Tungkop, Darussalam, Aceh Besar 085276704550 osdaraudhatulquran@gmail.com
Tausiah LDRQ

‎MAHKOTA SYUKUR: ENAM PILAR KENIKMATAN UTAMA DALAM HIDUP

‎بِسْمِ ﷲِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ‎🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center ‎ ‎MAHKOTA SYUKUR: ENAM PILAR KENIKMATAN UTAMA DALAM HIDUP ‎ ‎Pesan ini mengajak kita untuk mengalihkan pandangan dari sekadar materi menuju hakikat kebahagiaan yang substansial. Seringkali kita merasa kurang karena membandingkan harta, padahal kita sedang menggenggam enam nikmat yang tak ternilai harganya. ‎ ‎1. Nikmat Islam (Hidayah Keyakinan) ‎ ‎Islam adalah fondasi utama. Tanpa Islam, segala amal kebaikan di dunia bagaikan debu yang beterbangan. Menjadi muslim berarti memiliki “paspor” keselamatan di akhirat dan kompas moral yang jelas di dunia. ‎ ‎​2. Nikmat Al-Qur’an (Pedoman Hidup) ‎ ‎Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan manual book kehidupan. Memilikinya berarti memiliki akses langsung ke firman Tuhan sebagai obat hati (syifa’), petunjuk (huda), dan cahaya dalam kegelapan dilema hidup. ‎ ‎3. Nikmat Nabi Muhammad Rasulullah SAW (Suri Teladan) ‎ ‎Kehadiran Nabi Muhammad adalah bentuk kasih sayang Allah yang nyata bagi alam semesta. Melalui beliau, kita mengenal tata cara beradab, mencintai sesama, dan cara mendekatkan diri kepada Sang Pencipta secara sempurna. ‎ ‎4. Nikmat al-‘Afiyah (Kesehatan dan Keselamatan) ‎ ‎’Afiyah mencakup kesehatan jasmani dan ketenangan batin. Betapa banyak harta menjadi tidak berarti ketika tubuh tak lagi mampu menikmati makanan atau jiwa dirundung kecemasan yang tiada henti. ‎ ‎5. Nikmat al-Sitr (Tertutupnya Aib) ‎ ‎Ini adalah nikmat yang sering terlupakan. Manusia terlihat mulia di mata orang lain bukan karena ia suci tanpa dosa, melainkan karena Allah dengan sifat Maha Menutupi-Nya masih menjaga rahasia dan keburukan kita agar tidak tampak di permukaan. ‎ ‎6. Nikmat al-Ghina ‘an al-Nas (Kemandirian Hati) ‎ ‎Merasa cukup dan tidak bergantung pada pemberian atau belas kasihan manusia adalah bentuk kemerdekaan sejati. Orang yang “kaya” dalam konteks ini adalah mereka yang hatinya hanya menggantungkan harapan kepada Allah, sehingga tidak diperbudak oleh rasa iri atau mencari muka di hadapan manusia. ‎ ‎Sebagai bentuk syukur atas enam nikmat tersebut, kita dianjurkan meresapi kalimat tauhid berikut setiap hari: ‎​رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولًا وَنَبِيًّا، وَبِالقُرْآنِ حُكْمًا وَإِمَامًا “Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, Muhammad SAW sebagai Rasul dan Nabiku, serta Al-Qur’an sebagai hukum dan imamku.” ‎ ‎Kebahagiaan bukan tentang mendapatkan apa yang kita inginkan, tapi tentang menyadari betapa besarnya apa yang telah kita miliki. Dengan mengamalkan zikir di atas, kita mengunci hati kita pada frekuensi syukur, sehingga nikmat-nikmat tersebut akan terus bertambah. ‎ ‎Sumber: Nashaih al-‘Ibad oleh Syekh Nawawi al-Bantani ‎والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب Do’a Kafaratul Majelis ‎سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ Media informasi LDRQ-Center ‎ ‎📞Channel whatsapp LDRQ ‎📷Instagram LDRQ ‎📷Instagram Dayah RQ ‎🌎Fanpage FB ‎📡Facebook ‎🎬Youtube ‎🐦X ‎📝Telegram ‎ ‎#dayahraudhatulquran ‎#lajnahdakwahraudhatulqur’an

Tausiah LDRQ

Mengingat Kematian

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Raudhatul Qur’an (LDRQ) Bersama :Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA Tema :Mengingat Kematian 📖 Kalam Hikmah: Rasulullah SAW bersabda: إذا مات أحدُكم؛ فقد قامتْ قيامتُه؛ فاعبدوا اللهَ كأنكم ترَوْنَه، واستغفِروه كُلَّ ساعةٍ. Artinya : “Apabila seseorang diantara kalian telah meninggal dunia, maka telah berlakulah kiamat untuknya. Oleh karena itu, beribadahlah kepada Allah seakan-akan kamu sedang melihat-Nya dan mintalah keampunan kepada-Nya setiap saat. (HR. Ad-Dailami) Penting diketahui bahwa kematian itu adalah kiamat bagi pribadi seseorang maka perlu mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin, karena kiamat yg dimaksud adalah akhir dari segala bentuk kehidupan dunia. Persiapan kematian tersebut harus dipersiapkan dengan ibadah-ibadah. Bagaimana kita beribadah dengan seakan-akan melihat Allah itu adalah sebuah perumpamaan untuk beribadah dengan sebaik dan sebanyak mungkin karena takut kepada Allah SWT. Banyak juga sekarang beribadah hanya sekedar melapas kewajiban tanpa dibarengi dengan keikhlasan dan kekusyukan. Dalam hadits di atas dikatakan bahwa beribadah dengan seakan-akan melihat Allah sebagai sebuah penekanan agar ibadah dilakukan dengan penuh penghayatan dan kesempurnaan sehingga menghasilkan nilai pahala yang besar disisi Allah SWT. Di samping hal tersebut juga dikatakan dalam hadits tersebut untuk memperbanyak istighfar yaitu minta ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan dan kekhilafan. Seseorang yang taat saja wajib memperbanyak istighfar kepada Allah SWT apalagi orang-orang yang penuh dengan kelalaian dalam hidup maka sudah sepatutnya untuk memperbanyak istighfar mohon ampun kepada Allah SWT. Imam Ad Daqqaq rahimahullah berkata: قال الإمام القرطبي: (قال الدقاق: من أكثر من ذكر الموت أكرم بثلاثة أشياء: تعجيل التوبة، وقناعة القلب، ونشاط العبادة. ومن نسي الموت عوقب بثلاثة أشياء: تسويف التوبة، وترك الرضى بالكفاف، والتكاسل في العبادة.) التذكرة: الجزء الأول، ص 27 Artinya: “Barang siapa yang banyak mengingat kematian maka dimuliakan dengan tiga hal; bersegera tobat, puas hati merasa cukup atas pemberian Allah, dan semangat ibadah, dan barang siapa yang lupa kematian diberikan hukuman dengan tiga hal; menunda taubat, tidak ridha dengan keadaan dan malas ibadah.” Apabila seseorang mengingat kematian dan mempersiapkan bekal untuk dirinya di akhirat, ia akan diberikan tiga hal, yakni Allah berikan kesempatan bagi dia untuk bertaubat kepada Allah SWT atas segala dosa-dosanya, kemudian Allah berikan sifat qanaah kepadanya dengan hati selalu merasa cukup atas semua nikmat dan karunia yang berikan, dan akan tumbuh semangat untuk memperbanyak ibadah. Begitu juga sebaliknya ketika seseorang lupa akan kematian maka Allah akan menunda baginya taubat atau dengan bahasa lain Allah akan berikan istidraj kepadanya dengan memberikan kelalaian dan kesibukan dunia hingga lupa kepada mati. Orang yang lupa akan kematian juga akan merasa tidak puas dan cukup dengan segala nikmat yang didapatkan di dunia ini dan pada akhirnya orang tersebut akan malas untuk beribadah kepada Allah SWT. Maka perlu diingat-ingat bahwa kehidupan yang dijalani sekarang adalah perjalanan menuju kematian maka perlu dipersiapkan dengan pembekalan yang baik dan cukup. Tak heran hari ini kita lihat orang-orang di sekitar kita baik keluarga atau tetangga sudah pulang menghadap Allah SWT. Dan pada akhirnya kita juga mendapatkan giliran yang sama akan menghadapi yang namanya kematian. Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata: الموت باب وكل الناس داخله فليت شعري بعد الموت مالدار Artinya: “Kematian adalah sebuah pintu yang setiap manusia pasti akan memasukinya, Aduhai kalau aku bisa tau dimana tempatku setelah kematian.” Sudah pasti semua yang bernyawa pasti akan merasakan yang namanya kematian, perjalanan kita di dunia ini hanya waktu sebentar untuk mempersiapkan bekal menuju hari Akhirat kelak dan awal dari akhirat tersebut adalah kematian. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa: الذي يغسل الميت اليوم هو الميت غداً Artinya: “Yang memandikan jenazah hari ini adalah jenazah besok.” Sangat dekat sebenarnya kematian tersebut, hari ini kita melaksanakan tajhiz mayat bagi jenazah yang baru meninggal memandikan, mengkafani, menyalatkan lalu menguburkan, maka besok giliran kita yang akan dimandikan dan dikuburkan oleh orang lain. Dalam sebuah riwayat juga diingatkan bahwa: الموت أهونُ ممّا بعده، وأشدّ مما قبله. Artinya: “Kematian lebih mudah dari pada apa yang datang setelahnya, dan lebih berat dari pada apa yang datang sebelumnya.” Kematian adalah hal yang sangat berat tetapi sangat kecil apabila dibandingkan dengan hari-hari setelahnya seperti dalam kubur, di Padang Mahsyar, di Mizan dan sebagainya. و الله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 📷Instagram LDRQ 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #ldrqraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻

Tausiah LDRQ

Keutamaan Bulan Dzulqa’dah dan Peristiwa Penting di Dalamnya

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊🎤 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Rq-Center Keutamaan Bulan Dzulqa’dah dan Peristiwa Penting di Dalamnya Allah subhanahu wa ta’ala melebihkan derajat sebagian makhluk-Nya atas sebagian yang lain. Sebagian manusia, Allah jadikan lebih utama daripada sebagian manusia yang lain. Sebagian tempat, Dia jadikan lebih utama daripada sebagian tempat yang lain. Dan sebagian waktu, Dia jadikan lebih utama dibandingkan dengan sebagian waktu yang lain. Di antara sebagian waktu yang Allah lebihkan keutamaannya atas sebagian waktu yang lain adalah bulan Dzulqa’dah yang saat ini kita berada di dalamnya. Di antara keutamaan dan keistimewaan bulan Dzulqa’dah adalah sebagai berikut: Pertama, Dzulqa’dah adalah permulaan dari empat bulan yang dimuliakan (al-Asyhur al-Hurum). Empat bulan haram atau empat bulan yang dimuliakan itu adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Disebut Dzulqa’dah disebabkan orang-orang Arab pada masa lalu tidak melakukan perang (qu’uud ‘anil qitaal) di dalamnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ (سورة التوبة: ٣٦) Maknanya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, sebagaimana dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan yang diagungkan (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab)” (QS at-Taubah: 36). Kedua, Dzulqa’dah adalah satu di antara tiga bulan haji, yaitu Syawal, Dzulqa’dah dan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Tidak sah ihram untuk haji pada selain waktu tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ (البقرة: ١٩٧) Maknanya: “Musim haji itu pada bulan-bulan yang telah dimaklumi (ditentukan)” (QS al-Baqarah: 197). Ketiga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan umrah kecuali pada bulan Dzulqa’dah. Sahabat Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu meriwayatkan: اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَرْبَعَ عُمَرٍ، كُلَّهُنَّ فِي ذِي القَعْدَةِ، إِلَّا الَّتِي كَانَتْ مَعَ حَجَّتِهِ، عُمْرَةً مِنَ الحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ العَامِ المُقْبِلِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الجِعْرَانَةِ، حَيْثُ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ (رواه البخاري) – Maknanya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berumrah sebanyak empat kali, semuanya pada bulan Dzulqa’dah kecuali umrah yang dilaksanakan bersama haji beliau, yaitu satu umrah dari Hudaibiyah, satu umrah pada tahun berikutnya, satu umrah dari Ji’ranah ketika membagikan rampasan perang Hunain dan satu lagi umrah bersama haji” (HR al-Bukhari). Keempat, Dzulqa’dah adalah 30 malam yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya; وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً، وَقَالَ مُوسَى لِأَخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ (سورة الأعراف: ١٤٢) Maknanya: “Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa untuk memberikan kepadanya kitab Taurat setelah berlalu tiga puluh malam (bulan Dzulqa’dah), dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh malam lagi (sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya menjadi empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada saudaranya, yaitu Harun, “Gantikanlah aku dalam memimpin kaumku, dan perbaikilah dirimu dan kaummu, dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS al-A’raf: 142). Peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada bulan Dzulqa’dah dalam lintas sejarah, di antaranya adalah: Pada Dzulqa’dah tahun kelima hijriah, terjadi perang Bani Quraizhah. Pada hari kamis, 6 Dzulqa’dah tahun kesepuluh hijriah, Rasulullah berangkat dari Madinah menuju Mekah untuk melaksanakan haji wada’. Pada Dzulqa’dah tahun ketiga hijriah, terjadi perang Badr Sughra. Pada hari Sabtu, tanggal 7 Dzulqa’dah tahun 403 H, wafat seorang ulama ahli ilmu kalam dan ahli debat yang sangat masyhur, yaitu Imam Abu Bakr al-Baqillani. Beliau adalah salah seorang pejuang, pembela dan penyebar mazhab Asy’ari yang tiada lain adalah mazhab Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) ke berbagai penjuru. Berkat kegigihan dan perjuangan beliau dan ulama-ulama Aswaja lainnya saat itu, aqidah dan ajaran kelompok-kelompok yang menyimpang semakin tenggelam dan ditinggalkan para pengikutnya. Selengkapnya klik: https://aswajanucenterjatim.com/keutamaan-bulan-dzulqadah-dan-peristiwa-penting-di-dalamnya.html و الله أعلم بالصواب و علمه أتم Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 📷Instagram LDRQ 🎬Youtube  🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #ldrqraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻

Tausiah LDRQ

Doa Pagari Anak-anak dari Bahaya Pandangan Jahat

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒️🔊🎤 Tausiyah Singkat Lajnah Dakwah Rq-Center Doa Pagari Anak-anak dari Bahaya Pandangan Jahat (Penyakit Ain) Pandangan mata mengandung hakikat. Pandangan mata dapat berdampak buruk pada kesehatan seseorang terutama anak-anak. Karenanya Rasulullah SAW meminta perlindungan kepada Allah untuk Hasan dan Husein ketika masih kanak-kanak dari gangguan setan dan pengaruh pandangan mata jahat dan hasut. Di samping pandangan jahat penuh kedengkian, pandangan takjub dan senang meluap-luap tanpa dibarengi dzikrullah juga dapat membawa pengaruh negatif terhadap objeknya. Inilah yang dinamakan dengan penyakit ain. Penyakit ‘ain adalah penyakit baik pada badan maupun jiwa yang disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki ataupun takjub/kagum, sehingga dimanfaatkan oleh setan dan bisa menimbulkan bahaya bagi orang yang terkena. Ibnul Atsir rahimahullah berkata, ﻳﻘﺎﻝ: ﺃﺻَﺎﺑَﺖ ﻓُﻼﻧﺎً ﻋﻴْﻦٌ ﺇﺫﺍ ﻧَﻈﺮ ﺇﻟﻴﻪ ﻋَﺪُﻭّ ﺃﻭ ﺣَﺴُﻮﺩ ﻓﺄﺛَّﺮﺕْ ﻓﻴﻪ ﻓﻤَﺮِﺽ ﺑِﺴَﺒﺒﻬﺎ “Dikatakan bahwa Fulan terkena ‘ Ain , yaitu apa bila musuh atau orang-orang dengki memandangnya lalu pandangan itu mempengaruhinya hingga menyebabkannya jatuh sakit.” [1. An-Nihayah 3/332]. Sekilas ini terkesan mengada-ada atau sulit diterima oleh akal, akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa ‘ain adalah nyata dan ada. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ﺍﻟﻌﻴﻦ ﺣﻖُُّ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺷﻲﺀ ﺳﺎﺑﻖ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﻟﺴﺒﻘﺘﻪ ﺍﻟﻌﻴﻦ “Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya.” [2. HR. Muslim]. Contoh kasus: Foto anak yang lucu dan imut diposting di sosial media, kemudian bisa saja terkena ‘ain. Anak tersebut tiba-tiba sakit, nangis terus dan tidak berhenti, padahal sudah diperiksakan ke dokter dan tidak ada penyakit. Bisa juga gejalanya tiba-tiba tidak mau menyusui sehingga kurus kering tanpa ada sebab penyakit. Hal ini terjadi karena ada pandangan hasad kepada gambar itu atau pandangan takjub dan PENTING diketahui bahwa penyakit ‘ain bisa muncul meskipun mata pelakunya tidak berniat membahayakannya (ia takjub dan kagum). Untuk itu Rasulullah SAW mengajarkan doa sebagai berikut untuk melindungi anak-anak dari semua pengaruh tersebut. أُعِيْذُكَ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ. اَللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِ وَلَا تَضُرَّهُ U‘îdzuka bikalimâtillâhit tâmmati min kulli syaithânin, wa hâmmatin, wa min kulii ‘ainin lâmmah. Allâhumma bârik fîhi, wa lâ tadhurrah. Artinya : “Aku memohon perlindunganmu dengan kalimat Allah yang sempurna dari segala gangguan setan, binatang melata/serangga, dan segala pengaruh mata jahat. Ya Allah, turunkan keberkahan-Mu pada anak ini. Jangan izinkan sesuatu membuatnya celaka.” Doa ini diangkat oleh Imam Nawawi dalam karyanya Al-Adzkar. Di dalam karyanya itu, ia menyebutkan sejumlah hadits yang berkenaan dengan sejumlah gangguan yang dapat menyebabkan mudarat pada anak-anak. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa memandang takjub pada anak-anak sebaiknya dibarengi dengan doa keberkahan untuk mereka. Wallahu ‘alam Do’a Kafaratul Majelis سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإلٰهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ. Media informasi LDRQ-Center 📷Instagram Dayah RQ 🌎Fans Page Fb 📡Fb 📷Instagram LDRQ 🎬Youtube 🐦Twitter 📝Telegram #dayahraudhatulquran #ldrqraudhatulquran 💎⭐⛅🤝🏻

Tausiah LDRQ

Salah satu alasan mengapa kita harus berbakti kepada orang tua

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🗒🔊🎤 Tausiah Singkat Lajnah Dakwah RQ-Center Salah satu alasan mengapa kita harus berbakti kepada orang tua, tercantum dalam surat Luqman ayat 14: وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ ۝١٤ Artinya: “Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.” Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan kondisi seorang ibu pada dua hal. Kondisi pertama yaitu mengandung dalam keadaan lemah.Kata Imam al-Qurthuby, wahn dalam ayat tersebut berarti lemah dalam kondisi hamil, atau lemah menjadi fitrah seorang wanita. Namun dalam kondisi tersebut, seorang wanita yang mengandung pasti dalam keadaan lemah (Al-Qurthuby, Al-Jami’ liahkamil Qur’an [Beirut, Darrul Fikr, t.t], Jilid XIV, hlm. 60). Dua kondisi yang sangat istimewa dalam kehidupan seorang ibu adalah mengandung dan menyusui anak. Kedua kondisi ini begitu istimewa sehingga Allah menyebutkannya dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, tidak mengherankan ketika seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, “Man ahaqqun-nās bihusni shuhbati? (Siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?)”, Rasulullah menjawab, “Ibumu, ibumu, ibumu, kemudian ayahmu.” Lalu, bagaimana cara kita berbakti kepada orang tua? Al-Qur’an menyebutkan beberapa cara untuk berbakti kepada kedua orang tua, di antaranya sebagai berikut: 1. Berbicara yang baik إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا Artinya: “Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” Berbicara dengan baik kepada kedua orang tua merupakan wujud bakti yang paling mendasar. Dalam ayat tersebut, Allah melarang kita mengucapkan kata “uf” di hadapan kedua orang tua. Menurut Ibnu ‘Arabi, kata “uf” adalah ungkapan paling ringan yang menunjukkan ketidaksukaan. Dalam bahasa Indonesia, kata ini sering disamakan dengan “ah” atau ungkapan serupa. Ayat tersebut secara khusus menyebutkan orang tua yang telah lanjut usia. Lanjut usia sering kali dikaitkan dengan sifat mudah lelah, kurang bersemangat, atau bahkan bersikap kekanak-kanakan. Kondisi ini dapat membuat anak merasa tidak sabar dan cenderung meninggikan suara. Inilah yang dilarang oleh Allah SWT dalam ayat tersebut, yaitu mengeluh atau membentak orang tua. 2. Rendah hati Berbakti selanjutnya dapat kita lakukan dengan cara rendah hati di hadapan orang tua. Allah berfirman dalam Q.S Al-Isra’ ayat 24: وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ Artinya: “Rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan.” Menurut Ibnu ‘Arabi, kata “merendahkan” dalam Al-Qur’an merupakan kiasan untuk “kelembutan”. Perintah ini mewajibkan kita untuk bersikap lembut di hadapan kedua orang tua. Namun, terdapat batasan mengenai ketaatan kepada orang tua, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Luqman ayat 15 : وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًاۖ Artinya: “Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang engkau tidak punya ilmu tentang itu, janganlah patuhi keduanya, (tetapi) pergaulilah keduanya di dunia dengan baik…” Dalam Surah Luqman ayat 15, dijelaskan bahwa jika kedua orang tua memerintahkan atau memaksa anak untuk melakukan kemaksiatan, maka anak tidak wajib mematuhi mereka. Ayat ini, bersama dengan ayat sebelumnya, berkaitan dengan kisah Sa’d bin Abi Waqqas. Ibunya, Hamnah binti Abi Sufyan, bersumpah tidak akan makan dan minum demi memaksa Sa’d meninggalkan Islam. Meskipun kita tidak diwajibkan untuk taat dalam hal kemaksiatan, kita tetap diperintahkan untuk mempergauli kedua orang tua dengan baik. Dengan kata lain, kita harus tetap bersikap lembut dan menghormati mereka. 3. Senantiasa mendoakan kedua orang tua Cara berbakti selanjutnya adalah mendoakan orang tua. Hal ini terdapat dalam lanjutan surat al-Isra’ ayat 24, Allah berfirman: وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا Artinya: “dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.” Sudah sepatutnya kita senantiasa mendoakan kedua orang tua. Dalam Surah Al-Isra ayat 24, Allah memerintahkan kita untuk berdoa agar kedua orang tua diberi limpahan kasih sayang dari-Nya, sebagaimana mereka telah mendidik dan mengasihi kita dengan penuh kasih sayang saat kita masih kecil. Tidak ada batasan waktu dalam mendoakan orang tua. Bahkan setelah mereka wafat, kita tetap dianjurkan untuk terus mendoakan mereka. Sebab, doa anak yang saleh untuk kedua orang tuanya termasuk amalan yang pahalanya tidak terputus. Salah satu doa yang dapat dibaca untuk kedua orang tua adalah sebagai berikut: اغْفِرْلِي وَلِوَالِدَيَّ وارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًارَبِّ Artinya: “Ya Allah ya Tuhanku ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan kasihanilah keduanya sebagaimana mereka mengasuh kami di waktu kecil.” 4. Merawat Orang Tua Selain dalam Al-Qur’an, ada beberapa cara berbakti lainnya yang terdapat dalam hadits Nabi SAW. Di antara cara berbakti dalam hadits, disebutkan bahwa merawat orang tua adalah salah satu bentuk jihad. وعن عبد الله بن عمرو قال : جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فاستأذنه في الجهاد ، فقال : أحي والداك ؟ قال : نعم ، قال : ففيهما فجاهد . رواه البخاري والنسائي وأبو داود والترمذي وصححه Artinya: “Dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash ra, seorang sahabat mendatangi Rasulullah saw lalu meminta izin untuk berjihad. Rasulullah saw bertanya, ‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ ‘Masih,’ jawabnya. Rasulullah saw mengatakan, ‘Pada (perawatan) keduanya, berjihadlah,’” (HR. Bukhari, An-Nasai, Abu Dawud, Tirmidzi) 5. Senantiasa membahagiakan orang tua Orang tua telah membesarkan anaknya, dari bayi hingga ia dewasa. Tak ternilai kasih sayang dan pengorbanan mereka bagi anak-anaknya. Sudah seharusnya, sebagai anak, kita membahagiakan orang tua kita. Dalam hadits disebutkan: عن عبد الله بن عمرو قال جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال جئت أبايعك على الهجرة وتركت أبوي يبكيان فقال ارجع عليهما فأضحكهما كما أبكيتهما Artinya: “Dari sahabat Abdullah bin Amr ra, ia bercerita, seorang sahabat mendatangi Rasulullah SAW dan mengatakan, ‘Aku datang kepadamu untuk berbaiat hijrah dan kutinggalkan kedua orangtuaku dalam keadaan menangis. Rasul menjawab, ‘Pulanglah, buatlah keduanya tertawa sebagaimana kau membuat mereka menangis,’’” (HR Abu Dawud). Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW memerintahkan kepada seseorang yang datang kepadanya untuk membahagiakan orang tua. Tentu ada banyak cara dalam membahagiakan mereka. Mulai