بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center
TIGA TINGKATAN IKHLAS
Sudah menjadi maklum bahwa ikhlas merupakan satu syarat diterimanya amal ibadah seseorang. Tanpa keikhlasan, sebaik apa pun amal yang dilakukan oleh seorang mukmin tak akan ada nilainya di sisi Allah.
Dalam kitab _al-Ta’rîfât_ karya Imam Ali al-Jurjani, disebutkan bahwa ikhlas adalah engkau tidak mencari orang yang menyaksikan amalmu selain Allah. Ikhlas juga diartikan membersihkan amal dari berbagai kotoran.
Meski demikian, terdapat kriteria tertentu di mana seseorang yang melakukan amalan dengan motivasi tertentu masih dikategorikan sebagai ikhlas. Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani dalam kitabnya _Nashâih al-‘Ibâd_ membagi keikhlasan ke dalam tiga tingkatan:
1. Tingkatan Paling TinggiTingkatan ini merupakan tingkat tertinggi, di mana seorang hamba beribadah murni sebagai bentuk penghambaan. Syekh Nawawi al-Bantani memaparkan:
فأعلى مراتب الاخلاص تصفية العمل عن ملاحظة الخلق بأن لا يريد بعبادته الا امتثال أمر الله والقيام بحق العبودية دون اقبال الناس عليه بالمحبة والثناء والمال ونحو ذلك
“Tingkatan ikhlas yang paling tinggi adalah membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk (manusia) di mana tidak ada yang diinginkan dengan ibadahnya selain menuruti perintah Allah dan melakukan hak penghambaan, bukan mencari perhatian manusia berupa kecintaan, pujian, harta dan sebagainya.”
Pada tingkatan ini, seseorang menyadari bahwa dirinya adalah hamba/budak Allah, sedangkan Allah adalah Tuannya. Ia tidak peduli apakah kelak akan dimasukkan ke surga atau neraka; ia hanya berharap rida Tuhannya.
2. Tingkatan Menengah
Tingkatan kedua adalah beramal karena Allah namun masih mengharapkan balasan ukhrawi. Syekh Nawawi menuturkan:
والمرتبة الثانية أن يعمل لله ليعطيه الحظوظ الأخروية كالبعاد عن النار وادخاله الجنة وتنعيمه بأنواع ملاذها
“Tingkat keikhlasan yang kedua adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian-bagian akhirat seperti dijauhkan dari siksa api neraka dan dimasukkan ke dalam surga dan menikmati berbagai macam kelezatannya.”
Motivasi ini tetap dikategorikan ikhlas karena Allah dan Rasul-Nya pun sering memotivasi umat dengan janji pahala dan surga. Namun, tingkatannya berada di bawah tingkatan yang pertama.
3. Tingkatan Paling Rendah
Tingkatan ini adalah ketika seseorang beribadah karena Allah, namun mengharapkan imbalan duniawi melalui ibadah tersebut. Syekh Nawawi menjelaskan:
والمرتبة الثالثة أن يعمل لله ليعطيه حظا دنيويا كتوسعة الرزق ودفع المؤذيات
“Tingkatan ikhlas yang ketiga adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian duniawi seperti kelapangan rizki dan terhindar dari hal-hal yang menyakitkan.”
Contohnya adalah shalat Dhuha agar rezeki lancar atau istighfar agar mendapatkan keturunan. Hal ini tetap dianggap ikhlas karena agama memang menawarkan imbalan-imbalan tersebut sebagai motivasi, meski merupakan tingkat yang paling rendah.
Lalu bagaimana jika motivasinya di luar tiga hal di atas? Misalnya beribadah agar dipuji orang, menuntut ilmu agar dihormati, atau bersedekah demi kepentingan politik (suara pemilih). Menurut Syekh Nawawi, hal tersebut bukanlah ikhlas, melainkan riya yang tercela:
وما عدا ذلك رياء مذموم
“Selain ketiga motivasi di atas adalah riya yang tercela.”
Sumber: _Nashâih al-‘Ibâd_ karya Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani
والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب
Do’a Kafaratul Majelis
سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ
Media informasi LDRQ-Center
📞Channel whatsapp LDRQ
📷Instagram LDRQ
📷Instagram Dayah RQ
🌎Fanpage FB
📡Facebook
🎬Youtube
🐦X
📝Telegram
#dayahraudhatulquran
#lajnahdakwahraudhatulqur’an



