Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

Catatan Bulan Syawal : Oleh-oleh Bulan Ramadhan

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

🗒️🔊 *Kajian Malam Jumat Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ)*

Bersama :Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA
Tema :Catatan Bulan Syawal : Oleh-oleh Bulan Ramadhan

26 | Maret | 2026 M / 06 | Syawal | 1447 H

📖 Kalam Hikmah:

Syukur Alhamdulillah kita masih diberikan umur oleh Allah SWT setelah Ramadhan kita berjumpa dengan bulan Syawal yang memang disunnahkan untuk melanjutkan program-program yang sudah dijalankan selama Ramadhan.

Adapun program pertama yaitu berpuasa Syawal enam hari.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim)

Mengapa disamakan dengan puasa setahun? Alasan disamakan dengan puasa setahun penuh adalah berdasarkan bahwa satu kebaikan bernilai sepuluh kebaikan. Dengan demikian bulan Ramadhan menyamai sepuluh bulan, dan enam hari di bulan syawal menyamai dua bulan. (6 x 10 = 60 = 2 bulan)

Disunnahkan menjalankan puasa enam hari di bulan Syawal meskipun ia memiliki tanggungan qadha puasa. Para ulama kalangan Syafi’i berpendapat bahwa menjalankannya secara berurutan terus-menerus (mulai hari kedua syawal) itu lebih utama, namun andaikan dilakukan terpisah-pisah atau dilakukan di akhir bulan Syawal pun juga masih mendapatkan pahala sesuai keutamaan dalam hadits tersebut.

Menurut Imam Ramli, diperbolehkan menggabungkan niat puasa enam hari bulan Syawal dengan niat qadha ganti puasa Ramadhan dan keduanya mendapatkan pahala.

Imam Ramli (wafat 1004 H) menyebutkan dalam kitabnya Nihayatul Muhtaj tentang sahnya menggabungkan dua niat puasa qada’ dengan puasa sunah.

وَلَوْ صَامَ فِي شَوَّالٍ قَضَاءً أَوْ نَذْرًا أَوْ غَيْرَهُمَا أَوْ فِي نَحْوِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ حَصَلَ لَهُ ثَوَابُ تَطَوُّعِهَا كَمَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى – تَبَعًا لِلْبَارِزِيِّ وَالْأَصْفُونِيِّ وَالنَّاشِرِيِّ وَالْفَقِيهِ عَلِيِّ بْنِ صَالِحٍ الْحَضْرَمِيِّ وَغَيْرِهِمْ

Artinya : “Kalau seorang puasa pada bulan Syawal sekaligus qadha atau nadzar atau selain keduanya atau juga di hari Asyura, maka dia mendapatkan pahala puasa sunnah juga, sebagaimana fatwa ayah kami (Sayamsudin ar-Ramli) mengikuti fatwanya al-Barizi, al-Asfuni, an-Nasyiri, al-Faqih Ali bin Shalih al-Hadrami dan selainnya.” (Syihabbuddin ar-Ramli, Nihayatul Mujtaj [Bairut, Darul Fikr: 1984 H] juz III halaman 208).

Adapun program kedua adalah melanjutkan shalat-shalat malam (qiyamullail) yang dikerjakan selama Ramadhan

Rasulullah SAW bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (يا أيها الناس، أفشوا السلام، وأطعموا الطعام، وصِلوا الأرحام، وصلوا بالليل والناسُ نيام، تحُلُّوا الجنة بسلام)؛ [أخرجه الترمذي، وقال: هذا حديث صحيح].

Artinya : “Wahai manusia tebarkanlah salam, bagikanlah makanan kepada orang lain, sambungkanlah silaturahmi, dan shalatlah kalian pada malam hari di mana manusia dalam keadaan tertidur, niscaya masuklah dalam surga dengan selamat.” (HR. At-Tirmidzi)

Di antara shalat-shalat sunnah malam yang sudah sering dikerjakan pada malam bulan Ramadhan adalah:

1. Shalat taubat

Syekh Nawawi Banten dalam kitab Nihâyatuz Zain menuturkan perihal shalat taubat sebagai berikut:

وَمِنْه صَلَاة التَّوْبَة وَهِي رَكْعَتَانِ قبل التَّوْبَة يَنْوِي بهما سنة التَّوْبَة

Artinya: “Termasuk shalat sunah adalah shalat taubat, yakni shalat dua rakaat sebelum bertaubat dengan niat shalat sunnah taubat.”

Dari penjelasan Syekh Nawawi di atas dapat disimpulkan bahwa shalat taubat merupakan shalat sunnah yang terdiri dari dua rakaat dan dilakukan sebelum seseorang bertaubat kepada Allah atas dosa yang telah dilakukan.

2. Shalat tasbih

Ibnu Hajar al-Haitami di dalam kitabnya Al-Minhâjul Qawîm menuliskan sebagai berikut:

و صلاة التسبيح وهي أربع ركعات يقول في كل ركعة بعد الفاتحة والسورة: سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر، زاد في الإحياء: ولا حول ولا قوة إلا بالله خمس عشرة مرة وفي كل من الركوع والاعتدال وكل من السجدتين والجلوس بينهما والجلوس بعد رفعه من السجدة الثانية في كل عشرة فذلك خمس وسبعون مرة في كل ركعة

Artinya: Dan (termasuk shalat sunnah) adalah shalat tasbih, yaitu shalat empat rakaat di mana dalam setiap rakaatnya setelah membaca surat Al-Fatihah dan surat lainnya membaca kalimat subhânallâh wal hamdu lillâh wa lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar—di dalam kitab Ihyâ ditambahi wa lâ haulâ wa lâ quwwata illâ billâh—sebanyak 15 kali, dan pada tiap-tiap ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan duduk setelah sujud yang kedua masing-masing membaca (kalimat tersebut) sebanyak 10 kali. Maka itu semua berjumlah 75 kali dalam setiap satu rakaat. (Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhâjul Qawîm, Beirut: Darul Fikr, tt., halaman: 203)

3. Shalat tahajjud

Allah SWT berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

Artinya, “Dan dari sebagian malam shalat tahajudlah kamu (Muhammad ﷺ) dengan membaca Al-Qur’an (di dalamnya) sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu menempatkanmu pada tempat yang terpuji” (QS al-Isra: 79).

4. Shalat hajat

Orang yang sedang dirundung kesulitan atau memiliki sebuah kepentingan tertentu dianjurkan untuk melakukan shalat dua rakaat dan berdoa menyatakan hajatnya kepada Allah SWT.

فمن ضاق عليه الأمر ومسته حاجة في صلاح دينه ودنياه وتعسر عليه ذلك فليصل هذه الصلاة الآتية

Artinya, “Orang sedang mengalami kesempitan, berhajat untuk membuat mashlahat agama dan dunianya, dan merasakan kesulitan karenanya, hendaklah melakukan shalat sebgai berikut,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2002 M/1422 H], cetakan pertama, halaman 103)

5. Shalat witir

Rasulullah SAW bersabda:

أَوْتِرُوْا يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ، فَإِنَّ اَللّٰهَ وِتْرٌ يُحِبُّ اَلْوِتْرَ

Artinya: Berwitirlah kalian semua, wahai ahli Al-Qur’an, karena sesungguhnya Allah itu ganjil, dan menyukai hal-hal yang ganjil (HR Khuzaimah).

Dalam riwayat lain juga disebutkan:

اِجْعَلُوْا اٰخِرَ صَلَاتِكُمْ مِنَ الَّليْلِ وِتْراً

Artinya: Jadikanlah akhir shalat kalian semua di malam hari dengan dengan shalat witir (Syekh Wahbah Zuhaili, al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Bairut: Darul Fikr, Damaskus, 2010], juz II, h. 185).

و الله أعلم بالصواب و علمه أتم

Do’a Kafaratul Majelis

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ.

Media informasi LDRQ-Center

📷Instagram Dayah RQ
🌎Fans Page Fb
📡Fb
📷Instagram LDRQ
🎬Youtube
🐦Twitter
📝Telegram

#dayahraudhatulquran
#ldrqraudhatulquran
💎⭐⛅🤝🏻

Bagikan:

Tinggalkan Balasan