بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center
MENGUBAH SUDUT PANDANG MENGHADAPI BADAI KEHIDUPAN
Bukan besarnya gelombang yang menentukan tenggelamnya sebuah perahu, melainkan bagaimana ketangguhan nakhoda dalam mengendalikan kemudi. Begitu pula dalam kehidupan, ujian adalah keniscayaan yang menyapa setiap jiwa. Sebagian orang terjebak dalam keluhan sambil meratapi kapan penderitaannya akan usai, sementara jiwa yang matang memilih merenungi bagaimana cara bersikap agar badai tersebut mendewasakan batin dan merekatkan hubungannya dengan Sang Pencipta.
Langkah awal untuk menata batin adalah menyadari bahwa ujian merupakan hukum alam penciptaan, bukan tanda bahwa Allah berpaling atau murka. Dalam QS. Al-Baqarah: 155, Allah SWT telah menegaskan ketetapan ini:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Setiap duri kepedihan, rasa lelah, maupun air mata yang menetes sesungguhnya berfungsi sebagai penggugur noda kekhilafan dan pengangkat derajat seorang mukmin di hadirat-Nya. Beban tersebut pun tidak pernah diletakkan secara serampangan di pundak kita. Allah SWT menegaskan batas ukurannya dalam QS. Al-Baqarah: 286:
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.”
Ketika rasa putus asa mulai membisikkan bahwa kita tidak lagi sanggup bertahan, ingatkanlah diri bahwa Sang Pencipta telah menakar kekuatan kita jauh lebih presisi daripada perkiraan kita sendiri. Bersamaan dengan himpitan tersebut, benih kelapangan sesungguhnya telah disemai sejak awal, sebagaimana janji-Nya dalam QS. Al-Insyirah: 5–6:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.”
Al-Qur’an menggunakan kata “beserta”, menandakan bahwa jalan keluar tidak hadir belakangan, melainkan berjalan berdampingan dengan masalah itu sendiri, menunggu kepekaan nurani kita untuk menemukannya.
Menghadapi kenyataan pahit tentu bukan bermakna berdiam diri dalam kepasrahan yang pasif. Sikap seorang mukmin bergerak dinamis memadukan ikhtiar nyata dan kepasrahan tawakal yang bulat, layaknya seekor burung yang tetap mengepakkan sayap terbang di pagi hari dalam kondisi lapar, lalu kembali saat senja dalam keadaan kenyang. Ketika usaha telah dimaksimalkan dan doa terus dilangitkan dengan ketakwaan, Allah SWT sendiri yang menjamin jalan keluar dari arah yang tak pernah terlintas di benak kita, sebagaimana termaktub dalam QS. At-Talaq: 2–3:
وَمَنْ يَتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Ujian hidup pada hakikatnya tidak datang untuk meremukkan, melainkan untuk menuntun kita kembali bersujud, merapatkan jarak yang sempat renggang dengan-Nya, dan membuktikan seberapa kokoh iman yang bersemayam di dalam dada.
والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب
Do’a Kafaratul Majelis
سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ
Media informasi LDRQ-Center
📞Channel whatsapp LDRQ
📷Instagram LDRQ
📷Instagram Dayah RQ
🌎Fanpage FB
📡Facebook
🎬Youtube
🐦X
📝Telegram
#dayahraudhatulquran
#lajnahdakwahraudhatulqur’an




