره وقالوا إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر فإن كان أوله يوم الأحد أو الأربعاء فهي ليلة تسع وعشرين أو يوم الاثنين فهي ليلة إحدى وعشرين أو يوم الثلاثاء أو الجمعة فهي ليلة سبع وعشرين أو يوم الخميس فهي ليلة خمس وعشرين أو يوم السبت فهي ليلة ثلاث وعشرين. Berbeda, kitab penulis Ianatut Thalibin dalam halaman 258, dan Hasyiah al-Bajury dalam juz pertama halaman 304, mencantumkan kaidah lain: وإناجميعا إن نصم يوم جمعة # ففى تاسع العشرين خذ ليلة القدر وإن كان يوم السبت أول صومنا#فحادي وعشرين إعتمده بلاعذر وإن هلّ يوم الصوم فى أحد # ففى سابع العشرين مارمت فاستقر وإن هلّ بالإثنين فاعلم بأنّه # يوافيك نيل الوصل فى تاسع العشرى ويوم الثلاثاإن

Tausiah LDRQ

Ramadhan ke – 19 : Syiar 10 Malam Terakhir Bulan Ramadhan

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊 Kajian Malam Ramadhan Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ) Bersama :Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA Tema :Syiar 10 Malam Terakhir Bulan Ramadhan (شعار الليالي العشر الأخيرة من رمضان) 📖 Kalam Hikmah: شعار الليالي العشر الأخيرة من رمضان Rasulullah SAW bersabda : عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ (متفق عليه) Artinya : Diriwayatkan dari Aisyah ra, bahwasannya “Rasulullah saw jika memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan, mengencangkan sarungnya, dan menghidupkan malam-malamnya, serta membangunkan keluarganya”. (Muttafaq Alaih). Kita sudah hampir memasuki sepuluh terakhir bulan Ramadhan maka berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW tersebut beliau ketika masuk sepuluh terakhir bulan Ramadhan mengencangkan ikat pinggangnya maksudnya beliau tidak ada waktu untuk istirahat terus mempersiapkan diri untuk ibadah. Kemudian Nabi menghidupkan malam-malam sepuluh terakhir itu dengan ibadah-ibadah penuh sepanjang malam dan tidak tidur sedikit pun. Dan beliau juga mangajak keluarganya untuk beribadah menghidupkan malam-malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan tersebut. Dalam hadits lain Rasulullah bersabda: تَحَرَّوْا وفي رواية : الْتَمِسُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ Artinya: “Carilah malam lailatul qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.” (HR. Bukhari & Muslim). Maka mari manfaatkan malam-malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan ini dengan memperbanyak amalan, ibadah sepanjang malam, dan perbanyak sedekah. والله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram LDRQ: https://instagram.com/ldrq.raudhatulquran 📷Instagram Dayah RQ : https://instagram.com/dayahraudhatulquran__ 🌎Fans Page Fb : https://www.facebook.com/dayahrqcenter 📡Fb : https://www.facebook.com/pusat.rq 🎬Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCXam1oDfCU_ieIA9WBD3VoQ 🐦Twitter : https://twitter.com/LPI_DayahRQ?s=09 📝Telegram : t.me/dayahraudhatulquran #dayahraudhatulquran #lajnahdakwahraudhatulquran 💎⭐⛅🤝

Tausiah LDRQ

Ramadhan ke-15 : Mengingat Kematian

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊 Kajian Malam Jumat Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ) Bersama :Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA Tema :Mengingat Kematian Ramadhan ke-15 05 | Maret | 2026 M / 15 | Ramadhan | 1447 H 📖 Kalam Hikmah: ذكر الموت يُنغِّص اللَّذَّات، ويحقر الشَّهوات، ويَجعل الآخرة نُصبَ العين، وذِكرُ الموت يَردَع عن المعاصي، ويُليِّن القلبَ القاسي، ومَن أكثر مِن ذِكر الموت، أُكْرِم بثلاثة أشياءَ: تَعجيل التَّوبة، وقَناعة القلب، ونشاط العبادة. Mengingat kematian dapat membatasi seseorang untuk bersenang-senang berlebihan, dapat mengatur hawa nafsu, dan menjadikan kehidupan setelah kematian sebagai fokus perhatian seseorang. Mengingat kematian mencegah dosa dan melembutkan hati yang keras. Siapa pun yang sering mengingat kematian akan dihormati dengan tiga hal: pertobatan yang cepat, kepuasan hati, dan semangat dalam beribadah. Rasulullah SAW bersabda: وكان النبي -صلى الله عليه وسلم- يقول كما عند التِّرمذي من حديث أبي هريرة – رضي الله عنه -: ((أكثروا ذِكرَ هاذِم اللَّذَّات: الموت)) (صحيح الجامع: 1210). Artinya : “Sering-seringlah mengingat penghancur kesenangan yaitu: kematian.” (Sahih Al-Jami’: 1210) Rasulullah SAW bersabda: إذا مات أحدُكم؛ فقد قامتْ قيامتُه؛ فاعبدوا اللهَ كأنكم ترَوْنَه، واستغفِروه كُلَّ ساعةٍ. Artinya : “Apabila seseorang diantara kalian telah meninggal dunia, maka telah berlakulah kiamat untuknya. Oleh karena itu, beribadahlah kepada Allah seakan-akan kamu sedang melihat-Nya dan mintalah keampunan kepada-Nya setiap saat.“ (HR. Ad-Dailami) Penting diketahui bahwa kematian itu adalah kiamat bagi pribadi seseorang maka perlu mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin, karena kiamat yg dimaksud adalah akhir dari segala bentuk kehidupan dunia. Persiapan kematian tersebut harus dipersiapkan dengan ibadah-ibadah. Bagaimana kita beribadah dengan seakan-akan melihat Allah itu adalah sebuah perumpamaan untuk beribadah dengan sebaik dan sebanyak mungkin karena takut kepada Allah SWT. Banyak juga sekarang beribadah hanya sekedar melapas kewajiban tanpa dibarengi dengan keikhlasan dan kekusyukan. Dalam hadits di atas dikatakan bahwa beribadah dengan seakan-akan melihat Allah sebagai sebuah penekanan agar ibadah dilakukan dengan penuh penghayatan dan kesempurnaan sehingga menghasilkan nilai pahala yang besar disisi Allah SWT. Di samping hal tersebut juga dikatakan dalam hadits tersebut untuk memperbanyak istighfar yaitu minta ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan dan kekhilafan. Seseorang yang taat saja wajib memperbanyak istighfar kepada Allah SWT apalagi orang-orang yang penuh dengan kelalaian dalam hidup maka sudah sepatutnya untuk memperbanyak istighfar mohon ampun kepada Allah SWT. Imam Ad Daqqaq rahimahullah berkata: قال الإمام القرطبي: (قال الدقاق: من أكثر من ذكر الموت أكرم بثلاثة أشياء: تعجيل التوبة، وقناعة القلب، ونشاط العبادة. ومن نسي الموت عوقب بثلاثة أشياء: تسويف التوبة، وترك الرضى بالكفاف، والتكاسل في العبادة.) التذكرة: الجزء الأول، ص 27 Artinya: “Barang siapa yang banyak mengingat kematian maka dimuliakan dengan tiga hal; bersegera tobat, puas hati merasa cukup atas pemberian Allah, dan semangat ibadah, dan barang siapa yang lupa kematian diberikan hukuman dengan tiga hal; menunda taubat, tidak ridha dengan keadaan dan malas ibadah.” Apabila seseorang mengingat kematian dan mempersiapkan bekal untuk dirinya di akhirat, ia akan diberikan tiga hal, yakni Allah berikan kesempatan bagi dia untuk bertaubat kepada Allah SWT atas segala dosa-dosanya, kemudian Allah berikan sifat qanaah kepadanya dengan hati selalu merasa cukup atas semua nikmat dan karunia yang berikan, dan akan tumbuh semangat untuk memperbanyak ibadah. Begitu juga sebaliknya ketika seseorang lupa akan kematian maka Allah akan menunda baginya taubat atau dengan bahasa lain Allah akan berikan istidraj kepadanya dengan memberikan kelalaian dan kesibukan dunia hingga lupa kepada mati. Orang yang lupa akan kematian juga akan merasa tidak puas dan cukup dengan segala nikmat yang didapatkan di dunia ini dan pada akhirnya orang tersebut akan malas untuk beribadah kepada Allah SWT. Maka perlu diingat-ingat bahwa kehidupan yang dijalani sekarang adalah perjalanan menuju kematian maka perlu dipersiapkan dengan pembekalan yang baik dan cukup. Tak heran hari ini kita lihat orang-orang di sekitar kita baik keluarga atau tetangga sudah pulang menghadap Allah SWT. Dan pada akhirnya kita juga mendapatkan giliran yang sama akan menghadapi yang namanya kematian. Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata: الموت باب وكل الناس داخله فليت شعري بعد الموت مالدار Artinya: “Kematian adalah sebuah pintu yang setiap manusia pasti akan memasukinya, Aduhai kalau aku bisa tau dimana tempatku setelah kematian.” Sudah pasti semua yang bernyawa pasti akan merasakan yang namanya kematian, perjalanan kita di dunia ini hanya waktu sebentar untuk mempersiapkan bekal menuju hari Akhirat kelak dan awal dari akhirat tersebut adalah kematian. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa: الذي يغسل الميت اليوم هو الميت غداً Artinya: “Yang memandikan jenazah hari ini adalah jenazah besok.” Sangat dekat sebenarnya kematian tersebut, hari ini kita melaksanakan tajhiz mayat bagi jenazah yang baru meninggal memandikan, mengkafani, menyalatkan lalu menguburkan, maka besok giliran kita yang akan dimandikan dan dikuburkan oleh orang lain. Dalam sebuah riwayat juga diingatkan bahwa: الموت أهونُ ممّا بعده، وأشدّ مما قبله. Artinya: “Kematian lebih mudah dari pada apa yang datang setelahnya, dan lebih berat dari pada apa yang datang sebelumnya.” Kematian adalah hal yang sangat berat tetapi sangat kecil apabila dibandingkan dengan hari-hari setelahnya seperti dalam kubur, di Padang Mahsyar, di Mizan dan sebagainya. وكذا زيارة القبور تجعل الإنسان لا يَنسى الموتَ، ورؤيتُها سبيلٌ لأنْ يرقَّ القلبُ، وتدمعَ العينُ، وتجعل زائرها يَزهد في الدنيا، ويَرغب في الآخرة، ويُسارع بالتَّوبة والأوبة والرُّجوع إلى مولاه، ويُكثر مِن الطاعة، ويُلازم ذلك حتى مجيء الموت، فتختم له بخاتمة السعادة. Demikian pula, mengunjungi kuburan membuat seseorang tidak melupakan kematian, dan melihatnya adalah cara bagi hati untuk melembutkan, mata untuk meneteskan air mata, dan itu membuat pengunjung meninggalkan dunia, mendambakan akhirat, bergegas bertaubat dan kembali kepada Tuhannya, meningkatkan ketaatan, dan terus melakukannya sampai kematian datang, sehingga ia meninggal dalam keadaan Husnul khatimah. و الله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 📷Instagram LDRQ 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #ldrqraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻

Tausiah LDRQ

Ramadhan ke-11 : Tiga Hal yang Dapat Menyelematkan Manusia di Dunia Akhirat

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊 Kajian Malam Ramadhan Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ) Bersama :Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA Tema :Tiga Hal yang Dapat Menyelematkan Manusia di Dunia Akhirat (ثلاث منجيات) Ramadhan ke-11 01 | Maret | 2026 M / 11 | Ramadhan | 1447 H 📖 Kalam Hikmah: عَنِ ابْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ، وَثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ، وَثَلَاثٌ كَفَّارَاتٌ، وَثَلَاثٌ دَرَجَاتٌ. فَأَمَّا الْمُهْلِكَاتُ: فَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ. وَأَمَّا الْمُنْجِيَاتُ: فَالْعَدْلُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَى، وَالْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَخَشْيَةُ اللَّهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ. وَأَمَّا الْكَفَّارَاتُ: فَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، وَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي السَّبَرَاتِ [أَيْ:شِدَّةِ الْبَرْدِ]، وَنَقْلُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ. وَأَمَّا الدَّرَجَاتُ: فَإِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ، وَصَلَاةٌ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ» [رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ]. Hadits ini dapat dibagi menjadi empat bagian utama, bagian pertama menerangkan tiga hal yang dapat menyelamatkan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Ketiga hal tersebut adalah: اما المنجيات فخشية الله فى السر والعلانية Pertama, merasa takut kepada Allah swt secara lahir maupun bathin. Kedua, hidup dengan sederhana, dan ketiga, berlaku adil baik dalam keadaan longgar maupun dalam kondisi emosi. أما خشية الله في السر والعلانية، فهي ملاك الأمور، وبها حصول الخيرات واندفاع الشرور، فهي مراقبة الله على الدوام، والعلم بقرب الملك العلام، فيستحيي من ربه أن يراه حيث نهاه، أو يفقده في كل ما يقرب إلى رضاه. Adapun takut kepada Allah secara rahasia maupun terang-terangan, merupakan kunci segala urusan, dan melaluinya kebaikan diperoleh dan keburukan dihindari. Ini adalah kesadaran yang terus-menerus akan Allah dan pengetahuan tentang kedekatan Tuhan semesta sehingga ia merasa malu di hadapan Tuhannya jika terlihat di tempat yang dilarang-Nya, atau jika tidak hadir dari segala sesuatu yang mendekatkannya kepada keridhaan-Nya. Dalam konteks kondisi iman yang selalu fluktuatif, maka ketiga treatmen ini sangatlah bermanfaat untuk selalu diingat. Takut kepada Allah swt artinya takut akan berbagai siksaan dan ancamannya. Mereka yang takut akan pedihnya siksa neraka tentu akan berusaha menghindar dan lari sejauh-jauhnya dari hal-hal yang menyebabkan kita menjadi penghuninya. Sebagaimana tunggang langgang mereka yang menghindar bertemu singa atupun ular karena sangat takutnya. والقصد فى الفقر والغنى Kedua hidup sederhana dan sewajarnya saja walaupun dalam kondisi berlebih, apalagi dalam kondisi kurang. Tentunya hal ini adalah kritik akan tingginya konsumerisme yang berakar dari nafsu ingin memiliki dan pamer. Padahal yang demikian itu adalah pekerjaan setan, innal mubadzdzirina kanu ikhwanas syayathin. وأما القصد في الفقر والغنى، فإن هذا علامة على قوة العقل وحسن التدبير، وامتثال لإرشاد الرب القدير في قوله: ﴿ وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا ﴾ [الفرقان: 67]. Adapun sikap sederhana dalam kemiskinan dan kekayaan, ini adalah tanda kebijaksanaan dan pengelolaan harta yang baik, serta kepatuhan terhadap petunjuk. Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang apabila berbelanja mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, melainkan hidup di antara keduanya” [Al-Furqan: 67]. والعدل فى الرضى والغضب Dan ketiga berusaha seadil dan sebijaksana mungkin walaupun sedang kondisi Ridha dan emosi. Sesungguhnya emosi adalah pintu masuk bagi setan menguasai manusia. Lihat saja ketika seseorang marah, maka akal yang rasional itu tidak lagi berfungsi. Apakah ketika foto pengantin dibanting masakan itu akan menjadi asin? Mereka yang marah akan kehilangan akal dan dikuasai setan. Al-ghadhab yuzilul aqla. وأما العدل فى الرضى والغضب، فإن ذلك عنوان على الصدق والعدل والتوفيق، وأكبر برهان على الإيمان وقهر العبد لغضبه وشهوته، فإنه لا ينجو منها إلا كل صدِّيق، فلا يُخرجه الغضب والشهوة عن الحق، ولا يُدخلانه في الباطل، بل الصدق عام لأحواله كلها وشامل. Selalu bijaksana dalam kepuasan dan kemarahan. Sesungguhnya adalah tanda ketulusan, keadilan, dan bimbingan ilahi, serta bukti terbesar iman dan penguasaan seorang hamba atas amarah dan keinginannya. Hanya orang-orang yang benar-benar saleh yang terbebas dari hal-hal ini, karena amarah dan keinginan tidak menyesatkan mereka dari kebenaran, juga tidak menjerumuskan mereka ke dalam kebohongan. Sebaliknya, kejujuran meliputi semua keadaan mereka. فهذه الثلاث جمعت كل خير متعلق بحق الله، وحق النفس، وحقوق العباد، وصاحبها قد فاز بالقدح المعلَّى والهدى والرشاد. Ketiga kualitas ini mencakup semua kebaikan yang berkaitan dengan hak-hak Tuhan, hak-hak diri sendiri, dan hak-hak orang lain. Orang yang memilikinya telah mencapai kedudukan tertinggi, bimbingan, dan kebenaran. Itulah tiga hal utama yang kiranya dapat dijadikan pegangan bagi seorang muslim dalam kehidupan kesehariannya agar iman yang ada tidak mudah surut menipis. والله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram LDRQ 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #lajnahdakwahraudhatulquran 💎⭐⛅🤝

Tausiah LDRQ

Ramadhan ke-10 : Mendekatkan Diri dalam Bulan Ramadhan dengan Sedekah

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊 Kajian Malam Ramadhan Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ) Bersama :Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA Tema :Mendekatkan Diri dalam Bulan Ramadhan dengan Sedekah (من القربات في رمضان: الصدقة) Ramadhan ke-10 28 | Februari | 2026 M / 10 | Ramadhan | 1447 H 📖 Kalam Hikmah: الصدقة تدفع غضب الرب وميتة السوء : Sedekah dapat menolak marah Allah kepada hamba dan menghindari dari meninggal dalam keadaan suul khatimah. قال تعالى : { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لا بَيْعٌ فِيهِ وَلا خُلَّةٌ وَلا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ } البقرة / 254 . Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari (Kiamat) ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat. Orang-orang kafir itulah orang-orang zalim”. (QS. Alhamdulillah Baqarah : 254) عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : عَنِ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ : صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئ غَضَبَ الرَّبِّ ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيْدُ فِي الْعُمرِ ، وَفِعلُ الْمَعْرُوف يَقِي مَصَارِعَ السُّوءِ . شعب الإيمان ( 3442 ) صحيح الجامع ( 3760 ) . Artinya: “Sedekah secara diam-diam dapat memadamkan marah Allah, Silaturahmi dapat memperpanjang umur, dan Melakukan perbuatan baik melindungi dari akibat yang buruk.” عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ ، وَتَدْفَعُ عَنْ مِيتَةِ السُّوءِ.أخرجه التِّرْمِذِي Artinya: “Sesungguhnya sedekah dapat memadamkan marah Allah SWT dan terhindar dari meninggal dalam keadaan buruk.” (HR. At-Tirmidzi) Sedekah adalah amalan dahsyat yang mampu memadamkan murka Allah SWT, menolak bala (bencana), dan menghindarkan dari kematian yang buruk. Berdasarkan hadits riwayat At-Tirmidzi, sedekah bertindak sebagai pelindung, baik sedekah terang-terangan maupun rahasia, yang meredam kemarahan Allah. Ia adalah solusi preventif atas kesulitan hidup. Rasulullah SAW bersabda: عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا قَالَ : إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِنَّ اَحَبَّ الْاَعْمَالِ اِلَى اللهِ بَعْدَ الْفَرَائِضِ إِدْخَالُ السُّرُوْرِ عَلَى الْمُسْلِمِ. Artinya: “Sesungguhnya amal yang paling disukai Allah SWT setelah melaksanakan berbagai hal yang wajib adalah menggembirakan muslim yang lain.” Membahagiakan orang lain adalah jalan menuju kecintaan dan keridaan Allah SWT. Dalam Islam, tujuan utama setiap muslim adalah mendapatkan kecintaan Allah SWT. Salah satu cara untuk mencapainya adalah melalui tindakan membahagiakan orang lain. Membahagiakan orang lain juga membawa pahala yang besar, bahkan dapat mengampuni dosa. Hal ini diterangkan dalam kitab Al ‘Athiyyatul Haniyyah yang berbunyi: “Barang siapa yang membahagiakan orang mukmin lain, Allah Ta’ala menciptakan 70.000 malaikat yang ditugaskan memintakan ampunan baginya sampai hari kiamat sebab ia telah membahagiakan orang lain.” والله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram LDRQ 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #lajnahdakwahraudhatulquran 💎⭐⛅🤝

Tausiah LDRQ

Ramadhan ke-9 : Mendekatkan Diri dalam Bulan Ramadhan dengan Sedekah

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊 *Kajian Malam Ramadhan Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ)* Bersama :Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA Tema :Mendekatkan Diri dalam Bulan Ramadhan dengan Sedekah (من القربات في رمضان: الصدقة) Ramadhan ke-9 27 | Februari | 2026 M / 09 | Ramadhan | 1447 H 📖 Kalam Hikmah: الصدقة قربةٌ عظيمة يتقرب بها المؤمنون لله جل جلاله، وقد ذكر الله الصدقة في القرآن الكريم في كثير من الآيات التي تحض عليها Sedekah adalah ibadah yang besar yang dengannya orang-orang beriman mendekatkan diri kepada Allah SWT. Allah telah menyebutkan sedekah dalam Al-Quran dalam banyak ayat yang menganjurkannya. Allah SWT berfirman: وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِۛ وَاَحْسِنُوْاۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ۝١٩٥ Artinya: “Berinfaklah di jalan Allah, janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuatbaiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195) يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيْهِ وَلَا خُلَّةٌ وَّلَا شَفَاعَةٌۗ وَالْكٰفِرُوْنَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ۝٢٥٤ Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum datang hari (Kiamat) yang tidak ada (lagi) jual beli padanya (hari itu), tidak ada juga persahabatan yang akrab, dan tidak ada pula syafaat. Orang-orang kafir itulah orang-orang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 254) من فضائل الصدقة : Di antara kelebihan bersadaqah adalah : 1- الصدقة برهان ودليل على إيمان العبد : Sedekah adalah bukti dan ukuran kadar dari iman seorang hamba. فكان من صفات أهل الإيمان واليقين أنهم يؤدون ما عليهم من صدقات وزكوات ابتغاء مرضاة الله تعالى لان في ذلك هدى وضياء لهم وسط ظلمات الحياة Salah satu ciri orang-orang yang beriman dan yakin adalah mereka memenuhi kewajiban sedekah dan zakat, serta mencari ridha Allah Yang Maha Kuasa, karena di situlah terletak petunjuk dan cahaya bagi mereka di tengah kegelapan hidup. Rasulullah SAW bersabda: الطهور شطر الإيمان والحمد لله تملأ الميزان، وسبحان الله والحمد لله، تملآن أو تملأ ما بين السماء والأرض، والصلاة نور، والصدقة برهان، والصبر ضياء، والقرآن حجة لك أو حجة عليك كل الناس يغدو فبائع نفسه فمعتقها أو موبقها. Artinya :“Dari Abu Malik, Al Harits bin Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : ‘Suci itu sebagian dari iman, (bacaan) alhamdulillaah memenuhi timbangan, (bacaan) subhaanallaah dan alhamdulillaah keduanya memenuhi ruang yang ada di antara langit dan bumi. Shalat itu adalah nur, shadaqah adalah pembela, sabar adalah cahaya, dan Al-Qur’an menjadi pembela kamu atau musuh kamu. Setiap manusia bekerja, lalu dia menjual dirinya, kemudian pekerjaan itu dapat menyelamatkannya atau mencelakakannya”.[Muslim no. 223] Rasulullah SAW bersabda: عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُما قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : دَاوَوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ، وَحَصِّنُوْا أَمْوَالَكُمْ بِالزَّكَاةِ فَإِنَّهَا تَدْفَعُ عَنْكُمُ الأَعْرَاضِ وَاْلأَمْرَاضِ Artinya : Dari ‘Abdullâh bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sembuhkanlah orang-orang yang sakit di antara kamu dengan bersedekah, dan bentengilah hartamu dengan (mengeluarkan) zakat, karena sesungguhnya hal itu akan mencegah berbagai keburukan dan penyakit.” 2- الصدقة سبب لحصول البركة : Sedekah adalah sebab memperoleh keberkahan. والصدقة سبب في حصول الخير ونزول البركة فالله سبحانه يضاعف لمن أدى حق الله في ماله بأضعاف مضاعفه Sedekah adalah sebab memperoleh kebaikan dan turunnya keberkahan, karena Allah Yang Maha Kuasa melipatgandakan pahala bagi orang-orang yang menunaikan hak Allah dalam harta mereka berkali-kali lipat. Allah Yang Maha Kuasa berfirman: قال تعالى : { مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ . الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ } البقرة / 261 ، 262 . Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan harta mereka di jalan Allah adalah seperti sebiji gandum yang tumbuh tujuh tangkai; di setiap tangkai terdapat seratus butir. Dan Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Meliputi dan Maha Mengetahui.” “Orang-orang yang membelanjakan harta mereka di jalan Allah dan tidak diikuti dengan pengingat akan kemurahan hati mereka atau dengan menyakiti orang lain – bagi mereka pahala mereka di sisi Tuhan mereka, dan tidak ada rasa takut bagi mereka, dan tidak pula mereka akan bersedih.” (Al-Baqarah 261-262) 3-الصدقة سبب للوقاية من الأمراض و الفتن : Sedekah adalah sarana perlindungan dari penyakit dan cobaan والصدقة سبب في حصول السعادة والوقاية من الأمراض والفتن والأحزان Sedekah adalah sarana untuk meraih kebahagiaan dan perlindungan dari penyakit, cobaan, dan kesedihan. Allah SWT berfirman: قال تعالى-: \”الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِ?للَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرّاً وَعَلاَنِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ\”[البقرة : 274]. Artinya: “Orang-orang yang membelanjakan harta mereka di malam dan siang, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, niscaya mereka akan mendapat pahala di sisi Tuhan mereka, dan mereka tidak akan takut dan tidak akan bersedih.” [Al-Baqarah: 274] والله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram LDRQ 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #lajnahdakwahraudhatulquran 💎⭐⛅🤝