Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

Ramadhan ke-3 : Keagungan Bulan Suci Ramadhan

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊 Kajian Malam Ramadhan Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ) Bersama :Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA Tema :Keagungan Bulan Suci Ramadhan Ramadhan ke-3 21 | Februari | 2026 M / 03 | Ramadhan | 1447 H 📖 Kalam Hikmah: مثل شهر رمضان في الشهور كمثل القلب في الصدور والقلب مزين بنور المعرفة والإيمان وشهر رمضان مزين بنور تلاوة القرآن فمن لم يغفر له في شهر رمضان ففي أي شهر يغفر له؟ Perumpamaan bulan Ramadhan seperti hati dengan anggota tubuh yang lain yang memiliki peranan dan keistimewaan tersendiri dalam tubuh kita dibandingkan dengan anggota tubuh lain. Hati akan menjadi hiasan bagi cahaya ma’rifat dan iman sedangkan ramadhan akan memberikan cahaya bagi orang yang membacakan ayat suci Al-Qur’an. Bagi orang yang tidak mendapatkan ampunan dalam bulan Ramadhan maka sangat celaka dia, dalam bulan Ramadhan saja tidak mendapatkan ampunan bagaimana di bulan lain? Al-Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Malik bin al-Huwairits Radhiyallahu anhu, beliau berkata. صعِد رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم المنبرَ فلمَّا رقِي عَتبةً قال: ( آمينَ ) ثمَّ رقي عتبةً أخرى فقال: ( آمينَ ) ثمَّ رقي عتبةً ثالثةً فقال: ( آمينَ ) ثمَّ قال: ( أتاني جبريلُ فقال: يا محمَّدُ مَن أدرَك رمضانَ فلم يُغفَرْ له فأبعَده اللهُ قُلْتُ: آمينَ قال: ومَن أدرَك والديه أو أحدَهما فدخَل النَّارَ فأبعَده اللهُ قُلْتُ: آمينَ فقال: ومَن ذُكِرْتَ عندَه فلم يُصَلِّ عليكَ فأبعَده اللهُ، قُلْ: آمينَ، فقُلْتُ: آمينَ ) الراوي:مالك بن الحويرث المحدث:شعيب الأرناؤوط المصدر:تخريج صحيح ابن حبان الجزء أو الصفحة:409 حكم المحدث:صحيح لغيره “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar, ketika beliau naik ke atas tangga, beliau berkata ‘Aamiin,’ lalu beliau naik lagi ke atas tangga (tingkat kedua) dan berkata, ‘Aamiin’ lalu beliau naik lagi ke atas tangga (tingkat ketiga) dan berkata, ‘Aamiin’ lalu beliau berkata, ‘Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, siapa saja yang mendapati bulan Ramadhan dan dia tidak diampuni, maka Allah akan melaknatnya.’ Lalu aku (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata: ‘Aamiin.’” Jibril berkata lagi, ‘Dan siapa saja yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, lalu dia masuk ke dalam Neraka, maka Allah akan menjauhkannya dari rahmat-Nya.’ Aku katakan, ‘Aamiin.’ Jibril berkata lagi, ‘Siapa saja yang ketika namamu disebutkan, lalu ia tidak bershalawat kepadamu, maka Allah akan melaknatnya, katakanlah aamiin, lalu aku katakan, ‘Aamiin. وكالأنبياء في الأنام وتكون الأنبياء شفعاء للمجرمين وشهر رمضان شفيع الصائمين Ramadhan juga diibaratkan seperti para Nabi yang dibandingkan dengan manusia-manusia lainnya yang sangat jauh kemuliaannya disisi Allah SWT. Para Nabi memberikan syafaat bagi pengikutnya di akhirat kelak sedangkan ramadhan akan selalu memberikan syafaat bagi orang yang berpuasa. وكالحرم في البلاد فالحرم يمنع منه الدجال اللعين وشهر رمضان تصفد فيه مردة الشياطين Ramadhan juga seperti Haramain yaitu Masjidil haram dan Masjidil Nabawi dimana memiliki keutamaan yang luar biasa dibandingkan dengan tempat-tempat lain, satu kali kita melakukan ibadah di Masjidil haram diberikan pahala oleh Allah 1000x pahala dibandingkan dengan ibadah di tempat lain. Masjidil haram juga merupakan tempat yang tidak bisa masuk Dajjal nantinya di akhir zaman. Begitu juga dengan ramadhan yang mencegah syaitan-syaitan untuk tidak menggangu manusia dalam bulan Ramadhan. إن سيد البشر آدم -عليه السلام -، وسيد العرب محمد -صلى الله عليه وسلم -، وسيد الحبش بلال، وسيد القرى مكة، وسيد الأودية وادي بيت المقدس، وسيد الأيام يوم الجمعة، وسيد الليالي ليلة القدر، وسيد الكتب القرآن، وسيد القرآن البقرة آية الكرسي، وسيد الأحجار الحجر الأسود، وسيد الآبار زمزم، وسيد العصى عصا موسى، وسيد الحيتان الحوت الذي كان يونس -عليه السلام -في بطنه، وسيد النوق ناقة صالح، وسيد الأفراس البراق، وسيد الخواتم خاتم سليمان -عليه السلام -، وسيد الشهور شهر رمضان Sesungguhnya penghulu segala manusia adalah Nabi Adam AS, penghulu bangsa Arab adalah Nabi Muhammad SAW, penghulu bangsa Etiopia adalah Bilal, penghulu segala negeri adalah Kota Mekkah, penghulu lembah-lembah adalah Lembah Yerusalem, penghulu segala hari adalah hari Jumat, penghulu segala malam adalah Malam Lailatul Qadr, penghulu segala kitab adalah Al-Qur’an, penghulu Al-Qur’an adalah Surah Al-Baqarah (Ayat al-Kursi), penghulu segala batu adalah hajar aswad, penghulu segala sumur adalah Zamzam, penghulu segala tongkat adalah tongkat Musa, penghulu segala ikan adalah ikan paus yang di dalam perutnya Nabi Yunus AS berada, penghulu segala unta adalah unta betina Nabi Saleh AS, penghulu segala kuda adalah Al-Buraq, penghulu cincin adalah cincin Sulaiman AS, dan penghulu bulan adalah bulan Ramadhan. و الله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 📷Instagram LDRQ 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #ldrqraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻

Tausiah LDRQ

Ramadhan ke-2 : Keagungan Bulan Suci Ramadhan

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊 *Kajian Malam Ramadhan Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ)* Bersama :Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA Tema :Keagungan Bulan Ramadhan menurut Syaikh Abdul Qadir Jailani Ramadhan ke-2 20 | Februari | 2026 M / 02 | Ramadhan | 1447 H 📖 Kalam Hikmah: قال سيدي عبد القادر الجيلاني قدس سره في كتاب الغنية لطالبي طريقة الحق عز وجل وهي رمضان خمس أحرف رمضان خمسة أحرف. الراء: رضوان الله، والميم: محاباة الله عن العصاة، والضاد: ضمان الله، والألف: ألفة الله، والنون: نور الله. Syeikh Abdul Qadir Jailani menjelaskan Ramadhan terdiri dari 5 huruf, yaitu : 1. Ra (الراء) yang bermakna رضوان الله Yaitu Ridha Allah, senang Allah SWT terhadap hamba-hamba-Nya yang mau memperbanyak ibadah dalam bulan Ramadhan. 2. Mim (الميم) yang bermakna محاباة الله Yaitu Cinta dan kasih sayang Allah SWT kepada semua hamba-Nya, sekalipun hamba tersebut bermaksiat kepada Allah, namun kasih sayang yang Allah berikan begitu luas dalam bulan Ramadhan ini. 3. Dhad (الضاد) yang bermakna ضمان الله Yaitu jaminan Allah kepada hamba-Nya yang mau melaksanakan ibadah-ibadah dalam bulan Ramadhan mau menghidupkan malam-malam dalam bulan Ramadhan Allah jamin hamba tersebut masuk dalam surga-Nya. 4. Alif (الألف) yang bermakna ألفة الله Yaitu kelembutan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa mayat di dalam kubur merasakan juga keagungan bulan Ramadhan dengan mengalir kesejukan dan kenyamanan bahkan ada yang menyebutkan dihentikannya azab kubur dalam bulan Ramadhan sehingga mayat dalam kubur sangat senang menyambut bulan Ramadhan. Hal ini merupakan bagian dari kelembutan Allah SWT dalam bulan Ramadhan bagi hamba-Nya. 5. Nun (النون) yang bermakna نور الله Yaitu cahaya Allah bagi hamba-Nya yang berpuasa dalam bulan Ramadhan, dimana setiap perbuatan baik yang dilakukan dalam bulan Ramadhan bernilai ibadah hingga tidur orang berpuasa dalam bulan Ramadhan juga bernilai ibadah bahkan bau mulut orang puasa juga bernilai ibadah di sisi Allah dalam bulan Ramadhan yang tidak didapati dalam bulan-bulan lain. وقيل مثل شهر رمضان في الشهور كمثل القلب في الصدور والقلب مزين بنور المعرفة والإيمان وشهر رمضان مزين بنور تلاوة القرآن فمن لم يغفر له في شهر رمضان ففي أي شهر يغفر له؟ Syeikh Abdul Qadir Jailani juga mengumpamakan ramadhan seperti hati dengan anggota tubuh yang lain yang memiliki peranan dan keistimewaan tersendiri dalam tubuh kita dibandingkan dengan anggota tubuh lain. Hati akan menjadi hiasan bagi cahaya ma’rifat dan iman sedangkan ramadhan akan memberikan cahaya bagi orang yang membacakan ayat suci Al-Qur’an. Bagi orang yang tidak mendapatkan ampunan dalam bulan Ramadhan maka sangat celaka dia, dalam bulan Ramadhan saja tidak mendapatkan ampunan bagaimana di bulan lain? وكالأنبياء في الأنام وتكون الأنبياء شفعاء للمجرمين وشهر رمضان شفيع الصائمين Ramadhan juga diibaratkan seperti para Nabi yang dibandingkan dengan manusia-manusia lainnya yang sangat jauh kemuliaannya disisi Allah SWT. Para Nabi memberikan syafaat bagi pengikutnya di akhirat kelak sedangkan ramadhan akan selalu memberikan syafaat bagi orang yang berpuasa. وكالحرم في البلاد فالحرم يمنع منه الدجال اللعين وشهر رمضان تصفد فيه مردة الشياطين Ramadhan juga seperti Haramain yaitu Masjidil haram dan Masjidil Nabawi dimana memiliki keutamaan yang luar biasa dibandingkan dengan tempat-tempat lain, satu kali kita melakukan ibadah di Masjidil haram diberikan pahala oleh Allah 1000x pahala dibandingkan dengan ibadah di tempat lain. Masjidil haram juga merupakan tempat yang tidak bisa masuk Dajjal nantinya di akhir zaman. Begitu juga dengan ramadhan yang mencegah syaitan-syaitan untuk tidak menggangu manusia dalam bulan Ramadhan. و الله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 📷Instagram LDRQ 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #ldrqraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻

Tausiah LDRQ

Ramadhan Ke-1 : 3 Catatan Ramadhan

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊 Kajian Malam Ramadhan Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ) Bersama : Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA Tema : 3 Catatan Ramadhan Ramadhan ke-1 19 | Februari | 2026 M / 01 | Ramadhan | 1447 H 📖 Kalam Hikmah: 1. Menahan Diri (الإمساك) Menahan diri saat berpuasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan media kesabaran untuk mengendalikan hawa nafsu, lisan, dan anggota tubuh dari maksiat. Menahan diri juga mencakup menghindari ghibah, amarah, pandangan syahwat, serta konsumsi berlebihan. Puasa berkualitas menjaga panca indera untuk mencapai ketaatan berkelanjutan. Adapun poin-poin penting menahan diri selama berpuasa menurut pandangan orang-orang shaleh adalah : Hakikat berpuasa adalah ibadah batiniah, sarana mendekatkan diri kepada Allah dengan membebaskan diri dari syahwat. Menahan Panca Indera : Menjaga mata dari memandang hal haram/syahwat, telinga dari mendengar ghibah, dan tangan/kaki dari perbuatan maksiat. Mengendalikan Lisan: Menghindari ghibah (gunjing), fitnah, dan perkataan sia-sia yang dapat menggugurkan pahala puasa. Menahan Amarah: Menahan diri dari emosi adalah tanda kekuatan sejati dan bagian dari esensi puasa. Manajemen Nafsu & Konsumsi: Tidak berlebih-lebihan dalam berbuka dan sahur, serta menjauhi sifat konsumtif. Menahan Diri dari Maksiat : Di era digital, menahan diri juga berarti menghindari maksiat di handphone seperti judi online atau ujaran kebencian dan melihat hal-hal yang tidak baik dan pantas dilihat di media sosial. 2. Berbagi Nikmat (إطعام الطعام) Ramadhan adalah bulan baik berdasarkan nash yang qath’i. Pada bulan ini, kita dianjurkan untuk lebih giat melakukan kebaikan termasuk kebaikan berbagi kepada siapa saja terutama mereka yang berhajat. ويسن الإكثار من الصدقة في رمضان لا سيما في عشره الأواخر Artinya, “Seseorang dianjurkan untuk memperbanyak sedekah pada bulan Ramadhan, terlebih lagi pada 10 hari terakhirnya,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Bandung, Syirkah Al-Maarif: tanpa tahun], halaman 183). Anjuran ini didukung oleh banyak hadits baik secara qauli maupun fi’li. Rasulullah SAW mengatakan bahwa Ramadhan mengandung banyak keutamaan. Allah melapangkan kemurahan-Nya pada bulan Ramadhan. Dia melipatgandakan kebaikan yang dilakukan pada bulan Ramadhan. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Semua amal kebaikan anak manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan serupa hingga 700 kali lipat. Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya karena ia meninggalkan syahwat dan makanan demi Aku.’ Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, yaitu satu kebahagiaan saat berbuka puasa dan satu kebahagiaan lainnya saat menemui Tuhannya. Sungguh bau mulutnya lebih harum di sisi Allah daripada bau kesturi,’” (HR Muslim). Sahabat Anas RA meriwayatkan bagaimana keutamaan berbagi pada bulan Ramadhan. Berbagi pada bulan Ramadhan bahkan amal yang paling utama: عَنْ اَنَسٍ قِيْلَ يَارَسُولَ اللهِ اَيُّ الصَّدَقَةِ اَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ Artinya, “Dari Anas dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang nilainya paling utama?’ Rasul menjawab, ‘Sedekah di bulan Ramadhan,’ (HR At-Tirmidzi). Banyak sahabat juga menyaksikan kedermawanan dan kemurahan hati Rasulullah pada bulan Ramadhan dibanding bulan lainnya. Rasulullah memperbanyak sedekahnya di bulan Ramadhan sebagaimana riwayat Bukhari dan Muslim berikut ini: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ (أَجْوَدَ) مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ Artinya, “Rasulullah SAW adalah orang paling dermawan di antara manusia lainnya, dan ia semakin dermawan saat berada di bulan Ramadhan,” (HR Bukhari dan Muslim). Ulama kemudian menarik simpulan bahwa berbagai hadits tersebut merupakan anjuran umat Islam untuk memperbanyak sedekah dan berbuat baik secara umum mengingat ganjaran kebaikan yang berlipat ganda pada bulan Ramadhan. ومبادرته لإكثار الصدقة لأنه صلى الله عليه وسلم كان أجود ما يكون في رمضان، وبالجملة فيكثر فيه من أعمال الخير لأن العمل يضاعف فيه على العمل في غيره من بقية الشهور Artinya, “(Orang berpuasa) dianjurkan segera memperbanyak sedekah karena Rasulullah SAW adalah orang paling murah hati di Bulan Ramadhan. Seseorang dapat melakukan kebaikan secara umum karena ganjaran amal kebaikan apapun bentuknya akan dilipatgandakan dibandingkan ganjaran amal kebaikan yang dilakukan di luar bulan Ramadhan,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1999 M/1420 H], cetakan kedua, juz I, halaman 562). 3. Meningkatkan Ibadah (زيادة العبادة) Meningkatkan ibadah di bulan Ramadhan dapat dilakukan dengan memaksimalkan amalan wajib, memperbanyak shalat sunnah (tarawih, tahajud, dhuha), meningkatkan tilawah Al-Qur’an, sedekah, serta iktikaf di sepuluh malam terakhir. Fokus pada kualitas ibadah dengan khusyuk dan konsisten adalah kunci meraih keutamaan Ramadhan. Meningkatkan ibadah di bulan Ramadhan bisa dilakukan dengan : Meningkatkan Shalat Sunnah: Melaksanakan shalat tarawih berjamaah, mendirikan shalat malam (Qiyamul Lail/Tahajud) di sepertiga malam, dan shalat dhuha. Interaksi dengan Al-Qur’an: Meningkatkan intensitas membaca (tilawah), mentadabburi (memahami makna), dan mengkhatamkan Al-Qur’an. Memperbanyak Sedekah dan Berbagi: Bersedekah, memberi makan orang berbuka puasa, dan menunaikan zakat fitrah sebelum Idul Fitri. Iktikaf dan Mencari Lailatul Qadar: Berdiam diri di masjid, terutama di 10 hari terakhir, untuk fokus beribadah, berdzikir, dan bertaubat. Menjaga Lisan dan Hati: Menghindari ghibah dan perbuatan sia-sia, serta memperbanyak dzikir, doa, dan istighfar. Menyusun Target Ibadah: Membuat rencana harian yang konkret, seperti target khatam Quran, jumlah sedekah, atau konsistensi shalat berjamaah. و الله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 📷Instagram LDRQ 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #ldrqraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻

Tausiah LDRQ

CAHAYA DI ATAS CAHAYA: KEAJAIBAN HUSNUZAN KEPADA ALLAH

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎CAHAYA DI ATAS CAHAYA: KEAJAIBAN HUSNUZAN KEPADA ALLAH ‎ ‎Dalam Al-Qur’an, salah satu kisah yang paling mengajarkan kita tentang penerimaan takdir adalah kisah keluarga Imran. Terkadang, kita meminta sesuatu kepada Allah, namun Allah memberikan sesuatu yang berbeda. Kita mengira itu adalah kegagalan, padahal itulah awal dari kemuliaan yang lebih besar. ‎ ‎Allah mengabadikan doa istri Imran (ibunda Maryam) yang sangat berharap memiliki anak laki-laki untuk berkhidmat di Baitul Maqdis: ‎فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَىٰ “Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.’” (QS. Āli ‘Imrān: 36) ‎ ‎Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ada nada kesedihan dan permintaan maaf dari istri Imran karena ia merasa tidak bisa memenuhi nazarnya. Namun, Allah justru memberikan kalimat penegas: “Dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya.”. Allah tahu bahwa anak perempuan ini (Maryam) akan menjadi jalan bagi lahirnya mukjizat besar, yaitu Nabi Isa ‘alaihissalām. ‎ ‎Penerimaan yang tulus atas takdir ini membuahkan hasil yang luar biasa: ‎فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا “Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik.” (QS. Āli ‘Imrān: 37) ‎ ‎Menurut Tafsir al-Sa’di, “penerimaan yang baik” (Qabūlin Ḥasan) berarti Allah melimpahkan keberkahan yang tidak pernah diberikan kepada anak laki-laki manapun pada saat itu. Maryam dipilih menjadi wanita terbaik sepanjang masa karena keteguhan hatinya dalam menjaga kehormatan dan ketaatan kepada Allah. ‎ ‎Dari kisah ini, kita belajar bahwa standar “baik” menurut manusia seringkali berbeda dengan standar “baik” menurut Allah. Kita sering bersedih karena merasa doa kita “salah alamat” atau rencana kita gagal total. Padahal, bisa jadi kegagalan itu adalah cara Allah menyelamatkan kita dari sesuatu yang lebih buruk, atau cara Allah menyiapkan kita untuk menerima kejutan yang lebih agung. ‎ ‎Jangan pernah berburuk sangka kepada Allah ketika rencana hidupmu berantakan. Tugas kita hanyalah menanam niat yang tulus dan melakukan yang terbaik, lalu biarkan Allah yang mengatur hasilnya. Sebagaimana Maryam, jika kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada pengaturan-Nya, maka Allah sendiri yang akan mengasuh urusan kita dan menumbuhkan kebahagiaan dari jalan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

DOA PALING TULUS SAAT SEMUA SEBAB TERPUTUS

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎DOA PALING TULUS SAAT SEMUA SEBAB TERPUTUS ‎ ‎Di antara kisah yang paling menenangkan hati dalam Al-Qur’an adalah kisah Nabi Zakaria ‘alaihissalām. Allah mengabadikan doa beliau ketika segala sebab secara lahir telah terputus. Usia telah lanjut, tulang melemah, rambut memutih, dan istri yang mandul. Namun, keadaan itu tidak memadamkan harapan seorang nabi kepada Rabb-nya. ‎Allah berfirman: ‎هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ ‎“Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya, ia berkata: ‘Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.’” (QS. Āli ‘Imrān: 38) ‎ ‎Dalam ayat lain, Allah menggambarkan betapa lemahnya kondisi Nabi Zakaria saat berdoa: ‎قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُن بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا ‎“Ia berkata: ‘Wahai Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku dipenuhi uban, namun aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku.’” (QS. Maryam: 4) ‎ ‎Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa Nabi Zakaria menyebutkan kelemahan dirinya bukan untuk mengeluh, melainkan sebagai bentuk ketundukan dan pengakuan bahwa segala urusan berada sepenuhnya di tangan Allah. Penyebutan kondisi lemah itu justru menjadi sebab diterimanya doa, karena menunjukkan keikhlasan dan tawakal yang sempurna. ‎ ‎Allah pun menjawab doa tersebut dengan cara yang tidak disangka: ‎فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى ‎“Kemudian para malaikat memanggilnya ketika ia sedang berdiri shalat di mihrab, bahwa Allah memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya.” (QS. Āli ‘Imrān: 39) ‎ ‎Menurut Tafsir al-Qurthubi, pengabulan doa Nabi Zakaria menunjukkan bahwa terputusnya sebab-sebab secara lahir tidak menghalangi kekuasaan Allah. Justru doa yang dipanjatkan dalam keadaan paling lemah adalah doa yang paling dekat dengan ijabah. ‎ ‎Dari kisah ini, kita diajarkan untuk tidak berhenti berdoa, betapa pun sulit dan sempit keadaan. Selama seorang hamba masih mengangkat tangan dan menggantungkan harap kepada Allah, maka pintu langit tidak pernah tertutup. Doa mampu mengubah takdir, menolak keburukan, dan menghadirkan pertolongan dengan izin-Nya. ‎ ‎Sebagaimana ditegaskan oleh para ulama, doa bukan hanya permintaan, tetapi ibadah dan bukti ketergantungan total kepada Allah. Ia adalah senjata orang beriman dan penguat hati orang yang bersabar. ‎ ‎Maka jangan lelah berdoa dan jangan berputus asa berharap. Ketika sebab terputus di mata manusia, di sisi Allah justru terbuka jalan yang tidak pernah kita sangka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Kenapa Makruh Salat pada Waktu Tertentu?

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Kenapa Makruh Salat pada Waktu Tertentu? Ketahuilah bahwa ada hikmah yang agung di balik semua kejadian, tidak ada yang sia-sia di balik perintah Allah Yang Maha Bijaksana kepada kita untuk menunaikan shalat dengan sifat-sifat (cara) tertentu. Sayangnya, tidak semua orang memahami hikmah agung tersebut sehingga sebagian orang ada yang berkata bahwa shalat adalah hukum-hukum yang bersifat ta’abbudi (tidak bisa dinalar akal). Sebaliknya, orang yang telah diberi ilmu, hikmah, dan kejernihan mata batin, akan dapat mengerti secara jelas bahwa Allah Yang Maha Bijaksana seperti dokter yang memberikan obat kepada pasien sesuai dengan keadaan yang dikehendaki. Sedangkan jiwa itu bagaikan seorang pasien yang membutuhkan obat dengan sifat dan tata cara tertentu. Sebagaimana yang telah maklum bahwa satu-satunya tujuan dari pembebanan hukum (taklif) kepada kita (manusia) berupa shalat adalah untuk kebahagiaan manusia itu sendiri baik di dunia maupun di akhirat kelak nanti serta agar seorang hamba dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dalam pelaksanaannya, shalat dikerjakan pada waktu-waktu tertentu sebagaimana telah diatur dalam syariat Islam, ada waktu fadhilah (waktu yang paling utama untuk mengerjakan shalat), waktu ikhtiar, jawaz (boleh), makruh bahkan haram. Adapun makruh mengerjakan shalat pada beberapa waktu tertentu adalah merujuk kepada sebuah tradisi orang-orang musyrik melaksanakan ritual ibadah untuk sembahan mereka, yang pada waktu tersebut dimakruhkan mengerjakan shalat bagi umat Islam. Oleh sebab itu, Allah Yang Maha Bijaksana ingin mendidik dan menambah kesempurnaan diri manusia dengan tidak menyerupakan diri kita dengan orang-orang musyrik di dalam ibadah mereka. Termasuk di antaranya adalah manusia dimakruhkan melakukan shalat di hadapan patung atau benda fisik lainnya untuk menghindari fitnah dan menyerupai kaum paganis (penyembah berhala). Hukum makruh mengerjakan shalat pada beberapa waktu tertentu itu hanya berlaku bila dikerjakan di luar Baitul Haram saja, sedangkan bila dikerjakan di dalamnya maka tidak dihukum makruh, sehingga muncul sebuah pertanyaan “kenapa shalat hanya makruh dikerjakan pada waktu-waktu tertentu di tempat lain selain Baitul Haram, namun hukum makruh tersebut tidak berlaku bila shalat dikerjakan di dalam Baitul Haram?” Ini merupakan salah satu keistimewaan yang terdapat pada Baitul Haram. Sebab ketika terdapat eksistensi Baitul Haram dalam diri orang Islam, maka ia tidak akan menyerupakan dirinya dengan orang-orang musyrik dan majusi. Selain itu, karena Baitul Haram adalah rumah pertama yang dibangun untuk manusia. Diriwayatkan bahwa Nabi saw. melarang shalat ketika terbit matahari dan beliau bersabda, “Sesungguhnya waktu tersebut muncul di antara dua tanduk setan yang menghiasi mata orang yang menyembahnya hingga orang tersebut bersujud kepadanya. Di kala matahari naik (terbit), maka jangan lakukan salat. Di kala matahari berada di puncak waktu zuhur, maka jangan lakukan salat. Dan di kala matahari terbenam, maka jangan lakukan salat. Oleh sebab itu janganlah kalian shalat di waktu-waktu tadi (terbit dan terbenam matahari)”. Nabi SAW melarang shalat pada waktu-waktu ini tanpa menjelaskan secara detail. Beliau hanya menyebut secara umum dan global, sekaligus menjelaskan hikmah di balik larangan tersebut, yaitu karena waktu tersebut muncul dari dua tanduk setan. Mengapa demikian? Sebab sebagian orang menyembah matahari dan bersujud padanya ketika muncul matahari sebagai penghormatan pada matahari. Ketika tengah hari untuk menyempurnakan penghormatan tersebut dan ketika terbenam sebagai perpisahan dalam penyembahan. Karena itu, setan datang dan menjadikan matahari di antara dua tanduknya supaya mereka bersujud kepadanya. Dengan kata lain, Nabi saw melarang shalat pada waktu-waktu tersebut agar umat Islam tidak menyerupai (mengikuti) perbuatan para penyembah matahari maka jelaslah semua alasan dimakruhkannya shalat pada waktu-waktu tersebut. Sumber: Ali bin Ahmad al-Jarjawi, Hikmah al-Tasyri’ Wa falsafatuh, Cet. Beirut, DKI, 1971, h. 57. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Rumah Tangga atau Karir ?

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Rumah Tangga atau Karir ? Perdebatan tentang apakah wanita harus fokus pada mengurus rumah tangga atau mengejar karir profesional telah menjadi topik yang kontroversial dalam masyarakat modern. Namun, Islam mengajarkan bahwa baik mengurus rumah tangga maupun berkarir adalah pilihan yang mulia, dan keduanya memiliki keutamaan tersendiri. 1. Keutamaan Mengurus Rumah Tangga Mengurus rumah tangga adalah tugas yang sangat mulia dalam Islam. Rasulullah S.A.W. pernah bersabda, “Wanita yang terbaik adalah yang membuat suaminya senang ketika ia melihatnya, taat ketika diperintahkan, dan menjaga dirinya dan hartanya ketika suaminya tidak ada.” (HR. At-Tirmidzi). Peran sebagai ibu dan istri yang baik memiliki dampak yang besar dalam membentuk fondasi keluarga yang kokoh dan harmonis. Wanita yang mengabdikan diri untuk mengurus rumah tangga berperan penting dalam membesarkan generasi penerus yang saleh dan salehah. Apalagi “wanita(ibu) adalah madrasatul ula bagi para anak”. Ini menjadi landasan mengapa begitu pentingnya peran penuh seorang ibu atau istri mempunyai andil dalam kemaslahatan keluarga. Jika nafkah dan kepentingan lain oleh suami(ayah) telah dipenuhi atau berkecukupan walau sederhana sekalipun, maka selayaknya bagi sang wanita memegang peran bagi kemaslahatan rumah tangga. Dalam Islam, ada beberapa hadis yang menyoroti keutamaan wanita yang mengurus rumah tangga. Salah satu hadis yang sering dikutip adalah hadis riwayat Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi yang menyatakan: “Seorang wanita yang rajin shalat lima waktu, berpuasa bulan Ramadan, menjaga kehormatan dirinya, dan taat kepada suaminya, akan masuk surga dari pintu mana saja yang dia inginkan.” Hadis ini menekankan bahwa wanita yang menjalankan tugas-tugas keagamaan dan tanggung jawabnya dalam rumah tangga akan mendapatkan pahala besar di sisi Allah. 2. Keutamaan Berkarir Di sisi lain, Islam juga memberikan kebebasan kepada wanita untuk mengejar karir profesional jika mereka memiliki kemampuan dan minat dalam bidang tertentu. Nabi Muhammad SAW memberikan dukungan kepada wanita yang ingin berperan aktif dalam masyarakat, seperti hal nya Siti Khadijah, yang merupakan seorang pedagang sukses di zaman Jahiliyah.Mengembangkan bakat dan keterampilan melalui karir dapat memberikan kontribusi positif bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan. Wanita yang bekerja juga dapat memberikan contoh bagi anak-anak mereka tentang pentingnya kesetaraan gender dan tanggung jawab sosial. Dan ini bukanlah sebuah larangan, dengan syarat yakni tidak melewatkan kewajiban-kewajiban hakiki nya sebagai seorang istri dirumah tangga. Karir adalah hal tersier bagi wanita , namun sebagai istri tercinta ialah keniscayaan yang tak bisa dilupa. 3. Keseimbangan Antara Keduanya Islam mendorong wanita untuk mencapai keseimbangan antara mengurus rumah tangga dan mengejar karir, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. Sebagian besar wanita Muslim modern memilih untuk bekerja di luar rumah sambil tetap memperhatikan kebutuhan rumah tangga dan keluarga. Maka dari hal itu perlu bagi individual wanita agar benar-benar bisa menstabilkan antara keduanya. Dan ini adalah yang ideal. Kesimpulan nya Mengurus rumah tangga dan berkarir adalah dua pilihan yang dapat menjadi ladang amal bagi wanita Muslim. Penting bagi masyarakat untuk menghargai dan mendukung wanita dalam pilihan mereka, baik itu dalam mengurus rumah tangga, mengejar karir, atau keseimbangan antara keduanya. Yang terpenting, kebaikan, keadilan, dan kesetaraan harus menjadi pedoman dalam memahami peran wanita dalam masyarakat dan keluarga. Namun, yang terpenting ambil garis besarnya dari tulisan ini, dengan tidak lupa kepada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra. Seorang perempuan datang dan bertanya “ya Rasulullah engkau kan diutus Allah kepada kaum laki dan perempuan??”. Jawab Nabi “iya kepada kaum laki dan perempuan” . Berkata lagi oleh si perempuan “ya Rasulullah, kalian kaum laki diberi kelebihan dibandingkan kami bisa sholat jamaah, sholat Jumat, berhaji dan berperang, sedangkan kami pembantu rumah, perawat anak kalian, tukang menyiapkan kepentingan kepentingan kalian, lalu mana bagian kami??! Rasulullah spontan berkata pada kepada para sahabat di sekitarnya ” pernahkah kalian melihat perempuan yang lebih bagus dari pertanyaan ini ?! Nabi melanjutkan “sampaikan kepada seluruh perempuan di luar sana, yang paling beretika kepada suaminya dan menyamai pahala semua ibadah tadi serta tidak akan luput dari kalian shalat Jumat, shalat jamaah, berhaji dan berperang juga akan mendapatkan pahala semuanya ialah mengurus segala kepentingan rumah rumah tangga dan suami.”. Wallahu a’lam. Ref : Al-Adab Al-Mufrad, karya imam Bukhari ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Keikhlasan Sejati; 3 Ciri Utama dari Imam Dzun-Nun Al-Mishri

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Keikhlasan Sejati; Tiga Ciri Utama dari Imam Dzun-Nun Al-Mishri Ikhlas adalah salah satu nilai inti dalam ajaran Islam yang menjadi dasar dari setiap amal ibadah dan perbuatan seorang muslim. Ikhlas berarti melakukan sesuatu semata-mata karena Allah Subhanahu Wa ta’ala, tanpa ada motivasi lain seperti mencari pujian, popularitas, atau keuntungan duniawi. Konsep ikhlas sangat penting karena Allah hanya menerima amal yang dilakukan dengan niat semata – mata karena Allah. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam beberapa hadist. Para ulama dan tokoh tasawuf telah banyak memberikan penjelasan mengenai tanda-tanda ikhlas. Misalnya, Dzun-Nun Al-Mishri menyebutkan bahwa salah satu tanda keikhlasan adalah kesamaan antara pujian dan celaan dari manusia. Fudhail bin ‘Iyadh juga menekankan bahwa meninggalkan amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik, sedangkan ikhlas adalah ketika Allah melindungi seseorang dari keduanya. penting bagi kita untuk mengenali tanda-tanda ikhlas dalam diri kita sebagai upaya untuk selalu memperbaiki niat dan meningkatkan kualitas amal ibadah kita. Mengkaji tanda-tanda ikhlas juga membantu kita dalam menjaga kemurnian hati dan niat dalam setiap perbuatan, serta menjauhkan diri dari sifat riya’ dan syirik khafi (syirik tersembunyi) yang dapat merusak amal kita di hadapan Allah Subhanahu Wa ta’ala,. Imam Dzun-Nun Al-Mishri juga menyebutkan tanda-tanda Orang yang ikhlas yaitu sebagai sebagai berikut 1. Kesamaan Antara Pujian dan Celaan: Orang yang ikhlas tidak terpengaruh oleh pujian atau celaan dari manusia. Baginya, penilaian manusia tidak penting dibandingkan dengan penilaian Allah. Dzun-Nun Al-Mishri menyatakan bahwa salah satu tanda keikhlasan adalah ketika seseorang merasa sama saja antara dipuji dan dicela oleh orang lain. 2. Melupakan Amal yang Dilakukan: Orang yang ikhlas melupakan amal baik yang telah mereka lakukan, karena mereka melakukannya semata-mata untuk Allah dan bukan untuk mengingat-ingatnya atau merasa bangga. Hal ini juga menunjukkan bahwa mereka tidak mengharapkan pujian atau balasan dari manusia. 3. Fokus pada Akhirat: Orang yang ikhlas selalu mengharapkan pahala dan balasan dari Allah di akhirat, bukan di dunia. Mereka mengerti bahwa pahala/balasan yang terbaik adalah yang diberikan oleh Allah nanti di akhirat, sehingga mereka tidak tergoda oleh imbalan duniawi semata. Bila kita sudah mengetahui tanda-tanda yang telah disebutkan, maka kita dapat lebih mampu untuk mengintropeksi diri dalam menilai niat dan kualitas amal kita, serta berusaha untuk selalu memperbaiki diri agar semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala, dengan hati ikhlas. Amiin… Ref: al- Nawawi, Bustanul Arifin, (Dark: arriyan) h.27 ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Adab Menghidangkan Makanan

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Adab Menghidangkan Makanan Islam mengajarkan kita untuk senantiasa berlaku baik terhadap tamu dan juga memuliakannya, Karena tamu itu membawa keberkahan dan kebaikan. Dalam Kitab Ihya Ulumiddin Imam al- Ghazali banyak Menjelaskan Kemuliaan tamu dan cara Menjamu tamu sesuai anjuran sunnah, salah satunya adalah penjelasan tentang adab menghidangkan makanan. Ada 5 poin yang sangat penting mengenai adab menghidangkan makanan, yaitu : 1. Menyegerakan menghidangkan makanan kepada tamu, Rasulullah bersabda ” siapa saja yang beriman dengan Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamu”. Hatim al- Asam juga pernah berkata “Perkara yang terburu- buru datangnya dari syaitan kecuali lima perkara : Memberi makan tamu Tajhiz mayat Menikahkan anak gadis Membayar hutang Taubat. Begitu juga pada acara Walimatul Ursy ,sebagian ulama berpendapat; Walimah hari pertama Hukumnya sunah, Hari kedua Mubah (baik) Sedangkan walimah hari ketika adalah riya. 2. Menikmati makanan yang telah dihidangkan secara teratur. sesuai dengan anjuran medis yaitu mencicipi buah-buahan terlebih dahulu jika ada, yang khasiatnya lebih cepat dicerna dan sehat karena lebih awal berada pada dasar perut. Setelah buah-buahan, maka dianjurkan lagi untuk mencicipi daging dan tsarid (roti yang direndam dengan kuah). Nabi pernah bersabda bahwa kelebihan Aisyah dengan wanita lainnya yaitu seperti kelebihan tsarid dengan makanan lainnnya. Menandakan bahwa tsarid adalah mananan yang sangat dianjurkan untuk dikonsumsi. jika ditambah lagi dengan mengonsumsi makanan yang manis sesudah daging maka berkumpullah segala jenis kebaikan didalam tubuhnya yang mewarisi kepada ridha Allah SWT. kemudian dianjurkan untuk meminum air putih serta mencuci tangan dengan air hangat. 3. Menyajikan hidangan yang ringan/lunak terlebih dahulu. sementara kebiasaan orang yang bermewah-mewahan mereka lebih utama mendahulukan makanan berat (bersifat cepat mengenyangkan) sehingga mudah terbangkitnya syahwat untuk mencicipi makanan ringan setelahnya, namun ini sebalik sunah nabi karena dianggap mencari cara untuk memperbanyak makan. Sebagian dari sunah para pendahulu, mereka menyajikan segala jenis makanan sekaligus dan meletakkan piring diantara hidangan tersebut supaya tamu dapat memilih sendiri makanan mana yang mereka inginkan dan. Dikisahkan sebagian para sahabat terdahulu mereka menyediakan selembar kertas dan menulis segala menu makanan yang telah disediakan dan kemudian mereka menampilkannya kepada para tamu, sehingga para tamu nantinya dapat memilih makanan mana yang mereka inginkan. 4. Jangan bersegera memindahkan semua hidangan sebelum selesainya para tamu menikmatinya karena terkadang ada sebagian hidangan yang lebih disukai para tamu. 5. Menyajikan makanan sesuai dengan kadar kebutuhan, jangan sampai kurang ataupun berlebihan, karena menyedikitkan dari kadar keperluan dapat menurunkan muruah/ martabat pemilik hidangan serta terlalu berlebihan pada menyajikan hidangan merupakan sikap berpura- pura dan riya’ apalagi terdapat perasaan tidak rela jika semua hidangan dihabiskan kecuali ada niat yang baik dari pemilik makanan untuk memperoleh keberkahan dari para tamu dengan memakan kembali sisa makanan yang tidak habis dimakan oleh tamu. Dikisahkan, Ibrahim bin Adham pernah menghidangkan makanan yang banyak kemudian Sufyan bertanya ” Wahai Aba Ishak apakah tidak engkau takut semua ini akan berlebihan ? lalu Ibrahim bin Adham pun menjawab ” tidak ada istilah berlebihan pada makanan”. Sikap Ibrahim bin Adham disini melebihkan makanan dengan tujuan yang baik, akan tetapi jika tidak ada niat yang baik dalam menyajikan makanan yang banyak maka dianggap memberatkan diri sendiri. Ibnu Mas’ud RA juga mengatakan, kami pernah dilarang untuk menerima undangan seseorang yang berbangga-bangga dalam menyajikan hidangan. dan juga satu golongan dari sahabat yang tidak suka mencicipi makanan orang yang berbangga- bangga. Ibnu Mas’ ud sendiri tidak pernah menyajikan hidangan dihadapan Rasulullah dengan berlebihan namun hanya sekedar keperluan saja. Dianjurkan pula sebelum makanan dihidangkan, ahli bait ada baiknya memisahkan sebagian makanan tersebut untuk dirinya dan keluarganya supaya nantinya mereka tidak menginginkan makanan yang telah dihidangkan itu tersisa kembali jikalau tidak diambil separuh, andaikata nanti hidangannya habis maka mereka tidak akan rela, sehingga timbulnya perasaan dan perkataan yang tidak baik kepada para tamu. Hidangan yang tersisa setelah perjamuan bukanlah milik tamu sehingga menurut ahli sufi hukumnya dosa mengambil hidangan tersebut untuk dibawa pulang oleh tamu, kecuali diberikan izin dan ridha dari tuan rumah, ataupun diketahui dengan indikasi bahwasanya pemilik hidangan senang jika hidangannya yang lebih dibawa pulang oleh tamu namun jika ada dugaan tidak senangnya pemilik rumah jika diambil makanan yang tersisa tadi maka dengan demikian tamu tidak boleh mengambilnya. Referensi Ihya Ulumuddin, cet Dar- al-Fikri, jld 2, hal.18-20* ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Hikmah Tayammum

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Hikmah Tayammum Dalam hal bersuci jika kita tidak mendapatkan air untuk bersuci maka diperbolehkan bagi kita untuk melakukan tayamum nah sekarang apa hikmah dibalik tayamum. Ketahuilah bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak memberikan kesulitan apapun kepada kita dalam hal agama, agar kita dapat menunaikan apa yang telah dipercayakanNya kepada kita dalam hal ibadah tanpa kesulitan dan kesusahan, sehingga hati terbebas dari najis kesusahan, dan bersih dari amalan, dosa. Tidakkah kita perhatikan bahwa menunaikan shalat itu memerlukan bersuci dengan air, maka jika air itu hilang atau tidak dapat diperoleh, dan tiba waktunya shalat wajib, maka yang diberikan kepada kita bertayamum menggunakan tanah/debu dan ada dua hikmah di dalamnya: Yang pertama: merendahkan jiwa yang membawa kepada keburukan dengan menaruh debu yang paling hina pada mukanya, yang paling mulia di antara anggotanya, dan yang kedua: menjelaskan kelebihan umat nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena tayamum tidak diwajibkan di umat-umat terdahulu, dan itu merupakan izin bagi kita dari Pemberi Hukum yang Bijaksana agar kita tidak memaksakan diri untuk memperoleh air saat hendak menunaikan shalat wajib. Beranjak dari hal tersebut bersuci dengan air yang harus menyeluruh ke seluruh badan pada saat berhadas besar, dan sebagian badan ketika hadas kecil dan mengotori dirinya dengan cara ini merupakan kesusahan dan kesulitan, maka syariat memberi dispensasi kepada kita umat Muhammad menyapu Dengan debu sedemikian rupa agar tidak mendorong ia untuk melakukan sebuah kesusahan dengan kesulitan lainnya, karena menyapu semua anggota badan dengan debu merupakan sebuah kesulitan maka syariat meringankan dengan boleh menyapu di sebagian kecil saja sebagaimana yang tertera dalam kitab fiqh. Ada hikmah lain yang menjadikan tanah sebagai pengganti air, bukan semua bahan lainnya, karena tidak ada tempat tanpa tanah, dan tanah juga merupakan unsur asal mula manusia diciptakan. Karena tayamum dan halalin lain merupakan keistimewaan lain dari umat ini, Rasulullah SAW bersabda: Aku diberi lima hal yang tidak pernah diabaikan oleh nabi-nabi sebelumku. Aku menang melalui teror perjalanan sebulan, dan tanah itu dijadikan untukku. Dan di dalam riwayatnya: bagi umat ku adalah masjid dan bersuci. Maka di mana saja seseorang dari umatku bepergian, maka hendaklah dia shalat. Harta rampasan itu dihalalkan bagiku, dan tidak halal bagi seorang pun sebelum aku. Itu diturunkan kepada umat pada umumnya, dan Nabi diutus kepada umatnya sebagai sebuah keistimewaan dan pemberi syafaat. Hal yang sudah lumrah bahwa dibolehkan tayamum ketika air tidak diperdapatkan ketika sudah masuk waktu shalat dengan apa yang berupa tanah, dan segala sesuatu yang dibentuk dan diambil dari bumi, dan izin ini merupakan rahmat bagi kita dari Allah Yang Maha Esa.   Ref : Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuh, Hal 74 ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an