Dalam rangka memperingati malam Isra Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ, Dayah Raudhatul Qur’an menyelenggarakan kegiatan zikir bersama yang berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan makna spiritual pada malam Jumat, 27 Rajab 1447 Hijriah, bertempat di Dayah Raudhatul Qur’an, Tungkob Darussalam. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda keagamaan rutin yang bertujuan untuk menghidupkan malam-malam istimewa dalam kalender Islam serta memperkuat ikatan ruhani antara hamba dengan Allah SWT. Acara diawali dengan salat Maghrib berjemaah, yang diikuti oleh ribuan jamaah. Seusai shalat, jamaah larut dalam lantunan zikir dan doa yang dipanjatkan secara berjemaah, menciptakan suasana tenang, khidmat, dan penuh harap akan rahmat serta ampunan Allah SWT. Zikir bersama ini menjadi momentum muhasabah diri, mengingat kembali perjalanan hidup, serta memperbarui niat untuk meningkatkan kualitas ibadah. Puncak acara diisi dengan tausiah agama yang disampaikan oleh Abu Dr. Tgk. H. Sulfanwandi, MA. Dalam ceramahnya, beliau menjelaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan fisik Rasulullah ﷺ, melainkan sebuah peristiwa agung tentang perjumpaan seorang hamba dengan Allah SWT. Menurut beliau, Isra Mi’raj adalah simbol kedekatan spiritual tertinggi antara manusia dan Rabb-nya, yang menjadi sumber kekuatan iman dan keteguhan ibadah. Dalam tausiahnya, beliau menyampaikan bahwa malam 27 Rajab merupakan malam yang penuh nikmat dan karunia. “Alhamdulillah, Allah memberi kita nikmat yang paling agung, yaitu diizinkan bergabung menyebut-nyebut Allah secara berjemaah. 27 Rajab adalah peristiwa Isra Mi’raj, peristiwa jumpa dengan Allah, dan itu adalah nikmat yang paling indah dalam hidup,” tuturnya di hadapan jamaah. Ia menegaskan bahwa perjumpaan dengan Allah merupakan kebahagiaan yang melampaui segala kenikmatan dunia, bahkan menjadi gambaran tertinggi dari nikmat surga. Lebih lanjut, Abu Dr. H. Sulfanwandi, MA mengingatkan sabda Rasulullah ﷺ tentang majelis zikir sebagai taman-taman surga di dunia. Beliau mengajak seluruh jamaah untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan berada dalam majelis zikir, karena di dalamnya terdapat rahmat, ketenangan, dan ampunan Allah SWT. Dalam majelis seperti inilah, lanjut beliau, hati yang lalai dibersihkan, dosa-dosa dihapuskan, dan jiwa kembali dikuatkan untuk menghadapi kehidupan. Dalam ceramahnya, beliau juga mengaitkan makna Isra Mi’raj dengan persiapan menyambut bulan-bulan mulia berikutnya, yakni Syaban dan Ramadhan. Malam Isra Mi’raj disebut sebagai bagian dari proses “pemanasan ruhani” sebelum memasuki puncak ibadah di bulan Ramadhan. Ia menekankan pentingnya membiasakan ibadah malam, memperbanyak zikir, doa, dan salat sunnah, sebagai bekal untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar di bulan suci Ramadhan. Selain itu, jamaah diajak untuk merenungi hakikat kehidupan, bahwa hidup pada dasarnya adalah perjalanan menuju kematian. Kesadaran ini, menurut beliau, seharusnya mendorong setiap Muslim untuk memperbanyak amal saleh, menjaga hubungan dengan orang tua dan keluarga, serta memperkuat keikhlasan dalam beribadah. Dengan zikir berjemaah, beliau berharap jamaah dapat kembali dengan hati yang bersih, dosa yang diampuni, serta semangat baru untuk memperbaiki diri. Kegiatan zikir bersama dalam rangka memperingati malam Isra Mi’raj ini ditutup dengan doa bersama, memohon ampunan, keberkahan hidup, keteguhan iman, serta kemudahan dalam menjalani ibadah di bulan-bulan mendatang. Seluruh rangkaian acara berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan, mencerminkan semangat kebersamaan dalam menghidupkan syiar Islam di lingkungan Dayah Raudhatul Qur’an. Melalui kegiatan ini, LDRQ berharap peringatan malam Isra Mi’raj tidak hanya menjadi seremonial tahunan, tetapi benar-benar menjadi sarana memperkuat keimanan, menumbuhkan kecintaan kepada ibadah, serta mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.