Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

Apakah Doa Anak yang Tidak Saleh Tetap Berguna bagi Orang Tuanya?

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Apakah Doa Anak yang Tidak Saleh Tetap Berguna bagi Orang Tuanya? Sebuah hadits menyebutkan bahwa doa anak yang saleh, salah satuunya, dapat berguna bagi kedua orang tuanya yang sudah meninggal dunia. Hadits tersebut hanya menyebutkan doa anak yang saleh. Tetapi hadits tersebut tidak menyebutkan efek doa anak yang tidak saleh bagi kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia. Sebelum masuk ke dalam pembahasan doa anak yang tidak saleh, ada baiknya kita kutip hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang menyebutkan amal yang terus berlanjut meski seseorang telah meninggal dunia. عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاثة صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له Artinya, “Dari sahabat Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, ‘Bila seseorang meninggal dunia, maka amalnya terputus kecuali berasal dari tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya,’” (HR Bukhari dan Muslim). Benar sekali bahwa hadits riwayat Bukhari dan Muslim ini tidak menyebut doa anak yang tidak saleh. Apakah Allah hanya mencatat aliran pahala dari doa anak yang saleh. Sedangkan doa anak yang tidak saleh ditolak karena ketidaksalehannya? Masalah ini menarik perhatian Imam Al-Ghazali. Dalam Kitab Ihya Ulumiddin, Imam Al-Ghazali membantah klaim sebagian orang yang mengatakan bahwa doa anak yang tidak saleh bagi kedua orang tuanya tidak berguna karena ketidaksalehannya sebagaimana keterangan hadits Bukhari dan Muslim tersebut. Imam Al-Ghazali mengakui bahwa hadits itu hanya menyebutkan doa anak yang saleh. Tetapi secara umum, kesalehan itu melekat pada anak-anak orang yang beriman, terlebih anak orang-orang yang teguh dalam beragama. Mereka dapat dikatakan sebagai anak yang saleh meski juga melakukan dosa dan berbuat fasik. وقول القائل إن الولد ربما لم يكن صالحا لا يؤثر فإنه مؤمن والصلاح هو الغالب على أولاد ذوي الدين لا سيما إذا عزم على تربيته وحمله على الصلاح وبالجملة دعاء المؤمن لأبويه مفيد برا كان أو فاجرا فهو مثاب على دعواته وحسناته فإنه من كسبه وغير مؤاخذ بسيئاته فإنه لا تزر وازرة وزر أخرى Artinya, “Seseorang berkata, ‘Anak kadang tidak saleh sehingga doanya tidak berpengaruh bagi kedua orang tua. Padahal ia mukmin.’ Kesalehan sudah umum pada keturunan orang beragama, terlebih kalau orang bertekad mendidik dan mengantarkannya pada kesalehan. Secara global, doa orang beriman untuk kedua orang tuanya tetap berguna baik ia anak berbakti maupun anak durhaka. Kedua orang tuanya akan tetap diberi pahala atas doa dan kebaikan anaknya karena itu bagian dari ikhtiarnya dan ia tidak akan disiksa karena dosa keturunannya. Pasalnya setiap orang tidak menanggung dosa orang lain,” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439-1440 H], juz II, halaman 30). Imam Al-Ghazali berpijak pada Surat At-Thur ayat 21 di dalam membangun argumentasinya. Ia mengutip Surat At-Thur ayat 21. وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَٰهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍ ۚ كُلُّ ٱمْرِئٍۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ Artinya: “Orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan keturunan mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat pada apa yang dikerjakannya,” (Surat At-Thur ayat 21). Menurut Imam Al-Ghazali, Allah berdasarkan Surat At-Thur ayat 21 tidak akan mengurangi pahala kedua orang tua yang telah meninggal karena amal fasik dan dosa yang diperbuat anaknya yang masih hidup. Sebaliknya, Allah menjadikan kehidupan anak mereka sebagai tambahan pahala bagi kedua orang tuanya. (Al-Ghazali, 2018 M/1439-1440 H], II/30). ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Mencari Ketenangan dalam Shalat

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Mencari Ketenangan dalam Shalat Ketenangan adalah suatu keadaan jiwa yang damai dan terbebas dari segala kegelisahan, kegundahan, dan kehkawatiran*. Pada umumnya para manusia cenderung mencari ketenangan tersebut dengan cara mereka sendiri, namun pada akhirnya ketenangan itu tidak kunjung hadir malahan berhujung pada kegelisahan. *Dalam agama islam ada salah satu spiritualitas yang dapat menghadirkan ketenangan dalam hati dan jiwa manusia, yaitu shalat. Mayoritas muslim pasti mengetahui apa itu shalat dan juga senantiasa melaksanakannya, Dan sangat sedikit orang tau bahwa shalat itu bisa menghadirkan ketenangan dalam hati, bahkan ada sebagian yang tau namun kenapa tidak bisa mendapatkan ketenangan tersebut!. Berikut ini tips- tips agar dapat mendapat ketenangan dalam shalat: 1. Khusu’ dengan hati: Tidak memfokuskan hati kepada selain shalat. 2. Khusu’ dengan anggota tubuh: seseorang tidak bermain-main dengan anggota tubuhnya di saat melaksanakan shalat. 3. Fokus pada bacaan: fokus pada bacaan shalat, seperti al-fatihah dan surah-surah lainnya, untuk meningkatkan kesadaran dan ketenangan. 4. Fokus pada dzikir: fokus dan merenungkan makna dari dzikir yang dibaca seperti bacaan tasbih ketika ruku’ dan sujud. 5. Konsisten melihat tempat sujud: konsisten / berkekalan melihat tempat sujud adalah perkara yang disunnahkan karna agar lebih mempermudah seseorang untuk lebih khusu’ dalam melaksanakan shalat sekalipun seseorang itu dalam kodisi buta. Sayyidi al-qutbi al arif billah berkata: “Hal- hal yang dapat membuat seseorang khusu’ dalam shalat ada 2, yaitu: memperpanjang Ruku’ dan sujud.” Manfaat mencari ketenangan dalam shalat menurut fisikologi 1. Dapat mengurangi stres: shalat dapat mengurangi stres dan kecemasan dengan menurunkan kadar hormon stres 2. Meningkatkan relaksasi: shalat dapat membantu meningkatkan relaksasi dan mengurangi ketegangan otot dengan memicu pelepasan hormon endorfin dan serotonin. 3. Meningkatkan keseimbangan sistem saraf. 4. Meningkatkan kualitas tidur: shalat dapat membantu meningkatkan kualitas tidur dengan mengurangi stres dan kecemasan, serta meningkatkan relaksasi. Referensi: kitab fathul mu’in, hal: 181. Cetakan al-haramain. والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Hukum Membuka Rahasia Orang Lain

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Hukum Membuka Rahasia Orang Lain Kita sering kali mendengar satu atau beberapa orang bercerita perihal satu hal. Ketika mengetahui cerita tersebut, kita mendapatkan amanah untuk menjaga pembicaraan tersebut karena cerita itu merupakan sebuah rahasia. Dalam pada itu, kita harus dapat menjaga sedemikian rupa rahasia pembicaraan tersebut. Kita perlu memahami bahwa rahasia itu mengandung amanah yang begitu besar karena salah menjaga amanah itu dapat membahayakan orang lain atau mengeruhkan situasi. Imam Al-Ghazali membahas penyebaran rahasia ini dari kacamata agama. Pembocoran rahasia merupakan sebuah pengkhianatan yang sulit diterima. Al-Ghazali mengutip hadits nabi soal status cerita/percakapan seseorang. إفشاء السر وهو منهي عنه لما فيه من الإيذاء والتهاون بحق المعارف والأصدقاء قال النبي صلى الله عليه و سلم إذا حدث الرجل ثم التفت فهي أمانة Artinya, “Buka rahasia (orang lain) dilarang (dalam agama) karena menyakiti dan mempermainkan hak (orang) kenalan dan sahabat. Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Bila seseorang bercerita, lalu menoleh, maka itu adalah amanah,’ (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi)” (Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439 H-1440 H], juz III, halaman 137). Secara harfiah, Nabi Muhammad saw menyebutkan bahwa percakapan merupakan amanah. Oleh karena itu, pembocoran (percakapan) rahasia merupakan bentuk pengkhianatan. وقال مطلقا الحديث بينكم أمانة وقال الحسن إن من الخيانة أن تحدث بسر أخيك Artinya, “Nabi Muhammad saw secara mutlak bersabda, ‘Percakapan di antara kalian merupakan amanah,’ (HR Ibnu Abid Duniya). Imam Al-Hasan berkata, ‘Salah satu bentuk pengkhianatan adalah pembocoran atas rahasia saudaramu,’” (Al-Ghazali, 2018 M/1439 H-1440 H: III/137). Secara hukum, Imam Al-Ghazali menyebut bahwa pembocoran rahasia orang lain diharamkan ketika membahayakan orang lain. Tetapi secara etika, pembocoran rahasia itu baik keluarga, sahabat, saudara, atau juga rumah tangga, merupakan akhlak tercela yang patut dijauhi. وهو حرام إذا كان فيه إضرار ولؤم إن لم يكن فيه إضرار وقد ذكرنا ما يتعلق بكتمان السر في كتاب آداب الصحبة فأغنى عن الإعادة Artinya, “Pembocoran rahasia percakapan diharamkan ketika membawa mudharat dan ia tindakan tercela jika tidak melahirkan mudharat. Kami telah menyebutkannya pada bab terkait penutupan rahasia pada Bab Adab Bersahabat. Saya tidak perlu mengulanginya,” (Al-Ghazali, 2018 M/1439 H-1440 H: III/137). Pembocoran rahasia ini tentu dilarang menurut syariat tanpa ada kepentingan darurat seperti kepentingan persidangan untuk hukum. Pembocoran rahasia juga tercela menurut akhlak Islam karena melanggar hak (rahasia) orang lain yang seharusnya dipenuhi. ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Sifat Mukhālafah lil Ḥawādits sebagai Penegasan Keagungan Dzat Allah SWT

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒️🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ Sifat Mukhālafah lil Ḥawādits sebagai Penegasan Keagungan Dzat Allah SWT Salah satu sifat yang wajib bagi Allah SWT adalah mukhālafah lil ḥawādits (berbeda dari segala makhluk-Nya). Perbedaan ini mencakup seluruh aspek, baik dari segi wujud dan zat, maupun sifat dan perbuatan-Nya. Keyakinan ini menjadi benteng akidah umat Islam agar tidak terjerumus dalam pemahaman yang menyerupakan Allah dengan makhluk (tasybīh). Para ulama menegaskan bahwa Allah SWT Maha Suci dari segala bentuk dan sifat yang dimiliki makhluk. Ia tidak serupa dengan manusia, jin, malaikat, ataupun makhluk lain ciptaan-Nya. Karena itu, tidak layak bagi Allah disifati dengan sifat-sifat makhluk, seperti berjalan, duduk, atau memiliki anggota tubuh. Allah SWT Mahasuci dari segala bentuk jasmani, seperti mulut, mata, telinga, dan sejenisnya. Apabila dalam Al-Qur’an atau hadis terdapat lafaz yang secara lahiriah seolah-olah menggambarkan bahwa Allah Ta’ala memiliki keserupaan dengan makhluk-Nya, seperti disebutkan Allah memiliki yad (tangan) dan sebagainya, maka para ulama sepakat perlu dilakukan takwil, yaitu menafsirkan ayat tersebut dengan mengalihkan maknanya dari arti lahiriah. Tujuannya adalah agar pemahaman terhadap sifat-sifat Allah tetap sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyamakan-Nya dengan makhluk. Namun, dalam praktik takwil ini, para ulama terbagi menjadi dua pandangan, yakni ulama salaf dan khalaf. Ulama salaf melakukan takwil ijmali, yaitu bentuk penyerahan makna tanpa menentukan arti yang spesifik, melainkan menyerahkan pengetahuannya hanya kepada Allah Ta’ala. Misalnya, dalam firman Allah: (يد الله فوق ايديهم), mereka memahami bahwa makna yad di sini bukanlah tangan dalam pengertian fisik sebagaimana makhluk, dan hanya Allah yang mengetahui maknanya yang hakiki. Sementara itu, ulama khalaf melakukan takwil tafshili, yaitu menafsirkan lafaz tersebut dengan penjelasan makna yang lebih rinci. Mereka menjelaskan bahwa kata yad dalam ayat tersebut bukan bermakna anggota tubuh, melainkan melambangkan kekuasaan Allah yang jauh lebih tinggi dan agung dibandingkan kekuasaan makhluk. Dalil yang menegaskan bahwa Allah SWT berbeda dari seluruh makhluk-Nya terbagi menjadi dua jenis, yaitu dalil naqli dan dalil ‘aqli. Dalil naqli bersumber dari Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah Ta‘ala dalam Surah Asy-Syūrā (42):11: فاطِرُ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْواجًا وَمِنَ الْأَنْعامِ أَزْواجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ “(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat”. [QS. Asy-Syūrā (42):11]. Ayat ini dengan tegas menolak segala bentuk penyerupaan antara Allah dan makhluk. Allah Maha Sempurna, tidak terikat oleh ruang, bentuk, atau sifat makhluk ciptaan-Nya. Sedangkan dalil ‘aqli (rasional) yang menunjukkan wajibnya sifat mukhālafah lil ḥawādits bagi Allah Ta‘ala adalah bahwa mustahil bagi Allah menyerupai makhluk dalam sifat apa pun. Sebab, jika Allah memiliki kesamaan dengan makhluk, maka Ia juga makhluk yang baharu. Dan apabila Allah Ta‘ala bersifat baharu, tentu Dia memerlukan pencipta, dan penciptanya pun akan membutuhkan pencipta lain, dan seterusnya tanpa batas. Maka hal itu meniscayakan terjadinya dawr (sirkularitas) atau tasalsul (rantai tanpa akhir), dan keduanya adalah mustahil terjadi. Oleh karena itu, Allah Ta‘ala pasti berbeda dari segala makhluk, karena Dia Maha Qadim (tidak bermula), Maha Independen, dan tidak membutuhkan siapa pun dalam keberadaan-Nya. ‎ Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ Refrensi: Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri, Hasyiah al-Bajuri ‘ala Kifayah al-’Awam fi ‘Ilm al-Kalam, Cet. Ke-1 (Beirut: DKI, 2007), h. 86-90. ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

AMANAH KEPEMIMPINAN PADA DIRI KITA

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ AMANAH KEPEMIMPINAN PADA DIRI KITA ‎ ‎Kita sering kali begitu mudah melontarkan kritik pedas terhadap kekacauan kepemimpinan di ruang publik, mencibir pemangku kebijakan yang khianat, atau mengutuk praktik kezaliman para pejabat. Namun, sebelum telunjuk kita mengarah kepada orang lain di panggung kekuasaan yang besar, ada baiknya kita menundukkan pandangan ke dalam dada sendiri. Islam memandang amanah kekhalifahan bukan hanya milik mereka yang duduk di kursi birokrasi, melainkan melekat erat pada pundak setiap hamba. ‎ ‎Rasulullah menegaskan hakikat pertanggungjawaban personal ini melalui sabda beliau yang sarat makna: ‎ ‎​أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ‎ ‎“Ketahuilah, masing-masing kalian adalah pemimpin, dan masing-masing kalian akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) ‎ ‎​Peringatan agung tersebut meruntuhkan ilusi bahwa kepemimpinan hanya urusan politik negara. Di mata Allah, seorang kepala keluarga memegang kendali atas arah hidup anak istrinya, seorang ibu memimpin pengelolaan ketentraman rumah tangganya, seorang pendidik membimbing jiwa murid-muridnya, dan setiap individu adalah nakhoda bagi raga serta hawa nafsunya sendiri. Sekecil apa pun ruang pengaruh yang kita miliki, di sana terdapat hisab yang menanti. ‎ ‎Kedudukan manusia sebagai pengemban mandat kepengurusan di muka bumi ini ditegaskan langsung oleh Allah SWT sejak awal penciptaan, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah: 30: ‎ ‎​وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ‎ ‎​“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’…” ‎ ‎​Penetapan status sebagai khalifah menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun dari kita yang hadir tanpa beban tanggung jawab. Kelak di hadapan pengadilan akhirat, kita tidak akan ditanya tentang kebijakan presiden yang gagal atau menteri yang korup, melainkan tentang bagaimana kita memperlakukan keluarga, mengelola kejujuran dalam berdagang, mendidik anak-anak, dan mengendalikan anggota tubuh kita dari kemaksiatan. ‎ ‎​Perubahan sebuah bangsa selalu bermula dari pembenahan unit terkecilnya, yaitu hati dan rumah tangga. Menuntut keadilan dari penguasa terasa hampa jika kita sendiri masih berbuat curang kepada pasangan, lalai mengayomi keluarga, atau gemar menindas bawahan. Ketika setiap pribadi mulai berdisiplin memimpin dirinya dengan takwa, menaungi rumah tangganya dengan kelembutan, dan memperlakukan sesama dengan kejujuran, niscaya Allah SWT akan melahirkan iklim kemasyarakatan yang sehat dan menghadirkan para pemimpin negeri yang adil serta amanah. ‎ ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب ‎ ‎Do’a Kafaratul Majelis ‎ ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ ‎ ‎Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an