Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

Keikhlasan Sejati; Tiga Ciri Utama dari Imam Dzun-Nun Al-Mishri

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Keikhlasan Sejati; Tiga Ciri Utama dari Imam Dzun-Nun Al-Mishri Ikhlas adalah salah satu nilai inti dalam ajaran Islam yang menjadi dasar dari setiap amal ibadah dan perbuatan seorang muslim. Ikhlas berarti melakukan sesuatu semata-mata karena Allah Subhanahu Wa ta’ala, tanpa ada motivasi lain seperti mencari pujian, popularitas, atau keuntungan duniawi. Konsep ikhlas sangat penting karena Allah hanya menerima amal yang dilakukan dengan niat semata – mata karena Allah. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam beberapa hadist. Para ulama dan tokoh tasawuf telah banyak memberikan penjelasan mengenai tanda-tanda ikhlas. Misalnya, Dzun-Nun Al-Mishri menyebutkan bahwa salah satu tanda keikhlasan adalah kesamaan antara pujian dan celaan dari manusia. Fudhail bin ‘Iyadh juga menekankan bahwa meninggalkan amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik, sedangkan ikhlas adalah ketika Allah melindungi seseorang dari keduanya. penting bagi kita untuk mengenali tanda-tanda ikhlas dalam diri kita sebagai upaya untuk selalu memperbaiki niat dan meningkatkan kualitas amal ibadah kita. Mengkaji tanda-tanda ikhlas juga membantu kita dalam menjaga kemurnian hati dan niat dalam setiap perbuatan, serta menjauhkan diri dari sifat riya’ dan syirik khafi (syirik tersembunyi) yang dapat merusak amal kita di hadapan Allah Subhanahu Wa ta’ala,. Imam Dzun-Nun Al-Mishri juga menyebutkan tanda-tanda Orang yang ikhlas yaitu sebagai sebagai berikut 1. Kesamaan Antara Pujian dan Celaan: Orang yang ikhlas tidak terpengaruh oleh pujian atau celaan dari manusia. Baginya, penilaian manusia tidak penting dibandingkan dengan penilaian Allah. Dzun-Nun Al-Mishri menyatakan bahwa salah satu tanda keikhlasan adalah ketika seseorang merasa sama saja antara dipuji dan dicela oleh orang lain. 2. Melupakan Amal yang Dilakukan: Orang yang ikhlas melupakan amal baik yang telah mereka lakukan, karena mereka melakukannya semata-mata untuk Allah dan bukan untuk mengingat-ingatnya atau merasa bangga. Hal ini juga menunjukkan bahwa mereka tidak mengharapkan pujian atau balasan dari manusia. 3. Fokus pada Akhirat: Orang yang ikhlas selalu mengharapkan pahala dan balasan dari Allah di akhirat, bukan di dunia. Mereka mengerti bahwa pahala/balasan yang terbaik adalah yang diberikan oleh Allah nanti di akhirat, sehingga mereka tidak tergoda oleh imbalan duniawi semata. Bila kita sudah mengetahui tanda-tanda yang telah disebutkan, maka kita dapat lebih mampu untuk mengintropeksi diri dalam menilai niat dan kualitas amal kita, serta berusaha untuk selalu memperbaiki diri agar semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala, dengan hati ikhlas. Amiin… Ref: al- Nawawi, Bustanul Arifin, (Dark: arriyan) h.27 ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

LENTERA PENEMBUS PEKATNYA ALAM BARZAKH

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎LENTERA PENEMBUS PEKATNYA ALAM BARZAKH ‎ ‎Alam kubur sering kali digambarkan sebagai tempat yang sunyi, sempit, dan gelap gulita. Tidak ada lagi lampu megah perkotaan, tidak ada gawai yang menemani, dan tidak ada sanak keluarga yang bisa diajak bercengkerama. Di tempat peristirahatan pertama menuju akhirat tersebut, satu-satunya cahaya yang mampu menerangi dinding-dinding tanah adalah pantulan dari amal saleh yang kita tanam selama menginjak bumi. Ulama Nusantara terkemuka, Syekh Nawawi al-Bantani _rahimahullah_, merangkum lentera penerang kubur ini di dalam mahakarya beliau, _Nashaih al-‘Ibad_. ‎Cahaya pertama yang memancar paling benderang adalah keikhlasan dalam beribadah: ‎​الْإِخْلَاصُ فِي الْعِبَادَةِ “​Ikhlas dalam beribadah.” ‎​Ibadah yang dikerjakan semata-mata mengharap wajah Allah SWT tanpa disusupi racun riya, pamer, atau haus akan tepuk tangan manusia akan berubah menjadi lentera yang jernih. Amal yang lahir dari ketulusan hati tidak akan lekas padam, melainkan terus menghangatkan ruang pembaringan kita. ‎​Cahaya kedua terbit dari bakti tulus seorang anak kepada kedua orang tuanya: ‎​بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ‎”​Berbakti kepada kedua orang tua.” ‎Merawat mereka di usia senja, melembutkan tutur kata di hadapan mereka, memuliakan nama baiknya, serta tak henti melangitkan doa tatkala mereka telah tiada merupakan salah satu kunci pembuka kelapangan dan ketenteraman di alam barzakh. Sejalan dengan baktinya kepada orang tua, lentera ketiga bersumber dari indahnya jalinan kasih sayang antar sesama melalui silaturahmi: ‎​صِلَةُ الرَّحِمِ “​Menyambung tali persaudaraan.” ‎​Tangan yang gemar merangkul sanak kerabat, menyambung kembali tali kekeluargaan yang sempat renggang, serta menebar kebaikan kepada sesama tidak hanya memanjangkan berkah usia di dunia, tetapi juga membentangkan kelapangan yang menyingkirkan himpitan liang lahad. ‎Lentera keempat dan kelima lahir dari ketegasan seorang hamba dalam menjaga diri dan mengendalikan batinnya: ‎​أَنْ لَا يُضَيِّعَ عُمْرَهُ فِي الْمَعْصِيَة “​Tidak menyia-nyiakan usianya dalam kemaksiatan.” ‎​أَنْ لَا يَتَّبِعَ هَوَاهُ “​Tidak memperturutkan hawa nafsu.” ‎​Setiap detik embusan napas adalah modal paling berharga. Beruntunglah jiwa yang enggan menukar jatah umurnya dengan kesenangan dosa sesaat, serta mampu memasang kendali atas bisikan nafsunya yang liar. Menahan syahwat dari perkara haram memang terasa menyesakkan di dunia, namun pengorbanan itulah yang kelak menjadi dinding perisai dari panasnya azab kubur. Dua lentera terakhir yang menyempurnakan ketenangan di alam peristirahatan tersebut adalah kesungguhan dalam beramal dan basahnya lisan dengan mengingat-Nya: ‎​أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الطَّاعَةِ “​Bersungguh-sungguh dalam menunaikan ketaatan.” ‎​أَنْ يُكْثِرَ ذِكْرَ اللَّهِ “​Memperbanyak mengingat Allah.” ‎​Ketaatan tidak dibangun di atas kemalasan atau sisa-sisa waktu luang, melainkan diperjuangkan dengan kesungguhan, kedisiplinan, dan keistiqamahan. Jiwa yang senantiasa membasahi harinya dengan tasbih, tahmid, istigfar, dan lantunan Al-Qur’an tidak akan pernah merasa kesepian di bawah timbunan tanah. Nama Allah yang selalu berdenyut di dalam dadanya semasa hidup akan menjadi sahabat setia yang menemani dan menjawab setiap kecemasan di alam kubur. ‎Sebelum keranda diusung dan tanah mulai menimbun raga kita, mari kita kumpulkan lentera-lentera ini satu per satu. Memperbaiki niat ibadah, membasuh kaki orang tua dengan bakti, mempererat persaudaraan, menjaga sisa usia dari maksiat, menundukkan hawa nafsu, bersungguh-sungguh dalam taat, serta melazimkan zikir adalah ikhtiar nyata agar pembaringan terakhir kita kelak berubah menjadi taman-taman surga yang terang benderang. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

MENGHALAU UJUB DAN RASA MERENDAHKAN SESAMA

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎MENGHALAU UJUB DAN RASA MERENDAHKAN SESAMA ‎ ‎Di dalam dinamika kehidupan beragama, kita senantiasa dipacu untuk berlomba-lomba memanen kebaikan, memperbanyak lembaran ibadah, mendalami ilmu syariat, dan memperluas bentang kepedulian sosial. Namun, di balik giatnya amal saleh tersebut, ada satu celah jebakan batin yang sangat halus dan berbahaya. Sering kali ketika seseorang telah merasa banyak berbuat baik, tumbuh benih rasa bangga diri bahwa ia lebih suci, lebih terhormat, dan lebih layak dipandang tinggi dibandingkan orang lain di sekitarnya. ‎ ‎Padahal, ada jurang pemisah yang sangat tegas antara berjuang menjadi pribadi yang baik dengan merasa diri paling baik. Menjadi orang baik adalah ikhtiar seumur hidup yang tak pernah selesai, sedangkan merasa diri paling baik justru menjadi pintu gerbang menuju penyakit ujub dan kesombongan. Allah SWT telah memberikan rambu-rambu yang sangat jelas dalam QS. An-Najm: 32: ‎​فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى ​“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.” ‎ ‎Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini melarang keras seseorang memuji-muji kesalehan dirinya sendiri, sebab hanya Allah yang memegang timbangan ketakwaan yang sejati. Kaki yang mampu melangkah ke majelis ilmu, raga yang sanggup berdiri dalam sujud malam, serta tangan yang ringan bersedekah, semuanya adalah karunia dari Allah semata, bukan murni kehebatan diri kita. Mengapa kita harus menyombongkan fasilitas yang sejatinya hanya titipan dari Sang Pencipta? ‎ ‎​Pangkal dari seluruh gerak-gerik dan cara pandang ini berakar langsung pada kesehatan batin. Rasulullah memberikan gambaran mendalam tentang peran vital segumpal daging di dalam rongga tubuh kita: ‎​أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ ​“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, baiklah seluruh tubuh. Apabila ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ‎ ‎Hadis ini mengingatkan bahwa ibadah lahiriah yang megah akan kehilangan jiwanya jika hati dipenuhi rasa meremehkan orang yang jarang ke masjid, atau jika kedalaman ilmu justru membuat lisan enteng mencela mereka yang masih awam. Kedekatan kepada Allah seharusnya melahirkan akhlak yang santun, bukan pandangan sinis yang menghakimi. Menegur kekeliruan orang lain adalah tuntunan syariat, namun merendahkan martabat pelakunya adalah racun kesombongan. ‎​Untuk melatih jiwa agar senantiasa rendah hati, Hujjatul Islam Imam Abu Hamid al-Ghazali _rahimahullah_ merumuskan sudut pandang batin yang sangat menakjubkan dalam kitab _Bidayat al-Hidayah_: ‎​يَنْبَغِي أَلَّا تَنْظُرَ إِلَى أَحَدٍ إِلَّا وَتَرَى أَنَّهُ خَيْرٌ مِنْكَ وَأَنَّ الْفَضْلَ لَهُ عَلَى نَفْسِكَ ​“Sepatutnya engkau tidak memandang seseorang pun kecuali engkau melihat bahwa ia lebih baik daripada dirimu dan memiliki kelebihan atas dirimu.” Beliau menjabarkan cara memandang sesama insan dalam berbagai keadaan agar hati terhindar dari rasa ujub. Ketika berhadapan dengan orang yang berusia lebih muda, hendaknya kita berkata dalam hati: ‎​فَإِنْ رَأَيْتَ صَغِيرًا قُلْ هَذَا لَمْ يَعْصِ اللَّهَ وَأَنَا عَصَيْتُهُ فَلَا شَكَّ أَنَّهُ خَيْرٌ مِنِّي ​“Jika engkau melihat seorang anak kecil, katakanlah: Anak ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan aku telah bermaksiat kepada-Nya. Maka tidak diragukan lagi, ia lebih baik daripada diriku.” ‎ ‎​Sebaliknya, ketika tatapan kita tertuju kepada orang yang jauh lebih berumur, tundukkanlah pandangan seraya merenungkan: ‎​وَإِنْ رَأَيْتَ كَبِيرًا قُلْ هَذَا قَدْ عَبَدَ اللَّهَ قَبْلِي فَلَا شَكَّ أَنَّهُ خَيْرٌ مِنِّي ​“Jika engkau melihat orang yang lebih tua, katakanlah: Orang ini telah beribadah kepada Allah sebelum diriku, maka tidak diragukan lagi bahwa ia lebih baik daripada diriku.” ‎ ‎Bahkan saat kita menjumpai orang yang berilmu tinggi, tempatkanlah rasa hormat dengan penuh ketulusan: ‎​وَإِنْ رَأَيْتَ عَالِمًا قُلْ هَذَا قَدْ أُعْطِيَ مَا لَمْ أُعْطَ وَبَلَغَ مَا لَمْ أَبْلُغْ وَعَلِمَ مَا جَهِلْتُ فَكَيْفَ أَكُونُ مِثْلَهُ ​“Jika engkau melihat orang berilmu, katakanlah: Ia telah diberi sesuatu yang belum diberikan kepadaku, telah mencapai sesuatu yang belum kucapai, dan mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui.” ‎​Yang paling menguji kedewasaan iman adalah saat kita berhadapan dengan orang yang tampak belum paham agama atau terperosok dalam kebodohan. Alih-alih mengejek atau merasa lebih mulia, bisikkanlah pada nurani: ‎​وَإِنْ رَأَيْتَ جَاهِلًا قُلْ هَذَا قَدْ عَصَى اللَّهَ بِجَهْلٍ وَأَنَا عَصَيْتُهُ بِعِلْمٍ، فَحُجَّةُ اللَّهِ عَلَيَّ أَكْدَ وَمَا أَدْرِي بِمَ يُخْتَمُ لِي وَبِمَ يُخْتَمُ لَهُ “Jika engkau melihat orang yang bodoh, katakanlah: Ia telah bermaksiat kepada Allah karena kebodohan, sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya dengan pengetahuanku. Maka alasan yang memberatkanku di hadapan Allah lebih kuat. Aku tidak mengetahui bagaimana akhir hidupku dan bagaimana akhir hidupnya.” ‎ ‎Bahkan terhadap orang yang belum memeluk keyakinan yang sama sekalipun, Imam al-Ghazali mengingatkan kita untuk tidak bersikap jemawa atas rahasia takdir. Beliau mengingatkan: ‎​وَإِنْ رَأَيْتَ كَافِرًا قُلْ لَا أَدْرِي عَسَى أَنْ يُسْلِمَ وَيُخْتَمَ لَهُ بِخَيْرِ الْعَمَلِ، وَأَمَّا أَنَا وَالْعِيَاذُ بِاللَّهِ فَعَسَى أَنْ يُضِلَّنِيَ اللَّهُ فَأَكْفُرَ فَيُخْتَمَ لِي بِشَرِّ الْعَمَلِ ​“Jika engkau melihat orang yang belum beriman, katakanlah: Aku tidak tahu, boleh jadi suatu hari ia berserah diri lalu akhir hidupnya ditutup dengan husnul khatimah. Sedangkan aku, semoga Allah melindungi, bisa saja tersesat lalu akhir hayatku ditutup dengan keburukan.” ‎ ‎​Pelajaran besar dari untaian nasihat tersebut adalah kesadaran bahwa kita tidak pernah memegang kunci akhir kehidupan siapa pun. Menyibukkan diri mencari aib sesama sering kali bermula dari kebiasaan berprasangka buruk dan mengorek rahasia orang lain. Padahal, Allah SWT telah melarang keras penyakit sosial ini dalam QS. Al-Hujurat: 12: ‎​يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ​“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.” ‎ ‎Prasangka yang tidak berdasar adalah bibit perpecahan yang menghancurkan ikatan persaudaraan. Rasulullah menguatkan larangan ini melalui sabda beliau: ‎​إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَجَسَّسُوا، وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا ​“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta. Jangan mencari-cari kesalahan, jangan saling memata-matai, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ‎Pada akhirnya, ukuran kematangan spiritual seseorang tercermin dari seberapa bersih hatinya dari rasa bangga diri dan seberapa tulus ia menjaga kehormatan sesamanya. Jangan biarkan amal ibadah yang kita bangun dengan susah payah lenyap

Tausiah LDRQ

Berkaca pada Kisah Tobatnya Kaum Nabi Yunus

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Berkaca pada Kisah Tobatnya Kaum Nabi Yunus Allah mengabarkan bahwa Nabi Yunus ‘alaisissalam pergi meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah, sebagaimana dalam ayat, “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah,” (QS al-Anbiyâ’ [21]: 87). Kemudian ia lari menuju kapal yang penuh muatan, Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh dengan muatan, (QS Ash-Shaffat [37]: 139-140). Sementara itu, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam mengisahkan dalam haditsnya bahwa Nabi Yunus ‘alaisissalam menjanjikan kepada kaumnya akan turun azab karena sekian lama mereka mendustakan sang rasul. Disampaikan Nabi Yunus ‘alaisissalam, tiga hari lagi azab akan turun kepada mereka. Namun, setelah meyakini akan turunnya azab, mereka kemudian bertobat dan kembali kepada perintah Allah. Mereka pun menyesal karena telah mendustakan rasul yang diutus di tengah mereka. Ketika bertobat, mereka memisahkan anak-anak dari ibunya, baik manusia maupun binatang. Sehingga terdengar jelas suara gemuruh mereka seraya berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah di tengah rintihan suara anak-anak yang tengah mencari ibunya. Dan berkat doa dan usaha mereka, Allah pun berkenan dan mengurungkan azab yang akan menimpa mereka. Ibnu Katsîr, Ibnu Mas‘ud, Mujahid, Sa‘id ibn Jubair, dan lebih dari ulama salaf dan khalaf menjelaskan bahwa sewaktu Nabi Yunus ‘alaisissalam pergi meninggalkan mereka, azab itu benar-benar akan turun kepada mereka. Namun, Allah membuka pintu tobat dan ampunan kepada mereka. Mereka menyesali apa yang telah mereka perbuat terhadap nabi mereka. Salah satu bentuk penyesalan mereka adalah memisahkan setiap hewan dari induknya, lalu berteriak, bermunjat, dan berpulang kepada Allah. Setiap orang pun menangis, baik anak-anak maupun dewasa, baik laki-laki maupun perempuan, baik bayi maupun ibu-ibu. Tak terkecuali binatang dan hewan ternak. Mereka seakan turut berteriak dan berdoa. Sampai tibalah saatnya Allah memberikan pertolongan, kasih-sayang dan rahmat-Nya, serta mengangkat azab yang akan menimpa mereka. (Lihat: Ibnu Katsir, al-Bidâyah wan–Nihâyah, jilid 1, hal. 231). Kejadian itu kemudian diabadikan Allah dalam Al-Quran: فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ “Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu,” (QS Yunus [10]: 98). Allah juga menginformasikan bahwa setelah azab akan turun, keimanan mereka benar-benar bermanfaat bagi kaum Nabi Yunus ‘alaisissalam. Dia mengangkat azab itu setelah melihat keadaan dan tobat mereka. Tiga hari yang dijanjikan Nabi Yunus ‘alaisissalam kepada kaumnya pun berlalu. Ia menanti janji Allah terhadap mereka. Namun, karena menjauh dari mereka, Nabi Yunus ‘alaisissalam pun tidak mengetahui tobat dan permintaan ampun yang mereka lakukan. Tahu-tahu ia menemui lagi mereka dalam keadaan selamat. Karena itu, tak heran jika ia merasa kesal karena Allah tak jadi menurunkan azab. Disebutkan, jika ada yang berbohong pada saat itu, maka hukumannya adalah dibunuh. Konon, Nabi Yunus ‘alaisissalam pun pergi dari kaumnya karena menghindari hukuman tersebut. Dari kisah di atas, dapat dipetik pelajaran penting bahwa keimanan dan pertobatan suatu kaum berpengaruh besar dalam menghapus murka Allah dan menolak petaka yang akan ditimpakan-Nya. Buktinya, keimanan dan pertobatan kaum Nabi Yunus ‘alaisissalam yang mampu mengangkat azab yang hendak ditimpakan kepada mereka. Padahal, Nabi Yunus menyampaikan, tentunya berdasarkan wahyu, bahwa tiga hari lagi azab kepada mereka. Sungguh Allah adalah Dzat yang maha pemurah lagi maha penyayang. Demikian kisah yang disarikan dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya, jilid 11, hal. 541, nomor hadis 1195, dari Abdullah ibn Mas‘ud, tepatnya dalam “Kitâb Fadhâ’il Yûnus.” ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Ingin Shalat Khusyuk, Begini Caranya

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Ingin Shalat Khusyuk, Begini Caranya Khusyuk adalah ruh suatu ibadah, terutama shalat. Karenanya shalat yang dilakukan tanpa kekhusyukan laksana raga tanpa nyawa. Tiada berguna, bahkan sia-sia. Ragam definisi khusyuk disampaikan para ulama. Ragam Definisi Khusyuk Adalah Syekh Muhammad bin Bir Ali al-Barkuli (wafat 981 H) menjelaskan: هُوَ قِيَامُ الْقَلْبِ بَيْنَ يَدَيْ الْحَقِّ بِهَمٍّ مَجْمُوعٍ Artinya, “Khusyuk adalah hati berdiri (menghadap) di hadapan Tuhan Yang Maha Benar dengan kesedihan yang besar.” (Muhammad bin Bir Ali al-Barkuli, at-Thariqah al-Muhammadiyah dicetak bersama al-Bariqah al-Mahmudiyah, juz III, halaman 98). Selain itu, al-Barkuli juga mengutip kalam ulama yang mengatakan “tadzallul al-qulûb li ‘allamil ghuyûb”, atau khusyuk adalah kerendahan hati di hadapan Tuhan Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengawasi”. Ulama kontemporer Syekh Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili dalam at-Tafsir al-Munir saat menafsirkan surah al-Mukminun ayat 2, “alldzina hum fi shalatihim khasyi’un”, menyatakan: وهو الخضوع والتذلل لله والخوف من الله تعالى ومحله القلب فإذا خشع خشعت الجوارح كلها لخشوعه إذ هو ملكها Artinya, “Khusyuk adalah kepasrahan, kerendahan, rasa takut kepada Allah. Tempatnya di hati. Karenanya, orang yang hatinya khusyuk, tentu semua anggota badannya turut khusyuk. Sebab hatilah yang menguasai seluruh anggota badan.” Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili, at-Tafsir al-Munir, juz XVIII, halaman 14). Cara Khusuk Menurut Syekh Izzuddin Syekh Izzuddin bin Abdissalam (wafat 660 H) dalam kitab al-Qawa’id al-Kubra atau yang populer disebut Qawa’id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam menjelaskan, cara khusyuk dengan menggunakan kaidah likulli maqamin maqalun, “Di setiap gerakan, ada bacaan dan penghayatan masing-masing yang harus diseriusi”. Syekh Izzuddin menerangkan: فإنّ المصلي مأمور إذا قرأ القرآن أن يلاحظ معانيه فإن كان في آية وعيد خافه وإن كان في آية وعد رجاه ولهذا قال سبحانه وتعالى: أَمَنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِداً وَقَائِماً يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ Artinya, “Orang yang shalat diperintahkan menghayati makna setiap ayat al-Qur’an yang dibacanya. Bila saat itu ia membaca ayat tentang ancaman (bagi yang durhaka), maka akan berbuah rasa takut kepada-Nya; jika ayat yang dibaca mengandung janji pahala kebaikan, maka ia optimis mendapatkannya. Allah berfirman, ‘Apakah orang yang beribadah tengah malam, sujud dan berdiri karena takut (azab) akhirat dan mengharap rahmat Tuhannya—sama seperti orang yang bermaksiat kepada Allah dengan kekufuran atau maksiat lainnya—?’.” (Izzuddin bin Abdissalam, al-Qawa’id al-Kubra, juz I, halaman 353). Yang dimaksud Syekh Izzuddin dari surat az-Zumar ayat 9 di atas adalah, orang yang tengah shalat adakalanya menghayati siksa, dan kadang juga menghayati keluasan rahmat Tuhannya. Artinya, ketika yang dibaca bertepatan dengan ayat rahmat, maka harus optimis. Begitu pun saat membaca ayat azab, orang yang shalat semestinya merasa takut kepada Allah secara mendalam. Inilah yang ia maksud dengan li kulli maqamin maqalun, harus proporsional dalam beramal. Syekh Izzuddin yang bergelar sulthanul ulama atau raja ulama melanjutkan, bahkan saat membaca ayat yang menceritakan sifat-sifat Allah, orang yang shalat harus merenungkan sifat-sifat itu. Ketika ayatnya berbicara ihwal tawakal, maka harus bertekad melakukannya. Begitu pun saat ayat yang dibacanya membincang takzim, cinta, ketaatan dan seterusnya, maka ia dituntut untuk takzim, mencinta, dan bertekad menjalani ketaatan itu. Syekh Izzuddin mewanti-wanti agar tak berpaling dari menghayati ayat yang kita baca. Dalam al-Qawa’id al-Kubra disebutkan: ولا يشتغل عن معنى ذكر من الأذكار بمعنى غيره من الأذكار وإن كان أفضل منه لأنه سوء أدب ولكل مقام مقال يليق به ولا يتعدّاه Artinya, “Orang shalat tidak boleh berpaling merenungkan makna dzikir yang dibaca dengan makna zikir lainnya, walaupun dzikir tersebut lebih utama, sebab itu adalah adab yang buruk. Ingat, setiap gerakan ada bacaan dan penghayatannya masing-masing, hendaknya ia tidak melewatinya.” (Izzuddin bin Abdissalam, al-Qawa’id al-Kubra, juz I, halaman 354). Menurut penulis, alasannya sangat rasional. Sebut saja dalam interaksi sosial, saat seseorang diminta berbicara sebagai narasumber tentang sejarah budaya misalnya, tapi ia malah berbicara tentang ekonomi pasar; harga sembako yang fluktuatif, kebijakan PPKM darurat yang meregang ekonomi rakyat, dan tema-tema lainnya yang tidak berkaitan. Sungguh sangat kacau. Betapa menyesalnya panitia mengundang pembicara seperti itu. Karenanya dalam shalat makruh hukumnya kita membaca al-Qur’an saat rukuk dan sujud, membaca subhanarobbiyal a’la ketika duduk di antara dua sujud yang seharusnya membaca doa, dan seterusnya. Cara Khusyuk Paling Mudah Cara khusyuk berbeda diajarkan oleh guru penulis, KH Hariri bin Abdul Adhim Situbondo. Beliau mengajarkan cara shalat khusyuk paling mudah, yaitu dengan mengembalikan kepada Allah segala yang dirasakan, dilihat, dan didengarnya saat shalat. Sebut saja ketika orang shalat melihat segerombolan semut, atau mendengar suara ayam, kicauan burung, dan semisalnya, maka ia segera berupaya untuk mengembalikan semua yang didengar dan dilihatnya kepada Allah. Segerombolan semut itu termasuk hamba Allah yang tengah bergotong royong, mencari nafkah, dan menjalani tugasnya sebagai hamba. Demikian pula suara ayam dan kicauan burung. Allah dengan kuasa-Nya telah menciptakan suara khas dan bahasa komunikasi bagi masing-masing makhluk. Bahkan, mungkin saja mereka tengah fokus berzikir kepada Tuhannya. Dengan cara seperti itu, secara tidak langsung orang yang sedang shalat dan menemukan berbagai hal tadi diantar untuk mengakui keagungan Allah sebagai penguasa alam semesta, sehingga setiap rukuk dan sujud akan melahirkan rasa rendah (at-tadzallul) yang amat dalam. Juga, takbir demi takbir dalam setiap gerakan dapat menambah kesadaran bahwa kita hanya sebutir debu atau bahkan lebih kecil. Inilah cara khusyuk paling mudah yang diajarkan Kiai Hariri. Terlepas dari dua pendekatan cara khusyuk yang berbeda di atas, khusyuk dalam shalat tidak bisa diremehkan. Ia harus tetap diupayakan bagaimana pun caranya. Terkait dua cara khusyuk yang berbeda, tentu tak jadi soal. Karena semua itu tentang media. Intinya, apakah kita bisa khusyuk atau tidak. Tulisan ini tidak bermaksud membanding-bandingkan dua cara khusyuk tersebut. Hemat penulis, sejatinya Kiai Hariri sedang mengajarkan cara khusyuk yang paling mudah tanpa harus mengerti apa maksud bacaan dan gerakan shalat; sedangkan khusyuk ala Syekh Izzuddin mengharuskan kita mengerti keduanya. Semoga tulisan ini manfaat dan berkah. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an