بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center
SENI BERBICARA PENUH WIBAWA ALA RASULULLAH
Lidah merupakan bagian tubuh yang ukurannya terbilang sangat kecil jika dibandingkan dengan organ lainnya. Namun, jangan pernah meremehkan kekuatannya, karena si kecil ini memiliki daya pengaruh yang luar biasa besar dalam menentukan jalan hidup manusia. Melalui cara kita berbicara, lisan bisa menjadi jembatan yang mengantarkan pemiliknya menuju surga, atau justru menjadi pemicu yang melemparkannya ke dalam jurang neraka.
Oleh sebab itu, kemampuan dalam mengontrol ucapan sering kali dijadikan barometer untuk melihat kualitas iman serta menjadi kunci keselamatan seseorang. Seperti sebuah ungkapan bijak yang sering kita dengar:
سَلامةُ الإنسانِ في حِفْظِ الِلسانِ
“Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.”
Sebagai panutan terbaik sepanjang masa, Rasulullah SAW tidak hanya sekadar memerintahkan kita untuk berhati-hati dalam berucap melalui untaian sabdanya. Beliau juga memberikan contoh nyata di kehidupan sehari-hari tentang bagaimana cara berkomunikasi yang beradab dan berwibawa. Lewat kesaksian para sahabat, kita bisa mempelajari cara beliau berbicara yang sangat tertata.
Karakteristik pertama yang sangat menonjol dari cara berkomunikasi beliau adalah ketegasan dan kejelasan suara. Kita mungkin sering bertemu dengan orang yang berbicara terlalu cepat, hingga kata-katanya terdengar bertumpuk dan membingungkan. Rasulullah SAW sangat jauh dari karakter tersebut. Sayyidah Aisyah RA pernah menggambarkan bagaimana cara Nabi menyampaikan pesan:
ما كان رسول الله ﷺ يسرد كسردكم هذا، ولكنه كان يتكلم بكلام بيّن فصل، يحفظه من جلس إليه
“Rasulullah tidak berbicara dengan cepat dan bertumpuk-tumpuk seperti gaya bicara kalian ini. Beliau berbicara dengan kalimat yang jelas dan tegas, sampai-sampai orang yang duduk bersamanya bisa menghafal kata-kata tersebut.” (HR. Tirmidzi)
Setiap patah kata yang keluar dari lisan beliau memiliki jeda yang ideal, memberikan ruang bagi siapa saja yang mendengarkan untuk meresapi dan memahami maksudnya dengan baik.
Selain artikulasi yang jelas, Rasulullah SAW juga sangat peduli apakah pesan yang beliau bawa bisa dipahami dengan tepat atau tidak oleh lawan bicaranya. Oleh karena itu, untuk hal-hal yang sifatnya sangat penting atau berupa prinsip hidup, beliau tidak segan untuk melakukan pengulangan demi efektivitas komunikasi. Sahabat Anas bin Malik RA menceritakan kebiasaan tersebut:
كان رسول الله يعيد الكلمة ثلاثا لتعقل عنه
“Rasulullah terbiasa mengulang kalimatnya sebanyak tiga kali agar kalimat tersebut benar-benar dipahami darinya.” (HR. Tirmidzi)
Metode pengulangan ini bukanlah tanda bahwa beliau bertele-tele, melainkan sebuah cara mengajar yang sangat cerdas agar informasi penting tersebut melekat kuat di dalam ingatan para sahabat.
Keistimewaan lain yang menjadi ciri khas utama beliau adalah efisiensi dalam memilih kata. Allah SWT menganugerahi beliau sebuah kelebihan luar biasa yang dikenal dengan istilah jawami’ al-kalim, yaitu kemampuan merangkai kalimat yang sangat ringkas namun sarat akan makna yang luas dan mendalam. Sifat komunikasi ini ditegaskan langsung oleh beliau dalam sebuah hadis:
بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ
“Aku diutus dengan jawami’ al-kalim (ucapan singkat tetapi sarat makna)…” (HR. Bukhari)
Saat berbicara, penjelasan beliau selalu berada di porsi yang pas; tidak berlebihan hingga membuat orang bosan, dan tidak kurang hingga membuat orang bingung. Kalimat beliau selalu padat dan langsung menyentuh esensi masalah.
Semua kelebihan lisan tersebut juga didukung oleh bahasa tubuh yang penuh dengan rasa hormat kepada lawan bicara. Menurut catatan sejarah, beliau adalah sosok yang lebih banyak diam dan hanya akan berbicara jika memang ada keperluan mendesak yang membawa manfaat. Ketika memulai atau mengakhiri ucapan, beliau selalu membiasakan diri untuk mengagungkan nama Allah. Selain itu, tutur kata beliau selalu santun, tidak pernah bernada kasar, dan pantang merendahkan harga diri orang lain. Beliau bahkan selalu menghargai pemberian sekecil apa pun dan tidak pernah sekalipun mencela hidangan makanan yang disuguhkan kepada beliau.
Melalui gaya berkomunikasi Rasulullah SAW, kita bisa mengambil pelajaran berharga bahwa kehebatan dalam berbicara bukan diukur dari seberapa banyak kita menggunakan istilah-istilah sulit agar terlihat pintar. Komunikasi yang menggerakkan hati adalah yang disampaikan dengan ketenangan, artikulasi yang jelas, penuh penghormatan, serta menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh siapa saja.
والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب
Do’a Kafaratul Majelis
سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ
Media informasi LDRQ-Center
📞Channel whatsapp LDRQ
📷Instagram LDRQ
📷Instagram Dayah RQ
🌎Fanpage FB
📡Facebook
🎬Youtube
🐦X
📝Telegram
#dayahraudhatulquran
#lajnahdakwahraudhatulqur’an




