Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

JANGAN BUKA LEMBARAN DOSA YANG TELAH ALLAH TUTUPI

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎JANGAN BUKA LEMBARAN DOSA YANG TELAH ALLAH TUTUPI ‎ ‎Salah satu bentuk kasih sayang yang paling nyata namun sering kita lupakan adalah bagaimana Allah SWT menutupi segala kekurangan, aib, dan kesalahan kita. Sering kali manusia melakukan kekhilafan dalam kesunyian, di saat tidak ada satu pun mata makhluk yang melihat. Namun, alih-alih mempermalukan kita di depan umum, Allah justru menjaga rahasia tersebut rapat-rapat. Selimut penutup ini merupakan sebuah anugerah yang sangat besar. Manfaatnya, kita masih bisa dihormati dan dihargai oleh orang-orang di sekitar kita. Hadiah berupa kesempatan ini seharusnya melahirkan rasa malu yang mendalam di dalam dada, yang kemudian menggerakkan kita untuk segera berbenah, bukan malah menjadikannya sebagai bahan pameran. ‎ ‎Ada sebuah peringatan yang sangat tegas dari Rasulullah mengenai perilaku orang-orang yang dengan sengaja meruntuhkan dinding penutup aib yang telah dibangun oleh Tuhannya sendiri: ‎​عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ. ​Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Seluruh umatku akan mendapatkan ampunan, kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat maksiat. Termasuk bentuk terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu perbuatan maksiat pada malam hari, kemudian ketika pagi tiba, padahal Allah telah menutupi maksiatnya, ia berkata: ‘Wahai fulan, tadi malam aku telah melakukan ini dan itu.’ Padahal semalaman Allah telah menutupi aibnya, namun pada pagi harinya ia sendiri yang membuka penutup yang telah Allah berikan kepadanya.” (HR al-Bukhari) ‎ ‎Pesan dari lembaran hadis di atas mengulik sebuah realita yang miris. Di mana sebuah tindakan salah yang semestinya ditangisi dan disesali, di zaman sekarang justru kerap diumumkan dengan bangga kepada khalayak ramai, baik lewat obrolan santai maupun unggahan di media sosial. Ketika Sang Pencipta memilih untuk menyembunyikan masa lalu atau kekhilafan kita semalam, itu adalah sinyal bahwa Dia sedang memberikan kita waktu luang untuk pulang, bersujud, merenung, dan memohon ampun secara sunyi. Sungguh sebuah kerugian besar jika kelonggaran itu malah kita gunakan untuk mencari pengakuan semu dari sesama manusia. ‎ ​Sikap menyembunyikan dosa ini sama sekali bukan bertujuan untuk meremehkan esensi dari kesalahan itu sendiri. Sebaliknya, seorang hamba yang peka akan memahami bahwa ditutupnya sebuah noda adalah ajakan halus dari Allah agar kita memperbaiki diri secara senyap tanpa perlu membuat kegaduhan. Rasa syukur atas terjaganya nama baik kita wujudkan dengan cara menghentikan kebiasaan buruk tersebut secara total. ‎ ‎Pada akhirnya, kita semua perlu membumikan pandangan kita bahwa penilaian baik orang lain terhadap diri kita hari ini murni karena Allah masih memegang kunci rahasia keburukan kita. Kita terlihat mulia bukan karena kita suci tanpa noda, melainkan karena kejelekan kita belum ditampakkan ke permukaan. Oleh sebab itu, marilah kita jaga lisan dan jempol kita dengan baik, rawat kehormatan diri yang masih tersisa, dan jangan pernah sesekali membuka kembali lembaran kelam yang telah dikunci rapat oleh rahmat Allah SWT. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

‎MENGETUK PINTU LANGIT DI HARI ‘ASYURA

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎MENGETUK PINTU LANGIT DI HARI ‘ASYURA ‎ ‎Bulan Muharram selalu membawa suasana spiritual yang berbeda bagi umat Muslim, terutama saat memasuki tanggal sepuluh yang akrab kita sebut sebagai Hari ‘Asyura. Sejak zaman Rasulullah saw., hari ini bukan sekadar pergantian tanggal di kalender, melainkan sebuah waktu istimewa yang sarat akan sejarah perjuangan para nabi terdahulu serta tumpukan ruang pahala yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. ‎ ‎​Salah satu cara terbaik untuk menghidupkan momentum ini adalah dengan menjalankan ibadah puasa sunnah. Rasulullah saw. memberikan kabar gembira mengenai besarnya ganjaran bagi siapa saja yang mau menahan lapar dan haus di hari kesepuluh Muharram ini, sebagaimana sabda beliau dalam sebuah hadis: ‎صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ “Adapun puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar puasa tersebut dapat menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR Muslim) ‎ ‎​Menariknya, agar ibadah kita memiliki ciri khas dan tidak persis sama dengan tradisi kaum Yahudi maupun Nasrani yang juga mengagungkan tanggal sepuluh, Rasulullah saw. berniat untuk menggandengnya dengan puasa di hari sebelumnya, yaitu tanggal sembilan Muharram atau Hari Tasu’a. Komitmen ini terekam dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas RA: ‎فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهَ تَعَالَى صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ “Jika masih ada tahun depan, insya Allah kami akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR Muslim) ‎ ‎​Oleh karena itu, pilihan yang paling utama bagi kita adalah melaksanakan puasa dua hari berturut-turut pada tanggal sembilan dan sepuluh Muharram sebagai bentuk kesempurnaan ibadah. ‎ ‎​Di samping ibadah yang sifatnya pribadi, Hari ‘Asyura juga menjadi waktu yang sangat tepat untuk memperluas jangkauan kebaikan sosial kita, khususnya kepada anak-anak yatim yang membutuhkan uluran tangan. Memberikan perhatian, kasih sayang, dan bantuan kepada mereka ternyata memiliki dampak yang sangat luar biasa bagi kesehatan mental dan spiritual kita sendiri. Hal ini sejalan dengan pesan menyentuh yang tertuang dalam kitab Faydh al-Qadir: ‎أَتُحِبُّ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ وَتُدْرِكَ حَاجَتَكَ؟ ارْحَمِ الْيَتِيمَ وَامْسَحْ رَأْسَهُ وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ يَلِنْ قَلْبُكَ وَتُدْرِكْ حَاجَتَكَ ​“Apakah engkau ingin hatimu menjadi lembut dan kebutuhanmu terpenuhi? Sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah ia makan dari makananmu. Niscaya hatimu menjadi lembut dan kebutuhanmu terpenuhi.” ‎ ‎Selain berbagi kepada anak yatim, kebaikan di Hari ‘Asyura juga harus dimulai dari dalam rumah kita sendiri, yaitu dengan memberikan kelapangan nafkah dan perhatian lebih kepada keluarga tercinta. Kita disunnahkan untuk menyenangkan hati pasangan dan anak-anak dengan memberikan hidangan atau suasana yang lebih istimewa dari hari biasanya, sesuai dengan batas kemampuan finansial masing-masing. Langkah kecil ini merupakan pemicu datangnya keberkahan materi yang lebih luas, sebagaimana disebutkan dalam sebuah keterangan: ‎​مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ “Barang siapa melapangkan nafkah kepada keluarganya pada Hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun.” (HR Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi) ‎ ‎Di balik taburan anjuran amal saleh tersebut, lembaran kitab klasik seperti _Tanbih al-Ghafilin_ juga mencatat bahwa Hari ‘Asyura adalah hari yang menjadi saksi bisu berbagai peristiwa besar sejak awal penciptaan alam semesta. Di hari inilah Allah menciptakan langit, bumi, samudera, hingga surga dan pena takdir. Di tanggal yang sama pula, sejarah mencatat momen diterimanya tobat Nabi Adam, kelahiran Nabi Ibrahim serta keselamatannya dari kobaran api, hingga diangkatnya Nabi Isa ke hadirat-Nya. Semua benang merah sejarah ini menunjukkan betapa besarnya pertolongan dan kasih sayang Allah yang turun di hari tersebut. ‎ ‎​Mari kita jadikan semua catatan keutamaan ini sebagai pemantik semangat untuk tidak membiarkan Hari ‘Asyura berlalu begitu saja sebagai hari biasa. Isilah waktu-waktu berharga tersebut dengan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, mempererat kehangatan keluarga, serta mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan. Semoga melalui momentum ini, hati kita semakin peka, rasa syukur kita kian tebal, dan kita digolongkan sebagai hamba-hamba yang beruntung. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

KETIKA SIBUK MENGEJAR DUNIA YANG TIDAK DIBAWA MATI

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎KETIKA SIBUK MENGEJAR DUNIA YANG TIDAK DIBAWA MATI ‎ Hampir setiap pagi kita memulai hari dengan perlombaan yang sama, yaitu mengejar urusan duniawi. Pikiran kita langsung dipenuhi dengan urusan pekerjaan, mencari nafkah, mengejar kedudukan, hingga mengumpulkan kenyamanan hidup. Bekerja keras tentu merupakan hal yang mulia, namun sayangnya, dalam keriuhan mengejar materi tersebut, kita sering kali melupakan satu hal yang paling krusial: merawat kondisi hati agar tetap terhubung dengan Sang Pencipta. ‎ Coba kita renungkan kembali bagaimana kita membagi waktu akhir-akhir ini. Kita begitu betah menghabiskan waktu berjam-jam berselancar di media sosial, namun mendadak merasa lelah dan mengantuk saat harus membaca lembaran kitab suci meski hanya sebentar. Kita juga sangat responsif dan tidak ingin membuat manusia lain menunggu saat membalas pesan, tetapi di sisi lain, kita justru sering sengaja menunda-nunda untuk menghadap Allah ketika panggilan salat sudah berkumandang. Ironisnya, kita sering didera kecemasan luar biasa tentang jaminan rezeki yang sebenarnya sudah diatur oleh-Nya, sementara kita abai dan tidak pernah khawatir dengan tumpukan dosa yang kita perbuat setiap hari. ‎ ‎Kita perlu menyadari bahwa segala kemewahan, kendaraan, rumah megah, dan saldo tabungan yang kita banggakan saat ini memiliki masa kedaluwarsa. Suatu hari nanti, semua itu akan dilepaskan dan kita akan ditinggalkan sendirian di tempat yang sunyi. Di dalam kubur nanti, tidak ada satu pun aset duniawi yang bisa menolong kita. Satu-satunya pertolongan yang nyata hanyalah keikhlasan dalam beramal, konsistensi ibadah yang kita jaga, serta hati yang bersih yang selalu berzikir mengingat Allah. ‎ ‎Oleh karena itu, jangan sampai kita baru tersadar dan mencari Tuhan saat kehidupan kita sudah hancur berantakan. Jangan pula menunggu tubuh ini didera penyakit baru kita mau bertekuk lutut memohon ampunan dan rajin beribadah. Ajal tidak pernah memberikan sinyal atau pemberitahuan terlebih dahulu, dan tidak ada yang bisa menjamin bahwa esok hari pintu taubat masih terbuka untuk kita. ‎ ‎Sebelum kita menutup mata untuk beristirahat, mari kita sempatkan diri untuk bercermin dan bertanya secara jujur. Seandainya kesempatan hidup kita dihentikan hari ini dan kita harus kembali menghadap-Nya, apakah bekal yang kita bawa sudah cukup untuk menemani perjalanan panjang di akhirat nanti? Semoga Allah senantiasa mengikis kekerasan hati kita, mengampuni noda-noda dosa kita, dan menanamkan rasa rindu yang besar di dalam jiwa kita terhadap kehidupan akhirat. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an